Hari-Hari Saat Kau Bersamaku

Ini adalah balasan untuk seseorang yang mengeluh karena blog saya tidak ter-update. Saya disuruh menulis apa saja, biar sebaris atau dua baris. Meskipun itu curhat-curhat yang tidak jelas. Sebenarnya saya hanya blank. Saya benar-benar tidak tahu apa yang ingin saya tulis. Tapi, baiklah kali ini saya akan menulis sebuah puisi. 

Hari-hari saat kau bersamaku

mungkin waktu kita semakin sedikit
aku mendoakanmu dengan segala kegalauanmu
segera menemui kebahagiaan
yang kau impikan

aku tahu..
kau pasti sangat rindu
kau pasti sangat sesak
menahan segala debaran

tapi aku akan selalu mendoakanmu
dan bersedia berada di sampingmu
mendengarkanmu
melewati malam yang kian larut

jika besok kau telah dimilikinya
kenanglah saat-saat kita masih bersama  


Makassar, 28 Agustus 2014

Berbicara Cinta

Kalau ada orang yang paling tidak sanggup menyimpan cinta, saya lah salah satunya. Saya mencermati orang-orang, mengapa mereka begitu santainya ketika jatuh cinta. Bahkan puluhan atau ratusan puisi bisa tercipta karena mereka merasakan cinta.

Dulu sebelum saya memahami cinta dalam pandangan islam, saya adalah orang yang lebih nyaman meyimpan perasaan diam-diam. Saya selalu menghindar ketika orang yang saya naksir mendekati saya atau jantung saya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Saya juga tidak berani berbicara langsung di hadapannya, karena saya akan gugup dan bertingkah lain dari biasanya. Dan saya sudah merasa bahagia meski dengan melihatnya. Saya tidak pernah berharap lebih dari itu. 

Suatu hari orang yang saya naksir cukup lama akhirnya menyatakan perasaannya. Seharusnya saya menerimanya, tapi saya tidak sanggup membawa perasaan itu. Sudah cukup saya menyukainya diam-diam. Saya merasa aneh ketika perasaan itu bersambut dan berbalas. Akhirnya saya menghindar dan menolaknya. Aneh kan? Setelah itu perasaan saya mulai berubah. Tak lagi sepolos sebelumnya. Entah kenapa perasaan saya menjadi netral kepadanya.

Nah, setelah saya memahami cinta dalam islam. Sikap saya justru berbeda. Saya malah tegas dengan perasaan saya sendiri.  Saya justru tidak sanggup membawa perasaan cinta macam apapun. Ketika cinta itu bersambut. Hanya ada dua pilihan. Meneruskan dengan pernikahan atau melupakan. Dan melupakan inilah yang butuh perjuangan. Saya selalu berdoa bagaimana membawa perasaan seperti ini. Saya benar-benar tidak sanggup. Saya selalu ingin menyibukkan diri saya. Saya selalu menangis dalam sholat saya. Sampai kapan ini akan berakhir Ya Rabb? 

Inilah menurut saya jalan yang paling aman. Ketika saya merasakan cinta mulai bertunas, saya akan lebih dulu memangkasnya. Ketika rindu mulai datang, saya cepat-cepat mengusirnya. Tidak sanggup rasanya membawa perasaan menyiksa ini. Maka tak ada yang lebih baik dari lembaga pernikahan untuk menumbuhkan perasaan cinta. Karena cinta akan dirayakan pada waktunya.

Tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dua orang yang saling cinta selain pernikahan (HR Al Hakim)
  

Menjadi Ibu Ketua

Satu hal yang mungkin terlambat kusyukuri adalah menjadi seorang ketua di organisasi. Sebenarnya saya tidak cukup percaya diri untuk amanah sebesar ini. Seharusnya saya bersyukur  lebih awal dan rasa syukur itu seharusnya saya buktikan dengan melakukan lebih banyak hal di organisasi ini, memajukan organisai juga memperbaiki kualitas tulisan. Amanah adalah amanah dan kelak semuanya harus dipertanggungjawabkan. Kadang saya tersenyum-senyum sendiri ketika adik-adik memanggil saya Ibu Ketua atau Ibu Negara juga sapaan, “Siap, Bu!” atau “Siap, Bu Ketua!” ini adalah sapaan menggoda bagi saya, hehe...
 
Menjadi seorang ketua memanglah tidak mudah. Seorang ketua adalah orang pertama kali harus berinisiatif. Seorang ketua adalah ujung tombak organisasi. Seorang ketualah yang menentukan bergerak atau tidaknya organisasi. Seorang ketua juga selayaknya orang yang pertama kali memberikan teladan dan inspirasi. Seorang ketua harus lebih dulu bersemangat dan optimis. Seorang ketua harus punya cita-cita besar. Dan apalah saya. Saya minim pengalaman organisasi. Karir kepenulisan saya juga statis. Keislaman juga biasa-biasa saja. Bukanlah seorang yang hafalannya banyak atau penguasaannya terhadap hukum syara’ luas. 
Tapi, karena menjadi seorang ketualah saya termotivasi untuk berubah menjadi lebih baik.  Seharusnya saya lebih cekatan mengurus organisasi, seharusnya saya terus produktif menulis, dan seharusnya saya menambah terus ilmu keislaman saya. Terus terang, saya terlambat menyadari itu semua. Dulu saya berpikir, saya ingin segera meninggalkan organisasi dan mengamanahkannya kepada salah satu orang. Tapi, itu semua tidak terjadi karena saya tidak lulus beasiswa yang saya apply dan gagal mendapatkan LoA di salah satu universitas di Luar Negeri. Entah kenapa waktu itu saya tidak berpikiran untuk kuliah di dalam negeri. Saya terlalu percaya diri mungkin. Astagfirullah…
Sampai akhirnya saya tersadar bahwa ada yang belum saya tunaikan dengan baik. Amanah saya sebagai seorang ketua di cabang sebenarnya memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Masih ada banyak hal yang belum saya lakukan dan rapikan. Kami belum terrdaftar di kesbang dan juga belum memiliki sekretariat. Dan ini sementara kami perjuangkan. Database kader juga belum rapi. Kualitas kepenulisan kader juga masih perlu diasah. Pemahaman keislaman kader juga masih perlu ditambah. Dan saya sangat bersyukur ketika mereka meminta untuk diadakan kajian keislaman khusus di FLP Makassar.
Ada satu hal lagi yang ingin saya tekankan. Sebenarnya ada hal-hal yang tidak etis kita lakukan di FLP, seperti berboncengan dengan lawan jenis, apalagi jika itu sesame kader, meskipun sifatnya tolong-menolong. Juga tidak boleh mengundang atau membiarkan teman-teman yang membawa pacarnya ke agenda-agenda FLP. Harusnya kita pahami bahwa AD/ART FLP berasaskan islam. Harusnya kita malu, melakukan hal-hal yang melanggar aturan islam. 
Saya memohon maaf kepada adik-adik ketika saya menegur. Saya menegur karena saya peduli dan itu semata-mata saya lakukan untuk menjaga kemurnian organisasi. Simpul islam akan lepas satu persatu kalau kita sebagai pemeluknya tidak menjadi penjaga islam yang baik. Janganlah karena hal kecil seperti membuat organisasi ini tidak lagi diridhoi Allah.  
Saya mencintai FLP dan saya mencintai kalian karena Allah. Semoga ukhuwah dan semangat kita yang tinggi terus terjaga.
Mari berbakti, berkarya, berarti!


Yang Ngaji yang Berprestasi

“Nilaimu kok turun terus setelah ngaji?!”, ungkap seorang ibu pada anaknya yang baru semangat dalam majelis ta’lim.

Adakah sobat Fata yang demikian? Semoga tidak. Seringkali dimata umum prestasi menjadi tolok ukur utama yang langsung terlihat terutama buat remaja yang masih duduk di bangku sekolah, meski prestasi bukanlah melulu punya anak sekolah atau anak kuliahan. Penilaian itu tidaklah salah, karena memang di zaman serba materi ini, kebanyakan orang akan menilai berdasar sesuatu yang nampak dari diri seseorang. Seorang remaja akan dinilai sukses bila memiliki nilai akademik yang tinggi, pekerjaan yang mapan, jabatan organisasi ini dan itu, atau prestasi dibidang lain. Sebaliknya jika nilai akademik turun alias sudah masuk area mengkhawatirkan bahkan ‘nilai jeblog’ bisa dibilang remaja ini nggak berhasil dan dikatai anak pemalas. Wah kalo sudah sampe kata terakhir nih, ngeri kayaknya kalo tersemat pada diri seorang remaja muslim.


Prestasi down bukanlah sesuatu yang asing, karena hampir disetiap tempat, sekolah, kampus atau ladang pekerjaan pasti ada aja orang yang ginian. Masalahnya, prestasi down terkadang menimpa pada beberapa remaja yang sudah kenal agama alias anak ngaji dan baru klihatan ketika mulai intens dengan ngajinya. Sehingga dianggap prestasi turun karena kebanyakan ngaji. Wah apa ngajinya diajari malas ya?! Layakkah ‘ngaji’ jadi kambing hitamnya? Apakah dengan ngaji trus prestasi harus diturunkan? Tentunya Islam yang sempurna ini tidak mengajarkan demikian.

Berprestasi, why?
Allah Ta’ala telah menjadikan dua jalan yang saling berlawanan pada kehidupan sesorang, ada tauhid ada syirik, ada hidayah ada kesesatan, ada jalan kebaikan dan ada jalan keburukan serta prestasi dan kegagalan. Allah Ta’ala berfirman:
ÙˆَÙ‡َدَÙŠْÙ†َاهُ النَّجْدَÙŠْÙ†ِ (سورة البلد: (10
Artinya: “Dan Kami telah menunujukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al Balad: 10)
Namun,  Allah Ta’ala tetapkan kebaikan pada salah satu jalan tersebut. Sehingga jalan tauhid itulah yang harus kita tempuh dan berprestasi adalah pilihan yang harus kita ambil. Maka kita lihat, orang yang mengambil jalan yang berseberangan pasti akan berakhir dengan kerugian dan kehancuran. Apa ada yang ingin berakhir mengenaskan?! So pasti nggak ada khan?! Pasti setiap kita menginginkan happy ending.

Menjadi remaja yang berprestasi dalam segala peran dan aktivitas kehidupannya bukanlah sekedar alternatif pilihan, tapi itu adalah keharusan yang harus selalu melekat terutama bagi seorang muslim. Satu sisi prestasi yang kurang diperhatikan adalah celah untuk menghancurkan kemungkinan prestasi yang lain. Bagaimana tidak? Sebagaimana kasus di atas, khususnya bagai anak ngaji, prestasi down akan menjadi salah satu sebab yang tidak disadari menghambat keistiqomahan ngajinya. Mungkin kali pertama, ortu cuman nyampekan prestasinya yang turun, kali kedua mulai mbawa-mbawa ngaji. Apalagi makin lama menunjukkan ciri khas anak ngaji yang kadang sudah mbuat pandangan ortu turun. Sehingga di kali lain ortu mungkin nggak segan-segan mengatakan ndak boleh ngaji lagi dengan dalih mengganggu sekolah. Dalam kondisi semacam ini mungkin sang anak berpandangan, “aku harus sabar, memang seperti inilah ujian yang harus diterima setiap orang yang istiqomah dalam agama, sebaimana para nabi”. Dia menganggap itu adalah semata-mata kesalahan ortunya yang belum tahu agama. Akhirnya yang harus ia terima adalah nggak bisa ngaji lagi, buku dan pakaian ngajinya ‘diamankan’, lebih-lebih tanpa disadari dia sedang membangun tembok penutup hidayah ortunya. Padahal bisa kita balik, dengan dia tetap berusaha menjaga prestasi bahkan meningkatkannya, dia bisa berbakti sama ortu sekaligus mengambil hati untuk mendukung ngajinya, bahkan bisa menjadi sarana hidayah bukan hanya bagi sang ortu bahkan bagi teman, guru, dosen dan orang-orang disekitarnya. SubhanAllah, banyak kebaikan yang akan hilang kan gara-gara prestasi down?!

Dengan ngaji kita berprestasi
Allah berfirman Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (Al Maidah: 3)
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Ketika seorang muslim benar-benar mengamalkan agama Islam  secara menyeluruh sesuai yang dituntunkan Allah dan RosulNya, niscaya akan tercipta kebaikan dalam setiap sisi kehidupan ini.

Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti jejak langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuhmu yang nyata.”(Al Baqarah: 208).

Remaja yang konsisten mempelajari Islam alias rajin ngaji tentunya akan semakin memahami bagaimana kesempurnaan Islam dalam mengatur sisi-sisi kehidupan umatnya. Islam tidak menyukai perbuatan yang sia-sia dalam setiap aktivitas kita. Islam mengharamkan kedzoliman baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Seorang remaja muslim yang mapan ilmu agamanya tentu akan semakin bersungguh-sungguh mengamalkan nilai-nilai Islam dalam beraktivitas, amanah terhadap tugas yang diembannya baik dari orang tua, pimpinan, maupun teman. Dengan ngaji, kita semakin menyadari bahwa waktu teramat berharga untuk dilalui begitu saja tanpa makna karena setiap waktu yang kita lalui kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kata pepatah; “waktu itu ibarat pedang, jika kita tidak mempergunakannya dengan baik maka waktu yang akan membinasakan kita”.
Allah berfirman “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya adalah para ulama”. (QS. Faathir: 28).
Semakin kita ngaji, semakin besar kekhawatiran kita akan amal-amal dan amanah yang kita emban, apakah kita sudah benar-benar maksimal mengerjakan yang terbaik sehingga bernilai tinggi di dunia maupun akhirat? Atau malah menyia-nyiakannya sehingga menjadi pemberat catatan buruk amal kita.
Nabi ShollAllahu ‘alihi wasallam juga bersabda:
Ø¥ِÙ†َّ الله Ùƒَتَبَ الْإحْسَانَ عَÙ„َÙ‰ ÙƒُÙ„ِّ Ø´َÙŠْØ¡ (رواه مسلم)
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR. Muslim)
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat yang terbaik dalam setiap kondisi dan perbuatan (yang tidak melanggar agama). Apapun peran dan kedudukan kita dalam kehidupan ini, baik sebagai seorang hamba, penuntut ilmu, seorang remaja, pelajar, pegawai, maka memaksimalkan diri mengerjakan yang terbaik dan penuh tanggung jawab adalah sesutu yang kudu melekat pada diri kita sebagai wujud perbuatan ihsan yang dituntunkan syariat.
So.. semakin kita getol ngaji, semakin kuat pemahaman kita terhadap Islam yang haq, semakin kita menjadi insan yang berprestasi dunia akhirat dalam setiap bidang yang kita garap.

Kiat-kiat Meraih Prestasi
Yang pertama, niat dan tujuan kudu lurus. Tanyakan pada diri kita, buat apa kita ingin berprestasi? Meskipun sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih, tapi niatan karena Allah adalah niatan yang tak terkalahkan. Karena dia tetap akan mendapatkan sesuatu meski harapannya tak teraih. Selain itu, dengan niat yang lurus hati kita akan tentram dalam menjalani setiap aktivitas. Lain halnya bagi yang cuman niat buat jadi nomor satu atau ngalahin temennya, saat gagal dia ndak akan dapat apa-apa, bahkan niatan itu meski tercapai dia akan mendapatkan katidakridloan Sang Pencipta. Kasihan deh!!

“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.”
(HR Bukhori dan Muslim)

Ingatlah, tujuan hakiki kehidupan kita sekarang ini adalah untuk bekal kehidupan akhirat. Kenapa kudu akhirat? Perhatikan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, maka dia akan mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, maka dia akan mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kecuali yang telah ditakdirkan untuknya saja.” (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)

Maka, peran apapun yang kita jalani jadikan tujuan dan niat kita yang utama karena untuk meraih ridho Allah, untuk menegakkan kemuliaan agama Allah dimuka bumi. Bukan perkara yang memalingkan atau melalaikan dari jalanNya.

Jika niat dan tujuan sudah lurus, maka dalam meraihnya pun kita juga kudu selalu memperhatikan rambu-rambu yang dipasang oleh Allah dan RosulNya, enggan hati ini sedikit saja berkhianat dari aturanNya hanya demi meraih tujuan itu. Karena sesungguhnya setiap penghianatan itu hanya akan menghempaskan kita semakin jauh dari ridho dan surga Allah yang menjadi cita-cita kita yang utama.

Yang kedua, bertakwa kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman; Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. (QS. Aththolaq: 2) Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. Aththolaq: 4)
Takwa yang terealisasi dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya merupakan pintu kecintaan Allah terhadap hamba. Maka tiada lagi harapan hamba yang dicintaiNya, melainkan akan diberikanNya.

Yang ketiga, memohon pertolongan hanya kepada Allah. Tiada keinginan kecuali Allahlah yang mengabulkannya. Maka hendaklah kita memohon hanya kepada Allah untuk senantiasa menolong kita dalam tiap aktivitas. Meskipun doa adalah suatu yang ringan, tapi kenyataannya jarang diantara kita yang slalu meminta pertolongan dia tiap waktu dan keadaan, padahal pengaruh doa sangatlah besar. Seringkali kita merasa mampu melakukan beragam aktivitas sendirian sehingga mengabaikan doa dan hanya berdoa ketika dalam kondisi terjepit. So, sobat muda iringkanlah doa disetiap aktivitas kita, apalagi untuk mendapatkan sesuatu yang maksimal alias berprestasi.

Yang keempat, minta doa dan keridloan ortu. Nah, yang ini nih wajib juga bagi kita terutama yang masih punya ortu. Mintalah doa dan ridlo orang tua dalam tiap aktivitas kita, karena dengannyalah Allah juga akan memberikan keridloan dan pertolongan. Keridloaan dan doa orang tua bisa menjadi kunci tiap kesuksesan kita setelah Allah.

Yang kelima, disiplin dan cerdas memenej waktu. Kedua cara ini cukup efektif berperan dalam prestasi yang dicapai seseorang. Hampir tidak ada orang yang pernah mengalami kesuksesan dan  prestasi kecuali melewati tahap ini. Seberapa besar kita memberikan penghargaan terhadap waktu, sebesar itu pulalah penghargaan dan prestasi yang akan kita peroleh. Inilah yang masih banyak kurang dalam hidup kita. Kita kurang menghargai waktu dan kesempatan, sebagaimana Nabi bersabda:
”Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)
Kita sudah terlalu biasa dengan jam karet. Kita sudah terlalu biasa dengan waktu yang kurang manfaat. Padahal kita adalah waktu yang kita punyai sekarang, karena kita tidak tahu akankah kita masih bertemu dengan waktu yang akan datang. So, sobat mudaku, kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?! Siapkan buku agenda, rancang aktivitas harianmu. Yang pasti tiap aktivitas kudu punya nilai maksimal dan benilai di hadapan Allah.

Yang keenam, bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas. Setiap prestasi butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang menghendaki prestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang ingin sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang berkeinginan jadi seorang yang faqih dalam agama juga butuh usaha keras. Maka, jika kita meghendaki seluruh aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi bersabda:
Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allâh
Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR Muslim)

Yang ketujuh, cari lingkungan dan teman yang mendukung. Meski kita sudah punya tekad kuat dan kesungguhan serta beragam modal untuk meraih prestasi lainnya, tapi suatu saat kita akan mengalami masa-masa down alias futur. Maka, disinilah kita butuh lingkungan dan teman-teman yang turut manjaga keistiqomahan semangat kita dan mereka tidaklah bisa turut menjaganya melainkan harus sejalan. Lingkungan dan teman yang bertolak belakang bahkan akan menjadi bantu sandungan dan penghalang langkah kita.  Perhatikan bagaimana Rosululloh mengibaratkan antara teman yang baik dan teman yang buruk: “Teman yang baik ibarat penjual minyak wangi, jika kita dekat dengannya kita akan dapat wanginya atau minimal dapat ikut mencium harumnya. Adapun teman yang buruk bagai pande besi, terlalu dekat dengannya kita bisa terkena bara apinya atau minimal mencium bau tidak enaknya” Mestinya kita milih deket-deket dengan penjual minyak wangi doong biar ketularan wanginya, yaitu teman-teman sholih yang berprestasi yang selalu menuntun pada kebaikan.

Yang kedelapan, ajak teman yang lain. Zakatnya ilmu adalah dengan mengajarkannya pada orang lain, so.. berikan hak ilmu itu dengan berbagi dan memberi manfaat bagi sekitar kita. Tularkan kebaikan dan prestasi kita pada orang lain, niscaya hal itu akan lebih menjaga prestasi kita. Dengan ini kita terpacu untuk selalu mengembangkan kemampuan yang kita miliki dan menjaganya dengan sering mengajarkannya. Semakin banyak orang disekitar yang kita ajak, semakin banyak teman tuk saling mendukung diatas kebaikan, tambah semangat kan?

Yang kesembilan, hindari dan hilangkan penghalang. Penghalang prestasi tentunya sangat banyak. Masing-masing diri kita akan mudah menyampaikan alasan jika kita ditanya mengapa tidak berprestasi. Tapi sebagai remaja muslim yang bertanggung jawab tentu pantang menyerah dengan benturan-benturan penghalang tersebut. Kita harus semaksimal mungkin memohon pertolongan Allah dan berusaha menghilangkannya. Jangan sekali-kali kita malah mendekati sesuatu yang kita tahu itu akan menghalangi kita. Wasi’ pernah berpesan kepada Imam Syafi’ie; “ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat”. Jadi, diantara penghalang tersebut adalah kemaksiatan. Hati semakin kelam dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan akhirnya terhalang dari ilmu. Jika ilmu saja tidak bisa masuk, bagaimana kita akan berprestasi,  padahal awal dari prestasi adalah sebuah ilmu, “barangsiapa menghendaki dunia maka dengan ilmu dan barangsiapa yang menghendaki akhirat juga dengan ilmu.”
Yang kesepuluh, menelaah pelajaran dari orang yang sukses dan gagal. Pengalaman adalah guru terbaik, kata pepatah. Dari pengalaman kita dapat belajar banyak hal tentang berbagai cara untuk sukses berprestasi maupun menghindari kegagalan. Ambil contoh dalam bidang dakwah, bagaimana Rosululloh dengan keteguhan dan kesabaran yang diiringi hikmah dalam berdakwah, memulai dakwah di Mekah dalam keadaan terusir dibenci namun beliau berhasil kembali lagi ke Mekah dengan kemenangan yang besar tanpa pertumpahan darah. Pelajaran semacam ini bisa kita gali dari orang-orang yang berprestasi sesuai bidang yang kita ambil. Bagaimanakah pula pelajaran dari orang-orang yang megalami kegagalan, darinya kita bisa mawas diri, berhati-hati dari langkah-langkah yang akan menggelincirkan kita. Insaya Allah apapun bidang yang kita ambil, di sana bisa kita jumpai orang-orang yang telah mendahuli dengan prestasinya.

Semua kiat ini tidak akan terwujud keculai kita harus jujur terhadap diri kita dan segera memulainya dari sekarang. Jadikanlah sisa hidupmu lebih bernilai! Selamat berprestasi!

Prestasi tidak akan diraih dengan berleha-leha.

sumber: http://roihan.wordpress.com/2011/02/27/yang-ngaji-yang-berprestasi/

Revolusi Matahari



Lelaki yang bernama Matahari. Kita bertemu pertama kali di sebuah seminar tentang kepemimpinan di Indonesia masa depan. Pertemuan yang cukup memberiku kesan. Aku berebut mic denganmu saat sesi tanya jawab. Padahal aku lebih dulu memegang mic itu. Aku pikir kau akan berkata “ladies first” lalu mempersilakanku. Nyatanya kau merebut mic itu tanpa memandang wajah perempuan yang sedang ada di hadapanmu. Apakah kesal atau biasa saja. Aku kembali ke tempat dudukku. Pertemuan pertama kita, aku sudah menangkap alur pikiranmu. Lewat argumentasi yang kau lontarkan ketika bertanya.
Pertemuan kedua, aku mengikuti dialog pelataran di kampus. Kulihat kerumunan perempuan yang sedang melingkar. Entah kenapa aku tertarik untuk nimbrung di kerumunan itu, ternyata kau pembicara utamanya. Meskipun ada beberapa lelaki, tapi yang mendominasi adalah perempuan. Aku bahkan tidak habis pikir, dua perempuan yang ada di sampingku bukan menyimak penjelasanmu. Tapi, membincangkanmu. Nalarku pun berasumsi bahwa perempuan-perempuan ini hadir bukan untuk menyimak pembicaraanmu, tapi hanya sekadar ingin memperhatikanmu. Seolah kau punya daya magis untuk menyihir mereka.
“Hei!” kau menyapaku usai dialog.
“Ada apa?” tanyaku singkat.
“Apa maksudmu? Permasalahan tadi tidak seluas itu.”
“Tidak bisa. Pasti menyangkut ideologi.”
“Ini cuma lingkup masalah di Indonesia. Kenapa sampai ke permasalahan ideologi.”
Aku tidak menjawab. Aku berlalu meninggalkanmu dengan sejuta tanda tanya di wajahmu. Kau lebih baik dibuat penasaran. Aku tahu kau adalah tipe laki-laki yang suka berpikir dan kutu buku.
***
Aku bertemu lagi denganmu di sebuah toko buku. Kulihat kau tengah berdiskusi dengan temanmu yang gondrong, penampilannya tidak terurus. Terlihat jelas dari penampilannya sebagai simbol perlawanan. Tapi, kau aneh. Kau tidak berpenampilan seperti mereka yang katanya anti kemapanan.
Aku sedikit demi sedikit mulai mengenalmu, melalui cerita-cerita orang. Kau seorang aktivis. Aku pernah membaca artikel di koran kampus. Dan profil edisi kali itu adalah kamu. Tulisan itu seolah-olah menyampaikan bahwa kamu adalah seorang pahlawan yang telah berhasil menggagalkan proyek penggusuran rumah-rumah warga dan pedagang kecil di dekat kampus. Yang isunya akan dibanguni lahan bisnis di kampus. Aku tahu betul. Tipe mahasiswa sepertimu sangat responsif dengan kasus-kasus serupa.
Di kampus ini siapa yang tak mengenal Matahari, ketua Forum Peduli Rakyat. Siapa yang menggerakkan mahasiswa ketika terjadi pembabatan pohon untuk lahan pembuangan limbah rumah sakit di sekitar kampus. Itu adalah Matahari. Siapa yang paling kritis menyeru ketika perguruan tinggi akan dikomersialisasi dan dijadikan institusi untuk mendapatkan lebih banyak uang. Itu adalah Matahari. Siapa yang paling gesit bertindak ketika May Day1 tiba. Itu masih Matahari.  
Tulisan-tulisanmu juga sering muncul di koran-koran. Dan selalu bernada tendensius. Sebenarnya, aku baru berkesimpulan, manusia yang paling sibuk di dunia ini adalah mahasiswa. Seorang mahasiswa harus belajar, mengaktualisasikan dirinya, ia juga harus menyeru kebenaran, ia harus belajar menafkahi dirinya, ia harus memperhatikan keluarganya. Belum lagi ia harus mengurusi masyarakat, ia juga harus mengawasi pemerintah. Manusia mana yang lebih sibuk dari seorang mahasiswa. 
***
“Menurut buku Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man, hanya ada dua ideologi di dunia ini, yaitu kapitalisme dengan demokrasi liberalnya yang diusung oleh Amerika. Yang kedua adalah sosialisme yang diusung oleh Karl Marx.” Suaramu mulai terdengar dari jarak 25 meter dengan toa yang memperbesar volumenya. Diskusi pelataran di depan Aula Sastra sangat ramai oleh ledakan argumenmu dan suara-suara revolusi yang kau banggakan.
Aku gerah. Kau bahkan tidak menyebut agamamu sebagai sebuah ideologi. Agamamu kau anggap tak bisa mengatur negara. Kau anggap utopis untuk mengelola masyarakat yang heterogen. Padahal ide perubahanmu lebih utopis, ingin meniadakan kelas-kelas sosial. Agama yang kau anggap utopis untuk mengatur keadaan justru pernah terterapkan secara empiris, ketimbang ide yang hanya terterapkan dalam tataran retorika, saya pikir idemu lebih utopis.
***
Akhir-akhir ini suaramu tak terdengar lagi dalam diskusi pelataran. Kau tak lagi terdengar mengeritik ideologi para borjuis. Tak pernah lagi kudapati dirimu yang sangat peduli pada para pemulung yang sedang mencari nafkah atau para cleaning service yang sering kau ajak bercerita. Tidak ada lagi suara-suara revolusi dan kepedulian pada kaum proletar. Suaramu seperti tertelan angin dan diterbangkan entah kemana.
Pagi ini saat kubaca koran kampus edisi terbaru, jantungku tiba-tiba berdetak begitu kencang. Kaget. Aku hanya bisa menghela nafas membaca setiap kata yang terangkai. Wajahmu begitu jelas terpampang. Sebuah obituari, berita kematian Sang Matahari. Seorang aktivis telah melakukan bakar diri di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat.
Pengorbananmu terlalu berlebihan. Aku hanya berasumsi, kau mungkin melakukannya untuk membuka mata pemerintah. Nyatanya, berapa pun korban berjatuhan, mereka tetap tak bergeming. Kau bahkan rela mati demi rakyat. Ternyata ideologimu tak mampu mendamaikan jiwamu. Kau tak mengenal konsep sabar dalam berjuang. Inilah kekurangan yang sangat ingin kuungkapkan padamu. Kau mengabaikan Tuhan dalam segala aspek dan aktivitasmu. Andai saja itu kau lakukan untuk memperjuangkan agamamu, saya pikir  kamu tak akan melakukan tindakan sampai sejauh ini. 
Katamu, setelah revolusi tak ada lagi. Dan Matahari tak ada lagi.
 
Ket:
1.      May Day: Hari buruh sedunia yang dirayakan pada tanggal 1 Mei

1Q24*

hari ketika naungan Tuhan telah terangkat
daun-daun berguguran dan menangis
bintang-bintang menahan cahayanya
matahari tak lagi seramah senyumannya

air mata para ulama tumpah, mengalir hingga ke Nil
kali ini saat fajar merekah, langit dipenuhi debu
dari madinah hingga konstantinopel bergetar
adakah yang mereka rasakan semesta seolah berhenti
dan kita hanya beromantisme dengan sejarah

bukan,
bukan itu yang akan kita lakukan
saat kau pandang langit ke atas
langit itu milik kita
bukan milik mereka penyembah dinar

titik-titik cahaya yang tersebar di semesta
akan terhubung seperti rasi bintang

rindu kita telah terkumpul di udara 
sebentar lagi, ia akan jatuh bersama hujan
setelah hujan reda, pelangi akan kita genggam
kitab suci telah membumi

kamulah sang bintang!

Makassar, 13 Maret 2014

*the title was inspired by Haruki Murakami's 1Q84

Jalan Berkerikil



Satu persatu orang berjalan di setapak  berkerikil itu
sedikit tajam, hingga bisa melukai kakimu
jika kau masuk, tak ada siapapun di sana
hanya cahaya kecil yang menggantung tepat
di atas keningmu
kau bisa merasakannya
tetapi ia bisa menghilang dan kembali kapan saja

Sementara di jalan lain
ada orang yang memilih berjalan di permadani lembut
bunga di sekelilingnya mengeluarkan sengatan wangi
yang menghalangimu mencium bau tak sedap
Ia membutakanmu karena cahayanya terlalu menyilaukan

Banyak orang yang menyerah berjalan di setapak berkerikil
yang sepi lagi tak menjanjikan kesenangan
tapi ada orang yang memilih untuk setia
karena cintanya telah sampai ke surga  

Tuhan menghargai cintanya dengan seisi dunia
dan sungai-sungai yang mengalirkan susu, madu
serta istana megah yang tak ada bandingannya
walaupun kau cari hingga ke Negeri Sakura

Makassar, 1 Maret 2014
Diberdayakan oleh Blogger.