Tahun lalu,
Dan setiap kesalahan yang mengiringinya
Kuharap telah terhapus oleh hujan awal tahun ini
Yang jatuh di sore hari
***
Aku hanya terkenang atas apa yang telah terjadi
Lalu aku tersenyum
Hmm, mungkin waktu tahun lalu telah mempermainkan hidup kita, semua.
Mau mencoba keteguhan kita
***
Tahun baru, bulan baru
Dan setiap laku baru
Kuharap senyum kita semua
Terkulum seperti lengkungan bulan sabit
Atau pelangi yang menggantung. Indah.
***
Ternyata aku rindu melihat hujan bersamamu, sahabat
Sudah terlalu lama.
Tahun Baru, Sabtu, 1-1-2011
Hampir terlupa, dan terpaksa
Karena hari ini aku harus menulis
Home / All post
Kenapa Aku Mesti Berbahagia, Ibu?
Kenapa aku mesti berbahagia, Ibu?
Karena aku melihat ibu tetap tersenyum
Padahal kutahu semua kekalutan dalam hati ibu.
Kenapa aku mesti berbahagia, ibu?
Karena ibu memeluk mimpi-mimpiku dengan do’a
Kenapa aku mesti berbahagia, ibu?
Karena ibu selalu mendukung
Setiap gerak langkahku
Kenapa aku mesti berbahagia, ibu?
Karena aku memiliki mimpi yang pernah kubangun
Bersama ibu
Semoga ibu masih mengingatnya
Ibu, jangan pernah mengatakan
Ibu tidak pernah memberiku apa-apa
Ibu telah memberiku segalanya
Tak ada yang mampu menandingi pemberian ibu
Teruntuk ibuku tercinta,
Ibulah kado terbaik dari Allah untukku
Dan terakhir,
Kenapa aku mesti berbahagia???
Karena aku memiliki ibu di sisiku…^_^
Selamat hari ibu…^_^
Hari Ibu, 22 Desember 2010
Karena aku melihat ibu tetap tersenyum
Padahal kutahu semua kekalutan dalam hati ibu.
Kenapa aku mesti berbahagia, ibu?
Karena ibu memeluk mimpi-mimpiku dengan do’a
Kenapa aku mesti berbahagia, ibu?
Karena ibu selalu mendukung
Setiap gerak langkahku
Kenapa aku mesti berbahagia, ibu?
Karena aku memiliki mimpi yang pernah kubangun
Bersama ibu
Semoga ibu masih mengingatnya
Ibu, jangan pernah mengatakan
Ibu tidak pernah memberiku apa-apa
Ibu telah memberiku segalanya
Tak ada yang mampu menandingi pemberian ibu
Teruntuk ibuku tercinta,
Ibulah kado terbaik dari Allah untukku
Dan terakhir,
Kenapa aku mesti berbahagia???
Karena aku memiliki ibu di sisiku…^_^
Selamat hari ibu…^_^
Hari Ibu, 22 Desember 2010
Siapa yang Mesti Kita Cintai?
“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggullah sampai Allah mendatangkan siksaanNya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S At Taubah (9):24)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman (31): 14)
Dalam hadis riwayat Bukhari, rasulullah bersabda:
“…hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu, kemudian ibumu, sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat.”
***
Cinta yang tertinggi adalah cinta kepada Allah, Rasulullah, dan jihad di jalan-Nya selanjutnya adalah mencintai orang tua kita terutama ibu.
Jangan mencintai yang lain sebelum kalian mencintai Allah, rasulullah, jihad di jalan-Nya, Ibumu, ibumu, ibumu kemudian ayahmu. Terkecuali istri kepada suami.
Ada sebuah kesyukuran diciptakan sebagai seorang lelaki. Karena ketaatan terhadap ibunya tidak akan pernah berubah, pun ketika mereka telah menikah. Beda dengan perempuan. Itulah kenapa saya selalu iri terhadap kaum lelaki untuk yang satu ini…^_^
Semoga kita bisa memposisikan segalanya pada tempatnya…^_^
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S Luqman (31): 14)
Dalam hadis riwayat Bukhari, rasulullah bersabda:
“…hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu, kemudian ibumu, sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat.”
***
Cinta yang tertinggi adalah cinta kepada Allah, Rasulullah, dan jihad di jalan-Nya selanjutnya adalah mencintai orang tua kita terutama ibu.
Jangan mencintai yang lain sebelum kalian mencintai Allah, rasulullah, jihad di jalan-Nya, Ibumu, ibumu, ibumu kemudian ayahmu. Terkecuali istri kepada suami.
Ada sebuah kesyukuran diciptakan sebagai seorang lelaki. Karena ketaatan terhadap ibunya tidak akan pernah berubah, pun ketika mereka telah menikah. Beda dengan perempuan. Itulah kenapa saya selalu iri terhadap kaum lelaki untuk yang satu ini…^_^
Semoga kita bisa memposisikan segalanya pada tempatnya…^_^
Salam Ukhuwah
Rasa sayang membuat kita bahagia…
Rasa percaya membuat kita yakin…
Rasa kecewa membuat kita menangis…
Rasa cinta terkadang terasa pahit…
Tetapi…
Rasa Ukhuwah
Selamanya akan terasa manis
Itu sebabnya,
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan, bukan juga pada manisnya ucapan di bibir...Tetapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya...”
"Salam Ukhuwah"
Rasa percaya membuat kita yakin…
Rasa kecewa membuat kita menangis…
Rasa cinta terkadang terasa pahit…
Tetapi…
Rasa Ukhuwah
Selamanya akan terasa manis
Itu sebabnya,
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan, bukan juga pada manisnya ucapan di bibir...Tetapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya...”
"Salam Ukhuwah"
Kisah Pendoa
Ketika kumohon pada Allah kekuatan,
Allah memberiku kesulitan, agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah, untuk kupecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan,
Allah memberiku pikiran, untuk berpikir
Ketika kumohon pada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya, untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Allah cinta,
Allah memberiku orang-orang bermasalah, untuk kutolong
Ketika kumohon pada Allah bantuan,
Allah memberiku kesempatan.
Aku tak selalu menerima apa yang kuminta,
Tetapi aku menerima segala yang kubutuhkan !
Taken from Sulthon Amin’s poem
Jadi, jangan pernah menyalahkan hidup ini, karena Allah tidak akan memberi kita masalah, melainkan kita menjadi orang yang lebih baik dan bijak setelah memecahkan masalah itu. Mungkin itulah yang kita butuhkan untuk semakin disayang oleh Allah.
Allah memberiku kesulitan, agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan,
Allah memberiku masalah, untuk kupecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan,
Allah memberiku pikiran, untuk berpikir
Ketika kumohon pada Allah keberanian,
Allah memberiku kondisi bahaya, untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Allah cinta,
Allah memberiku orang-orang bermasalah, untuk kutolong
Ketika kumohon pada Allah bantuan,
Allah memberiku kesempatan.
Aku tak selalu menerima apa yang kuminta,
Tetapi aku menerima segala yang kubutuhkan !
Taken from Sulthon Amin’s poem
Jadi, jangan pernah menyalahkan hidup ini, karena Allah tidak akan memberi kita masalah, melainkan kita menjadi orang yang lebih baik dan bijak setelah memecahkan masalah itu. Mungkin itulah yang kita butuhkan untuk semakin disayang oleh Allah.
Catatan Untuk Para Wanita
Sesungguhnya fitnah (ujian) terbesar bagi laki-laki adalah wanita, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
"Tidaklah aku meninggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita".[5]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Qs Ali-Imran/3 ayat 14) yang Allah menjadikan wanita termasuk hubbu syahawat (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis lainnya, sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan hal utama dalam masalah itu”. (Fathul-Bari)
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara, ialah karena menaati para wanita”.[6]
Sebagian orang shalih berkata: "Seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku terhadap baitul mal, aku menduga akan mampu melaksanakan amanah tersebut atasnya. Namun seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku atas diri seorang gadis untuk bersendirian satu jam saja, aku tidak merasa aman atas diriku padanya"[7]. Karena fitnah wanita, dapat menyebabkan seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan hingga melupakannya terhadap akhirat. Seperti memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina.
Sesungguhnya perkara yang mudah untuk menjaga diri dari fitnah wanita sejak permulaannya, ialah sebagaimana telah diajarkan Allah Ta'ala, yaitu dengan menahan pandangan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat". [an-Nûr/24: 30]
Dalam hal ini, Allah Ta'ala juga tidak mencukupkan hanya dengan memerintahkan kepada laki-laki yang beriman saja agar menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya, tetapi Allah juga mengiringkan perintah-Nya kepada wanita-wanita:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya"[An- Nûr/24: 31].
Akan tetapi, ketika seseorang melepaskan kendali terhadap syahwatnya semenjak awal, maka di akhirnya dia akan sangat kesulitan mengatasinya. Ibarat seekor kuda yang berlari menuju ke suatu pintu yang akan dimasukinya, maka akan sangat mudah mengarahkan kuda itu dengan cara menarik kendalinya dan membelokkannya ke arah lain. Sebaliknya betapa susah, setelah kuda itu memasuki pintu tersebut, kemudian orang berusaha memegangi ekornya dan menariknya ke belakang. Alangkah besar perbedaan dua hal di atas.
Kemudian, karena beratnya menjaga dan mengendalikan fitnah syahwat ini, maka Nabi Saw, memberikan jaminan surga terhadap orang yang dapat mengendalikannya dengan baik.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya".[8]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: Makna "menjamin (untuk Nabi)", ialah memenuhi janji dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dengan menjamin, sedangkan yang beliau maksudkan ialah konsekwensinya, yaitu menunaikan kewajibannya. Sehingga maknanya, barang siapa yang menunaikan kewajiban pada lidahnya, yaitu berbicara sesuai dengan kewajibannya, atau diam dari apa yang tidak bermanfaat baginya; dan menunaikan kewajiban pada kemaluannya, yaitu meletakkannya pada yang halal dan menahannya dari yang haram.
Sedangkan yang dimaksud dengan "apa yang ada di antara dua rahangnya", yaitu lidah dan apa yang dilakukannya, yaitu perkataan. Sedangkan "apa yang ada di antara dua kakinya" ialah kemaluan.
Ad-Dawudi mengatakan, "apa yang ada di antara dua rahangnya" adalah mulut. Dia mengatakan, sehingga itu meliputi perkataan, makanan, minuman dan semua perbuatan yang dilakukan dengan mulut. Dia juga mengatakan, barangsiapa berusaha menjaganya, maka ia telah aman dari semua keburukan, karena tidak tersisa kecuali pendengaran dan penglihatan". Namun masih tersembunyi baginya, yaitu memukul dengan tangan.
Sesungguhnya pengertian hadits ini berbicara dengan lidah merupakan hal utama dalam meraih semua yang dicari. Jika seseorang tidak berbicara kecuali di dalam hal kebaikan, maka dia selamat. Ibnu Baththalt berkata, hadits ini menunjukkan bahwa bencana terbesar atas seseorang di dunia adalah lidah dan kemaluannya. Sehingga barang siapa menjaga keburukan keduanya, dia telah menjaga dari keburukan yang terbesar.[9]
Perhatikanlah Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang ‘alim, seorang shalih, ahli ilmu dan ibadah, 40 tahun tak pernah ia telat untuk mendapat shaf pertama dalam shalat, namun ia mengatakan “Sungguh yang paling aku takutkan adalah fitnah wanita”. Sungguh beliau sangat memahami sabda Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah aku meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum pria melebihi kaum wanita” (Muttafaqun ‘alaih)
Dikutip dari berbagai sumber
Untuk para wanita, mari kita berhati-hati, terus memperbaiki diri, dan berdoa kepada Allah jangan sampai kita menjadi fitnah untuk kaum lelaki. Terutama saya sebagai seorang wanita yang mengutip artikel ini…
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
"Tidaklah aku meninggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita".[5]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Qs Ali-Imran/3 ayat 14) yang Allah menjadikan wanita termasuk hubbu syahawat (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis lainnya, sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan hal utama dalam masalah itu”. (Fathul-Bari)
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara, ialah karena menaati para wanita”.[6]
Sebagian orang shalih berkata: "Seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku terhadap baitul mal, aku menduga akan mampu melaksanakan amanah tersebut atasnya. Namun seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku atas diri seorang gadis untuk bersendirian satu jam saja, aku tidak merasa aman atas diriku padanya"[7]. Karena fitnah wanita, dapat menyebabkan seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan hingga melupakannya terhadap akhirat. Seperti memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina.
Sesungguhnya perkara yang mudah untuk menjaga diri dari fitnah wanita sejak permulaannya, ialah sebagaimana telah diajarkan Allah Ta'ala, yaitu dengan menahan pandangan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat". [an-Nûr/24: 30]
Dalam hal ini, Allah Ta'ala juga tidak mencukupkan hanya dengan memerintahkan kepada laki-laki yang beriman saja agar menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya, tetapi Allah juga mengiringkan perintah-Nya kepada wanita-wanita:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya"[An- Nûr/24: 31].
Akan tetapi, ketika seseorang melepaskan kendali terhadap syahwatnya semenjak awal, maka di akhirnya dia akan sangat kesulitan mengatasinya. Ibarat seekor kuda yang berlari menuju ke suatu pintu yang akan dimasukinya, maka akan sangat mudah mengarahkan kuda itu dengan cara menarik kendalinya dan membelokkannya ke arah lain. Sebaliknya betapa susah, setelah kuda itu memasuki pintu tersebut, kemudian orang berusaha memegangi ekornya dan menariknya ke belakang. Alangkah besar perbedaan dua hal di atas.
Kemudian, karena beratnya menjaga dan mengendalikan fitnah syahwat ini, maka Nabi Saw, memberikan jaminan surga terhadap orang yang dapat mengendalikannya dengan baik.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
"Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya".[8]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: Makna "menjamin (untuk Nabi)", ialah memenuhi janji dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dengan menjamin, sedangkan yang beliau maksudkan ialah konsekwensinya, yaitu menunaikan kewajibannya. Sehingga maknanya, barang siapa yang menunaikan kewajiban pada lidahnya, yaitu berbicara sesuai dengan kewajibannya, atau diam dari apa yang tidak bermanfaat baginya; dan menunaikan kewajiban pada kemaluannya, yaitu meletakkannya pada yang halal dan menahannya dari yang haram.
Sedangkan yang dimaksud dengan "apa yang ada di antara dua rahangnya", yaitu lidah dan apa yang dilakukannya, yaitu perkataan. Sedangkan "apa yang ada di antara dua kakinya" ialah kemaluan.
Ad-Dawudi mengatakan, "apa yang ada di antara dua rahangnya" adalah mulut. Dia mengatakan, sehingga itu meliputi perkataan, makanan, minuman dan semua perbuatan yang dilakukan dengan mulut. Dia juga mengatakan, barangsiapa berusaha menjaganya, maka ia telah aman dari semua keburukan, karena tidak tersisa kecuali pendengaran dan penglihatan". Namun masih tersembunyi baginya, yaitu memukul dengan tangan.
Sesungguhnya pengertian hadits ini berbicara dengan lidah merupakan hal utama dalam meraih semua yang dicari. Jika seseorang tidak berbicara kecuali di dalam hal kebaikan, maka dia selamat. Ibnu Baththalt berkata, hadits ini menunjukkan bahwa bencana terbesar atas seseorang di dunia adalah lidah dan kemaluannya. Sehingga barang siapa menjaga keburukan keduanya, dia telah menjaga dari keburukan yang terbesar.[9]
Perhatikanlah Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang ‘alim, seorang shalih, ahli ilmu dan ibadah, 40 tahun tak pernah ia telat untuk mendapat shaf pertama dalam shalat, namun ia mengatakan “Sungguh yang paling aku takutkan adalah fitnah wanita”. Sungguh beliau sangat memahami sabda Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah aku meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum pria melebihi kaum wanita” (Muttafaqun ‘alaih)
Dikutip dari berbagai sumber
Untuk para wanita, mari kita berhati-hati, terus memperbaiki diri, dan berdoa kepada Allah jangan sampai kita menjadi fitnah untuk kaum lelaki. Terutama saya sebagai seorang wanita yang mengutip artikel ini…
Mencintai Dalam Diam
Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..
karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..
karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...
ingatkah kalian tentang kisah Fathimah Az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah
karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?
dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...
jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...
biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...
Taken from http://ahmadsheva.blogspot.com
***
Andai kau tahu kenapa wanita memilih menghindar
Karena begitulah caranya mencintaimu...
Sudah terlanjur kehujanan...
waktu tak bisa diputar kembali
Anggap saja tak pernah ada pertemuan sebelumnya...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..
karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..
karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...
ingatkah kalian tentang kisah Fathimah Az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib?
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah
karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?
dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...
jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...
biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...
Taken from http://ahmadsheva.blogspot.com
***
Andai kau tahu kenapa wanita memilih menghindar
Karena begitulah caranya mencintaimu...
Sudah terlanjur kehujanan...
waktu tak bisa diputar kembali
Anggap saja tak pernah ada pertemuan sebelumnya...
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Diberdayakan oleh Blogger.
