Menelaah Konsep Pengkaderan Mahasiswa Baru
Ketulusan

DEMOLISHA
Oleh Bulqia Mas’ud
Namanya Intan. Intan Fitria. Gadis yang kukenal awal semester lalu. Aku dipertemukan dengannya lewat ruas-ruas takdir Tuhan saat Penerimaan Mahasiswa Baru di kampus kami.
“Ada yang duduk di sini?” Sapanya dengan lembut menunjuk kursi yang tergelatak tasku di atasnya.
“Oh, tidak ada. Ini tasku. Silahkan duduk.”
“Terimakasih.” Senyum lembutnya bagai bunga segar di musim semi. Aku senang melihatnya.
“Oh, ya salam kenal. Saya Intan.” Ucapnya sambil menjulurkan tangan lentiknya kepadaku.
“Saya Dewi.”
“Diterima di jurusan mana Dewi?”
“Teknik Mesin.”
“Wah, sama donk. Saya juga.”
Begitulah takdir mempertemukan kita. Hingga aku bisa mengenal Intan lebih jauh. Sejauh rasa penasaranku mengenai dirinya yang terkesan eksklusif. Intan Fitria. Seperti Intan yang kemilau karena ditempa dan sesuci namanya Fitria.
***
Hari kedua. PMB Fakultas. Aku mendapatinya sedang membaca buku. Dia tampak serius dengan sorot mata seperti kibasan buruk merak. Sendiri. Dia peserta yang paling cepat. Disusul diriku.
“Lagi baca buku apa?” tanyaku.
“The Clash of Civilization and The Remaking of World Order.”
“Buku apa itu? Siapa penulisnya?”
“Benturan antarperadaban dan masa depan politik dunia. Penulisnya Samuel P.Huntington.”
“Boleh kulihat?” Dia menyodorkan.
Aku membuka lembar tiap lembarnya. Aku penasaran. Karena aku juga pecandu buku. Berhenti di salah satu halaman. Rangkaian hurufnya begitu sulit dimengerti. Sel-sel saraf sensorikku agak sulit menangkap isinya hingga terproses di otakku. Berat. Kubuka halaman berikutnya. Ah, ini buku yang membosankan. Terlalu berat. Namun, ada impresi yang bagus ketika perasaanku menangkap sebuah makna yang sangat dalam di bagian awal bukunya. Aku yakin penulis buku ini mendedikasikan buku ini kepada perempuan yang tertulis di bagian awalnya. Perempuan itu mungkin sangat penting dalam hidup penulis. Untuk Nancy yang telah memikul “benturan” dengan sebuah senyuman. Aku suka kata-katanya. Sastra dan mendalam. Dia menyisipkan kata romantis dalam pergolakan pemikiran si penulisnya. Bagiku, di buku itu yang paling berkesan hanya kata-kata singkat itu. Yang lainnya tak kupahami sama sekali.
Ah, aku teringat sesuatu. Ayah melarangku masuk fakultas sastra. Padahal aku sangat cinta sastra. Sastra adalah rekaman jejak yang paling indah dalam hidup ini. Sastra mampu meluruhkan kegalauanku. Sastra mampu mendobrak imajinasiku. Sastra mampu melembutkan hatiku. Dan mengobati kesunyianku. Tapi, di sinilah aku. Teknik Mesin. Pijar-pijar di kepalaku menceracau bahwa aku akan menemukan sosok-sosok yang keras atau sekumpulan kaum adam. Itu sebelum aku bertemu dengan Intan yang lembut, ramah, tapi tegas.
“Bagaimana bukunya?”
“Berat. Aku lebih tertarik buku-buku sastra. Yang mudah dicerna. Aku hanya tertarik kata-kata singkat di bagian awalnya.”
“Isinya keren lho. Kapan-kapan kamu baca deh. Btw, suka nulis?”
“Sangat suka.”
“Kapan-kapan ajari aku ya?”
“Menulis adalah kebiasaan bukan bakat. Itu teori pertama yang perlu kau ketahui.”
“Nice...”
***
Perkuliahan telah dimulai. Pengkaderan fakultas hingga jurusan telah dimulai. Momen inilah yang paling aku takuti. Sejujurnya aku tidak suka ditindas karena aku tidak mampu melawan. Yang bisa kulakukan hanya menulis. Menulis adalah bentuk perlawananku. Tapi, aku benar-benar dipertemukan dengan Sri Kandi. Intan. Saat-saat pengkaderan pun tiba. Kita dikumpul hingga malam dalam suatu ruangan yang gelap. Entah apa maksud para senior itu. Aku ketakutan. Beberapa suara tamparan telah kudengar. Tamparan dari senior-senior kami yang kepada mahasiswa baru laki-laki. Perempuan masih lebih aman. Hanya saja Intan sudah mulai resah. Sudah tiga hari ini keresahannya sangat terlihat. Darahnya seperti mendidih. Dia tidak suka ketertindasan. Akhirnya dia bangkit dan berbicara.
“Apa-apaan ini? Ini bukan tindakan seorang intelektual. Sudah masuk waktu shalat maghrib kok masih begini. Kenapa kami masih dikurung.”
“Ini ujian mental bagi kalian. Mental itu penting untuk membentuk karakter mahasiswa. Jangan bawa-bawa agama di sini. Kami juga paham agama.” Salah satu senior berujar.
“Ah, ini pembodohan namanya. Mental seseorang bukan didapatkan dari perlakuan kasar seperti ini. Paham agama apa namanya kalau mengabaikan waktu sholat.”
“Silahkan kamu keluar. Kamu tidak akan lolos pengkaderan.”
“Terserah. Saya masuk fakultas ini bukan karena kalian. Tapi karena usaha saya sendiri dan restu Allah.”
Intan keluar. Kerudungnya basah akibat keringatnya yang bercucuran karena ledakan-ledakan emosinya. Aku mengikutinya. Aku juga tidak tahan dengan kondisi ini. Hanya saja aku memilih diam.
“Intan, kamu kok bisa melakukan itu?”
“Ah, aku sudah bosan dengan ketertindasan dan pembodohan sistemik.”
“Intan.” Tatapku kagum kepadanya.
“Nantilah kita diskusi lebih lanjut. Kita sholat dulu. Pikiranku kacau. Emosiku meledak. Semoga ini benci karena Allah, benci karena melihat kemunkaran. Saya ingin menenangkan pikiran dengan sholat dan membaca Al Qur’an.”
***
“Kenapa kamu berani seperti itu, Intan. Mungkin saja kamu akan dibenci sama senior dan teman-teman yang lain.” Tanyaku usai kami sholat.
“Ah, biarkan saja. Aku sudah bosan, Wi dengan kondisi seperti ini. Aku ingin memberontak. Kau ingat Fatimah yang memberontak karena Ayahnya, Rasulullah, dilempari oleh kaum-kaum yang membencinya. Itu sebuah bentuk perlawanan yang sangat elegan. Aku tidak seperti kamu yang mampu menulis. Dan hanya bisa diam setelah itu. Tapi, menulis juga bukan sesuatu yang tidak mendobrak. Daripada kita apatis sama sekali.”
“Waktu aku di sekolah dasar, aku mendapat nilai tertinggi. Tapi, kenyataannya bukan aku yang tercatat di rapor sebagai ranking pertama. Yang ranking pertama adalah temanku yang kaya yang orang tuanya mampu membayar guru agar anaknya ranking satu. Aku nangis waktu itu, Wi. Tapi, aku masih anak-anak jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Di SMP, aku sangat gerah melihat teman-temanku mau memperoleh nilai tinggi dengan melakukan cara-cara yang tidak halal. Mereka menyontek setiap kali ujian bahkan melakukan lobi-lobi khusus dengan guru-guru. Di SMA, banyak teman-temanku mau dapat prestasi yang setinggi-tingginya hingga mereka rela menyogok agar diutus dalam berbagai kompetisi. Aku sudah tidak tahan, Wi. Dunia ini benar-benar semakin kacau. Banyak yang mesti kita ubah.
“Dan sekarang di kampus. Ini baru awal. Aku sudah menemukan pembodohan seperti ini. Aku juga tidak suka gaya para senior itu yang cari-cari perhatian sama maba. Memilah-milih maba yang cantik-cantik lalu digombali. Apa itu? begitukah kelakuan seorang intelektual. Ada juga yang mau mengubah keadaan tapi mengubah diri sendiri saja tidak bisa. Rambut gondrong, merokok, celana robek sana-sini, tidak tahu merapikan diri. Entahlah mereka mandi atau tidak. Bagaimana bisa mengurus masyarakat kalau mengurus diri sendiri saja tidak bisa. Simbol perlawanan atau anti kemapanan itu tidak mesti dengan cara seperti itu. Rasulullah juga anti kemapanan tapi dia punya aturan baku untuk mengurus dirinya dan masyarakat. Beliau cinta kebersihan. Beliau anti kemapanan tapi tidak melarang kita untuk kaya. Itulah islam. Mampu mengatur dari bangun tidur hingga bangun negara.
Aku semakin kagum dengan Intan. Baru kali ini aku menemukan karakter dengan jalan pikiran yang unik. Aku banyak belajar darinya.
“Dewi, kamu kan suka nulis. Biasanya kamu menulis tentang apa?”
“Aku kebanyakan menulis tentang perasaanku.”
“Jadikanlah islam sebagai inspirasimu. Buatlah tulisan yang mencerahkan. Dobrak peradaban dengan tulisan-tulisanmu. Kau tahu kenapa remaja sekarang hanya tahu have fun, pacaran, dan aktivitas-aktivitas yang membuang-buang waktu. Selain televisi, salah satunya adalah buku yang mereka baca. Kalau semua toko-toko buku diisi dengan fiksi-fiksi islami ataupun non-fiksi yang tetap islami. Remaja akan mendapatkan warna baru. Mereka akan membandingkan apa yang mereka alami dan apa yang mereka baca. Buku bisa merevolusi seseorang. Kata Imam Gazhali, buatlah karya tulis yang bisa membanggakanmu di akhirat nanti. Saya tidak setuju dengan perkataan pernyair yang mengatakan penyair akan mati setelah menulis puisi. Saya lupa siapa penyair itu. Bagaimanapun juga tulisan yang kita ciptakan harus dipertanggungjawabkan. Apalagi kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat, di hadapan Allah Swt. Jangan sampai kau menulis dan tulisanmu hanya mampu dicap kertas kosong oleh orang lain. Atau tulisanmu menjadi sebuah noktah hitam yang ternyata membuat seseorang bertambah buruk.”
“Keren, Intan. Bagaiman dengan menulis puisi. Biasanya aku menulis puisi untuk membebaskan perasaanku. Bagaimana dengan cinta?”
“Cinta itu naluri. Tapi naluri harus dikanalisasi agar alirannya tetap fokus dan terarah. Silahkan menulis cinta kepada Allah, rasulullah, dan islam. Kalau kau ingin menulis untuk lawan jenis, jangan sampai membuat kedua belah pihak lalai. Tulislah puisi untuk suamimu kelak. Kau bisa menggunakan jutaan kata-kata sastramu untuk merayu suamimu kelak.” Tutur Intan dengan Intonasi katanya yang mulai melembut.
“Kalau ada yang mengirimi puisi?”
“Kalau dia bersungguh-sungguh ingin menikahimu, kau biarkan saja. Selama itu tidak membuatmu dan membuatnya lalai. Karena puisi bisa jadi sebuah kesungguhan.
“Intan Fitria. Kamu benar-benar demolisher. Aku akan memanggilmu Demolisha, bagaimana?
“Terserah kamu saja.” Intan tersenyum.
“Ketahuilah, jadilah kita individu-individu seperti batu bata yang baik dan kuat untuk membentuk sebuah bangunan masyarakat yang baik pula, kokoh dan negara yang tangguh.” Tambahnya lagi.
“Terimakasih Demolisha.”
Aku mengakhiri hari itu bersama Intan. Dia benar-benar seorang pemudi yang berkarakter. Dia bukanlah batu bata tapi intan yang akan membentuk rumah yang berkilau.
Makassar, 11 September 2011
Menulis adalah mengkritik diri sendiri,
Menuju Menulis Menjadi Penulis

Menulis adalah sebuah tindak kreatif. Menulis adalah sebuah refleksi pemikiran. Menulis adalah sebuah pengungkapan rasa. Menulis adalah sebuah amal nyata. Menulis adalah menulis. Sebuah kata yang terdiri dari dua morfem, me dan tulis. Dua morfem dengan kategori yang berbeda. Me adalah morfem terikat dan tulis adalah morfem bebas. Me sebagai morfem terikat adalah bermakna (implisit) aktif; tulis adalah morfem bebas yang (eksplisit) imperatif. Me tidak memiliki makna tanpa berpadu dengan kata dasar. Karena itu, me adalah sebuah eksistensi implisit, takkasat, gaib, atau ruhi. Sedangkan tulis adalah sebuah kata dasar yang sejak dikonvensikan telah memiliki arti mandiri, bahkan arti tersebut memiliki makna imperatif atau perintah. Makna yang nyata, bergerak, progresif, dan kreatif. Karena itu, kata tulis adalah merujuk pada sebuah bukti nyata.
Berdasar pada pemikiran tersebut, maka tidak akan ada sebuah tulisan tanpa adanya eksistensi dua hal: Semangat, ruh, visi, misi, atau niat yang kuat dan gerak, kreativitas, atau amal nyata. Seseorang akan dengan mudah dan antusias menulis bila kedua hal tersebut hadir dengan seimbang. Bila tidak, seseorang akan menganggap menulis sebagai pekerjaan yang amat berat. Jadi, tanamkan niat yang kuat lewat visi, misi, dan (atau) kecemburuan budaya untuk kemudian beranjak menggoyangkan pena atau menghentak tuts komputer.
II
Menulis adalah sebuah amal nyata. Menulis bukan sebuah amal tanpa produk. Karena itu, menulis adalah sebuah produktivitas. Dan Islam menganjurkan manusia untuk produktif bahkan keimanan pun tidak sempurna tanpa produk berupa amal shaleh. Kesempurnaan makna iman adalah mencakup tiga hal, yaitu tekad hati, ikrar verbal, dan pelaksanaan lewat pergerakan atau aktivitas. Sebab itu, menulis adalah sebuah tindak nyata dari sebuah gerak hati.
Budaya lisan memang masih kuat berakar pada kebudayaan kita sehingga gosip menjadi (seolah-olah) sebuah karya nyata. Karenanyalah, kecenderungan masyarakat pada budaya literat sangatlah jauh. Belum lagi ditambah serangan budaya pandang-dengar lewat televisi dan film-film. Semakin sempurnalah mitos yang berkembang, bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan sulit, bahwa menulis adalah aktivitas yang dikhususkan untuk kalangan tertentu saja, bahwa menulis adalah sebuah entitas rumit yang sulit sekali ditelusuri dan dijangkau. Dan bahwa berbicara adalah sebuah tindak penuh prestise. Padahal kita tahu al-Qur’an dan Al-Hadits menganjurkan untuk menindaklanjuti tindak bicara dengan amal nyata. Dan menulis adalah sebuah amal nyata.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Tentu saja pertama-tama kita harus menyadari tentang urgensi menulis pada pembangunan peradaban ummat. Tentu saja kita harus melihat sejarah tentang betapa kejayaan Islam dibangun (juga) oleh budaya menulis para ulama dan masyarakatnya. Dan tentu saja kita harus meraba diri, bahwa kita harus bangkit dan menjadi istimewa sebagai subjek bukan objek. Dan menulis adalah sebuah kata kerja yang membuat seseorang yang melakukannya menjadi subjek.
Seseorang menjadi subjek dengan menulis karena dia belajar berpendapat dan mempertanggungjawabkannya. Selain itu, karena dia berusaha mengungkapkan perasaannya untuk sebuah perubahan. Dia tidak diam saja dengan ketidaksepakatan dan ketertekanan. Dia berteriak dengan menulis. Dia eksis dengan menulis. Dia ada karena dia menulis. Perlu ditekankan di sini, bahwa kita bisa membaca dan belajar pemikiran dan gagasan seseorang dari tulisan mereka. Karena menulis adalah sebuah penanda keberadaan. Jadi, menurut saya, dengan sebuah kesadaran menjadi subjek seseorang akan mudah berkeinginan untuk menulis dan dengan kesadaran beramal seseorang akan mudah untuk menggoyangkan pena dan (atau) menghentak tuts keyboaard komputer.
III
Menulis (juga) adalah sebuah hasil, sebuah out put atau keluaran. Menulis adalah tindakan yang ada karena tindakan sebelumnya. Menulis adalah representasi dari tindak membaca. Baik membaca secara tekstual maupun membaca secara kontekstual. Namun, tindak membaca tertentulah yang akan membuat seseorang mampu menulis, yaitu tindak membaca dengan penuh kesadaran. Kesadaran yang mewujud dalam bentuk pertanyaan demi pertanyaan. Semakin seseorang banyak membaca, semakin akan banyak bertanya dia. Dari pertanyaan itulah ia akan banyak menelusuri kemungkinan jawaban yang kemudian ia simpulkan dalam bentuk gagasan. Dan bila gagasan itu mendesaknya untuk dituangkan dengan segera, tulisanlah salah satu medianya.
Jadi, menulis adalah hal yang (relatif) mudah dilakukan oleh seseorang yang akrab dengan tindak membaca. Karena itu, menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukankah tak ada seorang pun yang tidak pernah membaca? Dan dari sekian bacaannya, tentu saja ada bacaan yang membuatnya bertanya dan menyimpulkan. Karena itu, seorang penulis akan lebih mudah menulis dari objek yang sehari-hari ia lihat dan baca. Seorang Ahmad Tohari, selalu menulis tentang alam pedesaan, religiusitas, dan pergulatan ideologi (terutama yang berhubungan dengan tragedi PKI) karena ia intens membaca ruang yang melingkupi kehidupannya. Seorang Kuntowijoyo, pada setiap karyanya selalu berhubungan dengan religiusitas, kejawaan, sejarah, dan demitologisasi karena yang intens ia baca adalah hal tersebut. Seorang Oka Rusmini, pada karya-karyanya selalu berhubungan dengan, Bali, budaya kasta, dan perempuan karena ia intens membaca hal tersebut. Begitu pun dengan penulis FLP, mayoritas pada setiap karyanya berhubungan dengan religiusitas, dakwah, benturan budaya, dan upaya pencerahan karena sesuatu yang para penulis FLP intens baca adalah hal tersebut.
Berdasar hal tersebut, seseorang akan mudah menulis bila: membaca dengan intens, menyadari ruang kehidupannya sebagai aset bacaan, menuliskan apa yang dekat dan akrab dengan kehidupannya. Percayalah, setelah tiga langkah tersebut dijalankan seseorang akan mudah menggoyangkan pena dan (atau) menghentak tuts komputer.
IV
Ada beberapa hal praktis yang saya lakukan agar mudah menulis. Pertama, menemukan filosofi menulis. Menulis bagi setiap orang adalah hal yang berbeda kedudukannya. Bagi saya menulis adalah sebuah alur kehidupan yang tak bisa dihindari seperti seorang anak normal tidak bisa menghindari perkembangan kehidupannya. Ia tidak bisa menghindari untuk belajar berdiri, melangkah, berlari, berbicara, dan berinteraksi. Begitu pun dengan menulis. Seseorang yang normal, bisa membaca dan mencatat, akan mampu menulis karena memang sudah waktunya, sudah fasenya. Kedua, menemukan kata-kata, frase, kalimat, atau paragraf kunci untuk mengikat ide. Untuk itu, diperlukan kekuatan memori. Pada titik ini diperlukanlah buku harian atau notes khusus. Ketiga, menemukan waktu biologis kita. Temukan, kapan kita mampu dengan optimal menulis. Tentu saja setiap orang berbeda. Pola seorang penulis tidak bisa dipaksakan bagi penulis lainnya. Karena itu, belajar menulis dari proses kreatif orang lain hanyalah semacam stimulan bagi pencarian pola kita sendiri bukan untuk ditiru mentah-mentah. Keempat, segeralah menulis, jangan banyak bicara dan berteori lagi. Menulis, menulis, dan menulis, tanpa ragu. Temukan kenikmatan dibalik kata kerja tersebut. Wallahu’alam bishawab.
{M. Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP 2005-2009)}
Terdiam
Terdiam,
Terdiam,
Terdiam,
Terdiam,
Sebenarnya kita tak perlu terdiam jika banyak hal yang perlu dan butuh untuk kita kerjakan. Hari ini, detik ini aku menjawab tanya. Menggarisbawahi, bukan sesuatu yang ingin kita lakukan. Ingin adalah sebuah nafsu, tapi perlu adalah sesuatu yang tak bisa tak dilakukan. Sepertinya, ini adalah fase untuk beristirahat. Mengumpulkan energi untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Setelah ini aku tak akan memilih diam jika memang perlu kulakukan. Bergeraklah para pejuang islam untuk mengawali perubahan menuju pijar cahaya islam. Kalau kita telah dipilih oleh Allah, maka pantaskah kita diam?
Bulqia Mas'ud
Simple Tips for Successful and Happy Life
Setelah membongkar file-file di laptopku yang mulai lemot, ternyata ada banyak tulisan-tulisan bermanfaat yang layak untuk di-share. Salah satunya tulisan di bawah ini, terinspirasi setelah saya membaca buku “The Secret” yang fenomenal itu. Isinya memang bagus, tapi mengalihkan peran Allah swt. Seolah-olah memang semesta-lah dengan hukum tarik-menariknya mendukung setiap aliran positif yang kita pancarkan. Padahal itu adalah andil Allah swt. Maka saya coba integrasikan dengan islam.
Tulisan ini saya tulis tak lain untuk memotivasi diri saya pribadi. Apalagi kegemaran saya melahap buku-buku motivasi, kadang saya cuma menghabiskannya dalam sehari atau dua hari. Kalah dengan novel yang malah jarang saya baca. Bahkan novel yang saya beli tak pernah tamat saya baca. Saya lebih sering membaca buku-buku pemantik ruhiyah, motivasi dan artikel-artikel pemikiran. Kalau karya fiksi saya lebih senang membaca cerpen yang sekali baca langsung tamat.
Kok jadi curhat buku ya? Hmm, kalau begitu selamat membaca! semoga bermanfaat J
TIPS SUKSES DAN BAHAGIA
Yakin kepada Allah. Niatkan segala hal-hal yang baik dan percaya bahwa Allah benar-benar akan mengabulkan segala hal baik yang diinginkan dengan betul-betul yakin kepada Allah. Jangan ada keraguan sedikit pun. Allah-lah tempat meminta. Allah-lah tempat bergantung. Tak boleh yang lain. Tapi, belum tentu apa yang baik menurut kita, itu baik menurut Allah lho. Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu yakin bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Bersyukur kepada Allah, bahagia setiap hari, banyak memberi dan ikhlas. Bahwa dengan bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini dibarengi dengan keyakinan kuat akan segala hal yang diinginkan, maka ia akan datang sendirinya. Contohnya dengan bersedekah dan diiringi dengan bersyukur, dan rasa ikhlas. Memberikan uang akan mendatangkan lebih banyak uang ke dalam hidup Anda. Ketika Anda bermurah hati dengan uang, dan merasa senang untuk berbagi dengan orang lain, sebenarnya Anda berkata, “Saya punya banyak uang.” Merasa bahagia di saat kini adalah cara tercepat untuk mendatangkan uang ke dalam hidup Anda. Bukan hanya dalam perkara uang lho. Itu hanya sekadar contoh. Menolong orang juga sedekah J
Berpikir positif dan berbaik sangka kepada Allah. Rahasia ini berarti bahwa kita adalah pencipta kesuksesan kita, dan setiap keinginan yang ingin kita ciptakan akan mewujud dalam hidup kita. Oleh karenanya, keinginan, pikiran, dan perasaan kita hendaknya selalu positif dan diridhoi oleh Allah. Itu sangat penting karena apa yang diinginkan akan terwujud dengan sendirinya.
Cinta kepada diri sendiri, semua orang dan segala hal. Berbuat baiklah kepada semua orang dengan cinta yang tulus. Cintailah segala sesuatu yang bisa Anda cintai. Cintailah setiap orang yang bisa Anda cintai. Fokuskan hanya pada segala yang Anda cintai. Rasakan cinta, Anda akan mengalami cinta dan kegembiraan memantul kembali kepada Anda berlipat ganda! Hukum tarik-menarik harus mengirim lebih banyak hal yang bisa Anda cintai kepada Anda. Ketika Anda memancarkan cinta, cinta akan muncul seakan-akan seluruh semesta melakukan segalanya bagi Anda, menggerakkan setiap hal yang menggembirakan anda, dan menggerakkan setiap orang baik kepada Anda. Perlakukan diri dengan cinta dan hormat, maka Anda akan menarik orang-orang yang menunjukkan cinta dan hormat kepada Anda. (Eits, ini tidak berlaku untuk lawan jenis yang bisa menimbulkan magnet VMJJ Beware Ukhti wa akhi ada proses dan saatnya!)
Berfokus pada hal-hal yang baik. Ketika Anda berfokus pada hal-hal yang baik, Anda merasa baik, dan Anda mendatangkan lebih banyak kebaikan ke dunia. Pada saat yang sama, Anda mendatangkan lebih banyak kebaikan ke dalam hidup Anda sendiri. Ketika Anda merasa baik, Anda mengangkat hidup Anda serta mengangkat dunia!
“Think positive, be sincere and be happyJ”
Bulqia Mas’ud
Dunia ini Butuh Revolusi
ALHAMDULILLAH yang kemudian terucapkan setelah mengenal mabda ini. Di saat aku hampir terseret oleh tipuan hedonisme yang tidak sadar membuai sebagian besar generasi muda di jagad raya. Tak ketinggalan di negeri kita tercinta. Terimakasih kepada Allah, kita terlahir sebagai umat rasulullah dan berada pada barisan yang memperjuangkan agama Allah. Nikmat mana lagi yang paling sempurna selain islam dan keimanan dalam dada.
Sempat aku merasa muak kenapa ada begitu banyak fakta, masalah, yang tak bisa diselesaikan hanya dengan membuat berlembar-lembar draft undang-undang. Apalagi dengan satu hembusan nafas atau kedipan mata. Jangan mimpi. Kenapa pula bangsa ini dengan mudahnya menghabiskan dana bermilyar-milyar bahkan bertrilyun-trilyun atas sebuah pesta yang hanya mampu kuungkapkan dengan barisan makna mubazzir. Tak pernah berujung pada sebuah solusi dan resolusi. Justru menjaring pribadi-pribadi korup. Ah, mungkin bukan karena pestanya karena pesta itu hanyalah sebuah uslub. Ada yang memang salah dari akar.
Ini yang sering kutanyakan. Mengenai posisi yang 3 tahun belakangan telah kulewati dalam perjalanan hidupku. Tersisa setahun lagi, mungkin. Aku terlalu polos. Sangat-sangat polos ketika menginjakkan kakiku di kampus nan megah lalu berharap aku akan sukses setelah keluar dari kampus ini. Bekerja yang layak, gaji yang tinggi, karir sempurna, menikah, punya anak, bahagia. Standar mainstream saat ini. Terlalu keduniaan. Cukuplah diriku menjadi contoh bahwa ada beribu mahasiswa lain yang egoisentris. Hanya memikirkan dirinya dan kebahagiannya. Tidak memikirkan bahwa ada sesuatu yang mesti kita ubah. Termasuk mengubah diri sendiri agar lebih layak meraih surga Allah. Itu sebelum aku mengenal mabda ini.
Kenapa mahasiswa harus ada untuk menyelesaikan masalah? Bukankah tugas kita hanya belajar. Dan setelah menghirup udara bebas dari belenggu akademik yang menjenuhkan, akan menggantikan angkatan tua untuk membangun bangsa. Kenapa ada pula yang memilih jalur komersil dengan retorika-retorika absurd hanya untuk meraup pundi-pundi rupiah. Menjanjikan kita dengan bintang 4, 5, 6 atau 7 yang sama sekali tidak masuk dalam logikaku. Ya, semua butuh penyambung hidup. Benarlah kalau kemudian muncul ungkapan. Segalanya butuh uang, kawan!
Lalu kemana para pejabat dan pegawai sipil bangsa ini yang kerjanya mengatur administrasi dan tugas-tugas struktural kenegaraan. Justru ternyata hanya menghabiskan waktunya tidur di ruang kerja, bergosip atau pegawai-wati yang memilih berbelanja ke mal atau ke pasar. Tak adakah yang bisa disentuh oleh tangan-tangan mereka. Kenapa justru selalu mahasiswa yang membuat serangkaian program memberantas kemiskinan, memberantas buta huruf, menggalang dana untuk operasi tumor, katarak. Aku masih tetap berdiri sambil mengerutkan dahi dan bertanya-tanya kemana departemen-departemen dan dinas-dinas itu. Apa yang dilakukan orang-orang di dalamnya. Kalau ternyata, mahasiswa selalu dibutuhkan untuk mengambil peran. Hey, sadarkah, bukankah itu tugas negara? Apakah karena masalah yang semakin menggunung hingga negara tak mampu menyelesaikannya dengan kedua kaki dan tangan sendiri? Lalu pemerintah tanpa rasa kasihan pada rakyat malah menyerahkan permasalahan bangsa kepada korporasi asing. Aset terus dijual tanpa rem pengendali. Dan tak sadar, inilah titik awal munculnya masalah sistematis.
Kadang aku hanya bisa mengelus dada melihat Open recruitment yang terus-menerus diprogramkan pemerintah dan hanya mampu kuterjemahkan masih dengan kata mubazzir. Maaf, bukannya aku anti, tapi banyak yang berjalan tak sesuai logika. Ada yang seenaknya mendapatkan gaji setiap bulan tanpa harus kerja payah. Belum lagi para pendidik bangsa ini atau yang kita gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Meski sekarang entahlah masih pantaskah kita menyebut itu. Sungguh, aku tak ingin men-generalisir karena generalisasi adalah sintesis fatal kalau hanya bersumber dari fakta. Memang tak semua seperti itu. Tapi, kenapa yang tidak baik itu selau lebih banyak dari yang baik. Atas dasar apa mereka berhak mendapatkan sertifikasi tanpa berusaha memperbaiki kualitas. Kenapa anak-anak bangsa justru semakin kecanduan pornografi. Naudzubillah. Kemudian, kita hanya bisa kasihan karena ternyata upah sebagai P N S tak pula cukup untuk mengganjal kebutuhan nafsu manusia.
Tinta tidak akan pernah berhenti jika harus menguraikan masalah-masalah bangsa ini dalam lembaran-lembaran kertas. Ia mungkin akan lebih pajang dari epik I Lagaligo. Apa yang sesungguhnya salah? Selalu, kita hanya bisa menambal sulam. Memperbaiki pijakan sedikit demi sedikit. Lalu mengatasi rumah yang hampir roboh dengan memperbaiki pintu, palang jendela, plafon, tidak melihat adakah yang salah dengan pondasinya. Bagaimana kalau kita berbicara mengenai demokrasi?
Logikaku memang mengatakan bahwa demokrasi sudah cacat dari awal. Vos populi, vos dei. Suara rakyat suara tuhan. Dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Dimana kedaulatan Sang Pencipta? Bukankah hanya Sang Penciptalah yang tahu apa yang terbaik untuk sesuatu yang diciptakannya. Analogi, sebuah telepon genggam yang dibuat oleh pakarnya, penciptanya. Mereka menciptkan handphone beserta manual instructionnya. Apa gunanya? Agar kita menggunakan handphone itu sebagaimana mestinya, baik, benar, hingga tidak mudah rusak. Begitupula Allah menurunkan Al Qur’an untuk manusia sebagai manual instruction. Agar tidak dijadikan sebagai penghias lemari atau hafalan-hafalan belaka, tapi kembali menerapkannya secara utuh.
Tak usalah saling memalingkan wajah hanya karena demokrasi. Meski saya tidak setuju dengan demokrasi, tapi saya tidak pernah mencela orang-orang yang memperjuangkannya atau orang-orang yang memanfaatkannya. Karena saya tahu dengan jelas untuk apa sebagian orang memilih terjun ke parlemen, karena mereka ingin beramar ma’ruf nahi munkar. Tentu tujuan yang sangat mulia. Bukankah itu tujuan awal partai islam didirikan. Meski pada akhirnya semua banting stir menjadi partai terbuka karena memang kekuatan sistem dan ideologi besar yang menggenggam tidak bisa dikalahkan oleh segelintir kelompok. Partai yang dulunya sangat kental memperjuangkan islam akhirnya tereduksi atas dominasi partai sekuler. Bahkan sempat kubaca beberapa kader partai yang kental beramar ma’ruf nahi munkar ingin dicopot kursinya hanya karena membangkang terhadap koalisi. Kenapa itu bisa terjadi? Karena kondisi sistem yang tidak pernah memberi kita ruang untuk meng-goal-kan apa yang kita anggap solusi terbaik. Islam.
Perubahan tidak dengan harus masuk parlemen. Berjuang untuk kepentingan negara tidak mesti dalam pemerintahan. Orasi, aksi, dialog juga tidak bisa dijadikan standar untuk bisa mengubah segalanya. Banyak di antara kita yang turun ke jalan memprotes kapitalisme, tapi sesungguhnya kita pun tidak bisa lepas dari belenggu kapitalisme. Kita pun selalu memprotes demokrasi, tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain menyadarkan. Kita hanya bisa bergerak di ranah yang bisa kita jangkau. Kenapa kita tidak bisa lepas dari cengkeraman kapitalisme. Kenapa bangsa ini tidak bisa lepas dari ketergantungan bangsa lain, terutama Amerika.
Sebenarnya aku cukup kagum dengan Bung Karno yang anti kapitalisme, anti Amerika. Tapi, sayang dia lebih memilih komunis. Mengutip pernyataan seorang teman, “Kau tahu, kenapa Soekarno akhirnya memilih komunis? Menurutku, itu karena kesalahpahaman yang selama ini terjadi. Konspirasi menjadi tabir sejarah masa lalu. Benar jika ada pernyataan ‘darah itu merah, jenderal’. Apa lagi ketika ukuran kebenaran benar-benar sudah berubah menjadi antroposentris. Mungkin, jika Soekarno tahu apa ideologi yang akan membuatnya terkenal di kalangan para Nabi dan Syuhada, mungkin sudah lama ia memperjuangkannya. Tapi, ternyata ia tidak tahu dan tidak mau tahu.”
Aku terperangah. Benar apa katanya. Bung Karno adalah salah satu aset terbaik bangsa ini. Namun, dia tidak memilih untuk menjadi aset islam yang memperjuangkan agama Allah. Andai pun para pemuja Marxis tahu kehebatan rasullullah dan risalah yang dibawanya, kecerdasan khulafaur rasyidin, sahabat-sahabat, keberanian dan kecemerlangan berpikir para pemimpin hebat islam, Salahuddin Al Ayyubi, Khalid bin Walid, Tariq bin Ziyad, Muhammad Al Fatih, dan janji yang ditawarkan Allah, surga! Tentu mereka akan memilih memperjuangkan agama Allah. Jihad fi sabilillah. Tapi, mereka tidak tahu, dan mereka memilih untuk tidak tahu dan tidak mau tahu. Bahkan sudah menutup telinga dari jarak beribu kilometer ketika kata islam didengungkan. Mereka bahkan mengumpat bahwa ideologi ini tahi kucing, tahi anjing. Naudzubillah tsumma naudzubillah.
Memang, kita tidak perlu menunggu revolusi struktural untuk mengubah. Revolusi pun bisa dilakukan dengan revolusi komunal dan personal. Teringat sebuah artikel yang belum lama ini kubaca. Sebuah keluarga sederhana yang memilih untuk menyelesaikan sendiri apa yang masih bisa mereka selesaikan. Mobil mereka rusak. Tapi, mereka tidak memilih membawanya ke bengkel, malah memperbaikinya sendiri dengan gotong royong bersama anggota keluarga lain. Sang istri melahirkan, tapi ia tidak membawa istrinya ke rumah sakit atau pun memanggil bidan. Cukup kusimpulkan bahwa mereka tidak ingin bergantung pada orang lain. Namun, bukan berarti kita tidak butuh orang lain. Hanya sebuah kisah yang cukup logis bahwa kita bisa melakukan revolusi sendiri. Revolusi dari rumah kita. Revolusi dari pribadi kita.
Apakah pemerintah pernah berpikir sekejap saja bagaimana memutus hegemoni barat yang diam-diam menggeledah bumi pertiwi. Aku tidak pernah membayangkan kalau kita tengah menjadi kacung di negeri sendiri. Bahkan kaum intelektual negeri ini berbangga hati bekerja sebagai buruh di korporasi asing yang terang-terangan mencuri harta kita di depan mata kita sendiri. Sebutlah yang paling tersohor, Freeport. Kenapa kemudian penguasa tak bisa berkutik sama sekali. Negeri ini sudah terlalu lama menjadi pembantu di rumah sendiri. Aku hanya bisa berhipotesis bahwa melepas diri dari jerat kapitalisme bagai pungguk merindukan bulan. Itu jika aku tidak mengetahui bisyarah rasulullah.
Dunia ini butuh revolusi. Dan andai penguasa berkenan membuka mata, Allah dan rasul-Nya menawarkan islam. Islam rahmatan lil ‘alamin. Tiada jalan lain selain mengganti sistem, jika pun dalam hati kecil kalian masih peduli dengan nasib umat islam di bumi ini, terlebih di Palestina, Afganistan, Irak. Hingga kita bergabung bersama penggenggam bara islam di seluruh dunia untuk mengembalikan kejayaan islam, imperium agung yang runtuh 1924 karena konspirasi kaum kafir. Tidakkah kita rindu berada dalam kehidupan islami. Tentu kita semua ingin mengembalikan kehidupan islam. Menegakkan kalimat Allah. Allahu ‘alam.
“Satu hal yang amat saya tegaskan di sini adalah keharusan kita untuk kembali kepada islam. Islam yang benar. Islam yang menyeluruh yang mengembalikan diri kita – sebagaimana yang dulu pernah terjadi – menjadi sebaik-baik ummat yang pernah dihadirkan untuk seluruh ummat manusia. Tanpa kembali kepada islam, maka nasib yang akan kita alami, sungguh amat mengerikan, dan masa depan pun akan demikian gelap gulitanya” (Dr. Yusuf Qaradhawi, Mengapa Kita Kalah di Palestina?)
Bulqia Mas’ud
Polewali, 23 Ramadhan 1432 H

