Sabar adalah cahaya



Dua hari berturut-turut saya menghadiri sebuah diskusi menarik dan cukup unik yang dipelopori oleh salah satu senior saya di organisasi. Kenapa unik? Diskusi ini bertujuan agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Ketika berbicara, setiap orang wajib mendengarkan kita dengan baik. Tidak boleh ada sikap saling membantah. Setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Dalam diskusi ini kami membicarakan sesuatu yang sederhana yang kadang manusia tinggalkan. Kita lebih banyak membahas tentang pengembangan dan refleksi diri. Segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri.

Sistemnya, salah satu orang mempresentasikan sebuah materi dan yang lainnya mendengarkan dan menambahkan. Saya merasa seperti seorang filsuf atau sufi ketika melakukan diskusi tersebut. Seolah-seolah kita semua adalah orang yang bijak. Apa yang keluar dari mulut setiap orang adalah desah kebijakan. Semuanya berjalan soft, pelan, dan menyentuh. Inilah yang mungkin hilang dari diskusi-diskusi yang saya hadiri. 

Hari Selasa tanggal 23 September kita sedang membicarakan tema sabar dan keesokan harinya kita membahas perihal syukur. Tidak ada yang istimewa sebenarnya tentang sabar dan syukur. Secara bahasa maupun terminologis orang-orang mungkin sudah mengetahuinya. Tapi yang kita inginkan bagaimana agar sifat sabar dan syukur ini teraplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Saya mulai dengan kata sabar. Secara sederhana sabar adalah menahan diri atau mengendalikan diri. Sabar adalah cahaya, begitu kata rasululullah. Mungkin butuh penafsiran para ulama untuk mengetahui dengan jelas maksud rasulullah menyandingkan kata sabar dan cahaya. Seolah-olah sabar adalah petunjuk untuk melakukan sebuah kebenaran. Saya berpendapat bahwa dengan kesabaran seseorang akan meminimalisir hawa nafusnya. Dia akan bersabar tentang hal-hal yang ia pahami tidak boleh dilakukan. Begitulah kesabaran akan mengurangi tindak kemaksiatan. Mungkin saja sabar dan hawa nafsu adalah oposisi biner, bagai keping mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sabar adalah solusi nyata dari hawa nafsu yang menggebu-gebu. Banyak orang yang ingin kaya mendadak, tidak sabaran, maka jalan yang ia tempuh adalah menuruti hawa nafsunya misalkan dengan korupsi. 

Sabar tidak hanya diam tapi berjuang. Kita menemukan cara untuk keluar dari masalah itu. Misalkan ketika kita dizalimi, ya memang kita harus bersabar. Tapi, upaya sabar kita tidak berarti pasrah dan siap ditindas. Kita harus mengupayakan sebab akibat agar masalah itu terselesaikan. Kita harus berikhtiar untuk terbebas dari musibah yang mungkin kita hadapi.

Level kesabaran setiap orang berbeda-beda sesuai pemahamannya. Ada orang yang beranggapan ketika sedang menunggu macet reda, kemudian ia mengumpat mungkin saja saat itu ia tidak tahu bahwa keadaan itu menunjukkan ketidaksabarannya. Setiap orang sepertinya diberikan naluri untuk mengekspresikan emotional feeling-nya, ilmulah yang mengarahkan apakah emosi itu terfasilitasi dengan benar atau tidak. Sabar itu semestinya menemukan kedamaian. Seorang yang sabar akan merasa damai. Tidak ada perasaan kacau, galau dalam hatinya. Ia selalu tenang dan berperasaan positif. 

Di Amerika pernah dilakukan penelitian longitudinal (penelitian dari tahun ke tahun) beberapa anak diberikan marshmallow. Mereka menyebut penelitian ini dengan tes Marshmallow. Tes ini diberikan kepada anak-anak yang berusia empat tahun dengan memberikan suatu tantangan yang menggiurkan bagi mereka. Peneliti mengajukan semacam pilihan kepada anak-anak tersebut. Jika mereka mau menunggu peneliti sampai menyelesaikan tugasnya, maka masing-masing mereka akan diberi dua bungkus marshmallow (sejenis permen) sebagai hadiah. Tetapi jika mereka tidak mau menunggu, mereka akan diberi sebungkus, dan mereka akan memperolehnya saat itu juga.

Beberapa tahun kemudian, anak-anak yang bersabar lebih sukses dari anak-anak yang memakan marshmallow saat itu juga.  Hal ini menandakan, jika kita mau bersabar untuk sesuatu yang lebih baik, maka hasilnya akan lebih baik. Berbeda dengan tindakan tergesa-gesa yang menuruti hawa nafsu. Jadi, kesuksesan juga bisa diraih dengan kesabaran.

Bahasa Peradaban

Akhirnya saya memasuki kitab ketiga dalam pengajian saya. Di awal pembahasannya telah dibahas urgensi bahasa. Bahasa sangat erat kaitannya dengan kemajuan atau kemunduran sebuah peradaban. Jadi, sedikit berbangga saya pernah mempelajari teori bahasa meskipun konsentrasi saya tidak ke situ. Dalam buku itu, kami menyebutnya kitab mafahim, dijelaskan salah satu sebab kemunduran dunia islam adalah lemahnya pemahaman umat islam terhadap islam itu sendiri. Semua berawal karena bahasa Arab mulai diremehkan dan ditinggalkan untuk memahami islam. 

Untuk memahami islam secara utuh, tidak bisa dinafikan bahwa bahasa pengantarnya adalah bahasa Arab. Kharisma islam dan kekuatan bahasa Arab adalah satu paket yang membawa kemajuan umat islam. Bahasa Arab adalah bahasa islam. Petunjuk selamat dunia akhirat umat islam, Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Ketika keduanya dipisahkan maka kemunduran akan tetap terjadi. Islam tidak bisa dilaksanakan secara sempurna tanpa bahasa Arab. Umat islam mengenal ijtihad. Salah satu tanda kemajuan umat islam ketika ijtihad tumbuh. Dan ijtihad tidak akan bisa dilakukan tanpa memahami bahasa Arab. Intinya bahasa Arab memiliki kekuatan besar dalam mengembangkan kharisma islam.

Saya sebagai orang yang mempelajari bahasa sebenarnya sedikit malu. Kenapa saya lebih tertarik mempelajari bahasa peradaban dunia hari ini ketimbang bahasa agama saya. Tapi saya tidak menyesal karena mempelajari bahasa adalah mubah. Apalagi bahasa milik peradaban yang sebenarnya ingin kita runtuhkan. Memahami bahasa peradaban dunia hari ini justru sangat penting. Ukurannya sama ketika kita ingin memahami islam dengan bahasa arab. Kita ingin mengenali peradaban hari ini ya kita harus mempelajari bahasanya. Ada banyak literatur dunia yang bisa menjadi modal pengetahuan untuk membongkar kelemahan peradaban yang dibangun setelah peradaban islam runtuh. Tapi, jangan salahkan bahasanya. Sekali lagi mempelajari bahasa itu mubah. Entah itu bahasa darimana. 

Hari ini umat islam sendiri lebih tertarik mempelajari bahasa internasional hari ini ketimbang bahasa Arab. Tentu saja, karena hegemoni global menggunakan bahasa ini. Doktrinnya, ketika ingin sukses di dunia, minimal Anda memahami bahasa ini. Saya termasuk salah satunya. Dulu, tidak pernah terbersit sekalipun saya ingin mempelajari bahasa Arab. Ini masalah kesadaran. Kesadaran itu baru saya dapatkan belakangan ini. Dan lagi-lagi tidak bisa dinafikan kalau settingan peradaban hari ini mengarahkan kita untuk mencintai bahasanya ketimbang bahasa agama kita. Film, musik, dan hiburan-hiburan di sekitar kita mungkin juga menjadi penyebab kuat mengapa orang-orang cenderung kepada bahasa dunia hari ini. Sehingga bahasa islam dan islam itu sendiri semakin jauh dari pemeluknya. 

Saya kadang iri terhadap anak pesantren yang mempelajari bahasa Arab. Mereka sejak dini dididik untuk mempelajari bahasa Arab. Di waktu yang sama mereka juga mempelajari bahasa Inggris. Sampai sekarang saya belum benar-benar serius mempelajari bahasa Arab. Ungkapan-ungkapan itu cuma singgah di bibir manis saya. Padahal pelaksanaan tindakan adalah bukti keseriusan. Dalam buku Hakikat Berpikir karangan Taqiyuddin An-Nabhani dikatakan, berpikir serius ditandai dengan aksi nyata. Ingin belajar ya beli bukunya atau ikut kursusnya. Lalu seriuslah belajar. Tapi dengan berbagai alasan yang mungkin tidak logis sebenarnya yang menghambat saya untuk serius belajar bahasa Arab. Sebagai kesimpulan, saya menyesal kenapa tidak dari dulu saya belajar bahasa Arab.

Saya teringat dengan perbincangan dengan teman saya, dia mengatakan bahwa dia memiliki teman non muslim yang tertarik mempelajari bahasa Arab. Temannya itu mengungkapkan bahwa banyak penelitian yang mengatakan bahwa bahasa Arab akan menjadi bahasa dunia, bahasa internasional. Tanpa disadari sebenarnya itu bukti kecil bahwa islam akan segera jaya kembali. Dan kita telah lama merindukan itu bukan?


Sebuah Nasihat

Kepedulian adalah saat orang lain memperhatikanmu, menegurmu dan menasihatimu. Itu kesimpulan logis saya. Kita mungkin banyak berteman tapi tidak semua dari teman kita berani menegur atau menasihati kita jika kita mulai berubah atau berbuat salah di matanya. Dan saya merasa tersentuh karena telah dinasihati.
Ada beberapa orang yang merasa aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Katanya saya berubah. Sebenarnya saya juga tidak yakin apakah saya benar-benar berubah. Mereka yang heran mungkin melihat saya lain dari biasanya. Saya terlihat lebih sanguinis sekarang. Lebih cerewet, lebih sering mengomentari segala hal. Yang sebelumnya mereka mengenal saya sebagai seseorang yang sangat strict. Terutama dalam mengelola organisasi atau mengontrol interaksi ikhwan dan akhwat di organisasi. 

Menurut beberapa orang, terutama adik-adik junior, saya cenderung bersikap tenang, kalem, tidak banyak bicara dan berekspresi. Selalu stay cool. Saya mungkin berhasil menciptakan image akhwat rasional hehe.. Sebenarnya saya tidak seperti itu juga. Kita perlu menjaga image sebagai seorang ketua di organisasi agar organisasi bisa berjalan seperti yang kita harapkan. Mereka mungkin belum mengenal saya sebenarnya. Kalaupun saya berubah, itu wajar saja, karena hidup selalu berubah. Manusia boleh berubah.

Menurut saya karakter itu dipengaruhi oleh ilmu dan keimanan. Ini yang mungkin saya rasakan. Kadang-kadang ketika saya sadar bahwa seorang akhwat harus bisa menjaga izzahnya, maka saya berusaha melakukan itu. Mungkin dalam keadaan seperti itu, keimanan lagi meningkat. Tapi, kadang pula kelepasan jika memang lagi tidak terkontrol. Saya cenderung berubah-ubah. Kalau dalam istilah introvert-ekstrovert, saya mungkin penganut ambivert, berada di antara keduanya. Kadang introvert, kadang ekstrovert.  

Yang paling membuat saya terkesan dan sejujurnya merasa malu, ada seorang ikhwan yang mengoreksi saya secara langsung lewat message di medsos. Ini pertama kalinya saya dinasihati oleh seorang ikhwan. Dia junior saya. Bunyi pesannya seperti ini (maaf adik, saya posting):

Semenjak lepas dari ketua, saya lihat kak Qia agak sedikit berubah. Perubahan nyatanya terlihat pas di acara walimahan lalu hehehe. Saran saya jadilah tetap seperti dulu… allahummar ruzuqnaa bil huda. Afwan kalau terkesan gak sopan.

Waktu itu kami sekeluarga FLP menghadiri acara walimahan salah satu kader FLP. Waktu itu saya merasa biasa-biasa saja. Tapi, mungkin ada tingkah saya yang dia anggap aneh. Dan saya tidak menyadarinya waktu itu. Dan setelah dinasihati, saya baru menyadari apa yang telah saya lakukan yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Sungguh malu rasanya.

Saya balas dan kemudian dia lanjut lagi…

Menurut saya kunci islam di akhwat-akhwat FLP sekarang hanya ada 2 orang yang mana kalau tidak ada 2 orang ini, saya tidak tahu akan seperti apa keislaman FLP (keislaman di sini cakupannya luas, dari pemahaman islam, berpakaian, berbicara, bergaul dll) 2 orang itu adalah kak qia dan (maaf ya qia sensor orang kedua hehe) itu yang saya lihat. Makanya saya memberanikan diri menasihati kak qia ketika saya lihat sedikit-sedikit mulai berubah. Yang saya lihat sekarang ini kak qia sepertinya (menurut pendapat saya) sedang mengalami penurunan izzah..padahal banyak akhwat yang kekurangan izzah. Sangat disayangkan sekali kalau mereka kehilangan (terjadi penurunan) sosok izzah tersebut dari kak qia. puncak berkurangnya yang saya lihat dari kak qia ya ketika di walimahan itu.. itu pendapat saya yang bodoh ini.. mohon dimaafkan atas kesalahan dan kelancangan saya.

Sebenarnya penilaiannya terlalu berlebihan. Saya merasa biasa-biasa saja. Tapi, mungkin memang selama ini, sayalah yang dianggap sering menasihati adik-adik kalau tingkahnya mulai aneh. Saya selalu berusaha agar FLP tetap islami. Meskipun dihuni oleh orang-orang yang heterogen. Selepas jabatan ini, semoga FLP tetap mempertahankan kode etik keislaman ini. Saya sebenarnya ingin tetap berusaha menjadi yang seperti biasa buat adik-adik akhwat di FLP. Secara tidak langsung itu teguran ikhwan loh buat para akhwat. Mari jaga sikap ukhtifillah hehe..

terimakasih dik, sudah mengingatkan saya....


Hari-Hari Saat Kau Bersamaku

Ini adalah balasan untuk seseorang yang mengeluh karena blog saya tidak ter-update. Saya disuruh menulis apa saja, biar sebaris atau dua baris. Meskipun itu curhat-curhat yang tidak jelas. Sebenarnya saya hanya blank. Saya benar-benar tidak tahu apa yang ingin saya tulis. Tapi, baiklah kali ini saya akan menulis sebuah puisi. 

Hari-hari saat kau bersamaku

mungkin waktu kita semakin sedikit
aku mendoakanmu dengan segala kegalauanmu
segera menemui kebahagiaan
yang kau impikan

aku tahu..
kau pasti sangat rindu
kau pasti sangat sesak
menahan segala debaran

tapi aku akan selalu mendoakanmu
dan bersedia berada di sampingmu
mendengarkanmu
melewati malam yang kian larut

jika besok kau telah dimilikinya
kenanglah saat-saat kita masih bersama  


Makassar, 28 Agustus 2014

Berbicara Cinta

Kalau ada orang yang paling tidak sanggup menyimpan cinta, saya lah salah satunya. Saya mencermati orang-orang, mengapa mereka begitu santainya ketika jatuh cinta. Bahkan puluhan atau ratusan puisi bisa tercipta karena mereka merasakan cinta.

Dulu sebelum saya memahami cinta dalam pandangan islam, saya adalah orang yang lebih nyaman meyimpan perasaan diam-diam. Saya selalu menghindar ketika orang yang saya naksir mendekati saya atau jantung saya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Saya juga tidak berani berbicara langsung di hadapannya, karena saya akan gugup dan bertingkah lain dari biasanya. Dan saya sudah merasa bahagia meski dengan melihatnya. Saya tidak pernah berharap lebih dari itu. 

Suatu hari orang yang saya naksir cukup lama akhirnya menyatakan perasaannya. Seharusnya saya menerimanya, tapi saya tidak sanggup membawa perasaan itu. Sudah cukup saya menyukainya diam-diam. Saya merasa aneh ketika perasaan itu bersambut dan berbalas. Akhirnya saya menghindar dan menolaknya. Aneh kan? Setelah itu perasaan saya mulai berubah. Tak lagi sepolos sebelumnya. Entah kenapa perasaan saya menjadi netral kepadanya.

Nah, setelah saya memahami cinta dalam islam. Sikap saya justru berbeda. Saya malah tegas dengan perasaan saya sendiri.  Saya justru tidak sanggup membawa perasaan cinta macam apapun. Ketika cinta itu bersambut. Hanya ada dua pilihan. Meneruskan dengan pernikahan atau melupakan. Dan melupakan inilah yang butuh perjuangan. Saya selalu berdoa bagaimana membawa perasaan seperti ini. Saya benar-benar tidak sanggup. Saya selalu ingin menyibukkan diri saya. Saya selalu menangis dalam sholat saya. Sampai kapan ini akan berakhir Ya Rabb? 

Inilah menurut saya jalan yang paling aman. Ketika saya merasakan cinta mulai bertunas, saya akan lebih dulu memangkasnya. Ketika rindu mulai datang, saya cepat-cepat mengusirnya. Tidak sanggup rasanya membawa perasaan menyiksa ini. Maka tak ada yang lebih baik dari lembaga pernikahan untuk menumbuhkan perasaan cinta. Karena cinta akan dirayakan pada waktunya.

Tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dua orang yang saling cinta selain pernikahan (HR Al Hakim)
  

Menjadi Ibu Ketua

Satu hal yang mungkin terlambat kusyukuri adalah menjadi seorang ketua di organisasi. Sebenarnya saya tidak cukup percaya diri untuk amanah sebesar ini. Seharusnya saya bersyukur  lebih awal dan rasa syukur itu seharusnya saya buktikan dengan melakukan lebih banyak hal di organisasi ini, memajukan organisai juga memperbaiki kualitas tulisan. Amanah adalah amanah dan kelak semuanya harus dipertanggungjawabkan. Kadang saya tersenyum-senyum sendiri ketika adik-adik memanggil saya Ibu Ketua atau Ibu Negara juga sapaan, “Siap, Bu!” atau “Siap, Bu Ketua!” ini adalah sapaan menggoda bagi saya, hehe...
 
Menjadi seorang ketua memanglah tidak mudah. Seorang ketua adalah orang pertama kali harus berinisiatif. Seorang ketua adalah ujung tombak organisasi. Seorang ketualah yang menentukan bergerak atau tidaknya organisasi. Seorang ketua juga selayaknya orang yang pertama kali memberikan teladan dan inspirasi. Seorang ketua harus lebih dulu bersemangat dan optimis. Seorang ketua harus punya cita-cita besar. Dan apalah saya. Saya minim pengalaman organisasi. Karir kepenulisan saya juga statis. Keislaman juga biasa-biasa saja. Bukanlah seorang yang hafalannya banyak atau penguasaannya terhadap hukum syara’ luas. 
Tapi, karena menjadi seorang ketualah saya termotivasi untuk berubah menjadi lebih baik.  Seharusnya saya lebih cekatan mengurus organisasi, seharusnya saya terus produktif menulis, dan seharusnya saya menambah terus ilmu keislaman saya. Terus terang, saya terlambat menyadari itu semua. Dulu saya berpikir, saya ingin segera meninggalkan organisasi dan mengamanahkannya kepada salah satu orang. Tapi, itu semua tidak terjadi karena saya tidak lulus beasiswa yang saya apply dan gagal mendapatkan LoA di salah satu universitas di Luar Negeri. Entah kenapa waktu itu saya tidak berpikiran untuk kuliah di dalam negeri. Saya terlalu percaya diri mungkin. Astagfirullah…
Sampai akhirnya saya tersadar bahwa ada yang belum saya tunaikan dengan baik. Amanah saya sebagai seorang ketua di cabang sebenarnya memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Masih ada banyak hal yang belum saya lakukan dan rapikan. Kami belum terrdaftar di kesbang dan juga belum memiliki sekretariat. Dan ini sementara kami perjuangkan. Database kader juga belum rapi. Kualitas kepenulisan kader juga masih perlu diasah. Pemahaman keislaman kader juga masih perlu ditambah. Dan saya sangat bersyukur ketika mereka meminta untuk diadakan kajian keislaman khusus di FLP Makassar.
Ada satu hal lagi yang ingin saya tekankan. Sebenarnya ada hal-hal yang tidak etis kita lakukan di FLP, seperti berboncengan dengan lawan jenis, apalagi jika itu sesame kader, meskipun sifatnya tolong-menolong. Juga tidak boleh mengundang atau membiarkan teman-teman yang membawa pacarnya ke agenda-agenda FLP. Harusnya kita pahami bahwa AD/ART FLP berasaskan islam. Harusnya kita malu, melakukan hal-hal yang melanggar aturan islam. 
Saya memohon maaf kepada adik-adik ketika saya menegur. Saya menegur karena saya peduli dan itu semata-mata saya lakukan untuk menjaga kemurnian organisasi. Simpul islam akan lepas satu persatu kalau kita sebagai pemeluknya tidak menjadi penjaga islam yang baik. Janganlah karena hal kecil seperti membuat organisasi ini tidak lagi diridhoi Allah.  
Saya mencintai FLP dan saya mencintai kalian karena Allah. Semoga ukhuwah dan semangat kita yang tinggi terus terjaga.
Mari berbakti, berkarya, berarti!


Yang Ngaji yang Berprestasi

“Nilaimu kok turun terus setelah ngaji?!”, ungkap seorang ibu pada anaknya yang baru semangat dalam majelis ta’lim.

Adakah sobat Fata yang demikian? Semoga tidak. Seringkali dimata umum prestasi menjadi tolok ukur utama yang langsung terlihat terutama buat remaja yang masih duduk di bangku sekolah, meski prestasi bukanlah melulu punya anak sekolah atau anak kuliahan. Penilaian itu tidaklah salah, karena memang di zaman serba materi ini, kebanyakan orang akan menilai berdasar sesuatu yang nampak dari diri seseorang. Seorang remaja akan dinilai sukses bila memiliki nilai akademik yang tinggi, pekerjaan yang mapan, jabatan organisasi ini dan itu, atau prestasi dibidang lain. Sebaliknya jika nilai akademik turun alias sudah masuk area mengkhawatirkan bahkan ‘nilai jeblog’ bisa dibilang remaja ini nggak berhasil dan dikatai anak pemalas. Wah kalo sudah sampe kata terakhir nih, ngeri kayaknya kalo tersemat pada diri seorang remaja muslim.


Prestasi down bukanlah sesuatu yang asing, karena hampir disetiap tempat, sekolah, kampus atau ladang pekerjaan pasti ada aja orang yang ginian. Masalahnya, prestasi down terkadang menimpa pada beberapa remaja yang sudah kenal agama alias anak ngaji dan baru klihatan ketika mulai intens dengan ngajinya. Sehingga dianggap prestasi turun karena kebanyakan ngaji. Wah apa ngajinya diajari malas ya?! Layakkah ‘ngaji’ jadi kambing hitamnya? Apakah dengan ngaji trus prestasi harus diturunkan? Tentunya Islam yang sempurna ini tidak mengajarkan demikian.

Berprestasi, why?
Allah Ta’ala telah menjadikan dua jalan yang saling berlawanan pada kehidupan sesorang, ada tauhid ada syirik, ada hidayah ada kesesatan, ada jalan kebaikan dan ada jalan keburukan serta prestasi dan kegagalan. Allah Ta’ala berfirman:
ÙˆَÙ‡َدَÙŠْÙ†َاهُ النَّجْدَÙŠْÙ†ِ (سورة البلد: (10
Artinya: “Dan Kami telah menunujukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al Balad: 10)
Namun,  Allah Ta’ala tetapkan kebaikan pada salah satu jalan tersebut. Sehingga jalan tauhid itulah yang harus kita tempuh dan berprestasi adalah pilihan yang harus kita ambil. Maka kita lihat, orang yang mengambil jalan yang berseberangan pasti akan berakhir dengan kerugian dan kehancuran. Apa ada yang ingin berakhir mengenaskan?! So pasti nggak ada khan?! Pasti setiap kita menginginkan happy ending.

Menjadi remaja yang berprestasi dalam segala peran dan aktivitas kehidupannya bukanlah sekedar alternatif pilihan, tapi itu adalah keharusan yang harus selalu melekat terutama bagi seorang muslim. Satu sisi prestasi yang kurang diperhatikan adalah celah untuk menghancurkan kemungkinan prestasi yang lain. Bagaimana tidak? Sebagaimana kasus di atas, khususnya bagai anak ngaji, prestasi down akan menjadi salah satu sebab yang tidak disadari menghambat keistiqomahan ngajinya. Mungkin kali pertama, ortu cuman nyampekan prestasinya yang turun, kali kedua mulai mbawa-mbawa ngaji. Apalagi makin lama menunjukkan ciri khas anak ngaji yang kadang sudah mbuat pandangan ortu turun. Sehingga di kali lain ortu mungkin nggak segan-segan mengatakan ndak boleh ngaji lagi dengan dalih mengganggu sekolah. Dalam kondisi semacam ini mungkin sang anak berpandangan, “aku harus sabar, memang seperti inilah ujian yang harus diterima setiap orang yang istiqomah dalam agama, sebaimana para nabi”. Dia menganggap itu adalah semata-mata kesalahan ortunya yang belum tahu agama. Akhirnya yang harus ia terima adalah nggak bisa ngaji lagi, buku dan pakaian ngajinya ‘diamankan’, lebih-lebih tanpa disadari dia sedang membangun tembok penutup hidayah ortunya. Padahal bisa kita balik, dengan dia tetap berusaha menjaga prestasi bahkan meningkatkannya, dia bisa berbakti sama ortu sekaligus mengambil hati untuk mendukung ngajinya, bahkan bisa menjadi sarana hidayah bukan hanya bagi sang ortu bahkan bagi teman, guru, dosen dan orang-orang disekitarnya. SubhanAllah, banyak kebaikan yang akan hilang kan gara-gara prestasi down?!

Dengan ngaji kita berprestasi
Allah berfirman Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (Al Maidah: 3)
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Ketika seorang muslim benar-benar mengamalkan agama Islam  secara menyeluruh sesuai yang dituntunkan Allah dan RosulNya, niscaya akan tercipta kebaikan dalam setiap sisi kehidupan ini.

Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti jejak langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuhmu yang nyata.”(Al Baqarah: 208).

Remaja yang konsisten mempelajari Islam alias rajin ngaji tentunya akan semakin memahami bagaimana kesempurnaan Islam dalam mengatur sisi-sisi kehidupan umatnya. Islam tidak menyukai perbuatan yang sia-sia dalam setiap aktivitas kita. Islam mengharamkan kedzoliman baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Seorang remaja muslim yang mapan ilmu agamanya tentu akan semakin bersungguh-sungguh mengamalkan nilai-nilai Islam dalam beraktivitas, amanah terhadap tugas yang diembannya baik dari orang tua, pimpinan, maupun teman. Dengan ngaji, kita semakin menyadari bahwa waktu teramat berharga untuk dilalui begitu saja tanpa makna karena setiap waktu yang kita lalui kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kata pepatah; “waktu itu ibarat pedang, jika kita tidak mempergunakannya dengan baik maka waktu yang akan membinasakan kita”.
Allah berfirman “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah para ulama”. (QS. Faathir: 28).
Semakin kita ngaji, semakin besar kekhawatiran kita akan amal-amal dan amanah yang kita emban, apakah kita sudah benar-benar maksimal mengerjakan yang terbaik sehingga bernilai tinggi di dunia maupun akhirat? Atau malah menyia-nyiakannya sehingga menjadi pemberat catatan buruk amal kita.
Nabi ShollAllahu ‘alihi wasallam juga bersabda:
Ø¥ِÙ†َّ الله Ùƒَتَبَ الْإحْسَانَ عَÙ„َÙ‰ ÙƒُÙ„ِّ Ø´َÙŠْØ¡ (رواه مسلم)
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat yang terbaik dalam setiap kondisi dan perbuatan (yang tidak melanggar agama). Apapun peran dan kedudukan kita dalam kehidupan ini, baik sebagai seorang hamba, penuntut ilmu, seorang remaja, pelajar, pegawai, maka memaksimalkan diri mengerjakan yang terbaik dan penuh tanggung jawab adalah sesutu yang kudu melekat pada diri kita sebagai wujud perbuatan ihsan yang dituntunkan syariat.
So.. semakin kita getol ngaji, semakin kuat pemahaman kita terhadap Islam yang haq, semakin kita menjadi insan yang berprestasi dunia akhirat dalam setiap bidang yang kita garap.

Kiat-kiat Meraih Prestasi
Yang pertama, niat dan tujuan kudu lurus. Tanyakan pada diri kita, buat apa kita ingin berprestasi? Meskipun sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih, tapi niatan karena Allah adalah niatan yang tak terkalahkan. Karena dia tetap akan mendapatkan sesuatu meski harapannya tak teraih. Selain itu, dengan niat yang lurus hati kita akan tentram dalam menjalani setiap aktivitas. Lain halnya bagi yang cuman niat buat jadi nomor satu atau ngalahin temennya, saat gagal dia ndak akan dapat apa-apa, bahkan niatan itu meski tercapai dia akan mendapatkan katidakridloan Sang Pencipta. Kasihan deh!!

“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.”
(HR Bukhori dan Muslim)

Ingatlah, tujuan hakiki kehidupan kita sekarang ini adalah untuk bekal kehidupan akhirat. Kenapa kudu akhirat? Perhatikan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, maka dia akan mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, maka dia akan mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kecuali yang telah ditakdirkan untuknya saja.” (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)

Maka, peran apapun yang kita jalani jadikan tujuan dan niat kita yang utama karena untuk meraih ridho Allah, untuk menegakkan kemuliaan agama Allah dimuka bumi. Bukan perkara yang memalingkan atau melalaikan dari jalanNya.

Jika niat dan tujuan sudah lurus, maka dalam meraihnya pun kita juga kudu selalu memperhatikan rambu-rambu yang dipasang oleh Allah dan RosulNya, enggan hati ini sedikit saja berkhianat dari aturanNya hanya demi meraih tujuan itu. Karena sesungguhnya setiap penghianatan itu hanya akan menghempaskan kita semakin jauh dari ridho dan surga Allah yang menjadi cita-cita kita yang utama.

Yang kedua, bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman; Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. (QS. Aththolaq: 2) Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. Aththolaq: 4)
Takwa yang terealisasi dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya merupakan pintu kecintaan Allah terhadap hamba. Maka tiada lagi harapan hamba yang dicintaiNya, melainkan akan diberikanNya.

Yang ketiga, memohon pertolongan hanya kepada Allah. Tiada keinginan kecuali Allahlah yang mengabulkannya. Maka hendaklah kita memohon hanya kepada Allah untuk senantiasa menolong kita dalam tiap aktivitas. Meskipun doa adalah suatu yang ringan, tapi kenyataannya jarang diantara kita yang slalu meminta pertolongan dia tiap waktu dan keadaan, padahal pengaruh doa sangatlah besar. Seringkali kita merasa mampu melakukan beragam aktivitas sendirian sehingga mengabaikan doa dan hanya berdoa ketika dalam kondisi terjepit. So, sobat muda iringkanlah doa disetiap aktivitas kita, apalagi untuk mendapatkan sesuatu yang maksimal alias berprestasi.

Yang keempat, minta doa dan keridloan ortu. Nah, yang ini nih wajib juga bagi kita terutama yang masih punya ortu. Mintalah doa dan ridlo orang tua dalam tiap aktivitas kita, karena dengannyalah Allah juga akan memberikan keridloan dan pertolongan. Keridloaan dan doa orang tua bisa menjadi kunci tiap kesuksesan kita setelah Allah.

Yang kelima, disiplin dan cerdas memenej waktu. Kedua cara ini cukup efektif berperan dalam prestasi yang dicapai seseorang. Hampir tidak ada orang yang pernah mengalami kesuksesan dan  prestasi kecuali melewati tahap ini. Seberapa besar kita memberikan penghargaan terhadap waktu, sebesar itu pulalah penghargaan dan prestasi yang akan kita peroleh. Inilah yang masih banyak kurang dalam hidup kita. Kita kurang menghargai waktu dan kesempatan, sebagaimana Nabi bersabda:
”Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)
Kita sudah terlalu biasa dengan jam karet. Kita sudah terlalu biasa dengan waktu yang kurang manfaat. Padahal kita adalah waktu yang kita punyai sekarang, karena kita tidak tahu akankah kita masih bertemu dengan waktu yang akan datang. So, sobat mudaku, kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?! Siapkan buku agenda, rancang aktivitas harianmu. Yang pasti tiap aktivitas kudu punya nilai maksimal dan benilai di hadapan Allah.

Yang keenam, bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas. Setiap prestasi butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang menghendaki prestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang ingin sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang berkeinginan jadi seorang yang faqih dalam agama juga butuh usaha keras. Maka, jika kita meghendaki seluruh aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi bersabda:
Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allâh
Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR Muslim)

Yang ketujuh, cari lingkungan dan teman yang mendukung. Meski kita sudah punya tekad kuat dan kesungguhan serta beragam modal untuk meraih prestasi lainnya, tapi suatu saat kita akan mengalami masa-masa down alias futur. Maka, disinilah kita butuh lingkungan dan teman-teman yang turut manjaga keistiqomahan semangat kita dan mereka tidaklah bisa turut menjaganya melainkan harus sejalan. Lingkungan dan teman yang bertolak belakang bahkan akan menjadi bantu sandungan dan penghalang langkah kita.  Perhatikan bagaimana Rosululloh mengibaratkan antara teman yang baik dan teman yang buruk: “Teman yang baik ibarat penjual minyak wangi, jika kita dekat dengannya kita akan dapat wanginya atau minimal dapat ikut mencium harumnya. Adapun teman yang buruk bagai pande besi, terlalu dekat dengannya kita bisa terkena bara apinya atau minimal mencium bau tidak enaknya” Mestinya kita milih deket-deket dengan penjual minyak wangi doong biar ketularan wanginya, yaitu teman-teman sholih yang berprestasi yang selalu menuntun pada kebaikan.

Yang kedelapan, ajak teman yang lain. Zakatnya ilmu adalah dengan mengajarkannya pada orang lain, so.. berikan hak ilmu itu dengan berbagi dan memberi manfaat bagi sekitar kita. Tularkan kebaikan dan prestasi kita pada orang lain, niscaya hal itu akan lebih menjaga prestasi kita. Dengan ini kita terpacu untuk selalu mengembangkan kemampuan yang kita miliki dan menjaganya dengan sering mengajarkannya. Semakin banyak orang disekitar yang kita ajak, semakin banyak teman tuk saling mendukung diatas kebaikan, tambah semangat kan?

Yang kesembilan, hindari dan hilangkan penghalang. Penghalang prestasi tentunya sangat banyak. Masing-masing diri kita akan mudah menyampaikan alasan jika kita ditanya mengapa tidak berprestasi. Tapi sebagai remaja muslim yang bertanggung jawab tentu pantang menyerah dengan benturan-benturan penghalang tersebut. Kita harus semaksimal mungkin memohon pertolongan Allah dan berusaha menghilangkannya. Jangan sekali-kali kita malah mendekati sesuatu yang kita tahu itu akan menghalangi kita. Wasi’ pernah berpesan kepada Imam Syafi’ie; “ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat”. Jadi, diantara penghalang tersebut adalah kemaksiatan. Hati semakin kelam dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan akhirnya terhalang dari ilmu. Jika ilmu saja tidak bisa masuk, bagaimana kita akan berprestasi,  padahal awal dari prestasi adalah sebuah ilmu, “barangsiapa menghendaki dunia maka dengan ilmu dan barangsiapa yang menghendaki akhirat juga dengan ilmu.”
Yang kesepuluh, menelaah pelajaran dari orang yang sukses dan gagal. Pengalaman adalah guru terbaik, kata pepatah. Dari pengalaman kita dapat belajar banyak hal tentang berbagai cara untuk sukses berprestasi maupun menghindari kegagalan. Ambil contoh dalam bidang dakwah, bagaimana Rosululloh dengan keteguhan dan kesabaran yang diiringi hikmah dalam berdakwah, memulai dakwah di Mekah dalam keadaan terusir dibenci namun beliau berhasil kembali lagi ke Mekah dengan kemenangan yang besar tanpa pertumpahan darah. Pelajaran semacam ini bisa kita gali dari orang-orang yang berprestasi sesuai bidang yang kita ambil. Bagaimanakah pula pelajaran dari orang-orang yang megalami kegagalan, darinya kita bisa mawas diri, berhati-hati dari langkah-langkah yang akan menggelincirkan kita. Insaya Allah apapun bidang yang kita ambil, di sana bisa kita jumpai orang-orang yang telah mendahuli dengan prestasinya.

Semua kiat ini tidak akan terwujud keculai kita harus jujur terhadap diri kita dan segera memulainya dari sekarang. Jadikanlah sisa hidupmu lebih bernilai! Selamat berprestasi!

Prestasi tidak akan diraih dengan berleha-leha.

sumber: http://roihan.wordpress.com/2011/02/27/yang-ngaji-yang-berprestasi/
Diberdayakan oleh Blogger.