Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak: Pencegahan Dini Putus Sekolah

Oleh Bulqia Mas'ud


Putus sekolah di Indonesia adalah salah satu masalah utama yang perlu dipecahkan.  Tingkat putus sekolah tertinggi terjadi di daerah-daerah tertinggal terutama tingkat sekolah dasar. Menurut UNICEF untuk Indonesia (2012) tingkat putus sekolah tertinggi terjadi di kelas 1 sekolah dasar (3,7%) dan menjadi lebih rendah di kelas-kelas berikutnya, namun terus meningkat di kelas 6. Putus sekolah disebabkan oleh beberapa aspek. Chirtes (2010) mengklasifikasikan faktor-faktor tersebut ke dalam faktor sekolah, lingkungan sosial, faktor personal, dan faktor keluarga, yang merupakan faktor terbesar. Faktor keluarga perlu ditunjukkan karena pendidikan dimulai dari rumah. Selain itu, waktu keemasan untuk mengajar anak-anak secara efektif adalah ketika anak-anak berusia dini hingga sekolah dasar, walaupun tingkat sekolah menengah pertama juga penting untuk diperhatikan dan tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengeksplorasi putus sekolah dan penyebabnya yang lebih fokus pada faktor keluarga terutama di daerah tertinggal. Juga membahas bagaimana keterlibatan orangtua dapat memecahkan masalah ini dan tantangannya ke depan.

Penyebab, dan Dampak Putus Sekolah

Daerah tertinggal di Indonesia diperkirakan mendapat pendidikan yang tidak setara. Hal ini disebabkan kondisi sosial ekonomi yang buruk dan kurangnya sumber daya manusia. Menurut UNICEF Indonesia (2012), daerah pedesaan dan kawasan timur Indonesia perlu melakukan percepatan untuk mengejar keterbelakangan dalam partisipasi sekolah. Sebagian besar anak meninggalkan sekolah dalam masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama (UNICEF, 2012).

Data lain dari Badan Pusat Statistik (BPS) (2013) dalam Srie (2013) menunjukkan tingkat putus sekolah untuk sekolah dasar di Indonesia rata-rata adalah 0,67 persen dan sama dengan 182.773 siswa di mana provinsi-provinsi terbelakang berada di tempat yang lebih tinggi. Ada lima provinsi yang memiliki tingkat putus sekolah tertinggi untuk tingkat sekolah dasar: Sulawesi Barat (2,37%), Bangka Belitung (1,88%) Papua Barat (1,56%), Papua (1,36%) dan Sulawesi Tenggara (1,32%) (BPS, 2013).

Putus sekolah bisa merugikan masa depan cerah anak-anak dan menyebabkan lebih banyak kerugian. Chirtes (2010) menjelaskan putus sekolah menyebabkan kegagalan dalam integrasi sosial, dan akibatnya sangat mengurangi kesempatan seseorang untuk mencapai kesuksesan pribadi dalam bidang aktivitas yang mereka inginkan. Kegagalan dalam integrasi sosial akan menyebabkan kebodohan anak, tenaga kerja murah, kemiskinan, bahkan kriminalitas. Misalnya, mereka mungkin akan menikah lebih awal tanpa memiliki cukup pengetahuan dan uang untuk membentuk rumah tangga dan membesarkan anak. Mereka juga bisa menjadi beban masyarakat seperti preman, perampok, dan pembuat onar yang membawa ketidakharmonisan dan ketidakamanan dalam masyarakat. Selain itu, harapan untuk sukses secara materi dan mental akan sulit dicapai karena kurangnya keterampilan dan pengetahuan.

Faktor yang menyebabkan putus sekolah bisa beragam sesuai dengan konteks bangsa dan negara. Di daerah terbelakang di Indonesia, putus sekolah terutama disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi yang buruk, yang biasanya berasal dari pendapatan rendah dan latar belakang keluarga yang rendah (UNICEF Indonesia, 2012). Menurut penelitian Chirtes (2010) empat kategori faktor utama putus sekolah adalah faktor keluarga, faktor terkait sekolah, lingkungan sosial, dan faktor pribadi. Chirtes menambahkan (2010, hal.32) bahwa "risiko putus sekolah jauh lebih tinggi pada faktor keluarga dengan standar kehidupan yang rendah, yang harus menghadapi kemiskinan dan marginalisasi." Namun faktor lain perlu diperhatikan seperti rendahnya kualitas pendidikan (baik fasilitas dan guru), ketidaksetaraan distribusi sumber daya sekolah, dan hambatan geografis karena hal ini juga berkontribusi terhadap putus sekolah di daerah pedesaan.

Chung dan Mason (2012) menegaskan bahwa kesenjangan sumber daya terutama antarkelompok sosio-ekonomi dalam masyarakat yang terkait dengan perbedaan kualitas pendidikan, kemiskinan keluarga dan biaya sekolah dianggap sebagai alasan utama terjadinya putus sekolah. Namun, faktor yang berhubungan dengan keluarga adalah faktor terdekat yang lebih mempengaruhi pilihan hidup seorang siswa apakah ingin terus belajar atau tidak. Hal tersebut tergantung pada dorongan keluarga, tidak peduli seberapa besar tantangan eksternal dan sosial yang ada.

Di daerah tertinggal dan pedesaan yang memiliki keterbelakangan sosial seperti sumber daya manusia yang rendah dapat menyebabkan perlakuan keluarga yang kurang tepat dalam membesarkan anak mereka. Seperti yang dibahas oleh Chirtes (2010) penyebab utama putus sekolah adalah standar kemampuan hidup dan pendidikan orangtua yan rendah. Selanjutnya, faktor-faktor ini dapat mempengaruhi bagaimana orangtua dapat membangun hubungan yang kuat dengan anak-anak, menerapkan metode pengasuhan, dan mendorong anak-anak untuk menjadi lebih baik. Akibatnya, orangtua yang memiliki latar belakang pendidikan yang buruk cenderung akan menghambat kemajuan anak di sekolah. Selain itu, mereka tidak akan tertarik untuk mendukung aktivitas belajar anak-anak mereka. Orangtua di daerah pedesaan mungkin saja memanfaatkan anak mereka untuk mencari uang (Chirtes, 2010). Ketika anak mulai fokus bekerja atas perintah dari orangtua, mereka mungkin akan meninggalkan sekolah lebih awal dan terus bekerja untuk mendukung keluarga mereka.

Setelah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluarga ini, keterlibatan orangtua yang efektif sangat dianjurkan sebagai solusi untuk anak-anak yang putus sekolah.

Keterlibatan Orangtua dan Pencegahan Putus Sekolah Tingkat Sekolah Dasar

Orang yang diakui oleh anak-anak untuk pertama kalinya sejak mereka lahir adalah orangtua mereka. Ini juga berarti anak-anak akan mendapatkan pendidikan pertama langsung dari orangtua mereka. Dengan demikian, orangtua akan sangat berpengaruh dalam pendidikan anak. Keterlibatan mereka terhadap pendidikan anak-anak akan menentukan apa yang akan terjadi pada anak-anak di masa depan. Keterlibatan orangtua didefinisikan sebagai "partisipasi orangtua dalam proses pendidikan dan pengalaman anak-anak mereka" (Jeynes, 2011 hal.42). Definisi yang ditunjukkan oleh Jeynes di sini berfokus pada pengalaman pendidikan siswa yang dapat mencakup bagaimana orangtua mendekati siswa saat belajar di rumah, bagaimana mereka mengendalikan anak-anak mereka di sekolah, atau memutuskan sekolah yang baik untuk anaknya.

Keterlibatan orangtua sangat diperlukan dalam perkembangan pendidikan anak-anak sejak dini karena kebanyakan waktu dihabiskan di rumah. Perkembangan anak-anak akan dipengaruhi oleh bagaimana orangtua mereka memperlakukan dan mendidik mereka. Tentu akan ada banyak tantangan bagi orangtua termasuk orangtua berpendidikan rendah dalam mendidik anak mereka. Namun akan selalu ada harapan bagi mereka yang peduli. Banyak kasus dimana latar belakang keluarganya miskin, tapi orangtua masih dapat berkontribusi terhadap pendidikan anak mereka karena mereka menyadari bahwa sangat penting untuk memiliki pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik bisa diraih jika orangtua juga sadar dan terlibat.

Ada hubungan yang kuat antara keterlibatan orangtua dengan prestasi akademik anak-anak. Penelitian oleh McNeal Jr. (2014) membuktikan bahwa keterlibatan orangtua dapat meningkatkan harapan pendidikan, mengurangi tingkat ketidakhadiran siswa di sekolah, dan meningkatkan prestasi anak-anak. Harapan pendidikan berarti disini siswa memiliki ambisi untuk melanjutkan pendidikannya sampai lulus SMA dan bahkan mendaftar di universitas. Pemantauan orangtua memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap perilaku siswa dan secara signifikan mengurangi jumlah ketidakhadiran dan pembolosan serta meningkatkan aktivitas mengerjakan pekerjaan rumah (McNeal Jr., 2014). Orangtua yang selalu berdiskusi dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka tentang kehidupan sekolah akan membantu mereka untuk belajar, mengilhami anak-anak untuk peduli dengan kegiatan sekolah hingga bersemangat untuk berprestasi lebih tinggi. Namun, penelitian McNeal tidak secara jelas menyentuh efek keterlibatan orangtua terhadap anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan tingkat pendidikan rendah. Dengan demikian, penting untuk mengetahui berdasarkan penelitian empiris tren keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak pada keluarga yang tingkat pendidikannya rendah.

Di daerah tertinggal dimana banyak orangtua berasal dari latar belakang pendidikan rendah, upaya untuk melibatkan mereka jauh lebih besar. Orangtua yang diharapkan bisa mendidik anak mereka tidak dapat memenuhi tanggung jawab lebih baik karena kemunduran sosial ekonomi. Bagaimana orangtua bisa mengajar anak mereka jika mereka sendiri perlu dididik. Meskipun tidak semua orangtua di daerah terbelakang memiliki pendidikan berkualitas rendah, faktor-faktor tersebut harus didiskusikan untuk menemukan solusi yang tepat. Oleh karena itu, mempromosikan keterlibatan orangtua yang efektif untuk mencegah putus sekolah pada anak usia sekolah dasar perlu melibatkan pemangku kepentingan lainnya seperti guru sekolah, pakar pendidikan dan praktisi, masyarakat, komunitas yang berkepentingan dan pemerintah. Singkatnya, kita harus memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk melibatkan orangtua dalam pendidikan anak-anak terutama mereka yang berasal dari latar belakang pendidikan rendah atau memiliki latar belakang sosial ekonomi dan budaya yang mundur.

Mendidik dan Menyadarkan Orangtua (Terutama Keluarga Tidak Mampu)

Pendidikan orangtua berkorelasi dengan keberhasilan orangtua dalam mendidik anaknya. Menurut Jeynes (2011) latar belakang sosioekonomi orangtua yang berpenghasilan tinggi terkadang menjadi salah satu faktor tingginya tingkat keterlibatan orangtua. Berdasarkan argumen tersebut, latar belakang sosial ekonomi akan mempengaruhi metode keterlibatan orangtua. Meskipun keluarga berasal dari keluarga yang tidak mampu, kemungkinan besar mereka akan berubah jika mereka percaya bahwa pendidikan itu berharga, apalagi jika mereka ingin melihat anak-anak mereka mengejar pendidikan yang lebih baik daripada mereka. Orangtua yang peduli akan menyediakan sarana pendidikan untuk anak-anak semampu mereka (Jeynes, 2011) Karena itu, pemerintah, pendidik, masyarakat dan kelompok yang berkepentingan dapat berpartisipasi untuk membantu keluarga yang kurang beruntung lebih terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka. Kita dapat mendidik mereka tentang pentingnya pendidikan dan peran mereka dalam pendidikan anak-anak. Misalnya, pemerintah dibantu oleh para pendidik dan praktisi untuk memberikan pelatihan dan konseling dengan tujuan meningkatkan kesadaran orangtua. Masyarakat dan tentangga dapat diperingatkan jika ada keluarga yang memiliki anak berpotensi putus sekolah. Meskipun demikian, kita sebaiknya mengantisipasi tantangan yang mungkin muncul seperti kesediaan stakeholder dan dana untuk mengimplementasikan program.

Komunikasi Orangtua-Anak

Komunikasi antara orangtua dan anak menentukan kemajuan pendidikan anak. Martine-Gonzales (2008) menegaskan bahwa komunikasi antara orangtua dan anak adalah indikator perhatian orangtua. Orangtua yang selalu berdiskusi dengan anak terkait peningkatan pengetahuan bisa mempengaruhi prestasi akademik anak. Selain itu, selalu bertanya kepada anak-anak tentang apa yang telah mereka pelajari di sekolah sangat penting untuk kemajuan pendidikan mereka. Studi yang dilakukan oleh Martinez-Gonzalez (2008) di Spanyol dan Cyprus membuktikan bahwa orangtua yang memiliki tingkat pendidikan rendah tampaknya terlibat dalam berbagai cara dengan bantuan akademis semampu mereka, seperti berbicara kepada anak-anak mereka tentang kehidupan sekolah, menyediakan sarana belajar sesuai kemampuan mereka, menunjukkan kasih sayang, menciptakan lingkungan yang mendukung. Oleh karena itu, menjaga komunikasi dan diskusi antara orangtua dan anak akan mengurangi risiko putus sekolah walaupun orangtua memiliki prestasi belajar yang rendah.

Kemitraan Orangtua-Guru

Kerja sama dan komunikasi antara orangtua dan guru untuk membantu perkembangan anak di sekolah dapat mencegah anak putus sekolah. Bridgeland (2010) menunjukkan bahwa penyebab utama putus sekolah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan orangtua dan guru terhadap kebutuhan siswa. Dalam hal ini, kemitraan orangtua-guru bisa menjadi solusi. Misalnya, guru bisa selalu memberi tahu orangtua tentang kehidupan sekolah anak-anak dan sebaliknya. Selain itu, guru bisa memberi tahu orangtua tentang kekuatan dan kelemahan anak sehingga orangtua menjadi lebih peduli tentang apa yang harus dikembangkan dan dikerjakan anak-anak.

"Dalam pertemuan orangtua-guru, perlu untuk lebih memusatkan perhatian pada karakteristik intelektual dan sikap positif anak-anak. Kemitraan orangtua-guru adalah cara untuk memfasilitasi komunikasi antara guru dan orangtua, untuk membantu pengambilan keputusan bersama tentang bagaimana mengatasi remaja beresiko. Dengan cara ini, mempromosikan program parenting yang efektif di sekolah dapat membantu orangtua untuk membesarkan anak-anak mereka dan berinteraksi dengan guru di sekolah dengan lebih efektif "(Martinez-Gonzalez et al., 2008 hal.516).

Dengan mengadakan pertemuan orangtua-guru, baik orangtua maupun guru dapat bekerja sama untuk mencegah anak-anak dari kasus putus sekolah yang berisiko. Ini akan sangat membantu terutama bagi orangtua dengan tingkat pendidikan rendah karena guru dapat memberikan beberapa solusi atau cara yang bisa diterapkan orangtua di rumah. Kendati demikian, faktor lain harus diantisipasi jika guru menghadapi orangtua yang sulit diajak kerjasama.

Kemitraan Keluarga-Sekolah-Masyarakat

Cara lain untuk mencegah putus sekolah adalah membangun kemitraan sekolah-keluarga-masyarakat. Untuk memaksimalkan rasa keterhubungan siswa di sekolah membutuhkan kerjasama dan kolaborasi antarsekolah, keluarga, dan masyarakat (Goss & Andren, 2014). Kolaborasi ini bisa menciptakan lingkungan belajar yang positif sehingga bisa meningkatkan antusiasme anak untuk mencintai sekolah. Misalnya, sekolah memungkinkan orangtua bahkan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah baik di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dalam hal kemitraan dengan masyarakat, Goss & Andren (2014) berpendapat bahwa masalah putus sekolah bukanlah tanggung jawab sekolah saja, namun merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Kemitraan masyarakat dan komunitas dapat memberikan layanan seperti mengawal, memperhatikan dan membantu keluarga dan siswa yang berpotensi putus sekolah.

Dengan menelusuri penyebab dan dampak putus sekolah, kita bisa menggaungkan keterlibatan orangtua sebagai solusi. Namun demikian, partisipasi aktif guru, praktisi, dan masyarakat sangat berkaitan erat terhadap penyelesaian masalah ini. Dukungan dari pemangku kepentingan terutama pemerintah daerah dan nasional juga sangat penting. Selama orangtua ingin melihat kemajuan anak mereka, apapun faktor dan tantangan yang ada, semua masalah yang berhubungan dengan keluarga dan putus sekolah dapat diatasi.


Daftar Pustaka

Bridgeland, J. M. (2010). The new dropout challenge: Bridging gaps among students, parents, and teachers. New Directions for Youth Development, (127), 101-110. Retrieved August 24, 2015 from http://search.proquest.com/docview/815957720?accountid=12528
Chirtes, G. (2010). A case study into the causes of school dropout. Acta Didactica Napocensia, 3(4), 25-34. Retrieved August 24, 2015 from http://search.proquest.com/docview/1697498745?accountid=12528
Chung, C., & Mason, M. (2012). Why do primary school students drop out in poor, rural China? A portrait sketched in a remote mountain village. International Journal of Educational Development, 32(4), 537-545.
Goss, C.Lee & Andren, Kristina J. (2014). Dropout prevention. New York: The Guilford Press.
Jeynes, William H. (2011). Parental involvement and academic success. New York: Routledge.
Martinez-Gonzalez, R., Symeou, L., Alvarez-Blanco, L., Roussounidou, E., Iglesias-Muniz, J., & Cao-Fernandez, M. (2008). Family involvement in the education of potential drop-out children: A comparative study between spain and cyprus. Educational Psychology, 28(5), 505-520.  Retrieved August 23, 2015 from http://search.proquest.com/docview/61993740?accountid=12528
McNeal Jr, R. B. (2014). Parent involvement, academic achievement and the role of student attitudes and behaviors as mediators. Universal Journal of Educational Research, 2(8), 564-576. Doi: 10.13189/ujer.2014.020805
Srie. (2013). Inilah, peringkat 5 besar provinsi berdasarkan angka putus sekolah. Retrieved August 22, 2015 from http://www.srie.org/2013/02/inilah-peringkat-5-besar-provinsi.html
UNICEF Indonesia. (2012). Ringkasan Kajian: Pendidikan & Perkembangan Anak Usia Dini. Retrieved October 15, 2015 from http://www.UNICEF.org/indonesia/id/A3 B_Ringkasan_Kajian_Pendidikan.pdf



*Tulisan ini diikutkan pada lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

The Qualities of Successful Students

Studying in a university might be very interesting for some people. We can find a lot of knowledge and friends there. Also, we can do many fascinating activities. Types of students in the university absolutely vary. We may find smart, diligent, lazy students. Some of them have either good or bad qualities. The qualities will determine the success of the students. To be identified as successful students, people should at least have these merits, self-discipline, an excellent academic performance, and great organizational experiences.
Firstly, successful students should have self-discipline. These students obviously pay attention to the time management. They do not want to waste their time vainly. In addition, they have arranged all their schedules. They even make the ‘to do’ list in the night before they start their day to ensure that each activity has appropriate time. Furthermore, they are never late in every occasion both in class and extracurricular activities. Each of their time should be meaningful. Although they are very discipline, they still allocate their spare time. They have even organized well their leisure time when and where to spend. They can balance their activities well. In short, students who have self-discipline will be successful because they can spend their time efficiently.
Secondly, the qualities of successful students can be traced by those who have an excellent academic performance. These students are very studious and always focus on their study. Moreover, they always come to class on time and almost never miss the class. They have prepared well before the class starts and also submit their assignment on time. In the end, they generally acquire satisfying mark. Even though satisfying mark does not clearly dispose our success in the future, superb mark or academic track record is an indication that the students have done their best in understanding materials. Having excellent academic track record is very significant because it can show whether the student master their field or not. Furthermore, the students having this asset are so responsible with their field that they can be an expert someday. Although some people think that academically perfect GPA does not guarantee a better future and a successful work, the students having the great academic record have showed their best in learning process and acquire materials perfectly. It will definitely be one of assets to have a better future. In brief, to be successful students, people are supposed to have an excellent academic performance.
The third type of successful students is those who have rich organizational experience. These students love getting involved in various extracurricular activities because they think that being in a club or an organization will build their network and they can socialize with many people. With this advantage, they can establish such lucrative relation that can be valuable for their future. In addition, they can also develop their hobby or interest in certain field depending on the club they are engaged in. It absolutely can add value of either soft or hard skill in their performance. Moreover, being part of the organization can give us opportunity to foster a leadership skill which is very useful in working field. In the working field, leadership skill and organization experiences are more needed than academic track record because a company want to see how people’s performance in accomplishing a project, overcoming a problem, and giving solutions which can only be learned if we are engaged in the organization.
In conclusion, being a successful student is longed for everyone. To reach the ideal, we should have at least three credits which are self-discipline, excellent academic performance, and superb organizational experiences. Those merits will form us to be better not only in the school life but also in the working field.

Bahasa Peradaban

Akhirnya saya memasuki kitab ketiga dalam pengajian saya. Di awal pembahasannya telah dibahas urgensi bahasa. Bahasa sangat erat kaitannya dengan kemajuan atau kemunduran sebuah peradaban. Jadi, sedikit berbangga saya pernah mempelajari teori bahasa meskipun konsentrasi saya tidak ke situ. Dalam buku itu, kami menyebutnya kitab mafahim, dijelaskan salah satu sebab kemunduran dunia islam adalah lemahnya pemahaman umat islam terhadap islam itu sendiri. Semua berawal karena bahasa Arab mulai diremehkan dan ditinggalkan untuk memahami islam. 

Untuk memahami islam secara utuh, tidak bisa dinafikan bahwa bahasa pengantarnya adalah bahasa Arab. Kharisma islam dan kekuatan bahasa Arab adalah satu paket yang membawa kemajuan umat islam. Bahasa Arab adalah bahasa islam. Petunjuk selamat dunia akhirat umat islam, Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Ketika keduanya dipisahkan maka kemunduran akan tetap terjadi. Islam tidak bisa dilaksanakan secara sempurna tanpa bahasa Arab. Umat islam mengenal ijtihad. Salah satu tanda kemajuan umat islam ketika ijtihad tumbuh. Dan ijtihad tidak akan bisa dilakukan tanpa memahami bahasa Arab. Intinya bahasa Arab memiliki kekuatan besar dalam mengembangkan kharisma islam.

Saya sebagai orang yang mempelajari bahasa sebenarnya sedikit malu. Kenapa saya lebih tertarik mempelajari bahasa peradaban dunia hari ini ketimbang bahasa agama saya. Tapi saya tidak menyesal karena mempelajari bahasa adalah mubah. Apalagi bahasa milik peradaban yang sebenarnya ingin kita runtuhkan. Memahami bahasa peradaban dunia hari ini justru sangat penting. Ukurannya sama ketika kita ingin memahami islam dengan bahasa arab. Kita ingin mengenali peradaban hari ini ya kita harus mempelajari bahasanya. Ada banyak literatur dunia yang bisa menjadi modal pengetahuan untuk membongkar kelemahan peradaban yang dibangun setelah peradaban islam runtuh. Tapi, jangan salahkan bahasanya. Sekali lagi mempelajari bahasa itu mubah. Entah itu bahasa darimana. 

Hari ini umat islam sendiri lebih tertarik mempelajari bahasa internasional hari ini ketimbang bahasa Arab. Tentu saja, karena hegemoni global menggunakan bahasa ini. Doktrinnya, ketika ingin sukses di dunia, minimal Anda memahami bahasa ini. Saya termasuk salah satunya. Dulu, tidak pernah terbersit sekalipun saya ingin mempelajari bahasa Arab. Ini masalah kesadaran. Kesadaran itu baru saya dapatkan belakangan ini. Dan lagi-lagi tidak bisa dinafikan kalau settingan peradaban hari ini mengarahkan kita untuk mencintai bahasanya ketimbang bahasa agama kita. Film, musik, dan hiburan-hiburan di sekitar kita mungkin juga menjadi penyebab kuat mengapa orang-orang cenderung kepada bahasa dunia hari ini. Sehingga bahasa islam dan islam itu sendiri semakin jauh dari pemeluknya. 

Saya kadang iri terhadap anak pesantren yang mempelajari bahasa Arab. Mereka sejak dini dididik untuk mempelajari bahasa Arab. Di waktu yang sama mereka juga mempelajari bahasa Inggris. Sampai sekarang saya belum benar-benar serius mempelajari bahasa Arab. Ungkapan-ungkapan itu cuma singgah di bibir manis saya. Padahal pelaksanaan tindakan adalah bukti keseriusan. Dalam buku Hakikat Berpikir karangan Taqiyuddin An-Nabhani dikatakan, berpikir serius ditandai dengan aksi nyata. Ingin belajar ya beli bukunya atau ikut kursusnya. Lalu seriuslah belajar. Tapi dengan berbagai alasan yang mungkin tidak logis sebenarnya yang menghambat saya untuk serius belajar bahasa Arab. Sebagai kesimpulan, saya menyesal kenapa tidak dari dulu saya belajar bahasa Arab.

Saya teringat dengan perbincangan dengan teman saya, dia mengatakan bahwa dia memiliki teman non muslim yang tertarik mempelajari bahasa Arab. Temannya itu mengungkapkan bahwa banyak penelitian yang mengatakan bahwa bahasa Arab akan menjadi bahasa dunia, bahasa internasional. Tanpa disadari sebenarnya itu bukti kecil bahwa islam akan segera jaya kembali. Dan kita telah lama merindukan itu bukan?


Kapasitas Akal



Ada sebuah organ yang dimiliki manusia dengan kekuatan luar biasa. Tidak terdapat pada makhluk hidup lainnya. Mungkin juga jin dan setan. Kita mengenalnya dengan nama otak. Dan di sanalah terdapat akal. Manusia berpikir, berbuat, mencipta banyak hal yang menakjubkan dengan organ ini. Bahkan sebuah peradaban bisa berjaya dan runtuh dengan kemampuan manusia menggunakan kapasitas otaknya. Bedanya ada yang tertuntun wahyu dan ada yang mengabaikan wahyu. Jika kita melihat dengan kacamata keimanan tentu kita akan mengatakan seorang dikatakan cerdas jika ia menggunakan ilmunya sesuai aturan Allah.

Kita mungkin mengenal Mustafa Kemal Attaturk sebagai bapak pembaharu Turki dari buku-buku sejarah semasa sekolah. Padahal sesungguhnya dia adalah biang keladi hilangnya penjaga keimanan terbesar kaum muslimin sedunia. Khilafah Islam. Dia adalah keturunan Yahudi dan salah satu anggota mason dari lodge Nidana. Tidak berlebihan jika saya mengatakan dia jenius. Sebuah peradaban yang selama 700 tahun berusaha diruntuhkan oleh kaum kafir runtuh di tangannya. Dengan kemampuan memaksimalkan kinerja otaknya, merencanakan dan melakukan berbagai macam strategi, khilafah benar-benar runtuh di Turki. Bahkan setan dan jin saja tidak mampu meruntuhkan imperium ini. Padahal Mustafa Kemal Attaturk hanya seorang manusia biasa. Tapi dia memiliki otak brilian yang difungsikan secara negatif, sanggup meruntuhkan imperium besar umat islam yang telah didirikan oleh Rasulullah dan para sahabat dengan susah payah. 

Manusia bisa melakukan banyak hal dengan akal. Manusia bisa ke luar angkasa juga dengan akal. Itulah mengapa manusia dikatakan makhluk yang paling sempurna karena dianugerahi akal. Saya jadi teringat film Death Note, tokoh Yagami Light dengan kejeniusannya bahkan mampu menipu shinigami yang bernama Rem. Light berhasil membunuh Rem. Dalam kasus tersebut seorang manusia yang hanya menggunakan akalnya sanggup membunuh Dewa Kematian.  Dunia memang menjadi dinamis karena akal. Dunia bertambah baik atau bertambah buruk juga tergantung bagaimana manusia menggunakan akalnya. 

Dalam Al Qur’an Allah telah menjelaskan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang cerdas (Al Baqarah ayat 47), hanya saja mereka licik.  Kecerdasan menjadi hal yang tidak berguna jika dilakukan untuk merusak kehidupan. Kecerdasan menjadi nihil ketika manusia tidak mampu menjadi lebih baik dan takwa dengan ilmu yang dimilikinya. Banyak orang-orang cerdas yang berujung jadi koruptor, pengkhianat, dan melakukan penipuan. Banyak ilmuwan terutama di Amerika menggunakan ilmunya untuk kepentingan uang semata bahkan tega membunuh populasi manusia. 

Maka tidak ada yang mampu mengalahkan orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini menembus ruang dan waktu. Sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal, mampu diyakini oleh mereka yang cerdas spiritual. Merekalah yang mampu mengubah dunia menjadi lebih baik. Mereka adalah Rasullullah, para sahabat , dan orang-orang yang mengikutinya. Rasulullah dan para sahabat telah berhasil melakukan penaklukkan demi penaklukkan untuk menjadikan islam sebagai agama yang paling tinggi di muka bumi. Kita pun bisa seperti mereka meski tidak akan tepat menyamai keimanan mereka.

Tidak ada yang mengalahkan kecerdasan generasi Rasulullah dan para sahabat. Mereka membangun sebuah peradaban besar yang menjadi tempat berlindung yang paling aman oleh kaum muslimin dalam sejarah kehidupan manusia. Kecerdasan spirituallah yang semestinya terus dipertajam. Karena akal manusia akan bekerja lebih terarah jika tunduk kepada wahyu. Allah menganugerahkan akal kepada manusia agar mengelola alam semesta dengan tuntunan Allah. Kecerdasan intelektual menjadi pincang tanpa kecerdasan spiritual. Islam telah mencontohkan lahirnya ilmuwan yang seimbang antara spiritual dan intelektual seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Al Biruni, Ibnu Batuta, Ibnu Haitam dll.

Sangat keliru jika menganggap bahwa teknologi dan pengetahuan yang diciptakan karena kejeniusan manusia semata sanggup memperbaiki dunia. Faktanya masih banyak orang yang men-dikotomi-kan antara agama dan kehidupan yang mereka jalani. Agama hanya ada di mesjid-mesjid. Setelah keluar dari mesjid, agama jangan dibawa-bawa. Kita bebas melakukan apa saja. Sekuler. Struktur sosial masyarakat yang dibangun karena kejeniusan manusia semata adalah fatamorgana. Suatu saat akan memudar.

Polewali, 28 November 2013



Teori Jarum Hipodermik



Pernah dengar istilah jarum hipodermik? Dalam dunia medis dikenal sebagai jarum yang digunakan dengan alat suntik untuk menyuntikkan zat ke dalam tubuh manusia. Tapi saya tidak akan bicara tentang jarum hipodermik dalam istilah medis, melainkan komunikasi. Jarum hipodermik dipakai dalam istilah komunikasi merupakan sebuah teori (Hypodermic Needle Theory) atau dikenal juga dengan teori peluru menggambarkan keadaan dimana informasi bisa memutarbalikkan dan menguasai keadaan. Hitler pernah berkata kesalahan yang berulang-ulang bisa menjadi sebuah kebenaran. Ungkapan ini sejalan dengan teori jarum hipodermik. Sebuah informasi yang berulang-ulang akan menjadi sebuah kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh masyarakat. Informasi dalam media khususnya televisi ibarat jarum yang dilemparkan berulang-ulang kepada manusia sehingga manusia menjadi tidak berdaya dan akhirnya pasrah.
Dalam beberapa kasus media yang dikontrol oleh invisible hands seringkali menggunakan teknik jarum hipodermik untuk mengendalikan masyarakat. Salah satu yang paling berpengaruh adalah kasus terorisme. Sebelum peristiwa 9/11 di Amerika terjadi, istilah terorisme tidak begitu familiar. Masyarakat dunia pun mengenalnya hanya sebatas tindakan meneror, mengancam, dan menakut-nakuti seseorang. Tapi setelah gedung WTC diledakkan, stereotype masyarakat dunia berubah dan mengaitkannya kepada satu ideologi: Islam. Terorisme dan islam seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keadaan ini membuktikan kebenaran teori jarum hipodermik. Terlalu seringnya media barat khususnya Amerika mengekspos kasus terorisme dan mengaitkannya dengan islam menciptakan keadaan dimana masyarakat meyakini 75% kasus terorisme diinisiasi oleh kelompok islam. Lihat bagaimana istilah terorisme seketika bergeser. Jika orang atau sekelompok orang yang juga melakukan tindakan teror tetapi mereka bukan muslim, maka istilah terorisme mungkin tidak berlaku dalam kasus ini. Bisa jadi dikenai tindakan kriminal biasa. Media pun tidak terlalu mem-blow-up berita ini.
Lebih spesifik lagi mereka memberikan standar bahwa mereka yang tergolong dalam kelompok ini berasal dari pesantren, berjilbab besar, berjanggut dan sejumlah ciri-ciri lainnya. Padahal sampai sekarang keadaan tersebut tidak benar-benar terbukti. Densus 88 telah melakukan tindakan kriminal karena melakukan pembunuhan kepada orang-orang yang sama sekali tidak memiliki bukti terlibat dalam tindakan terorisme.
Informasi dengan teknik jarum hipodermik benar menciptakan keadaan masyarakat sesuai dengan keinginan media atau pihak yang ada di baliknya. Masyarakat bahkan kaum muslimin sendiri mencurigai saudara dan saudarinya sendiri. Mereka bahkan mempercayai bahwa teroris itu kebanyakan berasal dari pesantren, ikut pengajian, berjilbab besar, berjanggut dll. Hal ini mengakibatkan banyak orang tua yang enggan memasukkan anaknya ke pesantren. Betapa hebatnya media sehingga mampu mengontrol  masyarakat. Informasi yang terus-menerus ditembakkan ke masyarakat seperti peluru yang siap menembus kepala sehingga masyarakat menjadi tak berdaya.
Contoh lain, kita mungkin melihat Amerika adalah negara yang paling sejahtera, penduduknya kaya raya, negara yang paling banyak menyumbang daftar orang kaya dunia. Industri filmnya menjadi kiblat perfileman dunia. Universitas-universitasnya menjadi universitas terbaik dunia dan dicita-citakan oleh banyak pelajar di dunia. Negara dengan teknologi canggih, memiliki kota-kota besar yang terkenal di seluruh dunia, membuat Amerika menjadi negara yang paling ingin dikunjungi. Tahukah kalau Amerika sebenarnya rapuh. Ekonominya semakin ambruk, hutangnya terus bertambah. Tetapi tetap saja itu tidak mengubah citra Amerika sebagai negara impian jutaan orang di dunia. Apa yang membuat orang-orang meyakini hal tersebut? tidak lain karena Amerika telah berhasil membangun citra positif yang terus mereka sebarkan melalui media. Mereka terus menyebarkan budaya dan ideologi mereka melalui film, musik, fashion, fun dll. yang tentu saja melalui media.
Informasi yang disampaikan berulang-ulang membuat masyarakat menjadi biasa dengan hal itu. Mereka telah menganggap itu menjadi lazim. Saat ini siaran televisi menjadi salah satu faktor penghancur masyarakat khususnya generasi muda. Berapa banyak tayangan sinetron, lagu-lagu tentang percintaan yang dikonsumsi oleh anak-anak kita. Media televisi menjadi alat untuk melumpuhkan otak anak-anak kita. Bahkan anak-anak sekolah dasar menganggap pacaran menjadi hal biasa. Para orang tua juga menganggap hal itu bukanlah kesalahan. Apa yang setiap hari ditawarkan televisi berhasil menggiring masyarakat dalam kehidupan yang semakin tidak punya aturan. Bandingkan beberapa tahun silam dimana media belum seperti sekarang ini. Jika kesalahan saja berhasil diubah menjadi kebenaran dengan menggunakan teori jarum hipodermik, coba bayangkan jika kita menggunakan teori ini untuk menyebarkan sebuah kebenaran mutlak, Al Qur’an dan As Sunnah yang berasal dari Allah swt dan Rasul-Nya.

Kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir
 (Ali Bin Abi Thalib ra.)

Diberdayakan oleh Blogger.