Sahabat ke Surga



Jika alam mengajarkanmu mencari makna
Maka carilah senja di langit sore
Temui rembulan di langit malam
Dan menjadilah bintang di atas sana


Seindah-indahnya langit biru
Segigil-gigilnya musim gugur
Dan sekenang-kenangnya hujan yang telah berlalu
Mari menjenguk masa
Saat kita duduk bersama
Ketika canda dan duka telah kau bagikan

Di ruangruang hati kita
Dalam genggaman erat tangan kita
Dan di balik doadoa sujud panjangmu
Bisikkanlah namaku ke semesta.

Jika ke surga adalah tujuan
Jangan hentikan cerita kita di sini
Karena di sepanjang jalan menyemai cinta,
Kita akan saling menemukan di sebuah telaga di surga kelak.
Semoga!

Melbourne, 27 April 2017

📷 @dheewiwik

Menjadi Biru Saat Musim Sedang Gugur





April menjadi bulan penanda bergantinya musim panas ke musim gugur di Australia tahun ini. Di sini, kota Melbourne, mencari daun-daun yang berguguran, menemukan pohon-pohon yang siap dan telah meranggaskan daun-daun adalah satu keadaan yang dinanti penduduknya. Keindahan yang tidak akan muncul sepanjang tahun saat kau bisa menyaksikan warna daun yang menguning, kemerahan, oranye, dan coklat. Musim gugur di Melbourne selalu diiringi dengan curah hujan yang tinggi. Jangan terlalu sering mengharap langit yang biru. Sepanjang perjalanan mencari autumn yang cantik kali ini, sebenarnya langit tak selalu biru. 


Ibarat hidup yang kadang suka, kadang duka, perjalanan ke Macedon Ranges seperti drama yang memiliki jalan cerita atau hidup yang tak berjalan mulus. Mendung, cerah, dan hujan adalah bumbu-bumbu perjalanan. Beberapa menit yang lalu langit biru, sepuluh menit kemudian langit menjadi gelap. Dan semenit kemudian hujan jatuh. Lima menit kemudian langit kembali cerah. Jangan lupa angin yang berhembus dan dinginnya hari menjadi latar hidupnya suasana. Perkara langit dan bumi yang sangat rahasia. Begitu seterusnya hingga perjalanan itu berakhir. 


Jika ada yang ingin mengambil pelajaran dari cuaca hari ini, maka semestinya kau menyadari bahwa kemudahan hidup tidak berlangsung lama, sama seperti kesusahan hidup yang juga tidak akan berlangsung lama. Semua ada waktunya masing-masing. Dan kau tidak pernah tahu kapan Tuhan menurunkan dan mengangkatnya kembali. Seolah-olah kau hanya melewati dan menikmati setiap prosesnya dan masalah itu lenyap seketika. Atau kesenangan itu bisa diambil kapan saja, juga bisa dikembalikan kapan saja. Bukankah begitu yang telah kau alami.


Jika hujan kau ibaratkan ujian, maka kau akan menyadari bahwa hujan tidak akan jatuh berhari-berhari tanpa jeda. Di suatu hari atau waktu tertentu, langit akan kembali cerah meskipun kemungkinan untuk cerahnya hanya sedikit seperti di musim gugur kali ini. Jelang dan saat menjadi cerah, bukankah ada pahala syukur di sana. Kau menjadi lebih bahagia dari biasanya. Kau bisa melewati aktivitasmu dengan baik dan terencana. Tapi, jika kau menganggap bahwa hujan itu adalah rahmat. Saat ia jatuh pun, kau akan tetap bersyukur. Bahwa di setiap keadaan, hujan bukanlah penghalang. 

Maksud saya sebenarnya sederhana. Jika langit bisa menjadi biru saat musim sedang gugur, begitu pula cerita hidup manusia yang selalu memiliki harapan. Harapanlah yang membuat manusia akan terus berusaha. Menjadi biru saat musim sedang gugur adalah peluang untuk tetap bersyukur dan bahagia meski keadaan memiliki seribu alasan untuk berkata sebaliknya.

Melbourne, 26 April 2017

*Qia's Photography

Jika Langit Tak Berpelangi


Musim gugur menjadi lebih romantis dengan hujan. Daun-daun yang basah. Dan gerimis yang selalu manis ketika jatuh di hari kamis. Di sini dan nun jauh di sana banyak orang yang sedang mengukir kisahnya masing-masing. Untuk menjadi lebih berarti.

Seringkali kita bahagia ketika berhasil mewujudkan satu persatu mimpi kita. Kita datang dari sebuah desa atau kota yang kecil. Berjuang dengan cara masing-masing hingga berhasil menghirup udara di sebuah kota bermusim lebih, yang dulunya hanya kita pandangi dalam acara televisi. Tak jarang pula kita memperbincangkan nama negara dan kota-kota itu dalam obrolan ringan bersama teman saat kelas kosong. Kau menceritakan negara yang sangat ingin kau kunjungi. Terinspirasi dari drama dan film favoritmu. Atau karena klub bola favoritmu berada di negara itu. Ada banyak alasan lain bagaimana keinginan menggapai mimpi muncul dalam hatimu.

Katanya, seseorang yang bepergian, mengunjungi beberapa tempat di dunia ini dan seseorang yang tengah mengabdikan dirinya dalam pencarian ilmu di sebuah tempat yang asing akan menjadi lebih bijak dari manusia lain pada umumnya. Tempat-tempat yang tak biasa akan mengajarkan seseorang menjadi lebih berani dan tangguh. Katanya, mereka yang menuntut ilmu di luar negeri selalu dipandang lebih tinggi daripada mereka yang di dalam negeri. Padahal mungkin saja banyak orang yang hanya bepergian tetapi tidak menjadi lebih berarti. Mereka hanya datang, memotret tempat-tempat indah, memuaskan hatinya dan menikmati keadaan yang tak abadi itu. Lalu mereka pulang dengan kehampaan dalam hati. Semua cerita hanya terangkai di mulut, tetapi tidak menajamkan akal dan mengembangkan jiwa. 

Di sebuah desa atau kota kecil ada seseorang yang mungkin belum pernah ke luar negeri atau bahkan tidak mengenyam pendidikan tinggi, tetapi perubahan yang mereka ciptakan telah melangkah jauh dan melangit. Mencapai harapan-harapan tinggi orang-orang di sekitarnya. Mereka mungkin adalah orang-orang yang dengan kesederhanaannya telah menggugah banyak jiwa. Menjadikan jiwa-jiwa itu lebih mulia di mata Tuhan. Mereka lebih bersyukur dan bahagia. Mereka lebih paham akan makna kehidupan. Mereka yang selalu bisa menciptakan pelangi, meskipun hujan belum berhenti. 

Mereka lebih pandai menjaga harapan. Bahwa keindahan hidup bukan hanya tentang seberapa jauh langkah kakimu melintasi dunia. Tetapi, sedalam apa tujuan hidup bisa kau pahami. Mereka yang selalu paham bahwa membumikan kebaikan jauh lebih berarti. Semestinya kita yang telah jauh melangkah, lebih memaknai kebijaksanaan hidup. Semakin kaki melangkah jauh, semakin dalam pula hati tertunduk. Adakah kau melihat pelangi hari ini?

Melbourne, 24 April 2017

*Riya's Photography

Yang Tak Harus Gugur di Musim Gugur


Semakin jauh waktu berjalan, semakin jauh pula hubungan di antara manusia. Kita dipertemukan oleh sebuah alasan dan pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa kita akan berpisah karena sebuah alasan. Begitulah waktu mengajarkan keikhlasan.

Kemampuan kita hanya sebatas memandang foto-foto kebersamaan. Setamat sekolah, lulus kuliah S1, bahkan S2 teman-teman kita tak lagi sama. Semuanya hanya datang, singgah, lalu pergi. Kita yang dulu pernah dekat sekarang tak lagi bertegur sapa. Kita yang dulu pulang sekolah bareng, tinggal di kosan yang sama atau bertetanggaan. Juga sehari-hari bertemu di kampus karena amanah organisasi atau mengambil mata kuliah yang sama, sekarang telah memiliki kehidupan masing-masing.

Beruntungnya, kita masih dipertemukan dalam jarak yang dekat tetapi sejatinya jauh. Kita masih bertegur sapa di dunia maya. Kita pun masih saling tahu kabar terbaru dengan hanya memandangi layar segi empat di depan kita. Setidaknya masih ada peluang untuk kita bersilaturrahmi. Sebelum waktu benar-benar memudarkan ingatan di antara kita.

Rasanya saya mulai memahami teori tentang pertemuan dan perpisahan. Ketika pada akhirnya kita akan berpisah dengan teman-teman dekat kita sekarang, maka berusahalah menciptakan atmosfir kebaikan. Berbuat baiklah dan sayang-menyayangilah di antara sesama. Paling mungkin, jangan membawa keburukan kepada teman-teman dan lingkungan kita. Agar doa-doa kita bisa saling menyatu karena pernah saling membantu. Semoga di setiap kesempatan kita tidak pernah saling menyakiti sesama teman. Kita senantiasa dan saling membawa kebermanfaatan. *

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim)

Karena ukhuwah tak mesti gugur layaknya daun di musim gugur.

Melbourne, 23 April 2017

Hati yang Dirahmati Allah



Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan ~ Q.S. Al Jasiyah: 22

Jika kau menginginkan kebaikan, tetapi kau belum sanggup menjadi lebih taat, maka janganlah berputus asa. Jagalah niatmu, karena Allah akan menuntunmu menuju pintu kepahaman.
Adalah hati setiap manusia berbeda-beda. Seperti iman yang bertingkat-tingkat. Ada hati yang menjauhi Allah, ada hati yang masih mencari kebenaran, ada hati yang jatuh bangun meraih cinta Allah, adapula yang senantiasa meningkatkan kecintaannya. Setiap kita mungkin berangkat dari tempat yang berbeda, tapi Allah akan menilai tempat akhir kita. Adakah kita khusnul khatimah atau sebaliknya.

Hati yang dirahmati Allah adalah hati yang dibukakan pintu kebaikan, hati yang dituntun menuju pintu kepahaman. Yakni hati yang siap diketuk dengan kelembutan dan kebenaran wahyu. Bukankah kita telah dibekali akal, yang mampu membedakan keburukan dan kebaikan. Akal yang jernih akan saling menuntun dengan hati yang bersih. Selalu haus akan ilmu. Paling mungkin, tak menutup diri dari cahaya.

Jika saja kau telah berlari mendekati Allah, dan segalanya terasa lebih sulit, maka janganlah berpaling, bisa jadi Allah mengirimkanmu sebuah kado berisi tiket untuk naik tingkat. Allah ingin memasukkanmu ke dalam golongan hamba yang dicintai-Nya. Golongan yang sedikit di bumi ini. Kesukaran itu pulalah yang membersihkan hatimu dari debu-debu halus yang menipu matamu. Atau jika engkau terus menerus diberi kemudahan dan kenikmatan, jadikanlah ia anak tangga untuk mencapai ridha Allah, meraih derajat takwa, bukan melenakanmu kepada kemaksiatan.
Semoga hati-hati kita adalah hati yang ditolong Allah, hati yang mendapat rahmat, menyegerakan kebaikan, menjauhi keburukan, mencintai ilmu dan senantiasa berlari mencari cinta Allah. Mari berbenah diri, menata hati!

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim)

Melbourne, 21 April 2017

#selfreminder #selfreflection #muslimahpembelajar #muslimahcintailmu #muslimahhijrah
#empoweringmuslimah
*Uul's Photo

Visi Hidup



Dunia ini ibarat bayangan, kejar dia dan engkau tak akan pernah bisa menangkapnya. Balikkan badanmu darinya dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu” -Ibnu Qayyim al-Jauziyah"

Sungguh telah dijadikan dunia ini ujian bagi orang-orang beriman. Terlalu banyak kesenangan yang ditawarkan. Pernahkah Anda merasakan berada pada level keimanan yang rendah akibat terlalu banyak mengonsumsi hiburan atau kesenangan sesaat yang sebenarnya tidak ada manfaatnya.

Seperti terlena, tidak sanggup bermujahadah untuk menepis semua godaan yang datang di sekeliling kita. Terlalu mudah hati kita jatuh padanya, padahal hiburan atau kesenangan semu itu lebih mengantarkan kita kepada ketidakbermanfaatan bahkan kemaksiatan dan dosa.
Dunia adalah tempat menanam pohon kebaikan sekaligus perangkap menimbun dosa yang keduanya akan kita tuai di akhirat. Maka dunia adalah kesempatan untuk berjuang menjadi yang terbaik, melayakkan diri meminang surga.

Dunia tidak bisa kita pisahkan dengan akhirat. Karena tujuan akhirat harus dilalui dengan perantara dunia. Maka pilhannya ada di tangan kita. Apakah senantiasa menabung pahala atau tak sadar menghabiskan waktu dengan memupuk dosa.

Jadi visi seorang muslim bukan memfokuskan diri pada dunia, tapi berjihad melewati ujian dunia untuk tujuan akhirat. Kembalikan segala goals kita hanya untuk akhirat dengan berusaha menjadi muslim yang terbaik di dunia. Terbaik di mata Allah. Membangun amal jariyah sebanyak-banyaknya agar layak menyandang penghuni surga.

Seberapa banyak kebaikan yang kita tampakkan, mungkin lebih menggunung lagi dosa yang Allah tutupi dari permukaan. Muhammad bin Wasi’ berkata, “Kalau seandainya setiap dosa itu memiliki bau, niscaya tidak akan ada manusia yang mau hidup bersama kita”

Mudah-mudahan Allah memudahkan kita untuk bermujahadah dengan ujian dunia baik itu kesempitan, kesenangan, terutama pada nikmat-nikmat yang melenakan.

#selfreminder #selfreflection #repentance #dzikrullah 

Melbourne, 17 April 2017

Seeking A Shelter



Jika di luar hujan, badai, atau panas matahari di atas suhu 30°C. Lalu kamu berlari ke luar. Kamu bingung kenapa tiba-tiba bajumu basah atau kepalamu pusing karena sengatan matahari yang tak biasanya.

Kadang kita mencari-cari alasan, kenapa sesuatu terjadi dalam hidup. Kenapa masalah atau ujian silih berganti dan semuanya terasa berat. Sepertinya kita lupa bahwa beratnya ujian karena kita tidak mencari tempat perlindungan. Tempat berlindung akan mengurangi ketakutan kita kepada badai. Badai akan berlalu dan kita merasa bahwa berteduh tidak akan membuat kita kebasahan, atau demam.
Dan rumah akan selalu menjadi alasan dan tempat terbaik untuk menghindar dari cuaca yang buruk bukan?

Jika ujian itu berupa badai, mungkin tempat berteduh yang paling nyaman adalah kedekatan dengan Tuhan. Sebab dari sanalah, segala solusi bermula. Dari sanalah harapan akan kembalinya hari yang cerah. Seperti hari ini.

11/4/17, Saat Melbourne kembali cerah setelah beberapa hari hujan tak henti jatuh di musim gugur.
Diberdayakan oleh Blogger.