Kisah Pendoa

Ketika kumohon pada Allah kekuatan,
Allah memberiku kesulitan, agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah, untuk kupecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan,
Allah memberiku pikiran, untuk berpikir
Ketika kumohon pada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya, untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Allah cinta,
Allah memberiku orang-orang bermasalah, untuk kutolong
Ketika kumohon pada Allah bantuan,
Allah memberiku kesempatan.
Aku tak selalu menerima apa yang kuminta,
Tetapi aku menerima segala yang kubutuhkan !

Taken from Sulthon Amin’s poem

Jadi, jangan pernah menyalahkan hidup ini, karena Allah tidak akan memberi kita masalah, melainkan kita menjadi orang yang lebih baik dan bijak setelah memecahkan masalah itu. Mungkin itulah yang kita butuhkan untuk semakin disayang oleh Allah.

Catatan Untuk Para Wanita

Sesungguhnya fitnah (ujian) terbesar bagi laki-laki adalah wanita, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
"Tidaklah aku meninggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita".[5]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Qs Ali-Imran/3 ayat 14) yang Allah menjadikan wanita termasuk hubbu syahawat (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis lainnya, sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan hal utama dalam masalah itu”. (Fathul-Bari)
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara, ialah karena menaati para wanita”.[6]
Sebagian orang shalih berkata: "Seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku terhadap baitul mal, aku menduga akan mampu melaksanakan amanah tersebut atasnya. Namun seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku atas diri seorang gadis untuk bersendirian satu jam saja, aku tidak merasa aman atas diriku padanya"[7]. Karena fitnah wanita, dapat menyebabkan seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan hingga melupakannya terhadap akhirat. Seperti memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina.
Sesungguhnya perkara yang mudah untuk menjaga diri dari fitnah wanita sejak permulaannya, ialah sebagaimana telah diajarkan Allah Ta'ala, yaitu dengan menahan pandangan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat". [an-Nûr/24: 30]
Dalam hal ini, Allah Ta'ala juga tidak mencukupkan hanya dengan memerintahkan kepada laki-laki yang beriman saja agar menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya, tetapi Allah juga mengiringkan perintah-Nya kepada wanita-wanita:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya"[An- Nûr/24: 31].
Akan tetapi, ketika seseorang melepaskan kendali terhadap syahwatnya semenjak awal, maka di akhirnya dia akan sangat kesulitan mengatasinya. Ibarat seekor kuda yang berlari menuju ke suatu pintu yang akan dimasukinya, maka akan sangat mudah mengarahkan kuda itu dengan cara menarik kendalinya dan membelokkannya ke arah lain. Sebaliknya betapa susah, setelah kuda itu memasuki pintu tersebut, kemudian orang berusaha memegangi ekornya dan menariknya ke belakang. Alangkah besar perbedaan dua hal di atas.
Kemudian, karena beratnya menjaga dan mengendalikan fitnah syahwat ini, maka Nabi Saw, memberikan jaminan surga terhadap orang yang dapat mengendalikannya dengan baik.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya".[8]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: Makna "menjamin (untuk Nabi)", ialah memenuhi janji dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dengan menjamin, sedangkan yang beliau maksudkan ialah konsekwensinya, yaitu menunaikan kewajibannya. Sehingga maknanya, barang siapa yang menunaikan kewajiban pada lidahnya, yaitu berbicara sesuai dengan kewajibannya, atau diam dari apa yang tidak bermanfaat baginya; dan menunaikan kewajiban pada kemaluannya, yaitu meletakkannya pada yang halal dan menahannya dari yang haram.
Sedangkan yang dimaksud dengan "apa yang ada di antara dua rahangnya", yaitu lidah dan apa yang dilakukannya, yaitu perkataan. Sedangkan "apa yang ada di antara dua kakinya" ialah kemaluan.
Ad-Dawudi mengatakan, "apa yang ada di antara dua rahangnya" adalah mulut. Dia mengatakan, sehingga itu meliputi perkataan, makanan, minuman dan semua perbuatan yang dilakukan dengan mulut. Dia juga mengatakan, barangsiapa berusaha menjaganya, maka ia telah aman dari semua keburukan, karena tidak tersisa kecuali pendengaran dan penglihatan". Namun masih tersembunyi baginya, yaitu memukul dengan tangan.
Sesungguhnya pengertian hadits ini berbicara dengan lidah merupakan hal utama dalam meraih semua yang dicari. Jika seseorang tidak berbicara kecuali di dalam hal kebaikan, maka dia selamat. Ibnu Baththalt berkata, hadits ini menunjukkan bahwa bencana terbesar atas seseorang di dunia adalah lidah dan kemaluannya. Sehingga barang siapa menjaga keburukan keduanya, dia telah menjaga dari keburukan yang terbesar.[9]
Perhatikanlah Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang ‘alim, seorang shalih, ahli ilmu dan ibadah, 40 tahun tak pernah ia telat untuk mendapat shaf pertama dalam shalat, namun ia mengatakan “Sungguh yang paling aku takutkan adalah fitnah wanita”. Sungguh beliau sangat memahami sabda Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah aku meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum pria melebihi kaum wanita” (Muttafaqun ‘alaih)
Dikutip dari berbagai sumber
Untuk para wanita, mari kita berhati-hati, terus memperbaiki diri, dan berdoa kepada Allah jangan sampai kita menjadi fitnah untuk kaum lelaki. Terutama saya sebagai seorang wanita yang mengutip artikel ini…

Mencintai Dalam Diam

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...

ingatkah kalian tentang kisah Fathimah Az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah

karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...

jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...

biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...

Taken from http://ahmadsheva.blogspot.com

***

Andai kau tahu kenapa wanita memilih menghindar
Karena begitulah caranya mencintaimu...
Sudah terlanjur kehujanan...
waktu tak bisa diputar kembali
Anggap saja tak pernah ada pertemuan sebelumnya...

Cukuplah Saat Ini, Aku Memiliki Ibu dan Ibu Memilikiku!!!


Ku tahu di balik ketegaran itu kau menyimpan lelah
Ku tahu kau pilih bersabar untukku yang selalu menuntut
Maafkan aku yang selalu menyusahkan Ibu

Aku, anakmu, yang kau kira tegar
ternyata rapuh di dalam

Kau adalah awan pekat di birunya hatiku
Kau adalah bening pada telaga di jiwaku
Aku tak mau jadi air mata, untuk mata sembab itu
Aku ingin jadi matahari yang hangat di sisimu

Ingat, saat aku bersamamu, Bu..
Tak ingin kulewatkan sedetik pun waktu
Saat malam menjelang
Aku akan mendekap Ibu, dan mengelus rambut Ibu
Tak ada hari lebih baik dari hari itu

Aku pun ingat
Saat kubawa pasir-pasir kasar
Ibu malah membawa secangkir madu untukku
Seketika kudengar nada suaramu melemah
Dan titik-titik air itu kau kumpul di matamu
Mungkin akan turun hujan atau titik air yang beku
Aku salah!

Aku berpikir, bagaimana jika suatu saat aku harus meninggalkan Ibu
Saat tak sering lagi kupandangi wajah Ibu dalam bisikan malam
Saat tak sering lagi kuelus rambut Ibu
Atau kudekap Ibu ketika aku mencari hangat dalam dingin yang mengiris
Dan saat kasih sayangku tak bisa seperti dulu
Itu mungkin saja terjadi, Bu!

Jika suatu saat ada yang menyeruak di dadaku
Dan kupilih untuk menyempurnakannya
Ibu jangan bersedih,
Jika kebaktian itu harus kubagi
Atau mungkin kebaktianku tak sama lagi saat aku masih milik Ibu

Bu, sekali lagi aku berpikir, entah salah atau tidak
Aku tak ingin meninggalkan Ibu seorang diri
Jika suatu saat ada yang datang
Dia harus tahu, kalau aku sayang Ibu
Namun saat ini cukuplah aku memiliki Ibu, dan Ibu memilikiku

_"Q~@"_

Kau Berada Dimana???

Ini adalah masa saat manusia terjebak dalam idealisme, pragmatisisme, dan apatisisme… maka kau berada di mana???

Aku memilih untuk berbicara masalah eksistensi
Karena zaman telah menuntut eksistensi
Kau berada di mana ketika ada yang tidak beres
Kau berada di mana ketika kemunkaran mendominasi
Kini hanya tanganku yang berbicara
Kakiku hanya diam
Tapi otakku bergejolak
Lalu hatiku dilema
Kulihat semua warna telah abu-abu
Tak ada yang bertahan dengan putih atau hitamnya
Kulihat banyak yang lumpuh karena ketakutannya
Namun sedikit yang lantang karena imannya
Kuharap kau mengenal si kakek tua…
Karena ada yang panas di tangannya
Menunggu kita ikut menggenggam bersamanya
Kuyakin kau masih memilih dalam kepragmatisanmu
Kuyakin pula kau masih memilih dalam keapatisanmu
Karena sekali lagi zaman menenggelamkan idealismemu
Aku pun tak tahu diriku berada di mana
Tapi panas itu telah lama membara di hatiku
Tinggal menunggu ia menjalar ke tanganku
Namun kuharap juga membara di hatimu
_“Q~@”_

Apologize...!!!

Untuk saat ini…
Mungkin hanya kau yang tahu isi hatiku..
Dan hanya aku yang tahu isi hatimu..

Kita lebih memilih mengobrol panjang di kamar hingga malam bersuara lirih
Sejenak melupakan tugas yang menumpuk
Obrolan yang selalu sama di setiap obrolan
Tentang keluarga, teman, organisasi, kuliah, agama kita, tentang anak yang kelaparan, tentang tingkah laku para penguasa kita, tentang skandal, sampai pada sisi buram negeri kita tercinta
Ah, kau tentu tahu kapan aku menangis dan apa yang bisa membuatku menangis
Juga ku tahu sebaliknya tentang dirimu..
Kau juga tahu siapa orang-orang yang pernah membuatku sakit hati hingga membuat bulir air mataku menetes
Kau juga tahu apa yang mengenakkan perasaanku, cita-citaku, sampai perasaan yang sering membuatku makan hati
Karena kutahu kau pun merasakan itu
Kau juga pasti tahu tentang keinginanku yang tak sempat tercapai
Karena alasan klasik yang sering kita perdebatkan dan tentang rencana hidupku yang mulai berubah
Maaf, telah membawamu ke jalan rumit hidupku
Aku bisa membaca kalau kau hampir tak sanggup menahan beban itu
Itu sangat terbaca dari matamu, meskipun kau selalu mengelak
Kalau kau baik-baik saja, dan gak usah ambil pusing,, katamu!
Sekali lagi maaf! Bukan bermaksud demikian
Kau perlu tahu kalau aku sendiri, sepi selama ini
Pada jalan-jalan berhamparan paku ini
tapi terlihat jelas di ujung sana ada emas
Sebelum aku menarik dirimu dari jalan berhamparan roti
yang di ujungnya ada besi berkarat
Aku hanya mengadu pada diriku sendiri yang justru menabung duri di hati
Lalu kau datang menemaniku, dan bersedia menjadi tempat berbagiku
Kau pasti tahu sekarang, kalau aku selalu berbeda
Ketika kita bicara yang tak dimengerti orang lain
Pun ketika memasuki sebuah komunitas
Dan secara tak sengaja kau telah mengikuti alur hidupku
Yang sekali lagi kukatakan, rumit! Sangat rumit!!
Kau sekarang pasti merasakan betapa ngos-ngosannya aku
Seperti usai berlari kencang hingga kelelahan
Inilah yang selama ini kurasakan, teman!
Kau bisa rasakan itu, “Tebal Muka dan Makan Hati”
Jargon yang sering kita dengungkan
Kita perlu memiliki dualisme itu
Karena itu yang membuat hidup kita bermakna
Aku akan selalu muncul menjadi hujan, setelah itu kau muncul dengan warna-warnimu
Kita sudah sama-sama tahu itu, bukan???
Saling melengkapi seperti hidup kita yang saling mengisi kekosongan
Aku masih ingat tentang banyak hal yang mebuat kita kecewa bersamaan
Juga masih ingat tentang banyak hal yang membuat kita bahagia bersamaan

_‘‘Q~@’’_

Mencari Perubahan…!!!

Meski aku telah pandai merangkai kata untuk mencipta puisi
Tapi selalu ada gelombang darah di otakku, ingin membuncah
Bahwa puisi ternyata tak sepenuhnya mengenakkan perasaanku
Mungkin butuh sedikit teriakan untuk meredakan kepenatan badai otak
Melihat tingkah konyol tak tahu malu para-para itu
Atau butuh sentuhan pada realitas dengan pergerakan fisik
Seperti yang ditunjukkan dari catatan para demonstran…
Bilakah kepala mereka berdarah
Atau peluh menjadi air segar penikmat dahaga
Dan badan menjadi sasaran empuk tongkat-tongkat pereda kericuhan
Lalu katanya, pereda kericuhan itulah sebenarnya yang membuat ricuh
Bukan kami para penunggu keadilan
Lalu biarlah cemooh salah itu berdengung di telinga kami
Maka lawanlah mereka dengan batu, itu katanya…
Bukankah melawan ricuh dengan ricuh menambah ricuh 2 x lipat
Asumsimu mungkin salah kawan…
Hukum III Newton yang kuberitahukan, pasti berlaku
Itu hukum Alam, itu sunnatullah…
Ketika kau memancarkan aksi, reaksi yang datang pun mengikuti alur aksimu
Jadi jangan tanyakan mengapa terjadi anarkisme
Ataukah sebuah anarkisme, adalah simbol ketangguhanmu
Lalu kalian bangga dengan ucapan: tubuhku sakit usai aksi…
Lalu kemana perubahan itu?
Apakah perubahan itu adalah terbakarnya ban, pecahnya kaca mobil, macetnya jalanan
Benarkah aku tak mendapatkan kata selain sia-sia?
Diberdayakan oleh Blogger.