Ayah

Dimana…akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku…s`lalu ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Lihatlah…hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah..aku ingin bertemu
Untukmu…aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta, daku ingin bernyanyi
Dengan air mata di pipiku…
Ayah, dengarkanlah aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi

(Rinto Harahap's song)

10 tahun tanpanya, aku rindu Ayah...!

ILUSI


Oleh: Qiyash

MALAM hari baginya neraka. Dosa tak penting lagi. Dalam kamus hidupnya, dosa itu adalah metamorfosis dari pahala. Tiada pahala tanpa dosa. Maka, beruntunglah pahala memiliki dosa di sampingnya. Tanpa pikir panjang, ia meraih tasnya. Berwarna merah mencolok. Ia memakai minidress ketat juga berwarna merah mencolok dan sepatu berhak lima sentimeter yang baru dibelinya di Pasar Sentral. Kakinya sudah menginjak pinggir kota. Kota yang penuh lampu-lampu ritmik. Dari gang sempit, bau dan pengap. Ia ngos-ngosan. Berlari dikejar bayangan. Bayangan itu antara nyata dan tidak. Ketika ia memperjelas tatapannya, bayangan itu tiba-tiba lenyap. Namun, bayangan itu sesekali muncul ketika matanya tak jaga. Wajahnya tak jelas. Hanya warna putih yang bisa tertangkap.

Bayangan itu seakan-akan menginginkan dirinya. Menginginkan nyawanya. Juga, seperti bayangan kesalahan yang terus membuntutinya. Ini sudah hari ketiga ketika bayangan itu datang. Dan, pertama kali muncul di mimpinya. Ia berusaha menutupi takutnya dengan bersikap acuh dan semakin menggila. Tapi, sekuat ia memberi tekanan, bayangan itu semakin kuat menghantui malam-malamnya.

Klakson pete-pete menyadarkannya dari pertarungan rasa takut itu. Ia mengakhiri tarikan napas kelelahannya dan bangkit dari posisi setengah rukuk. Sopir pete-pete bergantian membunyikan klaksonnya. Menawarinya tumpangan. Sambil meneriakkan kata-kata gombal murahan khas buaya kampung. Inilah perjalanan menuju neraka.

Akhirnya, tiba di mulut neraka. Kau pasti membayangkan neraka tak seindah ini. Neraka ini adalah surga dunia. Isinya hanyalah pemburu surga dunia. Manusia-manusia yang berlumuran nafsu, haus kesenangan, hanya mengenal uang dan wanita. Ini benar-benar mulut neraka, bahkan bayangan itu pun tak mau mendekat. Bayangan itu tak pernah sekalipun menampakkan dirinya di tempat ini. Itulah mengapa ia selalu merasa aman berada dalam miniatur neraka ini. Baginya, tempat ini adalah penyelamat hidupnya dari kecemasan dan kelaparan hari esok meskipun kadang membayangi hidupnya akan kecemasan kekal mendatang.

Namun, sudah tiga hari ini, ia dongkol. Kedongkolan pertanda besok akan lapar. Nihil. Hanya nihil-lah yang tergambar dalam realitas ataupun angan-angan. Tempat ini tak lagi menawarkan kebahagiaan hari esok. Ia merasa seperti barang lama yang tetap dipajang, tetapi sudah usang, diutak-atik pelanggan-pelanggan sebelumnya. Melirik pun tak ada. Yang tercium hanyalah bau usang. Bagaimanapun manisnya ucapan merayu, tetap tak menarik perhatian. Dia tahu, dirinya telah mengering dan gugur bersama daun-daun kering lainnya. Bahkan melapuk. Daun-daun muda yang semakin produktif menggeser posisinya.

Dia masih cantik. Cantik karena make up tebal yang menopeng di wajahnya. Menutupi keriput-keriput wajahnya. Apakah isi neraka hanyalah perempuan berwajah cantik dan bertubuh montok? Atau, pria-pria kelas eksekutif berkantong tebal. Ia termenung menatap kondisi di sekelilingnya. Setidaknya, ia masih punya harapan untuk bermimpi. Bermimpi menuju surga. Meskipun bau surga tak mau mendekat dan tak mau menghinggapi bunga tidurnya.

“Mbak, kok duduk saja. Nggak kerja, ya?” wajah manis nan lugu menghampirinya. Umur gadis itu masih 15 tahun.

Wajah sinis itu tersihir menyungging. “Iya. Kayaknya Mbak mau berhenti dulu.”

“Lho? Mbak, kok gitu? Terus, yang biayain sekolahnya Adi siapa, Mbak?”

“Nanti kubawa ke ayahnya dan meminta tanggung jawab.”

“Tapi, Mbak tahu siapa ayah Adi? Bukannya selama ini Adi dibiayai sama Mbak?” gadis lugu itu sedikit pun tak punya rasa cemas. Kenyataan seperti itu juga akan menimpa dirinya.

“Mbak tahu,” jawabnya tidak yakin. Lalu, menunduk lesu.

Tiba-tiba, seorang perempuan berdandan mewah, make up menor, dan tampang ganas datang. Ditemani rokok yang ia pegang, terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Sesekali, ia mengembuskan asap di kedua katup bibirnya yang marun. Wanita itu memanggil Dina.

“Sana, Din. Mbak Leli udah manggil kamu tuh. Rezekimu datang. Ntar kalau kamu nggak dipakai lagi baru menyesal,” perintahnya kepada gadis barusan.

Ia semakin menyadari. Begitulah hukum alam. Semuanya pasti ada regenerasi. Dina kini sangat diminati. Melihat badannya yang masih segar bugar. Kulit wajahnya masih kencang dan halus. Tanpa make up pun Dina masih cantik. Tapi, hukum alam pun pasti menghinggapi Dina. Yang suatu saat akan bernasib sama dengannya. Kasihan. Dina sama sekali tak tahu apa-apa.

Ratna masih duduk di salah satu sudut bar. Ditemani dengan minuman kesukaannya. Beraroma alkohol. Matanya menerawang ke sekelilingnya. Tiba-tiba, titik pandangnya berubah. Semua titik pandang yang ia lihat adalah penghuni neraka. Semuanya hanyalah bahan bakar api neraka. Ruangan itu berubah menjadi nyala api membentuk dinding besar. Minuman di gelasnya berubah menjadi darah dan nanah. Musik berganti suara bara api yang membakar panas, cambukan tali raksasa, desisan ular yang siap memangsa, jeritan penghuni neraka yang kesakitan.

Orang-orang yang menari tak lagi bergerak gemulai mengikuti musik. Gerakannya berubah, badan meliuk-liuk, menahan siksa yang pedih. Bising. Tambah bising dan semakin bising. Suara-suara jeritan itu memekakkan telinganya. Hingga membuat gendang telinganya mau pecah. Sesosok makhluk aneh tiba-tiba mendekatinya. Semakin dekat. Makhluk itu membawa cambuk raksasanya, setrika raksasa, gunting raksasa, dan peralatan-peralatan aneh lainnya. Makhluk itu serupa dengan makhluk yang mengejarnya tiga hari ini dengan wajah yang juga tak dapat ditebak. Makhluk itu bersiap mengeluarkan cambuknya. Di belakang makhluk itu, ada ular besar yang bersiap memangsanya. Sedari tadi mengeluarkan lidahnya. Keluar masuk.

Tubuhnya gemetar. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya. Wajahnya pucat. Bibirnya membiru. Ia beranjak dan segera lari meninggalkan tempat itu. Makhluk dan ular itu terus mengejarnya. Ia terus berlari. Jalanan tiba-tiba dihampari duri dan jeruju. Pepohonan menjadi api. Kendaraan menjadi binatang buas yang siap menerkam. Tak ada tempat yang layak untuk bersembunyi. Semuanya bersekongkol untuk menangkap Ratna.

Semakin jauh ia berlari, tiba-tiba telinganya menangkap suara rinai merdu, lembut, dan tenang. Suara itu timbul tenggelam di tengah jeritan-jeritan manusia yang kesakitan. Semakin ia berlari, suara itu semakin jelas terdengar. Sama sekali berbeda dari alunan musik para musisi. Lebih indah dari simfoni Mozart atau Beethhoven. Suaranya merinai aneh, namun merdu. Akhirnya, ia sampai di sumber suara itu. Ia tiba di sebuah halaman. Para makhluk yang megejarnya semakin menjauh, tak mampu lagi menjangkaunya. Seperti ada sebuah pembatas yang menghalanginya masuk di kawasan ini. Makhluk itu akhirnya lenyap, tak membekas. Perasaannya lega. Keringatnya tiba-tiba kering. Berganti rasa sejuk yang menenangkan batinnya. Menembus masuk ke kulitnya. Jauh lebih sejuk dari angin musim dingin. Kesejukan yang tak ada tandingannya.

Langkah kakinya bergerak menyusuri tempat itu. Semuanya terlihat indah. Sungai-sungai mengalirkan air yang berkilauan. Jernih, riak, dan gemercik. Pepohonan berdiri kokoh dan rindang. Dilengkapi dengan buah-buahan, ruah dan segar. Istana megah menghampar hingga menembus langit. Penghuninya berwajah teduh, berseri, bercahaya, dan tersenyum ramah kepadanya. Semua orang memakai pakaian berbahan sutra, bergelang emas, dan mutiara. Semuanya sedang asyik bercengkerama, penuh canda tawa.

Ia singgah di sebuah peristirahatan. Di bawah pohon teduh lagi nyaman. Di sampingnya, mengalir sungai. Ia menggayungkan tangannya ke air sungai itu. Lalu, membasuh wajahnya. Benar-benar segar. Sesegar tegukan air dingin para kafilah yang dilanda kehausan. Kemudian, ia berbaring menghilangkan penatnya. Ia mengatup kan matanya. Perlahan. Seluruh anggota tubuhnya mengikuti, tertunduk lesu. Terbuai oleh senandung yang melenakan. Semakin jauh mengalun. Suara itu semakin melarutkannya dalam ketenangan. Hingga terlelap.

Rinai suara itu kembali membangunkannya. Membuka matanya perlahan. Ia tersadar. Semuanya berubah. Hidupnya seketika berestorasi. Suara itu berubah menjadi azan yang tengah berkumandang. Tubuhnya terbaring di atas altar sajadah. Matanya tertuju ke atas. Melihat plafon kubah masjid yang megah. Ilusi itu membawanya ke tempat ini. Tempat yang nyaman dalam ilusi berkedok mimpi. Rangsangan yang berasal dari perintah otak menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Ia beranjak dan segera mengambil air wudhu. Ia membasuh wajahnya. Rasanya seperti salsabil dalam ilusinya. Inilah pertama kali ia menghadap Tuhannya pada usia yang menginjak renta. Karena, cercah itu masih ada. (*)

Keterangan:

Pete-pete adalah nama lain dari angkot yang digunakan di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan.

termuat di koran Republika, Minggu 20 Juni 2010

SIMBOL

Kampus pagi itu gempar dengan simbol aneh. Huruf A berpadu dengan lingkaran. Di simbol itu tersirat pesan arti sebuah perlawanan. Radikal. Simbol itu meninggalkan jejak di perpustakaan, gedung rektorat, ruang kelas, dan sejumlah ruangan penting lainnya di seluruh penjuru kampus. Simbol itu bercat merah, berbau darah. Ada nafas kemarahan, dendam, dan ambisi. Birokrat gerah, mahasiswa saling lempar praduga.
“Bersihkan tembok itu! Dan hilangkan gambar-gambarnya!” Perintah rektor yang terkenal tegas. Kata sebagian orang, dia lembut namun sedikit licik.
Gelagat itu tak sama seperti biasanya. Kali ini rektor tak pernah sedikit pun berusaha mencari pelakunya. Wajahnya tampak biasa saja melihat simbol merah itu. Simbol itu jadi misteri di kampus ini. Namun simbol itu bukan sejarah baru. Sesungguhnya ia telah lama ada. Sejak Adam Smith mengeluarkan teori ekonominya. Simbol ini milik dunia. Dunia dalam refleksi kiri. Yang tak pernah puas dengan sistem. Ya, ia ada di kampus ini. Namun masih menjadi tanda tanya, siapa pelakunya???
***
Aku senang. Mereka kalap. Itu baru permulaan. Teror ini tak akan berhenti sampai rektor licik itu menyerah. Beraninya ia menjadikan universitas ini sebagai pabrik uang. Seenaknya saja membangun area komersil. Hm…, benar tak pernah menjadi mahasiswa. Seperti apa waktu dia masih kuliah. Aku yakin dia adalah orang yang tak pernah merasa tak puas dengan sistem. Dia pasti mahasiswa budak nilai. Yang sehari-hari ke perpustakaan dan meminjam buku sampai bertumpuk-tumpuk. Study oriented. Tak peduli. Apatis. Hidup berjalan mulus. Uang mengalir lancar ke rekening. Tak pernah lapar. Tak pernah merasakan pinjam uang, atau menggadaikan barang. Ya, ia tipe mahasiswa yang tak pernah memberontak. Orang itu tak cocok menjadi pemimpin kita. Mahasiswa.
***
Pagi ini, di kampus tercium aroma darah itu lagi. Yup kejadian yang sama, namun lebih kejam. Perpustakaan telah diserang. Sebagian kacanya pecah. Buku-buku berserakan dan sebagian telah robek. Simbol itu telah berubah menyatakan perang.
Rektor tetap acuh. Ia tak memberi solusi. Para birokrat kesal. Rektor tak setegas biasanya. Wajah rektor selalu penuh kebingungan bukan kemarahan. Wajahnya selalu menampakkan ekspresi aneh kala melihat simbol itu. Pun kejadian hari ini. Ia tambah kaget. Dan langsung pulang ke rumah.
***
“Ma, ini tahun berapa?” Tanya rektor pada istrinya.
“Masa gak ingat sih, Pa. Ini tahun 2010.”
“Aku seperti mengalami Déjà vu.”
“Déjà vu itu biasa, Pa. Mama juga sering.”
“Tapi, déjà vu itu seperti benar-benar telah kualami. Kejadian masa lampau, masa kita kuliah dulu. Tahun berapa itu, Ma?”
“Papa ini ada-ada aja. Kalau gak salah sekitar tahun 1976 sampai 1980.”
“Ah, tak mungkin.”
“Ada apa, Pa?”
“Kejadian di kampus akhir-akhir ini seperti menerorku. Simbol itu ditujukan untukku. Bukan yang lain.”
***
Aku menang lagi. Itu belum seberapa. Targetku selanjutnya adalah gedung rektorat. Singgasana si rektor berbulu domba itu. Aku tak akan membiarkan dia merampas hak mahasiswa miskin untuk kuliah. Aku tak akan membiarkan kampus ini dihuni oleh kalangan borjuis.
“Hey, kau sedang apa, Cakram Radius?” seorang gadis berjilbab menegurku.
Gawat!! aksiku malam ini ketahuan.
“Bukan urusanmu!” bentakku.
“Hal gila apa lagi yang kau lakukan?.”
“Kau tak perlu tahu. Urus saja ranselmu yang berat itu. Kau bahkan tak bisa mengurus dirimu, sok mengurus urusan orang lain.”
Namanya Mutia. Ia selalu mengenakan tas ransel besar. Aku heran kenapa tas ransel itu tak cukup untuk menampung barang-barang yang dibawanya. Dia masih memanfaatkan tas jinjing kecil. Super sibuk atau sok sibuk. Apa yang diurusnya. Dia selalu terlihat kewalahan. Kadang aku ingin membantunya. Tapi, dugaanku pasti benar, kalau ia menolak.
Kita memang punya persamaan, tak suka dengan sistem. Namun idenya mustahil, mau menjadikan agama sebagai ideologi. Ah, benar-benar utopis. Mutia adalah gadis yang selalu menentang argumenku di kelas. Meskipun aku rasa dia selalu benar. Dan aku hampir mengakui idenya itu. Seperti fitrah yang memang melekat di diriku. Aku akui dia hebat. Aku selalu kalah debat olehnya. Dan dia selalu percaya diri dengan idenya itu. Meskipun teman-teman menutup telinga ketika ia berkomentar. Tak akan ada yang berani mendebatnya, kecuali aku. Yang selalu siap ia permalukan.
“Sudah kuduga. Kaulah pelakunya. Buat apa kau lakukan itu. Simbol yang kau tulis dan pengrusakan yang kau lakukan tak akan merubah segalanya. Melawanlah dengan hati, dengan cinta. Jangan pakai fisik.”
“Kau tahu apa tentang diriku. Justru ini denga hati. Dengan cinta. Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selonsong senapan. Tidak kah kau paham slogan itu?”
“Hm..cinta dengan selonsong senapan bukan solusi. Ia akan mati dan lebur bersama dirimu. Melawanlah dengan ide, dengan solusi, dengan indah. Bukan dengan kekerasan.”
“Terseralah. Aku tak peduli. Kita lihat ide siapa yang akan menang. Aku akan mendahuluimu dengan revolusiku.”
***
Lagi, pada hari itu di waktu yang sama. Sebagian gedung rektorat telah terbakar. Respon rektor tetap sama. Dengan ekspresi membingunkannya.
“Pak, ini sudah parah. Kita harus mencari pelakunya.”
“Sulit. Ada berapa mahasiswa di sini. Itu tak mudah.”
“Tapi, kita tak harus membiarkannya seperti ini, Pak.”
“Untuk sementara ini, biar saya pikirkan dulu solusinya. Lagian ini juga bagian gedung yang tua. Sudah lama gak direnovasi.”
Rektor tak betah di kampus. Simbol itu jelas meneror dirinya. Ekspresi pucatnya itu datang lagi dengan sedikit ketakutan. Ia pulang ke rumahnya membawa sejumput kebingungan.
“Ma, hari ini déjà vu itu datang lagi. Gedung rektorat dibakar. Aku seperti pernah mengalaminya. Tapi, entah kapan dan dimana.”
“Sudahlah, Pa. Teman-teman Papa complain mengenai kebijakan Papa yang tidak tegas terhadap pelaku pengrusakan itu. Menurut Mama, Papa harus segera menemukannya. Dan keluarkan dia dari kampus. Payah, menyimpan mahasiswa seperti itu.”
“Sulit, Ma. Ada banyak mahasiswa.”
“Apa, tak ada tanda-tanda yang ditinggalkan mahasiswa itu.”
“Ada. Simbol huruf A dengan lingkaran.”
“Bukankah itu sangat familiar?”
“Ya. Dia sudah melukis simbol itu di beberapa bangunan. Dan bangunan yang memiliki simbol itu akan dirusak atau dibakar. Beberapa bangunan pasti akan menyusul kalau aku segera tak menghentikannya.”
“Ma, tunggu sebentar. Hari ini hari apa?”
“Hari rabu.”
“Bulan?”
“April.”
“Aku ingat sesuatu, Ma.”
***
Malam itu, rektor menghubungi semua birokrasi untuk mencari tahu mengenai organisasi itu. Namun tak ada yang tahu. Hanya saja simbol itu terlalu banyak terpampang di tembok-tembok fakultas FISIP. Kemungkinan besar pelakunya berasal dari fakultas FISIP.
Rektor turun langsung. Dia melewati koridor FISIP. Semakin familiar dengan simbol-simbol itu. Dia kembali mengalami déjà vu. Dia mengamati satu persatu simbol itu. Dan berhenti pada satu simbol. Di bawah simbol itu tertulis inisial CR dalam ukuran kecil. Rektor akhirnya ingat dengan simbol dan inisial itu. Cakram Radius. Itu adalah nama rektor sendiri. Simbol itu dibuat oleh sang rektor 33 tahun yang lalu. Ia dalang pengrusakan ini pada tahun 1977.
“Aneh, Gila. Mustahil. Akulah yang merusak ini semua. Aku sama sekali tidak mengingat diriku ketika masih mahasiswa. Lalu, siapa rektor yang kubenci itu. Aku tidak ingat. Aku tidak ingat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Permainan waktu apa ini???”
“Cakram Radius telah berubah. Cakram Radius telah kehilangan idealismenya. Hah, permasalahan klasik mahasiswa. Inikah diri Papa yang sesungguhnya???”

cerpen ini meraih juara II dalam lomba Penulisan Cerpen Pensil Biru 2010
UKM Menulis FIB Universitas Hasanuddin

Aku Ingin Menjadi Perempuan Seperti Fatimah Az-Zahra

Dan ketika kau mencintai seseorang
Tutuplah rapat-rapat hatimu
Jangan biarkan cintamu tahu
Seperti manisnya cinta Fatimah kepada Ali
Terungkap indah pada waktunya
Biarkan cinta itu menari sendiri
Mengikuti waktu
Tak perlu diumbar
Jangan cinta menguasaimu
Justru kau yang menguasai cinta
Lalu orang yang kucintai tak akan tahu kalau aku cinta
Biarlah kami menyimpan kekaguman masing-masing
Seperti cinta Ali kepada Fatimah dan Fatimah kepada Ali
tersembunyi malu-malu
Aku hanya ingin seperti dia, Putri Rasulullah
Yang santun, berani, pekerja keras, fasih dan cerdas
Menyimpan rasa dengan sempurna
Dan mengungkapkan rasa dengan romantis
Saat waktunya tiba…

Sajak di Malam Hujan

Buaian tak lagi mesra, dengan kecup lembut bibir mereka
Ketika realitas menjamahi mimpi
Goyah terusik merdu oleh manisnya peradaban palsu
Kulihat gejolak terasa samar dan pasaran
Tak ada lagi satu teriakan untuk sebuah kebenaran
Tenggelam dalam kebatilan pragmatis oleh beribu suara
Ketika semuanya terasuk, terendam,
dan terlelap oleh jamuan malam yang kelabu

Aku berdiri di badai hujan malam ini
Bukan untuk menjauh dari perjamuan panjang itu
Tapi mencoba merasakan dingin menusuk tulang bersama angin mengiris kulit
Tak bisakah mereka merasakan gelagat sama ribuan orang di luar sana
Ketika menelan ludah untuk melegakan dahaga
Atau memungut bekas untuk mengganjal perut
Atau melipat tubuh tanpa tikar atau atap
Bukan malah meludeskan kertas berharga yang tak berharga
Untuk sebuah perjamuan yang mubadzzir

Biarlah orang berkata…
Karena aku memang orang malam yang selalu membicarakan terang
Dan aku memang orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang
Jangan tanyakan pada hujan yang turun malam ini
Dan jangan pula tanyakan kenapa ia berhenti
Hujan akan tetap ada menemani tidurku yang tak pernah tenang

Makassar, Kamis, 04 Maret 2010
Pukul 00.25 WITA

Analogi Sebuah Pelangi: Katakan Cinta dengan Pelangi

Aku bertanya: Kau tahu makna apa yang tersimpan dalam pelangi?
Diriku yang lain menjawab: Perbedaan menimbulkan keindahan
Aku bertanya lagi: Kenapa bisa dalam perbedaan akan timbul keindahan?
Diriku yang lain menjawab lagi: Karena dalam setiap perbedaan akan timbul makna
Aku bertanya lagi: Makna apa yang akan timbul dalam perbedaan
Diriku yang lain menjawab lagi: Ya, makna keindahan.
Aku bertanya lagi: Makna keindahan itu seperti apa?
Diriku yang lain menjawab: Tidakkah kau perhatikan warna-warni yang menciptakan pelangi. Perbedaan itu menimbulkan nuansa berbeda. Itulah keindahan seperti indahnya pelangi. Pelangi tak akan ada tanpa perbedaan warna itu. Jadi, tak akan ada sesuatu yang indah jika tak dibangun dengan perbedaan.
Aku bertanya lagi: Lalu, apakah kau suka dengan perbedaan?
Diriku yang lain menjawab lagi: Ya, tentu saja.
Aku bertanya lagi: Kenapa?
Diriku yang lain menjawab lagi: Aku ingin menjadi salah satu warna yang membangun keindahan. Aku ingin dikenang sebagai pencipta keindahan dalam perbedaan itu. Aku ingin menambah warna pada sesuatu yang tak berwarna-warni
Aku lagi: Jangan gila! Tak ada orang yang tahan dengan perbedaan. Itu mustahil…
Diriku yang lain menjawab lagi: Ya, itulah diriku!
Aku bertanya lagi: Apa maksudmu?
Diriku yang lain menjawab lagi: Karena aku memiliki cinta.
Aku lagi: Banyak orang yang memiliki cinta. Tapi, tetap saja tak mampu bertahan dengan perbedaan.
Diriku yang lain menjawab lagi: Cintaku ini berbeda. Yang jelas, cintaku tulus…cinta yang tak dimiliki oleh orang-orang yang tak mampu bertahan itu
Aku bertanya lagi: Bisakah kau gambarkan sedikit lebih detail tentang cintamu itu?
Diriku yang lain menjawab lagi: Cinta karena Allah. Itu saja!
Aku lagi: Kau hebat‼
Diriku yang lain bertanya: Kenapa?
Aku lagi: Banyak orang yang lari dari perbedaan
Diriku yang lain menjawab lagi: Itu karena mereka tak mampu melihat keindahan di balik perbedaan
Aku lagi: Ah, aku rasa menjadi berbeda itu memang sulit. Aku salut padamu!
Diriku yang lain menjawab lagi: Nah, itulah yang salah! Kau selalu membelenggu dirimu. Membelenggu cintamu. Lepaskan belenggu itu. Dan rasakan perbedaan itu.
Aku lagi: Ah, tetap sulit!
Diriku yang lain menjawab lagi: Jika kau berada dalam perbedaan, jangan selalu melihat perbedaan. Lihatlah persamaan!
Aku bertanya lagi: Bagaimana caranya? Belenggu perbedaan itu lebih kuat.
Diriku yang lain menjawab lagi: Rasakan dengan cinta. Pancarkan cintamu. Jangan biarkan ia lebih menguasaimu.
Aku bertanya lagi: Benarkah? Bagaimana mencobanya?
Diriku yang lain menjawab lagi: Mudah, semuanya mudah jika kau memiliki cinta. Cintailah perbedaan itu. Aku beritahu, kita akan selalu tertinggal, kalah, jika belenggu perbedaan itu tak dilepaskan…
Aku bertanya lagi: Apakah kau bahagia? Tidak tersiksa?
Diriku yang lain menjawab lagi: Tersiksa?? Itu asumsi yang salah. Tentu saja aku bahagia. Dan aku akan tetap setia dengan perbedaan. Karena aku mencintai mereka. Dan karena aku memiliki islam. Titik.

SMS DARI PEMBACA “AJI BELLO”

Saya tengah berbincang-bincang dengan teman di suatu hari untuk istirahat pada lelah. Hari minggu. Biasalah obrolan kita selalu berbeda dengan obrolan orang lain. Seperti obrolan orang-orang yang selalu susah tetapi tak pernah lupa berucap syukur atau obrolan-obrolan yang penuh kritikan atas realitas apa saja yang butuh dikritik, tentang sisi kehidupan kami yang menyedihkan tapi selalu indah pada waktunya. Akhir-akhir ini selama pekan literasi FLP Unhas berlangsung, saya selalu menjargonkan kalimat “Indah pada waktunya”. Betapa bersyukurnya aku, karena aku melihat Kecintaan Allah terhadapku. Ya, Allah sangat menyayangiku…sangat menyayangiku. Biasanya kami juga memainkan imajinasi sebagai sebuah solusi yang mungkin solutif, alternatif, dan sedikit nyeleneh. Dan tak lupa sedikit tertawa untuk merilekskan pikiran.
Tiba-tiba HP saya berdering. Kuterima sebuah sms. Sms itu berbunyi begini:
“Di antara sekian cerita dalam “Aji Bello” sy senangi tulisan Anda. Kemampuan Anda melukiskan kegerahan Trmnl Daya cukup intens. Ada luka kemanusiaan di suasana itu. Sayang sekali, Anda tidak menggarap ending dg baik. Slmt Brkarya n salam (pengamat sastra)”
Usai kubaca sms itu, senangnya bukan main… ini sms pertama dari pembaca yang sudah membeli buku kami (Aji Bello). Tapi, aku juga tertawa koq bisa cerita yang sesederhana itu cukup dinilai apik. Aku tidak percaya kalau itu benaran dari seorang pengamat sastra. Aku curiga kalau dia hanyalah seorang teman yang mencoba bermain iseng. Pikirku seperti itu.
Lalu kubalasa dengan sederhana, tak meninggikan dia sebagai seorang pengamat sastra.
“Sebenarnya cerpen itu telah terbit di Fajar sebelumnya, jadi endingnya terkesan dipaksakan, mengikuti syaratnya yang gak boleh lebih dr 4 hlm. Jadi kuputuskan untuk mengkhirinya seperti itu”
Lalu dia membalas lagi
“Sebaikx penulis tdk blh tunduk pd jmlh hlm. Bg sy,tlsn Anda itu hrs mndpt porsi lbh utama. Syg editor bk itu gak cermat”
Lalu saya balas lagi
“Iya sy tahu. Tapi, tulisan ini mmang sprt itu sejak terbit di Fajar. Bukan editor buku yg gk cermat, tp tulisan yg ada mmg sprti itu, menyesuaikan kemauan Fajar. Klu boleh tw sp nama Anda?”
Saya masih berpikir kalau dia mungkin seorang teman yang bermaksud iseng kpd saya. Jadi tak pernah menganggap kalau dia benar seorang pengamat sastra.
Lalu dia membalas lagi,
“Anda mgkin tdk kenl siapa sy. Anda blum lhir ktk sy mnjadi pgmat n sstrwn di Sulsel. Hidup sy trlunta di sbuah kabptn yg lbh 100 km dr Mks, tapi setiap ada buku sstra baru trbt sll sy bc.”
Membaca balasannya itu, saya sedikit percaya kalau dia memang bukan orang yg bermaksud iseng. Mungkin sj dia memang seorang pengamat sastra.
Lalu saya membalas lagi untuk memastikan apakah dia memang seorang yang sudah matang dalam dunia sastra
“Kalau boleh tahu, umur Anda berapa?”
“Umurku? Sekedar Anda tau, mhsw sy dulu adlh Nundingram, Fahmy Syarif n Nurhayati Rahman. Tax salah satux bhw siapa mntan dosenx yg saat ini memilih mningglkn kmpus n kmbli rebah di atas pematang yg basah”
Melihat smsnya itu saya kaget. Saya jadi berpikir, dugaanku mungkin salah. Mungkin dia benar seorang pengamat sastra yang sudah senior seperti yang dibahasakan di smsx. Mengutip kalimat “pematang yg basah” bukankah itu menunjukkan sawah. Berarti sekarang dia menjadi seorang petani. Betapa menyedihkannya menurutku. Akhirnya saya mencoba lebih hormat kepadanya. Menyapanya dengan sapaan ‘Bapak’.
“Sy seorang mhasiswa Unhas jurusan sastra inggris. Apa Bapak pernah mengajar di Unhas? Trus kebtulan skli Pak, kmi mw mngadkan bedah bku Aji Bello. Kalau bs Bpk jd pmbedahx. Apalagi bpk termasuk org yg cukup ahli dlm dunia sastra.”
Dia membalas lagi
“Ha ha ha, trims. Sy jg brhrp ktmu dg cln sstrwn potnsl spt Ananda. Bedah buku sdh lm sy tggalkn. Memang sih baxk undgn, tp sy sdh tua. Getah kesastraan sy tdk lg mnggigit, skdar mnggeliat jk ada sntuhan realits dr wilayah imajinasi. Dulu sy dipinjam olh Unhas utk megang mt kuliah ‘filsafat seni dan kajian sstra’, tp sy mndur di th 86 krn kampg hlmn sy lbih mmbutuhkn sy.”
Saya jadi penasaran siapa orang ini. Dia tidak mau mengungkap identitasnya. Lalu saya memancing lagi siapa tahu dia mau memberitahu sedikit identitasnya.
“Oh ya, kalau blh tau nama Bapak siapa, trus dri daerah mana. Siapa tahu kita sedaerah.”
Ia malah membalas
“Kalo sy britau nm dan kmpg sy mk obsesi imajinatif ananda ttg diri sy akan brakhir. Yg jls kt tdk sekmpg, sy di selatan ananda di utara. Biarlah sy mnjdi ‘Pengamat Misterius’ bg ananda, hgga kt brtmu di satu momen, entah kpn n di’ mn.”
Ah, saya memutuskan untuk mengakhiri perbincangan itu. Tp memang masih menyimpan misteri. Misteri apakah dia memang benar seorang Bapak yang sudah tua atau seseorang yang berusaha berkamuflase. Menurutku sms terakhirnya aneh. Apalagi di kalimat terakhir. Aneh saja, gak pantas menurutku.
Diberdayakan oleh Blogger.