Tampilkan postingan dengan label slice of life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label slice of life. Tampilkan semua postingan

Pelajaran dari Long Distance Marriage




Boleh jadi memang jarak itu bukan lagi masalah jauh dekatnya, tetapi perasaan yang ada di dalamnya.

Semenjak Long Distance Marriage (LDM), saya jadi semakin memahami bahwa hubungan dua orang manusia bukan bergantung kepada jasad dan fisik manusianya. Tetapi, apakah ruh-ruh kita terhubung kepada Sang Pemilik Semesta. Apakah kita masih saling mendoakan? Apakah kita masih saling merindukan?

Ketergantungan kita sebenarnya bukan pada pasangan hidup tetapi kepada Allah Swt. Kita semakin ikhlas menjalani proses kalau dilakukan karena Allah. Mungkin tidak akan ada perasaan kecewa, sedih, kesal jika semua yang kita lakukan karena Allah. Apapun yang kita lakukan kepada pasangan hidup menjadi lebih tenang kalau ada ruh dan iman di dalamnya.

Kadang saya berpikir, apakah suami saya bahagia di sana? Apakah dia sehat-sehat saja? Apakah dia tidak menjalani hari-hari yang buruk. Apakah dia bisa semakin produktif menjalani kesehariannya. Apakah pekerjaannya terurus dengan baik? Apakah ibadahnya semakin meningkat? Kalau tidak, saya tentu merasa bersalah sebagai istri.

Bagi yang LDM, bisa mendengar kabar dari pasangan hidup kalau dia baik-baik saja adalah hal yang membahagiakan bukan? Mungkin itulah mengapa komunikasi sangat penting dalam menjalani hubungan seperti ini. Ada dampak psikologis kalau kita bisa mendengar kabar masing-masing.

Saya jadi teringat doa yang seringkali orang ucapkan dalam majelis pernikahan, "Semoga Allah memberkahi kalian (di kala senang), dan memberkahi pula (di kala sedih) serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan." Doa ini sangat substantif, indah, dan holistik. Karena pada akhirnya yang kita cari dalam pernikahan adalah keberkahan dan kebaikan baik itu di kala senang maupun sedih. 

Ada yang bilang indikator keberhasilan rumah tangga itu, bertambahnya kebaikan-kebaikan, bukan kebahagiaan saja. Tidak selalu dalam rumah tangga itu dipenuhi suka, karena pasti ada juga duka yang menjadi bumbu-bumbu rumah tangga. Kemudian, seorang istri dan suami berusaha mengambil peluang bagaimana agar dalam setiap keadaan adalah bertambahnya ketaatan, kebaikan, dan cinta kasih.

Bagi yang tengah menempuh LDM, semoga Allah memberkahi dan meridhoi keluarga kita. Untuk suami saya, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran menulis thesis. Tercapai target-targetnya. Semoga ibadahnya tidak terbengkalai gara-gara thesis hehe. 


Ramadan Day 22, 1439 H




Magnet yang Baik




Sama seperti dirimu, bahwa seseorang dalam doa-doanya sedang berusaha memenangkan takdir terbaik. Waktu mungkin saja mengajarkanmu tentang arti bertumbuh, tentang arti bersabar. 
 
Saya selalu percaya, kamu akan menemukan seseorang yang punya visi yang sama denganmu. Jika kamu memupuk sikap hidup yang baik, maka tak usah risau tentang siapa yang akan mendampingimu. Karena magnet yang baik akan menarik sesuatu yang baik.

Kelak kau akan pahami bahwa yang terberat bukanlah rindu. Tapi mempertahankan rindu, mempertahankan cinta. Kata orang, cinta yang bertahan adalah cinta yang punya visi yang sama. Ketika kamu sama-sama mencari ilmu. Ketika kamu sama-sama mencintai Tuhanmu. 

photo credit: @welldonebro

Resolusi???


Januari hampir berakhir. Sementara saya belum merancang resolusi untuk tahun ini, kebiasaan saya. Dan mungkin kebiasaan banyak orang. Resolusi menjadi penting setidaknya untuk mengingatkan saya agar berada di jalur yang tepat. Di perencanaan yang telah saya pikirkan dengan matang. Meski, semua hanyalah catatan harapan yang dibuat manusia lemah seperti saya. 

Orang-orang selalu berkata. Masa depan itu tidak datang begitu saja. Masa depan itu diciptakan. Bukankah Allah selalu adil. Dia memberikan ruang ikhtiar. Ruang dimana kamu bisa merancang sesuka hati dan memiliki pilihan hidup. Agar masa depan yang kamu inginkan tervisualisasi lebih jelas. Tapi, jangan pernah khawatirkan masa depan itu. Karena tugasmu hanyalah berencana baik.

Sungguh tidak adil jika masih ada manusia yang menyalahkan nasib. Sementara mereka tidak merancang hidupnya dengan baik. Sungguh tidak adil jika masih ada manusia yang membela diri belum dapat hidayah, jika Tuhan membuka lebar ruang untuk memilih. Memilih hidup lebih baik atau sebaliknya. Memilih jalur yang benar atau sebaliknya. Bukan dikekang oleh apa yang kamu sebut nasib. 

Tapi manusia yang beriman, selalu sadar bahwa rencana-rencananya selalu dalam kendali takdir Tuhan. Orang yang beriman selalu paham Allah lebih tahu dari resolusi dan rencana yang dibuatnya. Manusia tetaplah hamba dengan segala keterbatasannya dan ketidaktahuannya akan masa depan.

Resolusi hanyalah harapan-harapan yang kamu ciptakan. Harapan baik akan selalu memiliki jalan untuk terwujud. Dengan niat yang baik dengan doa yang tulus. Tapi Allah Maha Baik memberi apa yang kamu butuhkan bahkan kadang memberikanmu lebih cepat dari waktu yang kamu rencanakan. Atau bahkan memberi apa yang tidak pernah masuk dalam perencanaanmu. Tetaplah memiliki harapan baik!

Lelaki Langka



Hasil gambar untuk siluet lelaki

Di dunia ini, saya percaya masih ada lelaki langka. Lelaki yang tidak kebanyakan. Di saat banyak lelaki meluaskan pergaulannya dengan kesenangan yang tak bermanfaat. Mereka memilih untuk membatasi lingkungan mereka kepada hal yang positif saja. Mereka tidak eksklusif. Mereka tetap bergaul dengan semua orang, dari latar belakang yang berbeda. Hanya saja mereka memiliki prinsip yang membuat mereka menjadi sosok yang terhormat. Sosok yang disegani dan memiliki wibawa.

Mereka adalah orang yang masih teguh menundukkan pandangannya di saat banyak lelaki yang meliarkan pandangan matanya. Mereka yang mungkin masih konsisten tidak menyentuh lawan jenisnya karena sadar bahwa perempuan itu layak diperlakukan dengan baik, dihormati, dan dijaga. Mereka tidak ingin mengikat hati perempuan dengan ikatan yang rapuh. 

Mereka yang mendahulukan perempuan dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Mereka tidak tega melihat para perempuan harus bekerja keras. Mereka mencegah para perempuan agar tidak dihinakan. Mereka membuat perempuan layak dihormati.

Sebagai anak, mereka yang sangat sayang dan patuh kepada ibunya, pun kepada ayahnya. Sebagai suami, mereka yang meluangkan waktu untuk membantu istrinya dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, di tengah kesibukannya mencari nafkah. Sebagai ayah, mereka sangat penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Sebagai bagian dari masyarakat, mereka sangat baik kepada tetangganya. Lelaki seperti ini ada. Tentu masih ada. Semoga kamu segera bertemu dengannya.

Image from https://queenbee2108.wordpress.com

Yang Tak Harus Gugur di Musim Gugur


Semakin jauh waktu berjalan, semakin jauh pula hubungan di antara manusia. Kita dipertemukan oleh sebuah alasan dan pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa kita akan berpisah karena sebuah alasan. Begitulah waktu mengajarkan keikhlasan.

Kemampuan kita hanya sebatas memandang foto-foto kebersamaan. Setamat sekolah, lulus kuliah S1, bahkan S2 teman-teman kita tak lagi sama. Semuanya hanya datang, singgah, lalu pergi. Kita yang dulu pernah dekat sekarang tak lagi bertegur sapa. Kita yang dulu pulang sekolah bareng, tinggal di kosan yang sama atau bertetanggaan. Juga sehari-hari bertemu di kampus karena amanah organisasi atau mengambil mata kuliah yang sama, sekarang telah memiliki kehidupan masing-masing.

Beruntungnya, kita masih dipertemukan dalam jarak yang dekat tetapi sejatinya jauh. Kita masih bertegur sapa di dunia maya. Kita pun masih saling tahu kabar terbaru dengan hanya memandangi layar segi empat di depan kita. Setidaknya masih ada peluang untuk kita bersilaturrahmi. Sebelum waktu benar-benar memudarkan ingatan di antara kita.

Rasanya saya mulai memahami teori tentang pertemuan dan perpisahan. Ketika pada akhirnya kita akan berpisah dengan teman-teman dekat kita sekarang, maka berusahalah menciptakan atmosfir kebaikan. Berbuat baiklah dan sayang-menyayangilah di antara sesama. Paling mungkin, jangan membawa keburukan kepada teman-teman dan lingkungan kita. Agar doa-doa kita bisa saling menyatu karena pernah saling membantu. Semoga di setiap kesempatan kita tidak pernah saling menyakiti sesama teman. Kita senantiasa dan saling membawa kebermanfaatan. *

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim)

Karena ukhuwah tak mesti gugur layaknya daun di musim gugur.

Melbourne, 23 April 2017

Memajang Foto di Dunia Maya

Saya tidak tahu kapan ini bermula. Dulunya, saya sangat jarang sekali meng-upload foto diri di media sosial. Bahkan orang-orang tidak akan mengenali siapa saya sebenarnya saking tidak ada satu pun foto wajah saya yang nampak. Baru setahun belakangan ini, semua itu bermula. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang haram dan saya tidak menyalahkan siapapun yang mau mengupload foto wajahnya di media sosial. Hanya saja, saya kembali berpikir untuk apa semua itu saya lakukan? Penghargaan siapa yang ingin dicari? Apa niat dalam hati saya? Saya berkontemplasi. Tidak ada satu jawaban pun yang saya dapatkan selain ingin agar dilihat oleh manusia. 

Diskusi ini berlanjut dengan beberapa teman di sebuah grup di WA. Ya, kami bersepakat bahwa ini tidak haram selama foto-fotonya menutup aurat dan sopan, tidak berlebihan seperti yang diungkapkan oleh Ustadz Felix Siauw di akun facebooknya. Saya bisa menerima penjelasan itu. Baiklah, kita bersepakat untuk mengembalikan ke niat masing-masing. 

Tapi kemudian pertanyaan yang muncul. Apa niat kita, kalau bukan ingin dilihat oleh manusia, ingin mendapatkan penghargaan atau penilaian manusia, bukan? Apalagi yang diupload adalah foto-foto pilihan yang cantik-cantik, pemandangannya bagus, seni fotografinya oke. Hmm, jelas semuanya hanya untuk menarik perhatian manusia. Jujur, awalnya saya alergi pasang foto wajah di media sosial, tapi karena teman-teman dan keluarga di Indonesia ingin tahu kabar saya dan ingin melihat keadaan saya di luar negeri, maka saya memutuskan untuk mengupload sesekali. Oh iya satu lagi, karena beberapa teman tidak mengenali saya, karena tidak ada satu pun foto yang menampakkan wajah saya terpasang di media sosial. Semuanya mungkin berawal dari sini.

Hanya saja niat saya menjadi berubah dan saya semakin aktif memajang foto diri di media sosial. Saya ketagihan mengabarkan setiap kejadian dan tempat-tempat indah yang saya kunjungi di media sosial. Sekali lagi ini tidak haram dan saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja ini refleksi diri saya pribadi. Untuk apa semua itu saya lakukan dan apa niat saya. Saya belum menemukan jawaban yang bisa memuaskan hati. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menghapus beberapa foto yang diambil dari jarak dekat. Saya tetap akan mengupload foto diri, ya untuk sekadar mengabarkan ke keluarga dan teman-teman. Tapi, sungguh media sosial ini menjadi ajang untuk pamer apa-apa. Niat kita benar-benar dipertaruhkan. Orang-orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik dari dirinya. Saya pun akhirnya ikut-ikutan. Ya Allah, begitu mudahnya hati ini mengikuti standar sosial masyarakat. Saya semakin merenung, kita memposting sesuatu sebagaimana kita ingin orang lain melihat kita. Kita tentu tidak ingin memposting foto yang kita tidak ingin, orang lain lihat. Jelas sekali, penghargaan siapa yang kita cari. 

Saya juga belum bisa untuk tidak mengupload foto diri, apalagi beberapa foto saya sudah tersebar di akun teman-teman yang lain. Ya Allah, semoga ketika mengupload sesuatu, orang-orang tidak mendapat hal buruk dari itu, tetapi justru mendapat sesuatu yang baik. Seperti mendapat inspirasi mungkin. Tapi, jujur saya memang ikut-ikutan tren Instagram. Semoga niat saya bisa terus diluruskan bahwa ini bukan bermaksud riya' atau pamer. Semoga bisa menginspirasi teman-teman di dunia maya. 

Melbourne, 5 September 2016

Memantaskan diri

 

Mungkin kebahagiaan itu semu jika dicari pada hal-hal di luar diri manusia. Kebahagiaan itu letaknya di hati yang selalu tahu jalan kebenaran.

Jalan-jalan semakin ramai tapi saya tidak tahu hendak kemana mengunjungi kawan-kawan yang pernah dekat di masa lalu. Pilihan-pilihan sederhana dan pertemuan-pertemuan dengan beberapa orang dari masa lalu telah membentuk kita menjadi seperti sekarang ini. Ada yang semakin menjauh dan ada yang semakin mendekat. Sampai dunia ini berakhir, kita akan selalu melalui seleksi pertemanan. Teman-teman dekat kita akan berubah seiring berubahnya tempat berpijak kita. Hanya keluargalah yang abadi.

Saya juga tidak menyangka akan melintasi beberapa tempat di dunia ini. Kembali ke kota kelahiran, telah menyadarkan saya seberapa jauh jarak tempuh, pergolakan pemikiran dan perasaan yang harus saya lalui untuk bisa sampai ke tahap ini. Harapan-harapan saya yang dulunya membeku, mencair satu persatu. Saya seperti merasakan cahaya matahari yang berbeda meski berasal dari matahari yang sama. Seperti merasakan rasa hujan yang berbeda meskin turunnya di langit yang sama. Ketika berada di kota B, kita merindukan langit kota A, pun sebaliknya. Kita menyebut rindu itu tuntas ketika berhasil menemui setiap yang ingin kita temui.

Jalan-jalan yang kita lalui, gedung-gedung yang kita saksikan bahkan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi pasti telah dilalui oleh banyak orang terlebih dahulu. Kembali ke Indonesia sampai ke Kota Polewali seperti menggulung jarak yang pernah saya bentangkan. Saya ingin menjadi solusi dan pembawa kebahagiaan bagi orang-orang yang mengenal saya. Saya berharap keberadaan saya akan membawa kebahagiaan dan mengurangi masalah mereka. 

Berbicara mengenai jodoh. Hidup adalah tentang memantaskan diri sampai mendapatkan cinta Tuhan dan cinta orang-orang yang berhak mendapatkannya. Kita mencapai ini dan itu adalah upaya memantaskan diri. Kita berkenalan dengan orang-orang hebat adalah peluang memantaskan diri. Bahwa saya ingin sehebat dia. Bahwa saya ingin memantaskan diri saya agar bisa menyamainya. Meski pada akhirnya tidak selalu bertemu. Karena tidak ada yang salah dengan memantaskan diri. Memantaskan diri adalah bentuk untuk terus berbuat baik sampai mendapatkan cinta dan keberkahan dari Sang Pencipta. 

Bisa jadi jodoh serupa itu, ada kisah kita yang beririsan dari masa lalu. Kita pernah melewati persinggahan yang sama. Kita melewati pencapaian-pencapaian hidup yang sama dan kegagalan-kegagalan yang sama.

Taqabalallahu minna wa minkum 
Mohon maaf lahir dan batin

Happy Eid Mubarak 1437 H

Polewali, 8 Juli 2016

:: the pic was taken at City Cats Brisbane River

Mempercayakan Hidup



Kelak akan ada masanya kita mempercayakan hidup kita kepada seseorang dengan cara-cara yang baik dan sopan. Atau seseorang akan datang mengetuk hati dan meminta kita untuk berada di belakangnya, mendukungnya selalu, mendorongnya untuk menjadi yang terbaik. Dia akan meminta kita dengan cara-cara yang baik pula.

Tak perlu dengan tingkah-tingkah yang bisa mengaburkan keiffahan dan keizzahan. Yang hanya menambah titik-titik hitam di hati, merusak kekhusyukan ibadah, mengacaukan konsentrasi.  Kita tidak memerlukan cara-cara yang bisa memancing setan untuk menggoda atau menjauhkan keridhaan Allah. Sebaliknya, kita akan menempuhnya dengan cara-cara yang Allah berkahi.

Kita hanya perlu berdoa, bersabar, berserah diri dan mempercayakan segalanya kepada Allah. Masa itu akan datang. Semuanya hanya butuh keberanian, keyakinan, keimanan, dan ketakwaan.

The Goals



I remember when I arrived here, Jogjakarta, on October 9. It means I have been here for one month. I will say time indeed flies so fast. One month is as if like one day hehe… At the beginning of the program we took pre-IELTS test. After two-week wait, I was contented for my IELTS prediction test result. Alhamdulillah, I was not bad. I thought my score would be awful since I didn’t study at all and never opened my IELTS materials lately. I got 6 overall band score with which the lowest band was the listening section. At least, that result will be my measured standard on how many improvements I should make further and which part I should work on more.
Ok, I am trying to evaluate what I have gotten here. I veritably do not get what I expect here for this one month. It might be because I have learned English in my undergraduate study so English Academic Purpose (EAP) seems like repeated lessons for me. It is quite exhausting and a bit boring. However, I won’t say it is wasting time because I can recall the lesson back. I just think it will retard everything.  I am supposed to get the IELTS test on December 20 to pursue the February or March 2015 intake in Australia, but the problem is IELTS program will be conducted after 8-week EAP program which is on mid December. Hence, if I take the test on December 20, I will just have very little time to study or prepare for the test and I am not sure about it. I need very well-prepared study.
Contrarily, if I take the IELTS test on January 31 2015, I will have relatively long time preparation, yet I will not have the opportunity to enter the February or March 2015 intake. Therefore, I should wait for the July 2015 intake. It is not a big concern whether I will study on March or July 2015 in Australia or even in September/October in UK. I just don’t want to waste any precious time. The most important thing right now is my IELTS score. If the required IELTS score is on my hand, I can absolutely process my application immediately in whatever universities to get the Letter of Acceptance (LoA).
In short, I am here to gain those goals, the IELTS Score and the LoA. Thus, Allah, help me to achieve them well and to endure my days here in Your pleasure and blessing. I should focus on these things first then take the next step. I am absolutely grateful for being here since it is a scarce opportunity for many people.

And seek help through patience and prayer, and indeed, it is difficult except for the humbly submissive [to Allah ]
(QS. Al Baqarah: 45)
Diberdayakan oleh Blogger.