Di atas angkot yang cukup padat itu, seorang gadis berkerudung duduk di hadapan pintu masuk angkot. Malam itu hujan turun. Dia baru saja menghadiri pernikahan teman karibnya yang masih sesama mahasiswa. Pernikahan untuk menutupi aib. Gadis itu termenung. Mengingat betapa malang nasib temannya. Yang akan segera menggendong bayi sementara ia masih freshman di sebuah universitas. Dia tidak habis pikir akan dirinya. Rasa bersalah yang selalu menderanya. Lantaran tak mampu menjadi teman yang baik. Sudah tiga orang teman karibnya menjadi budak nafsu. Dua orang di antaranya yang juga MBA (Married by Accident) tidak lagi merasakan manisnya cinta. Perceraian sudah di ambang pintu. Kuliah tertunda. Suami minggat entah ke mana. Ada anak yang mesti dirawat dan dibesarkan. Belum lagi kebutuhan hidup anak yang juga mesti dipenuhi.
Gadis itu masih sempat berucap syukur dalam kemalangan teman-temannya. Dia masih suci. Untung saja, dia dilahirkan dalam keluarga yang lumayan terdidik. Padahal ia juga hampir terjebak dalam lingkaran setan itu. Tiba-tiba mobil berhenti dan menyadarkannya dari lamunannya. Ya, tidak lain karena lampu merah yang kini sudah menjadi tempat mengais rejeki. Beberapa anak berlari mengerumuni setiap mobil yang berhenti. Sungguh menyedihkan. Di antara mereka ada yang sedang menggendong adiknya. Yang lain bertubuh kurus, berwajah kusam, dan berpakaian rombengan. Anak kecil yang seharusnya sekolah, terpaksa turun ke jalan untuk mencari sesuap nasi.
Salah seorang dari mereka menghampiri angkot yang dikendarai gadis berkerudung itu. “Ibu, Pak, Kak minta uangnya!” ucapnya dengan wajah memelas sambil menengadahkan sebelah tangannya. Sebelahnya lagi menahan agar adik kecil yang digendongnya dengan sarung tidak jatuh. Kasihan adiknya itu. Umurnya masih sekitar 7 bulanan sudah diajak mencari rejeki. Adik bayinya itu tertidur pulas. Begitu pulasnya, ia sampai tidak merasakan rintik hujan yang menerpa wajahnya.
Gadis itu lalu mengeluarkan selembar duit seribu dan 2 buah koin 500-an. Belum sampai uang itu ke tangan si bocah, tiba-tiba seorang ibu berkata, “Mbak, jangan dikasih. Mereka itu cuma suruhan. Lagian pemerintah sudah mengeluarkan larangan memberikan uang pada anak-anak pengemis seperti mereka.” Gadis itu terdiam. Dia tidak mau membalas ucapan si Ibu. Tapi rasa kasihannya lebih tinggi daripada ancaman ibu tadi.
“Benar, Mbak. Jangan dikasih. Nanti mereka akan mengemis selamanya. Tidak mau berusaha. Toh nggak baik kalau kita mengajarkan anak kecil untuk jadi peminta-minta.” Tambah seorang Ibu yang kira-kira umurnya hanya berselang 3 tahun di bawah ibu pertama tadi. Nuraninya pun berkata itu ada benarnya. Uang itu masih belum sampai ke tangan bocah tadi. Wajah-wajah penumpang angkot seolah setuju dengan pendapat kedua ibu tadi. Ia pun urung.
“Dek, minggir-minggir. Mobil mau jalan. Ntar kalian ketabrak. Trus saya lagi yang disalahin.” Sang supir tak mau ketinggalan mengeluarkan ungkapan jengkelnya. Dia pun ikut memaki bocah tadi. Mobil akhirnya melaju. Tak sempat ia menyerahkan uang itu. Gadis itu semakin heran. Ada apa dengan orang-orang ini. Mengapa mereka sangat miris terhadap bocah tadi. Bukankah menolong mereka akan mengurangi beban mereka. Timbul pikiran dalam benak gadis itu, andai saja kedua ibu tadi adalah ibu dari anak itu. Dan Pak supir tadi adalah ayahnya, masih bisakah mereka berkata seperti tadi pada bocah itu.
Satu persatu kejadian yang baru saja dilalui gadis itu hari ini, mulai direnungkannya. Kebanyakan ialah perilaku amoral. Dia tidak henti-hentinya berpikir. Ada apa dengan semua ini? Ada apa dengan negara ini? Ada apa dengan orang-orang yang hidup di negara ini? Masih banyak hal yang tak mampu dijangkau oleh akalnya. Imajinasinya pun melayang-layang. Seiiring laju mobil yang melewati beberapa baliho yang masih tertempel. Andai baliho-baliho itu mampu mendengar jeritan anak-anak jalanan tadi. Dan ia membayangkan jika makhluk yang ada dalam baliho itu bergerak memberikan uang kepada siapa saja anak jalanan yang melaluinya. Tapi sayangnya makhluk itu hanya mampu menyunggingkan senyum. Tidak tahu, tuluskah atau palsukah?
Tiba di rumah. Gadis itu tak bisa memejamkan mata. Dia teringat akan bocah tadi yang tak jadi ia beri uang. Uang yang sudah dipersiapkan itu, ia raba di kantongnya. “Hanya 2 ribu rupiah, kenapa aku tak kasih saja?” gumamnya dalam hati. Andai saja tadi ia tak menghiraukan ucapan ibu itu.
Rasa bersalahnya, membawanya kembali ke tempat yang sama di keesokan harinya. Ia menunggu di trotoar tempat biasa anak-anak seperti itu mangkal. Beberapa lama menunggu. Tak dijumpainya anak itu. Seorang wanita paruh baya mendekat. Tubuhnya dibalut dengan pakaian sobek dan kotor. Wajahnya hitam akibat debu jalanan yang tak pilih-pilih.
“Assalamu alaikum…” kata itu cukup mampu mengisyaratkan kalau ibu itu meminta sesuatu. Terlihat dari tangannya yang menengadah di hadapan gadis itu. Gadis itu tertegun sejenak, memandangi ibu itu. Satu lagi masalah yang memenuhi otaknya. Masalah semua orang yang hidup di negara ini.
“Waalaikum salam…” jawab gadis itu seraya merekahkan bibirnya. Diberi atau tidak. Pergolakan batin yang maju mundur dalam hatinya. Kalau diberi, nanti dia tidak akan berhenti meminta dan jadi pemalas. Justru menambah populasi pengemis. Kata-kata ibu itu semalam masih menganggu pikirannya. Tidak diberi, mana tanggung jawabnya sebagai hamba Allah yang diserukan untuk berbagi.
Ikhlas. Dia mantapkan dalam hatinya, bahwa niat itu hanya untuk bersedekah. Toh, tidak ada larangan dalam agama untuk tidak memberi golongan fakir miskin seperti mereka. Dia merogoh sakunya. Mengambil 2 lembar uang seribu. Lalu memberikannya pada ibu itu.
“Terima kasih, Nak.” Ucap ibu itu pelan dengan suara terbata-bata.
Gadis itu mengangguk dan kembali mengulurkan senyuman. Ibu itu berlalu dengan langkah yang tertatih-tatih. Hari semakin panas. Tak sedikit pun ia melihat batang hidung anak yang mengacaukan pikirannya semalam. Hingga hampir tak bisa memejamkan mata. Dia masih keukeuh menunggu. Niat yang sudah tertancap dengan baik, tidak boleh ia robohkan begitu saja.
Jam 15.00 lewat, anak itu tak kunjung muncul. Ia sudah dongkol menunggu ditemani terik matahari yang menyengat kulitnya yang mulus. Niat itu harus tetap ditunaikan. Kalau tidak, entah karma apa yang ia dapat.
***
Bayang-bayang tentang anak itu belum hilang. Ia masih menggelayut dalam pikirannya. Di kampus pun ia masih memikirkan niat yang belum sempat ditunaikan pada anak itu. Kuliah usai. Seperti kebiasannya, ia duduk di bawa pohon di taman kampus. Tertegun kosong memandang satu arah. Pikirannya masih terpenuhi oleh anak itu. Ada beberapa anak bernasib sama yang lewat di hadapannya, bahkan singgah untuk menawarkan jasa yang berbeda-beda. Ada anak pemulung sampah, anak penjual manisan, anak penjual roti, anak penjual jalangkote’ (baca:pastel), anak penjual koran. Ada banyak anak yang sebetulnya bisa ia beri tanpa menunggu anak malam itu. Tapi tetap tak bisa meruntuhkan niat yang sudah terpatri.
Tiba-tiba lamunannya buyar oleh sosok yang sedang berada di depannya. Seorang anak penjual koran. Mirip sekali. Ya, dia adalah anak yang sama. Anak yang menggantungkan niatnya. Tapi kenapa ia harus mengemis, padahal ia bisa meloper koran. Pekerjaan ini lebih bagus daripada mengemis. Dia adalah pahlawan. Pahlawan pembawa informasi. Sudah cukup bagi gadis itu untuk melamun lagi. Niatnya atas uang seribuan itu terlaksana. Anak itu cukup heran. Ia tak bermaksud meminta. Koran yang menumpuk di tangannya pun tak diambil oleh gadis itu.
“Terima Kasih, kak.” Ucap bocah itu dengan tulus. Ditambah pancaran kebahagiaan dari wajahnya yang berseri-seri. Tak tahu kalau gadis ini yang urung memberinya uang malam itu.
“Iya. Terima kasih kembali.” Jawab gadis itu dengan sejumput senyum bahagia. Tak pernah ia sebahagia ini. Bisa melihat anak seperti itu tersenyum merekah. Hanya karena mendapat uang lebih dari yang seharusnya mereka terima.
Home / All post
Gadis Malang itu Bernama "Farah"
Namanya Farah. Teman sekampusku yang tak begitu kukenal. Cantik. Semua laki-laki abnormal, jika tak menyebutnya cantik. Dandanannya yang modis. Dibalut pakaian yang super seksi, make up tebal, rambut dengan model bervariasi tiap harinya. Mirip artis. Siap yang tak mengenalnya. Junior maupun senior di fakultasku semua mengenalnya. Dia memang baik bahkan sangat ramah. Tak seperti wanita-wanita lain sepertinya, yang pandang bulu memilih teman.
Aku tak mampu menyembunyikan kekesalanku saat teman-teman priaku tak mengindahkannya sebagai perempuan. Dia selalu menjadi sasaran teman-teman priaku. Sasaran omongan-omongan kotor dan tingkah laku tak sopan yang ditujukan kepadanya. Sering kali dia dikatai dengan sebutan jorok. Atau bahkan mereka tak segan-segan menyentuhnya secara tak normal. Pernah suatu kali ada temanku yang minta dicium, Farah malah santai saja memberikan ciuman itu. Kasihan sekali. Dia bisanya diam saja. Tak pernah marah jadi objek ejekan teman-teman. Padahal hal itu sungguh di luar batas kesopanan.
Hari ini dia ke kampus. Seperti biasa dengan pakaian yang minim, baju ketat dan celana skinny ketat. Sebagai seorang pria aku mengakui dia memang cantik. Semua orang bahkan menjulukinya Farah Hilton lantaran cantik dan penampilannya yang terkesan seksi menyamai Paris Hilton. Dia malah asyik saja dan bangga dengan julukan itu, tanpa pernah menyangka kalau hal itu malah menjatuhkan derajatnya di mata pria.
Aku agak miris jika melihat dia duduk berdampingan dengan Zahra yang notabene seorang jilbaber besar. Anggota LDM (Lembaga Dakwah Kampus). Sangat berbeda 180 derajat. Tak pernah kah ia merasa rendah diri berhadapan atau berdekatan dengan Zahra. Zahra adalah sosok wanita yang begitu disegani di kelas. Sampai-sampai teman lelakiku menaruh hormat kepadanya. Tak berani mengajaknya bicara apalagi menyentuhnya. Aku memang simpatik sama Zahra. Dia sebenarnya tak begitu cantik, tapi karena ia menutup auratnya maka pancaran aura yang keluar begitu teduh dan bercahaya.
Aku mungkin berbeda dengan teman laki-lakiku yang lain, yang terlalu menaruh hormat pada Zahra. Aku tidak begitu segan pada Zahra. Karena ia tahu bagaimana menjaga diri dan bersikap pada lawan jenis. Namun, beda dengan Farah. Aku justru sangat menghormatinya. Tidak membeda-bedakan kedudukan dengan Zahra sebagai seorang wanita. Justru wanita seperti Farahlah yang mesti dijaga. Bukan semakin dilecehkan. Tapi, itu nampaknya tidak berlaku. Melihat Farah memang terkesan ingin diperlakukan seperti itu.
“Farhan, boleh jelaskan sekali lagi apa yang tadi kau paparkan.” Pinta Farah kepadaku agak sedikit kaku. Penjelasan barusan yang kukemukakan tidak ia pahami. Aku asisten dosen sehingga mau tidak mau aku harus bertindak layaknya dosen yang berusaha memahamkan materi yang dibawakan. Aku menolaknya. Bukan takut. Tapi sebagai rasa hormatku pada dia sebagai seorang wanita.
“Maaf, minta dijelaskan sama Zahra aja atau Maya.” Aku menghindarinya. Dia heran. Tapi tak mengucapkan apa-apa. Kutawarkan Zahra dan Maya mengingat mereka berdua seorang akhwat yang cerdas dan baik.
***
Malamnya, ia mengirimiku sms. Bermaksud ingin meminta penjelasan atas tindakanku tadi siang. Sms itu berbunyi:
“Aku tahu diriku tidak seperti Zahra ataupun Maya yang mungkin kau idamkan. Tapi setidaknya kau menghargaiku sebagai perempuan. Mengapa kau tak mau bicara denganku? Aku tak meminta mengobrol berlam-lama denganmu. Karena aku tahu diri dan juga tahu dirimu. Aku hanya ingin dianggap ada olehmu. Mungkin kau memang tak menganggapku sebagai teman karena aku sama sekali memang tak pantas jadi temanmu. Mungkin aku hina di matamu. Tapi aku sangat menaruh hormat kepadamu.”
Tak pernah kubayangkan ia akan menulis sms seperti itu. 2 tahun kami sekelas, namun baru kali ini aku berinteraksi dengannya walaupun cuma lewat sms. Selama ini aku memang menghindarinya. Namun sangat mengkhawatirkannya dari belakang. Kenapa dia berpikir aku tak menghargainya. Apakah pengertian menghargai bagi dirinya adalah dengan memperlakukannya secara tak sopan. seperti laki-laki lain memperlakukannya? Justru aku sangat menghargainya. Aku bukannya tak ingin berteman dengannya. Tapi dia mengundang banyak maksiat. Ingin kubalas sms itu, tapi tak tahu harus berkata apa. Kubaca berkali-kali. Lalu kudiamkan saja.
Esoknya. Terasa aneh. Dia bahkan tak seceria biasanya. Apakah karena semalam? Entahlah. Dia selalu menatapku dengan tatapan aneh. Yang memaksaku untuk selalu menunduk. Tetap harus kuhindari. Penampilannya yang berlebihan dan bisa mengundang siapa saja untuk menganggunya masih melekat di dirinya. Tetap saja, teman-teman laki-lakiku usil terhadapnya. Itu menambah rasa kasihanku kepadanya. Harus kuapakan orang ini. Aku tidak tega ia diperlakukan seperti itu. Bukan karena aku menyukainya atau tertarik kepadanya, Namun dia adalah wanita yang semestinya dijaga.
“Hai Farah, makin cantik aja. Kok hari ini gak seceria biasanya?” Doni salah satu temanku menghampirinya. Dia terlalu berani mengganggu Farah. Dia bahkan tak segan-segan berbuat tak sopan pada Farah. Mungkin bukan salahnya. Atau salah laki-laki manapun. Farah sendiri yang mengundang mereka berbuat demikian. Nafsu tak akan muncul jika tak dipancing.
“Iya, Don. Ada apa?” gayung bersambut. Farah masih tetap meladeni lelaki hidung belang seperti Doni dengan gayanya yang centil. Begitulah tabiatnya yang memprihatinkan. Aku tak habis pikir. Kenapa dia masih saja bersikap begitu. Padahal ia tahu apa akibatnya.
Aku sudah tak konsen lagi. Tindakan mereka membuyarkan kefokusanku. Kemesraan itu tak semestinya diumbar. Apalagi ini adalah jam kuliah. Mereka tak sadar mata dosen sering kali menipu. Kelakuan itu mengingatkanku ketika Farah malah asyik bercengkerama di belakang kami dengan dosen, saat mata kuliah berlangsung. Dosen genit itu pun merasa senang karena disambut oleh Farah yang memang suka memancing.
***
Terus terang ini semakin tak bisa kubiarkan. Tingkahnya tak pernah berubah. Ingin sekali kuberitahu Zahra untuk mengajak Farah ikut kajian. Tapi aku takut Zahra berpikiran macam-macam. Sesuatu yang sebenarnya tak perlu kutakutkan, karena hanya menghambatku beramar ma’ruf nahi munkar. Zahra seharusnya peka terhadap orang seperti Farah. Tapi aku juga tak mau menyalahkannya, mungkin saja ia sudah menegur Farah dan mengajaknya ikut kajian.
Yang selalu terbayag-bayang di pikiranku, pikiran buruk yang sebetulnya tak boleh ada. Sangatlah kutakutkan terjadi kepadanya. Mungkin aku sudah berlebihan memikirkannya. Tapi aku tak pernah berpikir macam-macam tentangnya. Aku hanya menginginkan sesuatu yang baik pada dirinya. Dia begitu polos dan jauh dari agama. Mesti disirami terus-menerus. Tapi aku tak tahu apakah ada yang memedulikannya.
Pernah ketika aku berjalan di koridor fakultasku, dan dia berjalan tak jauh di depanku. Para mahasiswa yang sedang kumpul-kumpul tak jelas. Bersuit-suit kepadanya. Bahkan mengeluarkan kata-kata gombal kurang sopan. Hatiku benar-benar panas, melihat itu. Tidak adakah yang peduli pada gadis ini. Setiap harinya mungkin saja menimbulkan dosa zina. Andai aku seorang wanita sudah dari dulu aku menyadarkannya. Kulihat sebenarnya ia lembut, dan gampang rapuh. Gampang saja bagi wanita seperti itu dipengaruhi. Dia hanya terlalu baik dan pasrah untuk diperlakukan tak sopan. Tapi sayang, aku tak tahu yang harus kulakukan. Diharapnya ibadah, tapi bernilai dosa di sisi Allah.
***
Malam ini, dia mengirimkan sms lagi kepadaku. Tak tahu apalagi maksudnya. Sms itu berisi:
“Assalamu alaikum, Aku semakin iri dengan Zahra, yang begitu disegani dan dihormati. Aku juga ingin menjadi orang yang kau anggap sebagai teman. Dan tak segan kau ajak bicara. Mungkin aku hina mengirimkan sms ini. Aku merasa tak pantas. Tak apa-apa kalau kau tidak mau membacanya. Hanya sekedar memberitahumu kalau inilah yang kualami. Ada pergolakan hebat dalam batinku bahwa aku juga ingin berubah.”
Sama seperti sebelumnya, aku tetap mendiamkan sms itu. Tak tahu bertindak bagaimana. Aku tidak peduli dia salah paham terhadapku. Menganggapku jahat atau apa. Tapi, aku tidak ingin hanya karena ini, aku bermaksiat kepada Allah. Dia sebenarnya ingin sekali berubah. Apakah hanya di bibir? kulihat tak ada sama sekali tanda-tanda kalau ia mau berubah. Dia masih tetap berpenampilan jahiliah yang membuat dirinya semakin ternodai. Tapi, di sisi lain, ia perlu disadarkan segera. Ia sudah bersedia.
Sejak sms itu tiba di tanganku, aku jadi berpandangan lain terhadapnya. Keinginanku untuk melihatnya berubah, semakin besar. Sampai-sampai aku memimpikannya. Ia berubah menjadi sosok muslimah yang santun. Penampilannya dibalut dengan jilbab syar’i. Dia bahkan mengalahkan kecantikan Zahra. Jauh di atas Zahra. Sungguh aneh mimpi itu. Mungkin mimpi itu pertanda baik baginya. Pikiranku pun melayang-layang. Apakah esok aku sudah melihatnya berubah. Apakah esok dia sudah menutup auratnya? Begitulah perasaanku setelah memimpikannya.
Di kampus aku datang dengan perasaan biasa-biasa saja. Bahkan tekesan lebih semangat. Apakah mimpiku benar adanya. Sungguh berkebalikan 360 derajat bahkan 1000 derajat. Seantero kampus membicaraknnya. Inilah yang dari dulu tak kuinginkan terjadi padanya. Dia diperkosa oleh seorang tukang becak yang mengantarnya pulang. Pakaiannya yang sangat minim di tambah wajahnya yang cantik membangkitkan hasrat tukang becak itu. Setelah itu dia sama sekali tak pernah kulihat lagi. Kekhawatiran terbesarku akhirnya terjadi. Belum sempat kulihat dirinya berubah. Dia sudah jatuh pada akibat terparah. Apakah ini Isyarat mimpi semalam?
Aku tak mampu menyembunyikan kekesalanku saat teman-teman priaku tak mengindahkannya sebagai perempuan. Dia selalu menjadi sasaran teman-teman priaku. Sasaran omongan-omongan kotor dan tingkah laku tak sopan yang ditujukan kepadanya. Sering kali dia dikatai dengan sebutan jorok. Atau bahkan mereka tak segan-segan menyentuhnya secara tak normal. Pernah suatu kali ada temanku yang minta dicium, Farah malah santai saja memberikan ciuman itu. Kasihan sekali. Dia bisanya diam saja. Tak pernah marah jadi objek ejekan teman-teman. Padahal hal itu sungguh di luar batas kesopanan.
Hari ini dia ke kampus. Seperti biasa dengan pakaian yang minim, baju ketat dan celana skinny ketat. Sebagai seorang pria aku mengakui dia memang cantik. Semua orang bahkan menjulukinya Farah Hilton lantaran cantik dan penampilannya yang terkesan seksi menyamai Paris Hilton. Dia malah asyik saja dan bangga dengan julukan itu, tanpa pernah menyangka kalau hal itu malah menjatuhkan derajatnya di mata pria.
Aku agak miris jika melihat dia duduk berdampingan dengan Zahra yang notabene seorang jilbaber besar. Anggota LDM (Lembaga Dakwah Kampus). Sangat berbeda 180 derajat. Tak pernah kah ia merasa rendah diri berhadapan atau berdekatan dengan Zahra. Zahra adalah sosok wanita yang begitu disegani di kelas. Sampai-sampai teman lelakiku menaruh hormat kepadanya. Tak berani mengajaknya bicara apalagi menyentuhnya. Aku memang simpatik sama Zahra. Dia sebenarnya tak begitu cantik, tapi karena ia menutup auratnya maka pancaran aura yang keluar begitu teduh dan bercahaya.
Aku mungkin berbeda dengan teman laki-lakiku yang lain, yang terlalu menaruh hormat pada Zahra. Aku tidak begitu segan pada Zahra. Karena ia tahu bagaimana menjaga diri dan bersikap pada lawan jenis. Namun, beda dengan Farah. Aku justru sangat menghormatinya. Tidak membeda-bedakan kedudukan dengan Zahra sebagai seorang wanita. Justru wanita seperti Farahlah yang mesti dijaga. Bukan semakin dilecehkan. Tapi, itu nampaknya tidak berlaku. Melihat Farah memang terkesan ingin diperlakukan seperti itu.
“Farhan, boleh jelaskan sekali lagi apa yang tadi kau paparkan.” Pinta Farah kepadaku agak sedikit kaku. Penjelasan barusan yang kukemukakan tidak ia pahami. Aku asisten dosen sehingga mau tidak mau aku harus bertindak layaknya dosen yang berusaha memahamkan materi yang dibawakan. Aku menolaknya. Bukan takut. Tapi sebagai rasa hormatku pada dia sebagai seorang wanita.
“Maaf, minta dijelaskan sama Zahra aja atau Maya.” Aku menghindarinya. Dia heran. Tapi tak mengucapkan apa-apa. Kutawarkan Zahra dan Maya mengingat mereka berdua seorang akhwat yang cerdas dan baik.
***
Malamnya, ia mengirimiku sms. Bermaksud ingin meminta penjelasan atas tindakanku tadi siang. Sms itu berbunyi:
“Aku tahu diriku tidak seperti Zahra ataupun Maya yang mungkin kau idamkan. Tapi setidaknya kau menghargaiku sebagai perempuan. Mengapa kau tak mau bicara denganku? Aku tak meminta mengobrol berlam-lama denganmu. Karena aku tahu diri dan juga tahu dirimu. Aku hanya ingin dianggap ada olehmu. Mungkin kau memang tak menganggapku sebagai teman karena aku sama sekali memang tak pantas jadi temanmu. Mungkin aku hina di matamu. Tapi aku sangat menaruh hormat kepadamu.”
Tak pernah kubayangkan ia akan menulis sms seperti itu. 2 tahun kami sekelas, namun baru kali ini aku berinteraksi dengannya walaupun cuma lewat sms. Selama ini aku memang menghindarinya. Namun sangat mengkhawatirkannya dari belakang. Kenapa dia berpikir aku tak menghargainya. Apakah pengertian menghargai bagi dirinya adalah dengan memperlakukannya secara tak sopan. seperti laki-laki lain memperlakukannya? Justru aku sangat menghargainya. Aku bukannya tak ingin berteman dengannya. Tapi dia mengundang banyak maksiat. Ingin kubalas sms itu, tapi tak tahu harus berkata apa. Kubaca berkali-kali. Lalu kudiamkan saja.
Esoknya. Terasa aneh. Dia bahkan tak seceria biasanya. Apakah karena semalam? Entahlah. Dia selalu menatapku dengan tatapan aneh. Yang memaksaku untuk selalu menunduk. Tetap harus kuhindari. Penampilannya yang berlebihan dan bisa mengundang siapa saja untuk menganggunya masih melekat di dirinya. Tetap saja, teman-teman laki-lakiku usil terhadapnya. Itu menambah rasa kasihanku kepadanya. Harus kuapakan orang ini. Aku tidak tega ia diperlakukan seperti itu. Bukan karena aku menyukainya atau tertarik kepadanya, Namun dia adalah wanita yang semestinya dijaga.
“Hai Farah, makin cantik aja. Kok hari ini gak seceria biasanya?” Doni salah satu temanku menghampirinya. Dia terlalu berani mengganggu Farah. Dia bahkan tak segan-segan berbuat tak sopan pada Farah. Mungkin bukan salahnya. Atau salah laki-laki manapun. Farah sendiri yang mengundang mereka berbuat demikian. Nafsu tak akan muncul jika tak dipancing.
“Iya, Don. Ada apa?” gayung bersambut. Farah masih tetap meladeni lelaki hidung belang seperti Doni dengan gayanya yang centil. Begitulah tabiatnya yang memprihatinkan. Aku tak habis pikir. Kenapa dia masih saja bersikap begitu. Padahal ia tahu apa akibatnya.
Aku sudah tak konsen lagi. Tindakan mereka membuyarkan kefokusanku. Kemesraan itu tak semestinya diumbar. Apalagi ini adalah jam kuliah. Mereka tak sadar mata dosen sering kali menipu. Kelakuan itu mengingatkanku ketika Farah malah asyik bercengkerama di belakang kami dengan dosen, saat mata kuliah berlangsung. Dosen genit itu pun merasa senang karena disambut oleh Farah yang memang suka memancing.
***
Terus terang ini semakin tak bisa kubiarkan. Tingkahnya tak pernah berubah. Ingin sekali kuberitahu Zahra untuk mengajak Farah ikut kajian. Tapi aku takut Zahra berpikiran macam-macam. Sesuatu yang sebenarnya tak perlu kutakutkan, karena hanya menghambatku beramar ma’ruf nahi munkar. Zahra seharusnya peka terhadap orang seperti Farah. Tapi aku juga tak mau menyalahkannya, mungkin saja ia sudah menegur Farah dan mengajaknya ikut kajian.
Yang selalu terbayag-bayang di pikiranku, pikiran buruk yang sebetulnya tak boleh ada. Sangatlah kutakutkan terjadi kepadanya. Mungkin aku sudah berlebihan memikirkannya. Tapi aku tak pernah berpikir macam-macam tentangnya. Aku hanya menginginkan sesuatu yang baik pada dirinya. Dia begitu polos dan jauh dari agama. Mesti disirami terus-menerus. Tapi aku tak tahu apakah ada yang memedulikannya.
Pernah ketika aku berjalan di koridor fakultasku, dan dia berjalan tak jauh di depanku. Para mahasiswa yang sedang kumpul-kumpul tak jelas. Bersuit-suit kepadanya. Bahkan mengeluarkan kata-kata gombal kurang sopan. Hatiku benar-benar panas, melihat itu. Tidak adakah yang peduli pada gadis ini. Setiap harinya mungkin saja menimbulkan dosa zina. Andai aku seorang wanita sudah dari dulu aku menyadarkannya. Kulihat sebenarnya ia lembut, dan gampang rapuh. Gampang saja bagi wanita seperti itu dipengaruhi. Dia hanya terlalu baik dan pasrah untuk diperlakukan tak sopan. Tapi sayang, aku tak tahu yang harus kulakukan. Diharapnya ibadah, tapi bernilai dosa di sisi Allah.
***
Malam ini, dia mengirimkan sms lagi kepadaku. Tak tahu apalagi maksudnya. Sms itu berisi:
“Assalamu alaikum, Aku semakin iri dengan Zahra, yang begitu disegani dan dihormati. Aku juga ingin menjadi orang yang kau anggap sebagai teman. Dan tak segan kau ajak bicara. Mungkin aku hina mengirimkan sms ini. Aku merasa tak pantas. Tak apa-apa kalau kau tidak mau membacanya. Hanya sekedar memberitahumu kalau inilah yang kualami. Ada pergolakan hebat dalam batinku bahwa aku juga ingin berubah.”
Sama seperti sebelumnya, aku tetap mendiamkan sms itu. Tak tahu bertindak bagaimana. Aku tidak peduli dia salah paham terhadapku. Menganggapku jahat atau apa. Tapi, aku tidak ingin hanya karena ini, aku bermaksiat kepada Allah. Dia sebenarnya ingin sekali berubah. Apakah hanya di bibir? kulihat tak ada sama sekali tanda-tanda kalau ia mau berubah. Dia masih tetap berpenampilan jahiliah yang membuat dirinya semakin ternodai. Tapi, di sisi lain, ia perlu disadarkan segera. Ia sudah bersedia.
Sejak sms itu tiba di tanganku, aku jadi berpandangan lain terhadapnya. Keinginanku untuk melihatnya berubah, semakin besar. Sampai-sampai aku memimpikannya. Ia berubah menjadi sosok muslimah yang santun. Penampilannya dibalut dengan jilbab syar’i. Dia bahkan mengalahkan kecantikan Zahra. Jauh di atas Zahra. Sungguh aneh mimpi itu. Mungkin mimpi itu pertanda baik baginya. Pikiranku pun melayang-layang. Apakah esok aku sudah melihatnya berubah. Apakah esok dia sudah menutup auratnya? Begitulah perasaanku setelah memimpikannya.
Di kampus aku datang dengan perasaan biasa-biasa saja. Bahkan tekesan lebih semangat. Apakah mimpiku benar adanya. Sungguh berkebalikan 360 derajat bahkan 1000 derajat. Seantero kampus membicaraknnya. Inilah yang dari dulu tak kuinginkan terjadi padanya. Dia diperkosa oleh seorang tukang becak yang mengantarnya pulang. Pakaiannya yang sangat minim di tambah wajahnya yang cantik membangkitkan hasrat tukang becak itu. Setelah itu dia sama sekali tak pernah kulihat lagi. Kekhawatiran terbesarku akhirnya terjadi. Belum sempat kulihat dirinya berubah. Dia sudah jatuh pada akibat terparah. Apakah ini Isyarat mimpi semalam?
Perpisahan di Awal Pertemuan
Perpisahan itulah awal dari pertemuan kami yang tertunda sekian lama. Kami bertemu dan berpisah saat itu juga. Ada rasa puas sekaligus kecewa dalam hatiku. Bisa bertemu dengannya dari sekian lama tak bertemu. Dan berpisah untuk waktu yang entah kapan bertemu lagi. Kami bertemu di tempat kenangan kami. Tempat kami sering bermain di waktu kecil. Di bawah pohon yang tetap tegak hingga kami beranjak dewasa. Kami tidak tahu apa nama pohon itu. Tapi kami menamainya pohon kesepian. Pergi pagi dan pulang sore. Itu lah yang kami lakukan. Dia bahkan sudah kuanggap kakak kandungku. Maklum, aku putri tunggal. Begitupun dia, menganggapku adiknya. Dia bahkan sering menggendongku di punggungnya jika aku kelelahan berjalan. Sampai suatu saat kami berjanji lagi untuk bermain di tempat itu. Tapi, hingga sore dia tak kunjung datang. Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Pulang ke rumah seorang diri. Di tengah hari yang sudah mulai gelap. Berhari-hari aku tak hentinya meneteskan air mata. Kucari dia, tapi tak kutemukan. Dia hilang tanpa memberi kabar. Saat itu, kuputuskan untuk membenci dia.
Hari ini. Di tempat kenangan kami. Tepat 15 tahun dia meninggalkanku. Saat di mana kedatangannya 15 tahun yang lalu itu sangat kunantikan. Tapi dia tak kunjung datang. Dan malah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku duduk di kursi tepat di bawah pohon kesepian itu. Sama seperti diriku yang juga kesepian. Aku menatap pemandangan di hadapanku. Sangat hijau. Semilir angin yang meniup rambutku hingga menerpa wajahku. Terasa sejuk sekali. Aku mengingat kenanganku bersamanya. Bersama pria yang baru saja akan kucintai tapi berubah sangat membencinya. Apa kabarnya dia sekarang? Apakah sudah sukses? Sudah menikah? Atau punya anak?
“Hai Tiara, bagaimana kabarmu?” tiba-tiba suara seorang pria dari belakang membuyarkanku dari lamunanku. Suara yang terdengar tak asing.
Aku berbalik, dan berdiri. Tiba-tiba air mataku jatuh. Entah kenapa air mata itu jatuh begitu saja. Aku hanya bisa tertegun oleh sosok pria di hadapanku. Dialah pria pertama yang membuatku merasakan cinta. Sekaligus merasakan benci. Aku tidak mengerti saat ini perasaanku. Bencikah atau rindukah?
“Halo, kok nangis? Apa kau tidak bahagia bertemu denganku?” ucapnya dengan senyum lembut.
Aku tetap diam. Bisa-bisanya dia bersikap ceria seperti itu. Apa dia tidak tahu sakit yang selama ini kurasakan. Rindu yang selama ini menyesakkan dadaku. Dan cinta yang selama ini kupendam.
Air mataku bahkan mengucur lebih deras lagi. Dia mendekatiku dan memapahku. Kami berdua lalu duduk di kursi kayu itu. Dia kemudian menaruh kepalaku di pundaknya.
“Menangislah. Menangislah sepuasmu. Marahlah. Marahlah kepadaku sekuat tenagamu. Maaf, aku baru bisa menepatinya sekarang. Menepati janjiku untuk bertemu kamu 15 tahun yang lalu itu.”
Bibirku sudah tidak bisa berucap lagi. Yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan menangis.
“Ada begitu banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Termasuk ketidakdatanganku 15 tahun yang lalu itu. Kenapa kau tidak bicara. Cobalah katakan sesuatu.”
“Aku benci kau Reza. Kenapa kau meninggalkanku waktu itu? Tidakkah kau merasa bersalah, meninggalkan gadis kecil seorang diri. Dan membiarkannya pulang sendiri di saat hampir malam.”
“Semuanya terpaksa. Kau tidak akan bisa mengerti. Begitu banyak yang tidak kau ketahui tentangku. Ada banyak rahasia yang tak mampu kukatakan kepadamu.”
“Lalu, kenapa kau tiba-tiba hadir lagi di hadapanku? Di saat aku sudah ingin melupakanmu, kau malah hadir dan merusak segalanya.”
“Apa benar kau sudah melupakanku? Lalu kenapa kau datang di tempat yang seharusnya tidak kau injak lagi. Kau tahu Tiara, aku tidak akan pernah bisa melupakanku. Mencoba melupakanmu pun tidak bisa. Ada begitu banyak yang hilang jika aku melupakanmu. Bahkan bagian terindah dari hidupku akan hilang. Tapi kau tidak perlu khawatir karena kau akan segera melupakanku.”
“Apa maksudmu?” tanyaku heran atas perkataannya barusan.
“Hari ini aku hanya datang menepati janjiku. Dan tak kusangka kau pun ada. Itulah takdir hidup kita. Tapi, aku akan segera berangkat ke Amerika. Malam ini. Menempuh beasiswa S2-ku. Aku terpilih atas prestasiku meraih cum laude dan lulusan terbaik di Universitas Indonesia. Dan mungkin akan menetap di sana. Jadi kau tidak perlu khawatir. Kau pasti akan segera melupakanku. Tapi yang pasti aku tidak akan pernah melupakanmu. Karena aku percaya, kita pasti bertemu lagi.”
Aku memelukny sekuat tenaga dengan tangisan yang semakin mengucur deras. Di saat hatiku terbuka lagi untuknya, dia malah memutuskan untuk meninggalkanku lagi. Dia benar-benar kejam padaku. Sungguh kejam. Aku bahkan tidak mampu mendengar kata perpisahan darinya. Aku ingin tahu bagaimana perasaannya saat ini. Apakah dia merasakan seperti yang kurasakan. Rasa berkecamuk di dalam dadaku. Dia melepas pelukanku. Dan menatapku dengan lembut. Mengusap air mataku. Dan kemudian mendaratkan bibirnya di keningku. Itulah ucapan perpisahan itu.
NB: iseng-iseng buat cerpen ngepop dikit. Soalnya sebelum bergabung di FLP gaya nulisQ agak ngepop gitu yang didominasi percintaan remaja. Boleh dibaca, tapi hanya sekedar dibaca jangan dibawa ke kehidupan nyata. Soalnya nggak syar’i hehe…^_^
Hari ini. Di tempat kenangan kami. Tepat 15 tahun dia meninggalkanku. Saat di mana kedatangannya 15 tahun yang lalu itu sangat kunantikan. Tapi dia tak kunjung datang. Dan malah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku duduk di kursi tepat di bawah pohon kesepian itu. Sama seperti diriku yang juga kesepian. Aku menatap pemandangan di hadapanku. Sangat hijau. Semilir angin yang meniup rambutku hingga menerpa wajahku. Terasa sejuk sekali. Aku mengingat kenanganku bersamanya. Bersama pria yang baru saja akan kucintai tapi berubah sangat membencinya. Apa kabarnya dia sekarang? Apakah sudah sukses? Sudah menikah? Atau punya anak?
“Hai Tiara, bagaimana kabarmu?” tiba-tiba suara seorang pria dari belakang membuyarkanku dari lamunanku. Suara yang terdengar tak asing.
Aku berbalik, dan berdiri. Tiba-tiba air mataku jatuh. Entah kenapa air mata itu jatuh begitu saja. Aku hanya bisa tertegun oleh sosok pria di hadapanku. Dialah pria pertama yang membuatku merasakan cinta. Sekaligus merasakan benci. Aku tidak mengerti saat ini perasaanku. Bencikah atau rindukah?
“Halo, kok nangis? Apa kau tidak bahagia bertemu denganku?” ucapnya dengan senyum lembut.
Aku tetap diam. Bisa-bisanya dia bersikap ceria seperti itu. Apa dia tidak tahu sakit yang selama ini kurasakan. Rindu yang selama ini menyesakkan dadaku. Dan cinta yang selama ini kupendam.
Air mataku bahkan mengucur lebih deras lagi. Dia mendekatiku dan memapahku. Kami berdua lalu duduk di kursi kayu itu. Dia kemudian menaruh kepalaku di pundaknya.
“Menangislah. Menangislah sepuasmu. Marahlah. Marahlah kepadaku sekuat tenagamu. Maaf, aku baru bisa menepatinya sekarang. Menepati janjiku untuk bertemu kamu 15 tahun yang lalu itu.”
Bibirku sudah tidak bisa berucap lagi. Yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan menangis.
“Ada begitu banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Termasuk ketidakdatanganku 15 tahun yang lalu itu. Kenapa kau tidak bicara. Cobalah katakan sesuatu.”
“Aku benci kau Reza. Kenapa kau meninggalkanku waktu itu? Tidakkah kau merasa bersalah, meninggalkan gadis kecil seorang diri. Dan membiarkannya pulang sendiri di saat hampir malam.”
“Semuanya terpaksa. Kau tidak akan bisa mengerti. Begitu banyak yang tidak kau ketahui tentangku. Ada banyak rahasia yang tak mampu kukatakan kepadamu.”
“Lalu, kenapa kau tiba-tiba hadir lagi di hadapanku? Di saat aku sudah ingin melupakanmu, kau malah hadir dan merusak segalanya.”
“Apa benar kau sudah melupakanku? Lalu kenapa kau datang di tempat yang seharusnya tidak kau injak lagi. Kau tahu Tiara, aku tidak akan pernah bisa melupakanku. Mencoba melupakanmu pun tidak bisa. Ada begitu banyak yang hilang jika aku melupakanmu. Bahkan bagian terindah dari hidupku akan hilang. Tapi kau tidak perlu khawatir karena kau akan segera melupakanku.”
“Apa maksudmu?” tanyaku heran atas perkataannya barusan.
“Hari ini aku hanya datang menepati janjiku. Dan tak kusangka kau pun ada. Itulah takdir hidup kita. Tapi, aku akan segera berangkat ke Amerika. Malam ini. Menempuh beasiswa S2-ku. Aku terpilih atas prestasiku meraih cum laude dan lulusan terbaik di Universitas Indonesia. Dan mungkin akan menetap di sana. Jadi kau tidak perlu khawatir. Kau pasti akan segera melupakanku. Tapi yang pasti aku tidak akan pernah melupakanmu. Karena aku percaya, kita pasti bertemu lagi.”
Aku memelukny sekuat tenaga dengan tangisan yang semakin mengucur deras. Di saat hatiku terbuka lagi untuknya, dia malah memutuskan untuk meninggalkanku lagi. Dia benar-benar kejam padaku. Sungguh kejam. Aku bahkan tidak mampu mendengar kata perpisahan darinya. Aku ingin tahu bagaimana perasaannya saat ini. Apakah dia merasakan seperti yang kurasakan. Rasa berkecamuk di dalam dadaku. Dia melepas pelukanku. Dan menatapku dengan lembut. Mengusap air mataku. Dan kemudian mendaratkan bibirnya di keningku. Itulah ucapan perpisahan itu.
NB: iseng-iseng buat cerpen ngepop dikit. Soalnya sebelum bergabung di FLP gaya nulisQ agak ngepop gitu yang didominasi percintaan remaja. Boleh dibaca, tapi hanya sekedar dibaca jangan dibawa ke kehidupan nyata. Soalnya nggak syar’i hehe…^_^
Pria di Halte Itu
Hari itu hujan. Aku baru saja keluar dari kampus setelah menyelesaikan studiku. Karena payung tak ada, terpaksa aku memutuskan untuk berteduh sejenak di halte, sambil menunggu angkot. Aku merapikan baju dan kerudungku yang kusut. Di halte itu aku tidak sendiri. Ada tiga orang lainnya. Ada sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Satunya lagi seorang pria yang kelihatannya serius. Tak pernah kutemukan guratan wajah serius, tenang, kaku seperti itu. Tak sedikitpun terlihat tanda-tanda kalau dia orang yang ramah, suka senyum. Dari tadi kuperhatikan ada tanda-tanda ketidaksenangan di wajahnya melihat sepasang kekasih itu bermesaraan. Ketawa-ketiwi. Dunia seolah milik mereka berdua. Sangat mengganggu dirinya.
Pria berkacamata dan berkulit putih itu semakin memperlihatkan rasa tidak sukanya. Sesekali ia menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Seperti isyarat yang bermaksud menyinggung. Tapi masih bisa tertahankan. Akan dianggap gila urusan jika reaksi yang keluar berlebihan.
Aku pun tidak setuju dengan tindakan mereka yang mengombar kemesraan di depan umum. Aku merasakan sesak di dadaku melihat perbuatan terlarang itu. Semakin sesak rasanya. Ingin sekali aku menegur. Tapi sifat kelumrahan itu bagi kebanyakan orang menjadikanku urung.
“Kalau saja hari ini kiamat, apa kalian tidak takut mati dalam keadaan berdosa?” pertanyaan yang menyinggung akhirnya keluar juga dari bibir pria berkacamata itu. Terlalu berani tapi tepat sasaran.
“Maksud kamu apa? tidak suka dengan kami? Apa kamu terganggu dengan kehadiaran kami? Emang tempat ini milik nenekmu apa?” pria itu malah menyindir. Dia sama sekali tidak merasa bersalah bahkan menganggu.
“Nggak usah diladeni sayang. Biarkan saja. Orang seperti itu cuma iri dengan kita. Orang seperti itu sudah sering saya temukan. Mereka adalah orang-orang susah mendapatkan cinta. Kesannya idealis tapi sebenarnya mereka cuma miskin cinta. Ganteng-ganteng kok nggak laku.” Sang wanita malah berkomentar sedikit menantang dan menyinggung.
“Wanita zaman sekarang memang bodoh. Mereka mau saja tunduk pada nafsu lelaki. Apa kamu tidak tahu kalau pacarmu yang sekarang kau puja-puja itu, suatu saat nanti akan menendangmu jauh-jauh. Setelah dia mendapatkan yang lebih cantik dari kamu. Dan kamu akan menangis merengek-rengek meminta pertanggungjawaban setelah kamu merasa telah dirugikan.” Pria berkacamata itu membalas dan semakin menyudutkan sang wanita. Wanita itu marah. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang menunjukkan ekspresi emosi yang tak tertahankan. Tapi tak satu pun kata balasan yang keluar dari bibirnya. Kekasihnya pun membiarkan. Seolah merasa dipojokkan oleh pria berkacamata itu.
Aku hanya menjadi pendengar dalam perselisihan itu. Aku belum mampu bertindak berani seperti itu. Aku salut. Masih ada yang mau berbuat nekat. Padahal sudah sering kutemukan kasus seperti ini. Aku tahu itu dosa, tapi aku membiarkan. Orang-orang pun membiarkan. Mengingat hal seperti ini adalah suatu kelaziman.
Sepasang kekasih itu diam. Mereka mematung. Mau beranjak tapi hujan belum juga reda. Kemesraan yang tadinya diumbar terhentikan oleh ucapan dari pria berkacamata itu. Angkot pun sudah banyak yang berlalu lalang. Tapi tak satu pun kuperhatikan. Aku puas sekali. Kegeramanku mereda. Sosok pria yang ada di sampingku itu mengingatkanku pada Soe Hok Gie. Seorang aktivis mahasiswa pengkritik pemerintah yang sangat idelis. Apakah dia seorang aktivis? Mungkin saja.
“Ayo sayang kita pergi. Jangan berlama-lama di tempat ini. Ada orang sok suci. Nanti dia juga akan tahu rasanya pacaran. Kalau dia tidak tergoda sama sekali, berarti dia itu malaikat. Aku tidak yakin dia mampu menahan hasratnya. Dasar sok suci!” ungkapan kasar keluar dari bibir pria itu sebelum ia beranjak. Hujan memang sudah reda. Pasangan kekasih itu pun berlalu dengan mengendarai sebuah motor sambil bergandengan mesra.
Tinggal kami berdua yang ada di halte itu. Ingin rasanya kumulai percakapan dengan pria itu. Tapi aku takut. Dia terlalu serius dan kritisis. Apalagi jika yang mengajak ngobrol duluan adalah seorang perempuan. Mungkin dia lebih tidak suka. Bayang-bayang kata-kata yang akan keluar dari mulutnya sudah kukira-kira. Ah, aku terlalu dini buruk sangka. Tapi biarkan saja. Diam pun tak mengapa. Tidak ada ruginya juga jika aku tidak mengajak mengobrol.
“Apa jadinya ya jika pria tadi memukulku? Mungkin aku sudah terluka. Aku tidak pandai berkelahi. Tapi mulutku terlalu berani dan selalu mengundang dunia persilatan.” dia berbicara kepadaku. Dia tertawa. Lebih kelihatan manis kalau dia seperti ini. Sifatnya yang serius tadi mencair seketika. Tak kusangka pria ini bisa juga tersenyum.
“Jadi kau cuma berani di mulut doank. Hebat. Tak terlihat sedikit pun kalau kau juga takut. Kok bisa ya, cuma dengan kata-katamu mereka ciut dan mengalah. Ditambah dengan gaya yang tadi kamu lakukan. Tidak ada yang akan menyangka kalau kau pun sebenarnya takut dan deg-degan.” Kusambut dengan tanggapan yang sok akrab. Persangkaanku salah. Ternyata malah dia yang lebih dulu mengajakku mengobrol.
“Sebenarnya itu cuma strategiku. Biar mereka ciut duluan. Aku malah bersyukur, mereka cepat pergi. Aku tadi berdoa jangan sampai pria itu mengajakku berkelahi. Aku bisa mampus.” Dia kembali tersenyum.
“Tapi tindakanmu terlalu berani. Kalau pria tadi mengajak berantem. Kau bisa bahaya. Bahkan nyawamu pun bisa terancam. Zaman sekarang, nyawa bukanlah perkara berharga. Orang gampang saja menghilangkan nyawa seseorang untuk alasan yang sepele. Dunia ini semakin hari semakin menuju kehancuran. Sunnatullah itu tidak akan berubah. Kebaikan yang kita lakukan hanya akan mengurangi kehacuran bukan memperbaiki kehancuran yang terus berjalan.”
“Betul juga sih. Tapi sejuah ini strategi yang kulakukan belum ada yang gagal. Mudah-mudahan Allah selalu menolongku dalam kebenaran. Aku yakin kalau kita benar insya Allah jalannya terbuka.” Aku mengiyakan ucapannya dengan senyuman. Tak berani memandangnya.
Hening sesaat… aku menunduk.
“Dari tadi kuperhatikan, kau pun segan padaku. Apa kau berpikir yang macam-macam tentang aku? Terlalu cepat menilai seseorang, padahal belum tahu siapa orang itu adalah sikap yang menurutku keliru. Seperti kamu tadi.” Dia menertawaiku. Lagi-lagi kubalas dengan senyuman atas kekeliruanku tadi. Aku tetap tidak bisa menahan rasa maluku. Aku memilih diam.
“Mungkin orang mengaggapku aneh. Tapi aku tidak pernah merasa aneh. Banyak orang yang tidak menyukaiku. Tapi aku tidak pernah khawatir. Kenapa mesti melihat pandangan manusia? Kalau pandangan Allah itu lebih utama. Tidak pantas kita mengukur sesuatu atas persepsi manusia. Kalau mereka bilang aku radikal dan idealis. Biarlah, aku memang seperti itu. Apa salahnya?. Kalau mereka bilang aku anti pacaran dan anti wanita, silahkan! aku memang anti. Aku hanya akan mencintai istriku kelak.” Kalimat terkhirnya membuatku merinding. Siapakah wanita beruntung itu? Punya suami tampan, cerdas, berakhlak seperti dia, rasanya tidak akan ada yang menolak. Astagfirullah! pikiran buruk itu kubuang jauh-jauh.
Kalau dilihat-lihat tidak akan ada yang menyangka kalau pemikirannya sedalam itu. Dia lebih terkesan hedonis. Wajah tampan, tak kalah saing dengan selebriti, menciptakan image seperti itu. Tidak ada tanda hitam di dahinya ataupun baju koko dengan celana tergantung. Sama sekali tidak mencerminkan kalau dia sedikit fundamental. Terus terang, aku salut, kagum, simpatik. Masih ada pria seperti itu.
“Siapa bilang kamu aneh? Hanya orang aneh yang bilang kamu aneh. Kalau itu suatu kebaikan kenapa mesti dianggap aneh. Kalau tidak ada yang seperti kamu. Apa bisa orang akan sadar akan kesalahannya. Aku malah salut. Aku juga berharap bisa berani menyampaikan kebenaran. Tapi aku belum mampu dengan jalan seperti itu. Ketakutan mengalahkan tekadku.”
“Aku mengerti. Lebih terlihat aneh lagi jika yang melakukannya seorang wanita. Nanti dianggap radikal atau ekstermlah. Kan gak bagus. Nanti orang pada ilfeel. Trus gak ada yang naksir deh.” Candanya kepadaku.
“Kamu sendiri gak takut, orang pada ilfeel sama kamu. Trus gak ada yang naksir?”
“Ya, nggak apa-apa. Biar aku saja yang naksir orang. Orang gak perlu naksir aku. Ada nggak ya wanita yang betul-betul berani melawan kebathilan seperti itu?”
“Jangankan wanita, laki-laki saja jarang.” Tambahku.
“Tapi kalau masalah gender, mereka lantang bersuara. Aneh ya? masalah mereka dieksploitasi. Mereka diam saja. Terkesan mereka sendiri yang sengaja menodai dirinya sendiri. Susah sih dapatkan wanita yang betul-betul berjuang di jalan Allah. Kalau kamu gimana? Tapi aku rasa wanita sepertimu tidak akan mampu.”
Aku bisa menangkap kalau dia mendambakan seorang wanita yang rela berjuang untuk sebuah dakwah. Demi tegaknya nilai-nilai islam. Kata-kata yang barusan dia lontarkan terasa janggal di telingaku. Apa dia mengharapkan aku menjadi wanita seperti itu? Kalimat terakhirnya itu memang tepat. Aku lemah. Keberanianku kecil. Kepolosan dan keluguan yang dia tangkap dari wajahku membuatnya berpikir kalau aku tidak akan mampu melakukan itu. Lebih tepatnya, dia meremehkanku.
Hujan dari tadi reda. Tapi mengapa aku belum juga mau pulang? Serasa diriku tidak mau beranjak dari tempat duduk ini. Obrolan panjang di antara kami berakhir dengan kebisuan. Dia akhinya diam. Aku pun ikut diam. Ada banyak permasalahan yang sudah kami diskusikan. Ada ikatan komunikasi yang nyambung di antara kami.. Tak tahu lagi apakah masih bisa mengobrol dengannya seperti ini. Atau inikah yang pertama sekaligus yang terakhir. Aku tidak pernah kenal bahkan lihat orang ini sebelumnya. Ini pertemuan pertama kami, tapi tidak asing bagiku.
Dia ingin permisi lebih dahulu. Alasannya untuk tetap di sini sudah tidak menghalang lagi. Hujan yang baru saja turun adalah hujan yang menjembatani pertemuan kami. Apakah dia berpikir sama denganku. Ataukah dia tidak mengharapkan lagi pertemuan kami selanjutnya. Aku tidak tahu. Terlalu cepat untuk berpikir yang aneh-aneh. Biarkan takdir yang berbicara.
“Terima kasih sudah mau mendengarkanku. Baru pertama kali aku menemukan orang yang setuju dengan pemikiranku. Mengobrol denganmu adalah pengalaman yang mengasyikkan bagiku. Semoga kita masih bisa berdiskusi. Entah kapan. Sampai ketemu lagi. Assalamu alaikum.”
Senyuman itu tidak tahu kapan lagi bisa kulihat. Dia berucap sambil berjalan menuju angkot yang berhenti di depan kami. Bagaimana mungkin bisa bertemu kalau hanya sekedar ucapan sampai ketemu. Belum saling mengenal. Bahkan dia jurusan dan angkatan berapa aku tidak tahu. Sebenarnya ingin sekali kuminta nomor ponselnya, tapi menurutku itu tidak etis. Apalagi aku seorang wanita. Tambah tidak etis. Biarkan saja hari ini berlalu. Biarlah takdir yang mempertemukan kita lagi. Ataukah hujan selanjutnya. Aku membiarkannya berlalu begitu saja. Ucapan salamnya kusambut dengan senyuman sambil menjawab di dalam hati. Juga terima kasih kembali!
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Diberdayakan oleh Blogger.
