Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sampa Bertemu Lagi

#quote #indonesia


Senja di batas kota.
Sampai kita bertemu lagi.
Minggu yang rindu
Sendu yang tenggelam bersamamu

Boleh jadi ada cinta yang menggigil
kala malam yang tak lagi sama
setelah kamu menghilang dari cakrawala

Tapi, bukankah selalu ada bias jingga yang tersisa.
Tak lantas pergi.
Seperti harapan yang malu-malu.
Esok dan nanti, kau akan datang lagi!


23 September 2018

Photocredit: https://pict.icu/pins/793548396827962224

Sahabat ke Surga



Jika alam mengajarkanmu mencari makna
Maka carilah senja di langit sore
Temui rembulan di langit malam
Dan menjadilah bintang di atas sana


Seindah-indahnya langit biru
Segigil-gigilnya musim gugur
Dan sekenang-kenangnya hujan yang telah berlalu
Mari menjenguk masa
Saat kita duduk bersama
Ketika canda dan duka telah kau bagikan

Di ruangruang hati kita
Dalam genggaman erat tangan kita
Dan di balik doadoa sujud panjangmu
Bisikkanlah namaku ke semesta.

Jika ke surga adalah tujuan
Jangan hentikan cerita kita di sini
Karena di sepanjang jalan menyemai cinta,
Kita akan saling menemukan di sebuah telaga di surga kelak.
Semoga!

Melbourne, 27 April 2017

📷 @dheewiwik

Dekapan Sepi




Tidakkah kau merasa sunyi di tengah malam yang kian panjang?
Duka yang mengendap, perlahan-lahan kudekap dan kulepaskan di sisa-sisa panasnya musim panas

Perasaan-perasaan yang selalu terkejar waktu ingin kuabaikan
Tapi manusia tetap saja datang membawa kabar bahagia

Aku mencari cara agar tidak sepi
Buku-buku tak lagi membuang sunyi
Perjumpaan dengan orang-orang hanya menyembuhkan di salah satu ruang di dada

Tidakkah kau merasa perjalananmu semakin kuat tetapi hatimu semakin kosong?
Aku ingin lebih cepat berlari
Berjalanpun tak mengapa
Tapi sunyi semakin mencari
Dan aku tak tahu lagi kepada siapa harus berlari 


Melbourne, 19 Maret 2017
 

Pencarian Manusia

Matahari kali ini terbit menyimpan pesan dari langit musim panas
Dan angin pernah menyampaikan kabar tentang keberadaan orang-orang yang tertunduk dalam hening, terjaga dalam malu.

Kau yang mungkin dikirim lewat pertemuan antara keningku dan bumi
Masih saja rahasia yang mungkin sedang diperbincangkan dalam kicauan burung-burung
atau dalam deru angin gurun

Aku bercerita tentang bumi yang kusinggahi
Kau tetap saja disembunyikan oleh peredaran siang dan malam
Kemana langkah kakimu mencariku
Dimana pijakan kakiku menunggumu
Kemudian kita seolah lupa bahwa takdir hanya menitipkan harap ke dalam dada manusia.

Dan Tuhan membuka jalan lewat setiap harap yang mereka simpan


Melbourne, 13 Januari 2017

Perempuan dan Harapan


Kalau saja bahagia itu berwujud, 
mungkin ia akan menyerupai senyummu yang tertangkap oleh mataku

Kalau saja cinta itu berwujud,
mungkin ia menjelma bunga-bunga yang selalu kau kagumi

Kalau saja rindu itu berwujud,
mungkin ia menjelma hujan yang jatuh di halaman rumahmu

Apa yang membuat seorang perempuan memiliki harapan?
Aku bertanya
mungkin hatinya ingin menyentuh kebaikan
mungkin langkah kakinya sedang menapaki mimpi-mimpi
Bahwa ia sedang mempersiapkan surga di dalam rumahnya

Tiba-tiba matamu berkaca-kaca
Tak berapa lama kemudian, senyummu merekah
seperti hujan yang baru saja menghapus kemarau panjang
Dan kamu baru saja melupakan kesedihanmu
begitulah hati mengajarkan hidup

Semoga berkah umurmu, duhai saudariku
Terimakasih atas inspirasinya
Aku menyayangimu karena Allah!



Melbourne, 28 September 2016 

Inspirasi

Ada dua jam di kamarku yang detakannya beriringan
Satunya jam dinding
Satunya lagi jam weker berwajah panda

Kala hening datang, yang terdengar hanyalah obrolan mereka berdua
Aku ingin masuk, tapi ada bahasa-bahasa yang tak akan pernah kupahami
Perbincangan waktu yang rumit


Aku adalah pendengar setia perbincangan serius itu
sambil menatap bukubuku yang berbaris di meja belajarku
atau sesekali mengarahkan pandangan ke layar komputer. Kosong.

Mereka memutar waktu begitu cepat

Kadang dalam lamunan
atau dalam keadaan kau tidak sedang berpikir
tibatiba Tuhan menyentuh pikiranmu
seperti sehelai daun yang baru saja digugurkan
kau memungutnya
ini inspirasi yang baru saja dihembuskan
Kau menemukan sebuah ide

Terima kasih malam yang masih dingin!

Melbourne, 23.45,13/9/16

Mencipta Kebahagiaan

 

Setiap daun yang jatuh adalah takdir 
Kadang anginlah yang menjadi sebab
Sama seperti dalam hidup, tidak ada hal yang jatuh sia-sia

Setiap daun yang jatuh punya cerita
Dan setiap cerita adalah pelajaran
bagi orang-orang yang tahu arah hidupnya

Ketika senang, kamu bersyukur
Ketika sedih, kamu bersabar
Bukankah tidak ada hari yang buruk?

Meski musim berganti empat kali di kota ini
Hatimu yang tetap tahu jalan pulang
lebih indah dari bunga yang baru saja bersemi 

karena bahagia itu,
kita ciptakan sendiri
di hati

Melbourne, 11/ 9/16

Setelah Deadline Pertama

Puisi ini saya tulis untuk merayakan kelegaan atas deadline pertama di semester ini. He, selanjutnya masih banyak deadline-deadline menanti. Semoga saya bisa melaluinya dengan baik.

tepat pada pukul 11.45 
hati kembali lapang
detakan jam dinding di kamarku kini terdengar lebih jelas
segela beban telah terlepaskan tepat pada pukul 11.45
kepala terasa ringan
jantung yang berdebar kembali normal
aku yang sering berlomba dengan detik-detik akhir seperti ini,
adalah hal yang ingin kuubah

suhu musim dingin kembali turun beberapa derajat
jangan lupa menikmati subuh yang khidmat
selamat malam, Malam!

Melbourne, 00.10, 16 Agustus 2016

Suatu Sore di Musim Gugur




 

Temukanlah kesabaran pada daun yang gugur
Ada kisah yang belum tersampaikan
di bawah langit biru yang penuh tanda tanya

Kita berjalan, berlari, dan belajar
Kali ini hatimu boleh bahagia
Sebab cinta masih kau miliki
Sebab hatimu masih bisa lapang
Serupa daun gugur yang selalu ikhlas diterbangkan angin

Ikutilah impianmu
Sebab ia adalah harapan agar langkah kaki tak berhenti di hari ini
Tapi, kemana pun kau pergi carilah ketenangan,
carilah kebahagiaan!

Melbourne, 11 Mei 2016

Hari yang Selalu Tepat Merindukan Ibu






kemarin setelah cuaca menepati janjinya
aku tiba-tiba merindukanmu
rindu yang diantar para malaikat
serupa kesegaran yang mungkin langka di musim ini

waktu mengibas tanda tanyaku
doa-doa yang kau kumpulkan
menghujaniku dengan lembut, namun pasti
inilah aku yang berjarak beberapa cahaya darimu
gunung dan lautan yang membentang
adalah jarak yang diciptakan Tuhan untuk memperbesar cinta

meski jemarimu tak kugapai kali ini
dan letak keriput di wajahmu yang perlahan memudar di memoriku
kau tetaplah rindu yang paling indah
hatiku tidak pernah penuh untuk itu

tetaplah melangitkan kata-kata
karena kutahu semua yang baik, yang datang padaku
adalah tanda kau masih meneruskan namaku ke atas sana

suatu waktu kau akan kubawa melihat 4 musim yang berbeda
ketika cinta dengan mudahnya gugur, tumbuh, diam, dan membeku
juga hangat oleh mataharinya yang tak kau temui di kota kita
inilah aku membawa pohon berbunga cinta untukmu
Selamat Hari Ibu!



Melbourne, 22 Desember 2015

#photo credit @Nuning Wahyu 


Kepada Musim Semi




Kepada musim semi yang segera berlalu
Kamu seperti cinta yang singkat
Memekarkan bunga-bunga
Seperti hati yang ikut mekar
Lalu kau pergi meninggalkan jejak yang tak bernama



Bau musim panas telah dibawa angin,
Mengingatkan untuk segera pulang ke tempat bernama rumah


Kepada musim semi,
Aku selalu menyukaimu
Sebab segala sesuatu tumbuh menjadi harapan baru


Sebelum kau benar-benar pergi
Ucapkan padaku sampai jumpa
Jatuhkanlan daun yang tumbuh bersamamu,
tepat di hadapanku


Lalu bawa semua kenangan sederhana yang kau bekaskan
Agar aku bisa menerima kehadiran musim panas
Musim untuk bersabar


Melbourne, 6 Desember 2015

Girls beside Flowers



Aku memperhatikanmu diam-diam
Kau nampak sangat bahagia
Aku bertanya,
Apa yang membuat seorang perempuan merasa paling bahagia
sekaligus bersedih dalam waktu yang bersamaan?

Kujawab tanyaku sendiri,
mungkin ia sedang jatuh cinta
Seperti awan yang mengikuti langkah kemana si perempuan pergi
Demi melindunginya dari sengatan matahari

Tiba-tiba langit kelabu
dan bunga-bunga itu tampak layu
Ternyata,
birunya langit telah dicuri senyumanmu
Warna dan mekarnya tulip telah berpindah ke hatimu

Harapan di dadamu mungkin semakin membesar
Tapi pernahkah kau berpikir
di luar sana ada hati yang tengah kau patahkan
dan kau tidak pernah tahu


Melbourne, 13 Desember 2015

Perempuan dan Bayangannya





Seorang perempuan berdiri seorang diri dalam keramaian
Ia bercakap bersama bayangannya
Dikumpulkannya rindu
Dimekarkannya cinta
Diluruhkannya kenangan

Kemudian,
Rindu, cinta, dan kenangan itu ia masukkan ke dalam tas berwarna oranye yang sedang dipegangnya
Ia berjalan menuju sisi jembatan dimana ia dapat memandang Sungai Yarra

Ia sekali lagi menatap ketenangan Sungai Yarra dari Queensbridge
Sepertinya ini adalah cinta yang tak layak diteruskan
Lalu dilemparkannya tas oranye yang berisi cinta, rindu, dan kenangan itu
Kini, tak boleh ada cinta dan rindu pada yang belum menjadi takdir


Melbourne, 18 November 2015

Suatu Pagi dari Sudut Jendela



Aku tengah membacamu dalam keheningan
Ketegasan yang kau tampakkan adalah pesonamu
Apakah kau masih sendiri?
Serupa pohon yang betah menyendiri di balik jendela kamarku

Kedua mataku adalah pesan
yang tak tersampaikan
Di tengah keramaian, kamulah yang kali pertama ia temukan
Seperti sehelai daun yang menguning di antara dedaunan yang hijau
Lalu gugur, dan tertiup angin. Hilang.

Jika esok hari, kau terbit seperti matahari di musim semi,
tetaplah tenang
Meskipun langit perlahan memanggil gelap
Aku akan belajar menanti apakah hujan turun atau tidak


Melbourne, 17 November 2015

Senja di Dandenong Road



Seperti matahari senja ini
Berlalu dengan pelan
Hingga tertelan malam
Akankah aku menyaksikannya lagi?

Begitulah pertemuanku denganmu

Melbourne, 16 November 2015

Perasaaan


Mungkin perasaan adalah hal yang paling sulit disembunyikan
Bahkan ketika kau melemparkannya ke dasar lautan terdalam di dunia sekalipun
Ia akan terbaca dari pancaran matamu
Dan irama detak jantungmu

Tidak apa-apa jika kau tak sanggup berkata-kata,
Kita bisa berbicara lewat mata
Jika kau tak sanggup berbicara lewat mata
Sampaikanlah dengan puisi
Dengan jalan apapun, suatu saat ia akan sampai kepada siapapun yang kau tuju

Kita adalah suara yang tak terdengar
Tapi kita bisa bicara pada dunia dengan hati

Melbourne, November 2015



Menikmati Sunyi


Sepertinya ini waktu yang tepat mengunjungi dirimu sendiri
Sudah saatnya membersihkan debu yang menempel di dindingnya yang rapuh,
Aku tidak merasakan apa-apa selain musim Melbourne yang tidak menentu
Matahari seperti kata-kataku yang tertelan beberapa hari ini oleh cuacanya
entah mengadu kemana atas apa yang telah tercuri perlahan-lahan

Rumah yang kutinggalkan, langit yang teduh, dan suara angin yang langka
Aku menunggu telepon Ibuku malam ini
Tapi suaranya tidak terdengar sama sekali di telingaku
Aku tetap menunggu
Ada sesuatu yang ingin kukabarkan
Tapi suaranya tetap tak terdengar hingga malam semakin larut

Aku menunggu pagi di malam yang sepi
Tapi menunggu malam di siang yang riuh
Meski kutahu, aku tidak akan menemukan jawaban dari apa yang kucari di luar sana
Karena jawabannya ada di hati yang luas


Melbourne, November 2015




Langit Berkabut



Sampaikan salam kita pada matahari
Saat langkah kaki menyentuh butiran air yang membeku
Kita menatap langit berkabut
Ada jeda di dada yang terasa lapang
Kuyakin itu rasa syukurmu kepada Sang Pencipta
dan cahaya di langit Mt. Buller seketika menghilang

Kemana langkah setelah ini?
Kita tak tahu
Sampai kita menyadari
bahwa mimpi telah menyatukan kita di sini


Kita mungkin bahagia
Tapi orang tak tahu
Bahwa kita pernah menangis
Di dingin dan gelapnya malam

Mari kembali mengejar matahari!!!

Melbourne, 9 Agustus 2015

Kebahagiaan

Apa yang kau rasakan saat air jatuh dari langit
Langit gelap dengan warnanya yang mungkin menyerupai hatimu
Kau lihat seekor burung hinggap di beranda rumahmu
Dan anak kecil yang lucu tertawa manis bersama gerimis yang jatuh
Tak ada suara, dia ikut memandangi langit kosong dengan hatinya yang selalu lapang
Yang kau perhatikan hanyalah binar matanya
Dapatkah kau menemukan bahagia melampaui itu?
Seumpama surga-surga kecil di bumi
Suara-suara angin menutup keburukan pagi
Dan membawa ketenangan hati
Menerbangkan setitik air, mengenai pipimu
Kemana hari ini akan berlabuh
Semoga rasa syukur selalu terbit di hatimu untuk nikmat yang tak kau tahu apakah sanggup membawanya

16 Juni 2015

Starlight From Your Face



Tidak seperti biasanya ketika kita menghabiskan pagi dengan menyeduh teh
Sambil menyaksikan sisa-sisa embun di rumput halaman
Pagi kali ini kau mulai sibuk mengurusi kedua cahaya mata yang mewarnai harimu
Dan membuatmu lebih bersyukur atas penantian yang lama.

Sinar matahari mungkin masih sama diselingi oleh hujan yang sesekali jatuh
Tak banyak waktu untuk kita berdua kali ini
aku mulai terbiasa dengan perpisahan
bahkan kedatanganku kali ini pun tak akan lama

Aku merindukan saat kita duduk di beranda dan menatap langit malam yang indah
Beribu bintang yang cahayanya seolah terpantul ke wajahmu
Menandakan bahwa kau selalu bahagia dengan kehadiranku

Aku tahu pengorbananmu
Aku ingat jelas setiap lelah yang tercipta untuk membuatku lebih bersinar
Bahkan keberuntungan yang kudapatkan adalah sebagian dari doa-doamu yang menembus langit

bagaimana bisa kutinggalkan setiap sudut rumah tempatku kembali
di kamar ini udara di subuh hari membuatku menggingil sampai-sampai hidungku akan berair di pagi harinya
dan cahaya bulan yang lembut tak lagi menembus jendela kamar
seperti rumah yang menunggu seseorang yang baru

aku beruntung dihadiahi ruang yang luas untuk menerjemahkan alam
dan perkenalan-perkenalan yang membuatku banyak belajar
melihat kabut dan senja di tempat berbeda

dan itu mungkin saja bagian dari kalimat yang kau rapalkan di sepertigamalam-mu
entah dengan cara apa membalas ini semua


Polewali, 22 April 2015
Diberdayakan oleh Blogger.