Eudaemonia



Oleh: Bulqia Mas’ud

Setiap manusia ingin bahagia. Tentu kita semua ingin mendapatkan ketentraman dalam hidup. Kebahagian bisa menunjukkan tingkat kesejahteraan seseorang, baik harta, jiwa dan raga. Mencari kebahagiaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja perlu pengorbanan untuk meraihnya. Di Amerika dikenal istilah American Dream (mimpi-mimpi orang Amerika). Orang-orang Amerika begitu terobsesi dengan istilah kebahagiaan, namun sayang kebahagiaan yang mereka kejar adalah kebahagiaan semu.
Aristoteles, seorang filsuf Yunani (384-322 SM) memberikan istilah bagi keadaan ini, yaitu eudaemonia. Istilah ini kerap dipakai dalam istilah filsafat untuk menunjukkan arti kebahagiaan, kesenangan, dan ketentraman. Eudaemonia diambil dari bahasa Yunani, eu berarti ‘baik’ seperti euphoria, euphemism, eulogy dan Europe. Daemonia terkait dengan kata daemon yang berarti ruh. Dalam Bahasa Inggris modern istilah daemon (demon) berarti ruh yang jahat. Jadi, menurut Aristoteles eudaemonia adalah suatu kebaikan ruhaniah.
Mungkin lebih sedikit manusia yang menyadari bahwa zaman sekarang telah dikunkung oleh ideologi besar bernama kapitalisme. Semua celah terasuki, sampai ke struktur terkecil kehidupan kita. Bahkan orientasi kebahagiaan pun dikendalikan oleh ideologi ini. Dalam perspektif kapitalisme, kebahagiaan adalah ketika kita telah mampu memenuhi segala kebutuhan hidup dengan materi yang berlimpah. Pemahaman masyarakat dibentuk untuk hidup mengejar materi. Masyarakat bersikap konsumtif, membeli barang-barang tertentu seperti mobil mewah, rumah mewah, pakaian mewah, menjaga penampilan dan gaya hidup tertentu.
Aleister Crowley, seseorang yang dijuluki bapak satanisme modern mengajak masyarakat barat untuk semakin meraih eudaemonia. Istilah yang dikeluarkannya sangat terkenal “Do what thou wilt” lakukan apa kehendakmu. Kalimat ini kemudian dijadikan rumus bahagia bagi generasi muda barat. Mereka kemudian bertindak sesuka hati untuk mendapatkan kepuasan-kepuasan semu. Slogan merek sepatu Nike “just do it” juga kalimat  yang mengandung pesan agar kita melakukan apa saja untuk meraih eudaemonia. Konsep ini pun mewabah ke bagian belahan timur di dunia, termasuk Indonesia, salah satu yang terparah.
Padahal terbukti bahwa kepemilikan barang dan harta kekayaan tidak sepenuhnya membawa kebahagiaan. Kita bisa saksikan dari tingkah laku sebagian orang-orang kaya dan selebritis dunia bahkan tanah air. Mereka justru kebanyakan mengalami depresi, stress, hingga mengalihkannya ke cara-cara yang semakin menghancurkan kehidupannya, seperti narkoba, mabuk-mabukan dll.

Kebahagiaan dalam Pandangan Islam

Allah swt berfirman:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (TQS. Al Hadiid [57]: 20)
Ayat di atas mengingatkan agar hidup kita tidak difokuskan untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan dunia. Hidup ini hanyalah tempat persinggahan. Masih ada kehidupan akhirat. Di tempat itulah  kita kekal selama-selamanya. Maka hendakanya kita meletakkan segala macam kenikmatan dunia pada posisi yang semestinya.
Seorang muslim hendaknya merasa senang jika ia telah melakukan sesuatu untuk meraih ridha Allah. Kebahagiaan dalam islam adalah ketika kita mendapatkan keridhaan Allah. Meskipun dengan sesuatu yang tidak mengenakkan atau secara naluri tidak kita sukai. Misalkan, seseorang yang berpuasa sepanjang hari. Bagaimana mungkin kita mendapatkan kepuasan padahal kita tidak makan dan minum. Tapi, ada kebahagiaan dan kenikmatan luar biasa pada saat berbuka puasa. Contoh lain, ketika seseorang bangun sholat tahajjud. Ia rela mengorbankan waktu tidurnya, hingga memaksa mata untuk berdamai hanya untuk ibadah tersebut. Secara logika, mungkin itu sangat menganggu tapi adakah yang bisa menjelaskan perasaan bahagia ketika kita bangun sholat malam dan memiliki kesempatan untuk bermunajat kepada Allah.
Kisah yang paling terkenal tentang pengorbanan keluarga Yasir r.a dan Sumayyah r.a mengalami penyiksaan yang menyakitkan hingga menyebabkan kematian. Namun mereka tetap bertahan menjaga keimanannya agar Allah dan Rasulullah meridhai mereka. Mereka menganggap penyiksaan itu hanya sementara dibandingkan dengan janji Allah. Rasulullah kemudian memotivasi mereka dengan surga yang ada di depan mata ketika menyaksikan mereka dalam penderitaan. Sumayyah pun menyambut dengan ucapan bahwa ia bisa melihat surga itu. Kisah yang sangat menggetarkan agar manusia mencari kebahagiaan untuk ridha Allah semata.
Kita harus memahami makna hakiki kebahagiaan, agar kebahagian dunia sekaligus akhirat mampu kita raih. Kapitalisme menyandera pemikiran kebanyakan orang agar memburu kebahagiaan dalam arti kesenangan materialistik. Jika kita memakai landasan hidup yang salah, maka kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu. Landasan hidup yang sesuai Al Qur’an dan As-Sunnah-lah yang insya Allah membahagiakan kita dunia akhirat.
Sebuah do’a yang dianjurkan Rasulullah saw agar kita senantiasa mencari keridhaan Allah swt:
“Ya Allah, aku memohon jiwa yang tenang, keimanan terhadap hari pertemuan (dengan-Mu), keridhaan atas qadla-Mu, dan sikap qana’ah atas pemberian-Mu.”

Mahasiswi Sastra Inggris Angkatan 2008

Siklus Perasaan


Pagi ini, ingin menulis sesuatu. Melihat matahari yang mengirimkan kemilau keemasan tapi sedikit basah oleh waktu. Bulan ini berlatar hujan. Ikut membasahi hati sampai pada sudut yang tak nampak. Mungkin sisa-sisa bulan kemarin. Sedikit bercerita tentang siklus hari dan perasaanku. Aku ingat, aku pernah mengulang perasaan yang sama. Dan kembali mengalaminya.

Tapi, sudahlah. Hari ini tak ada selimut awan. Berarti cahaya matahari bisa sampai ke bumi. Sedikit menghangatkan hati. Hari ini adalah kesempatan melakukan segala hal yang tak bisa dilakukan jika ditemani hujan.

Hidup itu seperti awan yang berganti bentuk begitu cepat. Bentuknya tak pernah diduga. Kadang mengantar hujan. Kadang mempersilahkan matahari. Kadang menjadi pelindung. Siklus ini adalah penghargaan religius. Dan pagi ini, awan menjadi pelindung tak mengantar air mata dari langit. Benar-benar merasakan titik kedamaian.

Apa yang kurasakan sekarang adalah sebuah kedamaian. Hatiku seperti ringan. Kemarin, berusaha menyembunyikan keletihan dengan senyuman. Seperti sebuah perahu yang menantang gelombang. Terombang-ambing. Tak mengalir seperti sungai yang airnya tenang, bersih, dan segar untuk membasuh wajah. Tapi, hari itu sudah berlalu…

Aku ingin bercerita tentang kata maaf. Maaf itu seperti hujan yang bisa menghapus kemarau panjang dan ganas. Ada keajaiban dalam sebuah maaf. Jika terlambat mengatakannya, bisa saja keajaiban itu hilang. Maaf tak bisa disembunyikan di balik tumpukan jerami yang menyulitkan orang untuk menemukannnya. Maaf butuh dilisankan, dituliskan dalam sebaris kata, simbol, atau deret huruf. Satu hal, meminta maaf tidak pernah menjatuhkan harga diri. Seorang pemenang ialah ketika ia mampu mengucapkan selamat saat ia kalah dan mengucapkan maaf saat ia tidak salah.

Tidak ada hal yang betul-betul salah. Bahkan jam rusak pun benar dua kali dalam sehari (Paulo Coelho). Seolah bermakna masih ada kesempatan untuk memaafkan. Kesabaran itu menimbun emas. Hari ini dan seterusnya, lebih baik menimbun emas. Emas tidak akan pernah berkurang nilainya. Ia akan tetap berguna. 

*Desember berlatar hujan. Ingin menemukan kedamaian...

Selamat menjemput mimpi-mimpi!

Makassar, 28 Desember 2011, di garis waktu 09.10



Menampilkan Kepribadian Islam sebagai Karakter Pemuda Bangsa

Oleh: Bulqia Mas’ud

Kalau pada saya diberikan seribu orang tua, saya hanya dapat memindahkan gunung semeru. Tapi kalau sepuluh pemuda bersemangat diberikan kepada saya, maka seluruh dunia dapat saya goncangkan” [Soekarno]

Pemuda adalah sosok yang memegang peranan penting dalam mengawal perubahan. Pemuda yang kita representasikan sebagai mahasiswa bukanlah gelar biasa. Mahasiswa sering identikkan dengan agen perubahan, social control dll. Mahasiswa atau pemuda adalah sosok intelektual yang berperan penting dalam mewujudkan kebangkitan bangsa. Mahasiswa adalah masa-masa emas yang penuh semangat, kritis, cerdas, dan memiliki waktu dan ruang gerak yang cukup leluasa untuk menjalankan kerja-kerja produktif. Namun sayang banyak yang tidak menyadari peran strategis ini. Banyak pemuda yang tergerus dengan budaya hedonis, individualistis yang hanya bermanfaat untuk individunya semata tanpa berusaha mengubah apa yang ada di sekelilingnya. Mereka hanya terfokus untuk mengejar ilmu yang kelak dapat digunakan untuk meraih kemaslahatan pribadi berupa popularitas maupun kekayaan. Padahal idealnya pemuda yang merupakan harapan bangsa dan masyarakat mereka harus punya kesadaran sosial untuk kepemimpinan masa depan.

Terlalu banyaknya pemikiran yang menjangkiti pemuda sehingga pemuda kesulitan menemukan jati dirinya. Pemuda cenderung menganggap budaya dan pemikiran luar khusunya barat lebih superior sehingga muncullah rasa inferior pemuda bangsa yang terlalu mengagung-agungkan kehebatan mereka.

Derasnya arus pemikiran dan budaya luar membuat pemuda semakin disorientasi, tidak memiliki karakter yang jelas. Liberalisasi membuat segalanya serba terbuka, kabur dan kehilangan arah. Pemuda semakin dialihkan untuk bergaya hidup yang hedonis. Hal inilah yang melahirkan banyaknya masalah cabang seperti free sex, narkoba, HIV/AIDS, konsumtif dll. Liberalisasi ini tidak hanya menyinggung sistem sosial atau gaya hidup tapi sistem perekonomian, hukum, budaya yang berdampak massif kepada bangsa dan membuat kebanyakan pemuda semakin bebas dan tidak punya prinsip.

Oleh karena itu pemuda bangsa harus memiliki filter yang kuat untuk menekan pengaruh luar tersebut. Filter ini hendaknya dapat mendukung gerak kolektif para pemuda. Dengan kata lain, butuh kesepahaman konsep, visi, dan misi untuk merumuskan karakter-karakter yang perlu dimiliki seorang pemuda calon pemimpin bangsa. Filter ini pun diharapkan mampu menjadikan pemuda tetap pada prinsipnya meskipun arus pemikiran dan budaya semakin deras. Filter ini diharapkan tidak mengubah jati diri pemuda meskipun mempelajari banyak pemikiran dan budaya luar.

Karakter Kepribadian Islam sebagai Filter Utama

Mengubah sebuah kondisi merupakan PR besar para pemuda. Pemuda harus memiliki karakter yang kuat untuk menjadi front liner bangsa ini. Untuk itu butuh kesepahaman konsep dan landasan berpikir yang jelas. Kesepahaman konsep inilah yang dapat menjadi filter kuat untuk menyatukan gerak pemuda.

Pada dasarnya pemuda adalah hamba Sang Pencipta yang tidak boleh melupakan perannya yang multidimensional dalam kehidupan ini. Pemuda sebagai agen of change seharusnya juga menjadi agen kebenaran. Kebenaran yang mampu menjawab pertanyaan mendasar dalam kehidupan ini. Darimana kita berasal? Untuk apa kita hidup di dunia? Dan akan kemana kita setelah hidup di dunia? Merumuskan sebuah konsep perubahan hendakanya memerhatikan ketiga pertanyaan tersebut. Pertanyaan tersebut akan mengarahkan para pemuda menjadi manusia yang mengenali jati dirinya sebagai hamba Allah, agen perubahan, dan kontrol sosial masyarakat.

Pemuda sebagai intelektual sejati adalah generasi ulul albab yaitu generasi yang memiliki kecerdasan intelektual serta menghubungkannya dengan nilai-nilai ilahi atau nilai-nilai spiritual. Tidak mendahulukan rasionalitas daripada nilai-nilai spiritual. Idealnya, para pemuda berpikiran lebih cemerlang untuk mengawal perubahan bangsa ini. Jangan terkunkung oleh sistem kehidupan yang semakin membuat bangsa dan generasinya terpuruk. Pendidikan diharapkan melahirkan sosok-sosok pemuda yang pemikir, bukan hanya pekerja. Pemuda tidak akan bergerak membangkitkan, jika cenderung mengalir mengikuti pola-pola halus penjajahan. Karena justru itulah yang semakin memperkuat penjajahan halus di negeri tercinta ini.

Jika pendidikan dijadikan tumpuan untuk membangun karakter pemuda bangsa yang unggul, tentunya kita harus memperbaiki sistem pendidikan. Sistem pendidikan inilah yang akan membentuk kepribadian dan karakter seorang pemuda. Dalam UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 tujuan pendidikan nasional adalah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam hal implementasinya, terjadi ketidaksesuaian antara tujuan awal dengan hasil yang diinginkan. Karakter pemuda tidak terbentuk sesuai tujuan tersebut. Hal ini disebabkan, konsep nilai-nilai tidak akan terterapkan dengan baik tanpa adanya sistem kuat yang mendukung. Di sinilah berlaku istilah structure influences behavior.

Sistem pendidikan kita hendaknya menitikberatkan pada penyelesaian masalah-masalah kepemudaan. Telah disinggung di atas penyebab jatuhnya moral pemuda karena tidak memiliki filter yang jelas. Filter islam diharapkan mampu menjadi payung yang dapat menyamakan konsep gerak pemuda. Mampu menyatukan kita yang heterogen. Nilai-nilai universal islam pun mampu memayungi banyaknya nilai lokal dari sabang sampai merauke di Indonesia yang cenderung sulit disatukan. Sudah saatnya bangsa ini merumuskan sistem pendidikan yang lebih islami yang bertujuan membentuk karakter bangsa yang kuat.

Sistem pendidikan islam akan membuat pemuda bangsa memiliki pemikiran dan sikap yang benar yang tidak menyimpang dari aturan Sang Pencipta. Sistem ini sudah sangat dirindukan, melihat berbagai fakta dan persoalan yang terjadi karena tidak diterapkannya aturan yang benar. Semuanya bisa terwujud, salah satunya dengan menerapkan sistem pendidikan yang lebih islami. Pendidikan islam tidak hanya menghasilkan pemuda yang berkepribadian kuat tapi juga semangat tinggi untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem ini akan menghasilkan ilmuwan-ilmuwan hebat. Yang dapat membantu menyelesaikan krisis multidimensional bangsa ini karena lemahnya penguasaan Iptek, sehingga bergantung pada negeri asing. Pendidikan islam juga akan mampu mencetak para pemuda yang visioner dunia dan akhirat.

Selain itu para pemuda patut mencontohi karakter kepemimpinan Rasulullah yang mampu memimpin masyarakat heterogen. Beliau adalah pemimpin terhebat sepanjang masa. Mampu mengayomi masyarakat plural, baik dari segi aqidah maupun suku-suku. Tanpa mengganggu aqidah yang lain dan membawa perpecahan umat. Beliau mampu memimpin kondisi sosial masyarakat yang beragam dengan ideologi islam yang dibawanya. Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.

Mahasiswi Sastra Inggris Unhas 2008

Mari Bergabung di Forum Lingkar Pena

Forum Lingkar Pena adalah Hadiah Allah untuk Indonesia (Taufik Ismail)

Bapak/ibu, saudara/saudari, kakak, adik, dan semuanya, Forum Lingkar Pena Wilayah Sulawesi Selatan akan menggelar penerimaan anggota baru secara serentak di seluruh cabang dan ranting FLP di Sulawesi Selatan. Acara ini bernama Training of Writing and Recruitment (ToWR) FLP Se-Sulsel 2011. Kegiatan akan berlangsung hari Jumat-Ahad, 23-25 Desember 2011 bertempat di Taman Wisata Pucak Kabupaten Maros.

Kegiatan akan

dihadiri Pipiet Senja (Novelis Senior di Forum Lingkar Pena). Peserta nantinya akan dibekali pengetahuan mengenai dasar kepenulisan baik fiksi maupun nonfiksi.

Syarat Peserta:

1. Terbuka untuk umum, mahasiswa, dan pelajar

2. Mendaftar dan mengisi formulir sebelum tanggal 20 Desember 2011

3. Kontribusi peserta Rp. 75.000,-

Fasilitas Peserta:

1. Ilmu dasar menulis fiksi dan non fiksi

2. Sertifikat

3. Konsumsi, transportasi, dan akomodasi

4. Mendapat 1 buku "Kupu-Kupu Palestina", karya FLP Unhas

5. Follow up sekolah menulis selama dua bulan

6. dll....

Dapatkan formulir di sini:

Makassar:

Unhas: 085 256 815 066

UNM: 085 398 951 811

Unismuh: 085 242 400 704

UIN : 085 241 808 373

Stikes Nani Hasanuddin: 085 256 349 413

STIS Al-Azhar: 085 299 201 952

Makassar: 085 255 898 054

Pinrang: 085 242 363 097

Sidrap: 085 396 376 227

Maros: 0899 182 7317

Palopo: 085 255 352 464

Pangkep: 085 242 307 087

Sinjai: 085 299 991 802

Sekretariat FLP Sulsel: Jl.Serkamunir No.51 Kel.Karuwisi Makassar

FLP sulsel center: 081524353511

Acara ini didukung oleh:

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan

Penerbit Shofia

Rumah Cahaya FLP Sulsel

Tahu Tek Cak Ari

Waroenguniq.co.nr


Titik Balik…

Kusebut ini episode baru. Aku terpesona dengan kecantikan sore yang terbungkus kristal-kristal dari langit. Perlahan tapi pasti.

Malam berlentera putih, bersama dingin yang menembus dinding kamarku. Anggap saja bintang-bintang tengah membagi cahayanya yang diantar angin.

Menunggu pagi. Sepertinya aku ingin berdiskusi dengan daun-daun, mendengar bisikannya. Dengan cara apa mereka bertasbih pada Rabb semesta alam…

Tahukah, malam seperti tabir yang menyembunyikan rahasia-rahasia Tuhan!

Have a nice day. Have a nice month. Have a nice year!

Episode Hidup yang Baru Saja Terlewati

Cakrawala seperti jelaga yang dihamparkan Allah untuk menyimpan rahasiaNya. Ada ribuan misteri yang tersembunyi. Seperti merasakan sebuah rentetan episode kisah yang ternyata membias pada ruang hampa. Berkurangnya usia hidup di dunia bukanlah hal yang istimewa. Yang membuatnya istimewa ialah sejauh apa kita memaknai transisi itu. Dan bertanya-tanya apa yang telah dilakukan? Dan menjawab apa yang hendak dilakukan?

Setiap perjalanan usia mengajarkan rasa syukur. Rasa syukur terdalam atas Rabb semesta alam untuk nikmat keislaman sejak lahir. Rasa syukur kedua atas kesempatan dariNya, mengenal islam lebih dalam. Kesyukuran ketiga, bertemu dengan bidadari-bidadari dunia penebar wangi surgawi. Dengan sayap-sayap yang berwarna-warni melebihi indahnya pelangi. Aku mencintai kalian karena Allah. Dan rasa syukur atas segala nikmat Allah yang tak akan pernah mampu kubayar walaupun dengan ibadah ribuan tahun.

Titip rindu buat Ayah…

Salam sayang untuk Ibu…

Mencoba menemukan episentrum kehidupan dalam ritmis waktu setahun yang lalu. Hanya ingin menarik simpulan muhasabah panjang, menjalani usia yang baru saja terlewati. Menghadirkan hati untuk tidak merasa. Karena prasangka-prasangka hanyalah jebakan yang memalukan. Inilah titik evaluasi untuk bab yang baru saja tamat dalam novel kehidupan. “Berdoalah agar engkau bertemu seseorang yang telah termaktub di Lauh Mahfuz, saat segalanya siap.”

Semoga usia kali ini semakin membawa berkah dan ketakwaan kepadaNya…

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahmaan: 13)

November Terakhir di 2011


Samudra Langit

Oleh: Qiyash

Siang ini Fau merasa seperti ada pemberat di kelopak mata sipitnya. Mestinya tidur adalah obatnya. Ia berusaha menahan. Tapi Fau sudah berjanji pada dirinya ingin menyelesaikan beberapa kalimat untuk satu tulisan yang dirindukan keutuhannya. Entah ini kali ke berapa, Fau diserang kantuk yang super dahsyat di singgasana siang. Kalimat yang baru jadi beberapa deret harus Fau tinggalkan untuk mengikuti keadaaan matanya yang tak mau bernegosiasi.

Mata Fau menangkap bias cahaya sore dari celah kecil jendelanya. Ia tiba-tiba tersadar. Ia selalu takjub dengan kemahaluasan Allah yang tak pernah membuatnya terlena beberapa jam dari bergesernya waktu shalat.

“Allah sayang padaku.” Lirih Fau.

Di tengah badai kantuk yang melanda. Fau merasa Allah tidak membiarkannya meninggalkan perintahNya walaupun menyelesaikan sisa-sisa kantuk barang beberapa menit. Seperti ada yang berbisik di telinga."Hei, Fau bangun dan sholatlah!”

Di kantuk yang ia rasa, seperti ada pertarungan. Putih menyuruh Fau untuk bergegas. Sementara hitam menyuruhnya untuk berlama-lama. Bahkan menggiring Fau untuk meraih kembali benda segi empat empuk bermotif bunga. Fau merasa ada pertarungan luar biasa dalam batinnya.

“Ini baru kantuk, belum yang lain. Aku tidak boleh kalah.” Fau bergegas dan meluruhkan sendi-sendi kemalasan. Fau menganggap berwudhu selalu seperti panas yang baru saja diguyur hujan. Sejuk. Melebihi kesejukan embun di pagi hari.

Sholat telah ia tunaikan. Kantuk itu masih tersisa. Dibuatlah kopi susu hangat. Dispenser biru putih yang sengaja ia panaskan sedari tadi disentuh juga. Kadang, Fau hanya memanaskan dispenser itu tanpa menyentuhnya. Andai dispenser mampu bersuara, mungkin ia akan menyindir Fau. Ia akan berkoalisi dengan listrik untuk mengkritisinya. Dan tiba-tiba Fau membayangkan seluruh perabotan di kamarnya beraksi dan melakukan kudeta lantaran Fau tidak amanah. Ya, Fau akui beberapa hari ini aktivitas luar begitu menyita waktu.

Kopi kantuk sudah jadi. Ia seruput. Nikmat rasanya. Menurutnya, kopi dan kantuk adalah oposisi biner. Kopi baru akan terasa berharga di mata Fau jika ia mengalami rasa kantuk. Sangat jarang ia meminumnya jika tak merasa ngantuk. Mungkin para pelahap filsafat tak akan setuju dengan statement Fau. Ia yakin jika membawa masalah ini ke hadapan mereka. Mereka pasti memperdebatkannya dan mencari relasi-relasi yang mengantarkannya kepada kebenaran. Hal sederhana yang sebenarnya tak perlu mereka lakukan, apalagi untuk mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Fau menempelkan tangannya di tuts keyboard laptop kesayangannya yang ia beri nama Lappy. Lappy telah menjadi saksi bisu atas cerita-cerita Fau. Kalau Lappy bisa bicara, maka hidup Fau akan pecah menjadi kepingan-kepingan kristal dan Fau akan menutup wajahnya yang kemerahan melebihi merekahnya bunga sakura di musim semi. Hari ini ia menemukan inspirasi luar biasa. Mengucur deras seperti air terjun Niagara. Laptop yang baru saja Fau sentuh seperti menggemakan suara hentakan jari-jari tangannya. Mengalir.

“Ya Allah apakah ini kekuatan setelah aku menunaikan kewajiban pertemuan denganMu?”

Fau merasa tenang usai melaksanakan perjalanan spiritual singkat beberapa menit menemui Tuhannya. Setelah sakit parah yang hampir memutus nafasnya, ia berusaha untuk tak lagi menunda sholatnya.

“Berusahalah untuk selalu menatap hujan di jendela, Fau.” Fau mendesah. Tiba-tiba ia mandeg. Ia berbicara pada dirinya sendiri untuk menyemangati. Tak turun hujan hari ini. Hujan adalah katalis bagi Fau untuk menulis. Seolah setiap butirnya itu adalah inspirasi di kala buntu. Dan Fau bisa menciptakan banyak puisi. Benar, kemarau yang baru saja berlalu ikut membuat produktivitas Fau menurun.

“Tik...Tik…Tik.”

Perlahan. Fau mendengar irama mungil di atap kamarnya. Dan memalingkan wajahnya pada jendela dimana Fau sering menatap hujan. Sepertinya Pencipta Hujan mendengar suara hati Fau. Ia baru saja melihat jarum air yang turun dari langit abu-abu. Masih dengan volume yang kecil.

“Allahumma sayyiban naafi’an.” Hujan yang dinanti Fau telah turun. Ia menunggu sampai volume hujan bertambah. Dan mulailah ia melakukan ritual uniknya. Menatap hujan di jendela. Sambil menundukkan kepalanya. Berkontemplasi. Dan mengucap sesuatu dalam hati atas harapan yang ia inginkan. Begitulah yang sering Ibu Fau ajarkan ketika Fau masih anak kecil yang polos.

“Di setiap tetesan hujan itu, ada malaikat yang mengantarnya. Jika hujan turun, maka Fau disunnahkan meminta pada Allah. Malaikat akan memeluk harapan-harapan Fau dan menyampaikannya pada Allah.” Ya, begitulah kira-kira retorika sederhana Ibu Fau.

Sekitar 30 menit berada di depan jendela, menurut Fau sudah cukup. Sepertinya, saku informasinya telah penuh dengan inspirasi. Mengalahkan energi telepon genggam yang baru saja terisi penuh setelah low batt. Dan mulailah ia menarikan jari-jarinya di laptop kesayangannya.

***

Tulisan yang dinanti keutuhannya selesai. Tepat di kala jam dinding bergaris vertikal. Fau mengembangkan senyuman di wajah teduhnya. Ia merasakan getaran supersonik tepat di bagian tengah dadanya.

“Terimakasih, Lappyku sayang. Kamu telah banyak membantuku hari ini. Juga menemaniku memaksa ide-ide kecil keluar dari otakku.” Fau berbicara pada laptopnya. Akhir-akhir ini dia merasa sepi. Tak punya kawan dekat. Lappylah yang selalu mendengar keluh kesahnya. Menemaninya berjalan menghirup udara pada ujung daun-daun. Menikmati angin yang berhembus dari sela pohon-pohon rindang. Juga menemani langkahnya di hamparan pijakan-pijakan tanah basah berumput usai hujan.

Fau selalu merasa nyaman mengungkap apa saja di depan Lappy. Lappy tak pandai berkomentar. Ia hanya tercipta dari sekumpulan bahan elektomagnetik yang dihuni oleh neutron, proton, elektron tak bernyawa. Ia hanyalah benda yang menerima perintah tanpa bisa melakukan pembelaan atas keletihannya. Tapi Lappy pasti memberi isyarat kalau ia benar keletihan dan tak sanggup bertahan lagi. Lappy sudah beberapa kali diopname. Tapi, ia selalu mampu bertahan dan bangkit kembali.

Tulisan yang baru saja Fau selesaikan ia beri judul “Kekuatan”. Dan menyimpannya di antara tumpukan tulisan-tulisan penggugah jiwa.

“Untuk Allah Sang Penguat di kala sulit, Terimakasih!” Fau mematikan Lappy dan menjawab panggilan Tuhannya di antara mozaik senja dan cakrawala keunguan.


Aktivis FLP Makassar

Mahasiswa Sastra Inggris Unhas 2008

Diberdayakan oleh Blogger.