Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Revolusi Matahari



Lelaki yang bernama Matahari. Kita bertemu pertama kali di sebuah seminar tentang kepemimpinan di Indonesia masa depan. Pertemuan yang cukup memberiku kesan. Aku berebut mic denganmu saat sesi tanya jawab. Padahal aku lebih dulu memegang mic itu. Aku pikir kau akan berkata “ladies first” lalu mempersilakanku. Nyatanya kau merebut mic itu tanpa memandang wajah perempuan yang sedang ada di hadapanmu. Apakah kesal atau biasa saja. Aku kembali ke tempat dudukku. Pertemuan pertama kita, aku sudah menangkap alur pikiranmu. Lewat argumentasi yang kau lontarkan ketika bertanya.
Pertemuan kedua, aku mengikuti dialog pelataran di kampus. Kulihat kerumunan perempuan yang sedang melingkar. Entah kenapa aku tertarik untuk nimbrung di kerumunan itu, ternyata kau pembicara utamanya. Meskipun ada beberapa lelaki, tapi yang mendominasi adalah perempuan. Aku bahkan tidak habis pikir, dua perempuan yang ada di sampingku bukan menyimak penjelasanmu. Tapi, membincangkanmu. Nalarku pun berasumsi bahwa perempuan-perempuan ini hadir bukan untuk menyimak pembicaraanmu, tapi hanya sekadar ingin memperhatikanmu. Seolah kau punya daya magis untuk menyihir mereka.
“Hei!” kau menyapaku usai dialog.
“Ada apa?” tanyaku singkat.
“Apa maksudmu? Permasalahan tadi tidak seluas itu.”
“Tidak bisa. Pasti menyangkut ideologi.”
“Ini cuma lingkup masalah di Indonesia. Kenapa sampai ke permasalahan ideologi.”
Aku tidak menjawab. Aku berlalu meninggalkanmu dengan sejuta tanda tanya di wajahmu. Kau lebih baik dibuat penasaran. Aku tahu kau adalah tipe laki-laki yang suka berpikir dan kutu buku.
***
Aku bertemu lagi denganmu di sebuah toko buku. Kulihat kau tengah berdiskusi dengan temanmu yang gondrong, penampilannya tidak terurus. Terlihat jelas dari penampilannya sebagai simbol perlawanan. Tapi, kau aneh. Kau tidak berpenampilan seperti mereka yang katanya anti kemapanan.
Aku sedikit demi sedikit mulai mengenalmu, melalui cerita-cerita orang. Kau seorang aktivis. Aku pernah membaca artikel di koran kampus. Dan profil edisi kali itu adalah kamu. Tulisan itu seolah-olah menyampaikan bahwa kamu adalah seorang pahlawan yang telah berhasil menggagalkan proyek penggusuran rumah-rumah warga dan pedagang kecil di dekat kampus. Yang isunya akan dibanguni lahan bisnis di kampus. Aku tahu betul. Tipe mahasiswa sepertimu sangat responsif dengan kasus-kasus serupa.
Di kampus ini siapa yang tak mengenal Matahari, ketua Forum Peduli Rakyat. Siapa yang menggerakkan mahasiswa ketika terjadi pembabatan pohon untuk lahan pembuangan limbah rumah sakit di sekitar kampus. Itu adalah Matahari. Siapa yang paling kritis menyeru ketika perguruan tinggi akan dikomersialisasi dan dijadikan institusi untuk mendapatkan lebih banyak uang. Itu adalah Matahari. Siapa yang paling gesit bertindak ketika May Day1 tiba. Itu masih Matahari.  
Tulisan-tulisanmu juga sering muncul di koran-koran. Dan selalu bernada tendensius. Sebenarnya, aku baru berkesimpulan, manusia yang paling sibuk di dunia ini adalah mahasiswa. Seorang mahasiswa harus belajar, mengaktualisasikan dirinya, ia juga harus menyeru kebenaran, ia harus belajar menafkahi dirinya, ia harus memperhatikan keluarganya. Belum lagi ia harus mengurusi masyarakat, ia juga harus mengawasi pemerintah. Manusia mana yang lebih sibuk dari seorang mahasiswa. 
***
“Menurut buku Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man, hanya ada dua ideologi di dunia ini, yaitu kapitalisme dengan demokrasi liberalnya yang diusung oleh Amerika. Yang kedua adalah sosialisme yang diusung oleh Karl Marx.” Suaramu mulai terdengar dari jarak 25 meter dengan toa yang memperbesar volumenya. Diskusi pelataran di depan Aula Sastra sangat ramai oleh ledakan argumenmu dan suara-suara revolusi yang kau banggakan.
Aku gerah. Kau bahkan tidak menyebut agamamu sebagai sebuah ideologi. Agamamu kau anggap tak bisa mengatur negara. Kau anggap utopis untuk mengelola masyarakat yang heterogen. Padahal ide perubahanmu lebih utopis, ingin meniadakan kelas-kelas sosial. Agama yang kau anggap utopis untuk mengatur keadaan justru pernah terterapkan secara empiris, ketimbang ide yang hanya terterapkan dalam tataran retorika, saya pikir idemu lebih utopis.
***
Akhir-akhir ini suaramu tak terdengar lagi dalam diskusi pelataran. Kau tak lagi terdengar mengeritik ideologi para borjuis. Tak pernah lagi kudapati dirimu yang sangat peduli pada para pemulung yang sedang mencari nafkah atau para cleaning service yang sering kau ajak bercerita. Tidak ada lagi suara-suara revolusi dan kepedulian pada kaum proletar. Suaramu seperti tertelan angin dan diterbangkan entah kemana.
Pagi ini saat kubaca koran kampus edisi terbaru, jantungku tiba-tiba berdetak begitu kencang. Kaget. Aku hanya bisa menghela nafas membaca setiap kata yang terangkai. Wajahmu begitu jelas terpampang. Sebuah obituari, berita kematian Sang Matahari. Seorang aktivis telah melakukan bakar diri di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat.
Pengorbananmu terlalu berlebihan. Aku hanya berasumsi, kau mungkin melakukannya untuk membuka mata pemerintah. Nyatanya, berapa pun korban berjatuhan, mereka tetap tak bergeming. Kau bahkan rela mati demi rakyat. Ternyata ideologimu tak mampu mendamaikan jiwamu. Kau tak mengenal konsep sabar dalam berjuang. Inilah kekurangan yang sangat ingin kuungkapkan padamu. Kau mengabaikan Tuhan dalam segala aspek dan aktivitasmu. Andai saja itu kau lakukan untuk memperjuangkan agamamu, saya pikir  kamu tak akan melakukan tindakan sampai sejauh ini. 
Katamu, setelah revolusi tak ada lagi. Dan Matahari tak ada lagi.
 
Ket:
1.      May Day: Hari buruh sedunia yang dirayakan pada tanggal 1 Mei

Rotasi




Pertama kalinya, aku merasakan hangat sekaligus dinginnya musim semi. Di Indonesia tidak akan pernah kutemukan musim seromantis ini, bahkan lebih romantis dari musim hujan di tanah air. Bunga-bunga baru saja bermunculan. Daun-daun di pepohonan masih segar dan imut. Bersih dan menyejukkan. Mungkin sepersekian miniatur surga. Di sini subuhnya berbeda. Tidak ada adzan yang mungkin setiap subuh membangunkanmu di Indonesia. Temperaturnya kadang tidak menentu dan membuat tubuh menggigil.
Ini hari pertama di negeri Paman Sam. Edwards Hall, asrama yang akan kutinggali ke depannya. Aku menemukan kalimat istimewa di pintu kamarku. Ditulis di papan tulis segi empat kecil yang terpasang di pintu.
“Welcome my new roommate. Wanna make a difference?”
Ya, salam perkenalan yang ditujukan padaku oleh pemilik kamar ini. Sapaan yang hangat. Tapi aku khawatir, bagaimana responnya setelah mengetahui bahwa aku seorang muslim dan berkerudung. Kamar yang kutinggali sekarang ialah milik seorang yang bernama Natalie. Ada sepeda yang tergeletak di samping ranjang. Ada dua ranjang. Terletak di sisi kiri, milik Natalie. Dan milikku yang terletak di sisi kanan. Meja belajar dan wardrobe ada dua pasang. Kamar yang memang didesain untuk dua orang. Di ruangan yang cukup elegan dengan furniture yang memesona. Ada heater (penghangat) yang built-in di dinding kamar.
***
Beginilah Colorado, cuacanya tidak menentu. Matahari bersinar secerah di Indonesia. Bedanya, di sini sangat berangin. Anginnya sampai menembus kulit. Sangat dingin. Bahkan lebih dingin jika salju turun di musim ini. Musim semi. Masih tersisa bekas-bekas musim dingin. Pepohonan yang tak berdaun. Kering. Tapi lambat laun di musim ini kau bisa memperhatikan bagaimana daun itu tumbuh hingga berbunga. Dan kau tahu Fort Collins adalah salah satu kota di Colorado yang sangat subur. Akan bersemi bunga-bunga berwarna-warni di musim ini. Cuacanya seperti cuaca hatiku yang tidak menentu saat ini, tapi lambat laun seperti ada bunga yang bersemi. Bahagia dan bersyukur.
Aku mengalami sedikit culture shock1. Meski sebelumnya telah dibekali pengetahuan budaya dan kebiasaan yang ada di Amerika. Juga telah kupelajari di bangku kuliah tentang budaya orang-orang Amerika. Tapi, aku paling tidak tahan dengan toilet yang kering yang hanya menggunakan tissu. Atau cuaca yang membuat bibir dan kulit mengering dan menimbulkan bercak merah.
Orang-orang Amerika individualis, disiplin, seperti dikejar waktu. Benar, di sini waktu adalah uang. Secepat apapun langkahmu, kau tidak akan sanggup mengalahkan langkah cepat mereka. Penghargaan terhadap waktu memang begitu tinggi. Saat kau pergi ke dokter dan telah membuat kesepakatan waktu dengannya. Lalu kau melanggar perjanjian waktu yang telah disepakati, dokter itu akan mengenaimu denda. Karena kau telah terlambat. Waktunya yang telah kau buang dibayar ganti dengan uang.
***

Seminggu telah berlalu, ajaran baru di kampus akan segera dimulai. Mahasiswi telah menghabiskan liburan spring break. Satu persatu penghuni asrama berdatangan. Aku mulai kehilangan kepercayaan diri. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi otakku. Teman sekamarku akan datang.
Kudengar sentakan koper di luar. Sepertinya itu Natalie. Terdengar suara yang berusaha membuka pintu kamar ini. Aku duduk di depan meja belajar sambil pura-pura memainkan laptopku. Natalie masuk. Ternyata dia gadis jangkung, kurus, langsing seperti model. Dan kau tahu, dia santai saja melihatku. Tidak heran sedikit pun.
“Hi.” Sapanya dengan senyum yang tipis. Dia cantik. Rambutnya panjang dan pirang.  
“Hi.” Jawabku seadanya. Aku kikuk. Akan seperti apa tanggapannya melihatku berkerudung. Nampaknya Natalie tidak terlalu peduli. Karakter orang-orang Amerika yang katanya individualis itu telah nampak.
Setelah itu tidak ada obrolan hangat di antara kami berdua. Natalie sibuk merapikan barang-barangnya yang masih berserakan seminggu ditinggalkan.
***
Kelas mulai berlangsung. Aku tidak terlalu canggung. Aku bertemu dengan teman-teman sesama muslim dari Arab. Tapi, tak sedikit yang keislamannya telah luntur. Mahasiswa-mahasiswa dari Middle East memenuhi ruang-ruang kelas. Merekalah penyumbang terbesar di tempat kami belajar ini. Selebihnya dari Jepang, Korea, China, Afrika dan Amerika Latin Tapi, di luar dugaanku. Mereka seperti singa yang baru saja keluar dari kandangnya. Liar. Kebanyakan sudah tak lagi melaksanakan sholat. Sudah kebarat-baratan. Atribut islam sudah tidak jelas lagi, kecuali wajah khas Arab mereka.
“You know, the first time I came here, I got culture shock. Two months. When a woman came and tried to hug me. I was shock. I never saw and did that in my country, although they did it to show closeness as a friend. So, I didn’t blend it that time.” Ucap Ahmad yang merasakan betapa terkejutnya dia menemukan sebuah budaya yang sangat berbeda dari negara asalnya, Arab Saudi. Dengan muka yang merasa bersalah, dia mengaku mengalami banyak perubahan.
Aku memperoleh banyak informasi dari obrolanku bersama Ahmad. Dia dan teman-teman dari Arab merasa jenuh dengan kehidupan mereka di sana. Tidak ada bioskop dan tidak ada kebebasan. Benar-benar seperti singa yang keluar dari kandangnya. Atau burung yang keluar dari sangkarnya. Seolah menemukan dunia baru di jagad ini. Namun, kabar itu menyedihkan buatku. Mereka terkikis oleh kultur Amerika.
Lain halnya dengan kawan-kawan dari negeri matahari terbit. Mereka cenderung pendiam di kelas. Tapi, di luar begitu aktif. Mereka sangat mencintai fashion. Bahkan rela menghabiskan uang demi penampilan mereka. Dan kau tahu mereka tidak mengenal agama. Suatu waktu aku menanyai Ayako.
“What’s your religion?”
Dia diam sambil berpikir sejenak. “Oh, religion? I don’t have religion.” Jawabnya polos dengan logat Jepang yang masih khas, sambil tersenyum hingga matanya menipis. Dan aku membalas senyumnya.
***
Hari yang teduh. Angin Fort Collins terasa beda. Mungkin karena temperatur agak sedikit naik. Matahari lebih bersinar dari hari-hari sebelumnya. Tapi, dinginnya tetap menusuk, meski tidak sedalam sebelumnya. Aku berjalan menuju Islamic Center di Fort Collins. Sekadar bersilaturrahmi denga sisters di sini. Ada kesenangan tersendiri jika bersua dengan saudari seiman dimana kami tergolong minoritas. Tempat ini sangat sederhana. Hanya sebuah rumah yang disulap menjadi tempat ibadah. Namun, segala aktivitas keislaman berlangsung di sini. Dari sholat Jumat hingga kajian keislaman. Kudengar di setiap sholat Jumat, selalu ada yang masuk islam. Dan itu cukup membuktikan bahwa agama yang paling pesat pertumbuhannya di Amerika bahkan dunia adalah islam. Air mataku langsung menetes ketika mendengar kabar bahwa ada lagi yang bersyahadat.
Selanjutnya, aku menuju pusat keramaian di Fort Collins untuk menikmati weekend. Old Town yang selalu ramai. Tempat rekreasi di tengah kota. Ada banyak toko pakaian, souvenir, restoran dan lain-lain. Ada atraksi, pertunjukan unik dan festival-festival yang biasa diadakan pada hari-hari tertentu. Mahasiswa-mahasiswa pun sering menggalang dana di tempat ini.
Aku duduk di sebuah kursi di taman. Di sekitarnya ada bunga-bunga yang baru bermekaran, berwarna-warni. Entah bunga apa namanya. Tapi jenis bunga ini tersebar di penjuru kota Fort Collins. Seketika aku merasakan kerinduan yang mendalam pada kampung halaman, keluarga dan teman-teman seperjuangan, tapi masih mampu merasakan keindahan kota ini. Serta waktu yang terus bergulir. Old Town selalu lebih ramai saat weekend tiba. Orang-orang datang hanya mencari kesenangan, hiburan, dan membunuh waktu.
Sabtu dan Minggu adalah hari yang sangat dinanti-nanti. Setelah lelah berkutat dengan pekerjaan. Hari Senin hingga Jumat adalah hari berkerja. Bekerja seperti nafas yang memburu. Benar, bahwa waktu adalah uang. Mereka hidup untuk bekerja. Kupikir mereka tidak punya beban. Fasilitas  umum yang memadai, musim yang selalu indah, kota yang bersih, indah dan aman. Dan baru kusadari, pekerjaan telah menjadi Tuhan sekaligus beban. Kau tahu istilah populer di Amerika? Hanya diucapkan ketika hari Jumat tiba. “Thanks God it’s Friday.” Karena weekend telah tiba untuk bersenang-senang dan berpesta.
Seorang Bapak tua menghampiriku di tengah asyik membaca. Hampir tak kupercaya bahwa dia adalah seorang pengemis. Badannya cukup berisi. Dia mengenakan jaket tebal, celana jins, dan sepatu kets. Dia memegang makanan junk food, lengkap dengan minuman berkarbonat.
“Excuse me.” Secarik kertas kecil yang bertuliskan donation ia sodorkan kepadaku. Aku kira dia sedang menggalang bantuan untuk orang-orang miskin. Ternyata, secarik kertas itu adalah bentuk bahwa dia sedang mengemis. Cara mengemis yang cukup berbeda di Indonesia.
Aku mengeluarkan uang satu dolar dari dompetku. Dia meraihnya dengan balasan senyuman kepadaku. Anehnya, aku telah memberi uang kepada seorang pengemis di Amerika. Amerika, negara impian banyak orang, pun ekonominya mulai rapuh akibat krisis. Seperti gelembung yang sekali tusuk langsung pecah. Sedikit saja, mereka akan collapse.
Namun, sangat berbeda dengan pengemis di Indonesia. Pengemis Amerika terlihat bukan pengemis. Bajunya tidak menyerupai pengemis. Mereka biasa duduk di taman kota atau tidur-tiduran. Sama sekali tidak terlihat mencemari kota. Tidak ada kolong jembatan, atau orang-orang yang meminta di setiap lampu merah.            
***
Entahlah. Kenangan di Makassar tiba-tiba muncul satu persatu di memori otakku. Menuju kota Denver. Mulai tampak gedung-gedung yang menjulang tinggi. Berbeda dengan Fort Collins yang masih kental suasana pedesaannya. Hari ini, angin kota Denver terasa lebih menusuk. Gerimis mengantarkanku meninggalkan Fort Collins. Gerimis yang tiba-tiba bersalju. Salju yang lembut. Aku sangat senang melihat banyak hal di balik mobil. Sambil mendengarkan lagu “Let it rain” dari Tracy Chapman yang sengaja kumainkan ketika merasa sepi. Atau lagu “I Believe” milik Maher Zain.
Hari yang sangat melankolis. Meski di luar sangat dingin, tapi mesin penghangat dalam mobil menghangatkan kami. Aku diantar oleh Natalie. Sekarang Natalie sudah berjilbab dan menjadi seorang muslimah. Tidak sulit baginya untuk menerima islam. Dia memang berbeda dengan kebanyakan perempuan Amerika. Dia lebih senang menghabiskan waktunya di kamar dan mengerjakan tugas kuliahnya. Atau melakukan aktivitas amal.  
Denvert Art Museum begitu menawan dari balik mobil ini. Juga gedung walikota yang gaya arsitekturnya mirip white house. Salju berhenti. Denver kembali cerah perlahan. Di Ibukota, akan kau temukan lebih banyak gelandangan yang tidur-tiduran di taman kota.
Aku melanjutkan perjalanan menuju Denver International Airport. Natalie memberhentikan mobilnya. Dua koper kukeluarkan dari bagasi. Aku menuju pintu masuk bandara. Sementara Natalie hanya bisa mengantarkanku sampai di sini.
“Be careful ukhti, I will miss you a lot.” Kedengarannya aneh, Natalie kini menyapaku dengan kata ukhti yang berarti saudara perempuan.
“Thank you, Natalie. Me too, will miss you so much.” Aku memeluk Natalie untuk terakhir kalinya.
“Assalamu Alaikum.”
“Waalaikum salam.” Balas Natalie dengan penyebutannya yang masih belum sempurna.
Aku memasuki bandara dan lagi-lagi melewati serangkaian proses imigrasi dan pemeriksaan yang sedikit menjemukan dan meletihkan. Akhirnya aku menaiki Pesawat UA869 setelah beberapa menit menunggu. United Airlines yang lebarnya dua kali lipat pesawat domestik Indonesia akan lepas landas. Merindukan Indonesia begitu dalam. Perjalanan akan kutempuh sekitar 30 jam lebih. Transit di San Fransisco International Airport, Hongkong, Singapura, dan tiba di Cengkareng, Soekarno-Hatta.
Hasanuddin International Airport, 15 Mei 2015, pukul 17:15 aku tiba di Makassar. Senja di Makkasar menyambut kedatanganku. Musim yang seketika berganti. Cuaca Makassar masih tetap sama. Apa kabar Ibu? Aku merasakan kerinduan yang begitu mendalam melihat wajah ibu, dan memeluknya. Juga berharap sebagian kenangan terhapus di memori otakku. Berganti perasaan yang seolah baru. Aku masih merindukan segalanya di kota ini.   
***
[1] Culture shock: istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing.

November Rain




Oleh Bulqia Mas’ud

Sepertinya, pembuluh darah di kepalaku sudah mulai berdamai. Seharian benar-benar tak melakukan apa-apa. Kecuali melakukan perjalanan spiritual singkat dan membaca surat cinta paling suci dari Sang Pemilik hati yang tidak akan pernah tergeser posisinya. Dan juga memenuhi kebutuhan biologis seluruh manusia, makan. Juga meminum teh hangat dengan maksud meluaskan pembuluh darah yang tersumbat di bagian kepala. Sakit yang sudah menjadi langgananku. Hingga siang yang tertutup pekat dibawa malam dan malam berganti siang tetap dalam dekapan mendung. Tak ada aktivitas baca buku hari ini. Yang akhir-akhir ini menjadi sangat kusukai. Hanya merebahkan tubuh untuk memanjakan diri.
Kemarin hujan mengguyur Makassar. Cukup deras. Tapi tetap tak mampu mengalahkan derasnya perasaan yang ingin kutumpahkan dari hatiku saat ini. Kemarin, aku menemukan suasana yang menurutku cukup romantis. Memegang payung saat butir-butir bening jatuh dari langit. Menuju kampus merah untuk menunaikan kewajiban akademis. Setelah beberapa hari yang lalu aku seperti beradegan dalam sebuah film. November baru saja usai. Tapi, aku tidak bisa melupakan rasa sakit yang terbekaskan. Bersamaan dengan turunnya hujan yang terus mengguyur Makassar yang panas.
Aku menangis. Air mataku seirama dengan turunnya hujan di luar sana. Air mata selalu saja ingin tumpah. Padahal dengan sekuat tenaga aku menahannya. Bahkan menengadahkan wajahku agar air mata ini tidak jatuh. Tapi, percuma. Baru kali ini kudapati sisi lain dari diriku bahwa ternyata aku rapuh. Berusaha tegar, tapi rapuh di dalam. Menurutku hampir semua perempuan seperti itu. Dan apa yang bisa dilakukan perempuan selain menangis.
Ya, aku tahu, kesedihan adalah penebus dosa-dosa. Dari sudut paling rahasia. Di kamar yang merapuh, yang sempat kebanjiran, yang lantainya retak oleh gempa lokal yang asalnya tak tahu darimana. Yang sangat disenangi berbagai jenis semut. Satu lagi, lampunya baru saja kehilangan nyawa. Padahal kamar ini baru direnovasi oleh Ibu Kost. Serentetan kesialan yang kualami di bulan November. November yang menyedihkan. Meski selalu berusaha bahagia  dan bersyukur saat tiba di ujung bulan November.
Masih teringat jelas. Akumulasi-akumulasi perdebatan yang terekam. Entahlah, kami berusaha memutus banyak rantai untuk menyelamatkan sesuatu. Tapi rantainya terlalu panjang. Sehingga terlalu banyak yang perlu diputuskan. Tak tahu ujungnya. Sama seperti ketika kau membabat semak-semak yang tak kunjung habis. Selalu saja ada semak yang mesti dibabat untuk keluar dari keadaan itu.
“Apa yang membuatmu enggan?”
“Karena kau tidak tahu, apa yang aku tahu.”
“Bukankah tidak masalah jika tetap bertahan dengan keadaanmu tanpa mengorbankan apa yang kuinginkan?”
“Sebenarnya, tidak semudah yang kau pikirkan.”
“Lalu?”
“Mungkin terlalu banyak yang kuketahui tapi kau belum mengetahuinya.”
Percakapan yang selalu tak tuntas. Karena tidak ada kalimat yang sempurna di antara kami. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna1. Semua berjalan begitu saja, seperti air yang mengalir dan tersandung di bebatuan. Tidak akan ada kalimat yang mulus. Hanya ada rindu dan marah. Cinta dan benci telah menjadi oposisi biner. Empat kata itu cukup menggambarkan bahwa memang tidak ada kalimat yang sempurna. Dan kata tidak pernah habis. Mungkin hanya dia, teman berdebat yang membutuhkan banyak kata dan kalimat untuk menghentikan ketegangan waktu.   
***
       Makassar tetap saja hujan. Dan selalu ada jeda untuk matahari mengambil kesempatan. Begitu pula, kalimat yang memiliki jeda. Kucoba menghitung deret rasa. Dan aku menemukan maaf, sabar, ikhlas, marah silih berganti mengoyak hati.
          “Apa kau pernah menangis?”
          Dia tidak menjawab.
        Aku hanya ingin tahu. Kapan dia menangis. Tentu saja itu adalah sebuah kelemahan yang berusaha ia sembunyikan.
       “Suatu saat, kalau kau meninggalkanku. Mungkin kau tidak akan menemukan teman berdebat seperti diriku.”
    “Kalimatmu akan segera sempurna. Dan kau tidak punya apa-apa lagi untuk diperdebatkan.”
     “Semuanya telah sempurna. Semua rantai telah terputus. Dan sisanya, kau tinggal merindukannya. Bukankah rindu melemahkan perasaan. Dan mungkin saja melenyapkannya.”
      “Tapi marah ternyata justru menguatkan. Terakhir kali kau marah. Aku tidak lagi marah. Silahkan kau marah. Karena aku akan tersenyum. Saat kau benar-benar marah, aku akan pura-pura tersenyum.”
Kali ini aku yang mendominasi percakapan.
***
        Hujan tak lagi sama, setelah November berakhir. Kali ini, hanya turun sesekali. Aku menemukan banyak kesempatan bersama matahari terbit. Dan aku mulai mencintai pagi dan langit biru.
Kalau disuruh memilih, aku lebih cinta menjadi wanita biasa yang merasakan kesempatan luar biasa yang disediakan Allah. Hadiah terindah dari Allah. Kesempatan untuk masuk surga lewat pintu mana saja. Inilah cara termulus untuk menjadi penduduk surga dan mungkin menjadi bidadari yang keringatnya berbau kesturi.
Kalimat yang tidak sempurna. Rantai-rantai yang coba diputuskan satu persatu. Konsep yang tidak akan pernah ketemu, seringkali mengerutkan urat sarafku. Sisanya, telah kuserahkan kepada Pemilik Segala. Hanya ada satu kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, DIA. Segalanya mungkin.
***

[1] Petikan kalimat dalam novel “Dengarlah Nyanyian Angin” karya Haruki Murakami dengan sedikit perubahan.

# Hampir lupa cara menulis cerpen.

DINAMIT

Akhir-akhir ini banyak yang perlu dikritisi. Sepertinya hidupku tidak akan lepas dari yang namanya persoalan kritik mengkritik. Entahlah, mungkin aku yang terlalu sensitif atau keadaan yang merangsangku untuk semakin berpikir kritis. Sampai-sampai aku lupa bahwa kita perlu menyediakan waktu untuk tidak bicara mengenai wacana perubahan. Sekarang, aku harus menikmati setiap detik-detik yang luruh bersama dosa-dosa yang tak sengaja kurancang sendiri. Malam ini, mencoba meminggirkan segala sesuatu yang mengusutkan urat saraf. Ingin merasakan kedamaian jiwa. Pikiran-pikiran semesta yang terkadang membuat penglihatanku mampu menembus tembok ingin kurehatkan sejenak. Ah, ingin sekali rasanya berdiskusi dalam suasana paling romantis bersama Rasulullah. Dan menanyakan setiap titik kegalauan yang kadang merasuki hati dan pikiran. Aku hanya manusia akhir zaman yang masih penuh tanda tanya.
“Assalamu alaikum, Cin. Besok jadi kan?” Cin. Singkatan dari cinta. Aku suka memanggil sahabat-sahabatku dengan sapaan cinta. Atau kata Say, singkatan sayang. Entahlah, kesannya semakin akrab dan memunculkan relasi yang hanya bisa kami jelaskan sendiri.
“Insya Allah jadi. Lelah perlu dibuang.” Suara Zidniy di seberang telepon genggam.
“Baiknya kemana ya?”
“Toko buku saja. Wisata hati dan otak.”
“Hmm, jangan! Aku yakin, berhadapan dengan buku tidak akan membuat hati dan otak kita berwisata. Kau lupa, buku akan mengundang kekompleksan-kekompleksan berpikir kita. Dan akhirnya menjalar pada ruang-ruang yang saat ini ingin kita hindari sejenak.”
“Ok. Aku paham. Tapi, tidak mungkin kan kita karoke-an?”
“Ya, nggaklah. Karoke-an masuk dalam daftar menu penghambatan kebangkitan. Karoke-an masuk dalam daftar hal-hal yang sudah tidak zaman untuk dipupuk. Masuk dalam daftar hal-hal yang perlu ditinggalkan.”
“Mmm, aku punya ide. Bagaimana kalau kita memasak.”
“Ngapain?”
“Hei, cantik! memasak itu masuk dalam daftar hal-hal yang perlu dipupuk. Kau lupa? Suatu saat kau akan jadi istri. Memasak adalah keahlian yang wajib dimiliki oleh seorang istri.”
“Saya masih percaya istilah ‘learning by doing’. Memasak bukan keahlian, cuma masalah kebiasaan.”
“Bukan itu masalahnya, Say! Tapi, ini konsekuensi logis menjadi seorang perempuan.”
“Lain kali aja, deh! Besok hari yang paling indah menunggu matahari terbit dan menyaksikan matahari terbenam. Kita ke pantai.”
“Ya, semoga saja esok hujan tidak turun. Pekat akan menyembunyikan matahari.”
“Kalau hujan, kita main hujan saja. Mari merasakan tetesan air yang dihantar malaikat.”
“Nggak kapok, Nay?”
“Asal hujannya deras. Insya Allah tidak terjadi.”
***
Pagi berkolaborasi dengan gerimis adalah perpaduan yang hebat untuk melumpuhkan sendi-sendi gerak. Usai sholat subuh, tidur menjadi pilihan terbaik ditemani nyanyian gerimis. Ah, syahdunya!
“Huaahhhh” kulirik jam di handphone-ku. Pukul 07.30. 10 panggilan tak terjawab.
“Astagfirullah, Zidniy!”
Kutulis sms.
“Assalamu Alaikum, Zidniy udah ngapain?”
“Aku ada di depan kamarmu nih, kamu ngapaian aja sih?” balasnya.
“Maaf, Cinta! aku ketiduran. Tunggu ya!”
Zidniy masuk.
“Kalau sekarang mau ke pantai, udah telat, Cin! Mataharinya udah terbit.”
“So, kita ngapain dong?”
“Mandi aja dulu, Nay!” Ucap Zidniy dengan wajahnya yang sedikit kusut.
“Ok. Ok, Sayang! Maaf ya?”
***
            “Jadi, kita mau jalan kemana nih?”
“Ke toko buku aja yuk, Nay!”
“Toko buku bukan tempat yang asyik untuk bermanja dengan kehidupan.”
“Tolonglah, Nay. Aku pengen beli buku yang sudah lama kuincar.”
“Buku apa? The Alchemist?”
“Kok tahu?”
“Ya tahu lah. Aku pernah buka list buku yang ingin kau beli. The Alchemist berada di urutan pertama.”
“Ke toko buku ya?”
“Ok. Ok. Anggap saja ini permintaan maaf dariku karena membuatmu menunggu. Tapi, habis dari toko buku kita ke pantai lihat sunset ya?”
“Beres.”
***
Di toko buku.
Aku lebih memilih membaca di tempat yang telah disediakan, sambil menunggu Zidniy. Kalau sudah lihat buku, Zidniy pasti lupa waktu.
Tapi biarlah aku menunggunya. Ini tidak seberapa dibanding kelakuanku yang selalu membuatnya menunggu. Aku selalu merasa bersalah pada Zidniy. Tapi, dia selalu seperti gerimis yang tiba-tiba jatuh tak terduga di tengah terik.
“Hey, Nona! Kok ngelamun sih?”
“Eh, Zidniy, udah dapat bukunya?”.
“Ngelamunin apa hayo?”
“Nggak. Coba dengar kata-kata ini. Barusan aku baca. Aku bukanlah seorang manusia, melainkan sebuah dinamit. Membuat orang gelisah itulah tugasku.”
“Hmm, mulai lagi dengan keanehanmu.”
“Kata-katanya keren, Zidniy. Tapi, aku bingung apa maksudnya. Aku hanya penasaran apa yang ada di kepala Nietzsche saat menuliskan kata-kata ini.”
“Kupikir filsuf seperti dia hanya gelisah karena ada ruang kosong di hati dan pikirannya yang tak bisa dia pecahkan.”
“Seperti apa?”
“Kekosongan spiritual. Filsuf itu terlalu mengandalkan logika. Mereka terlalu beromantisme dengan akal mereka. Mereka tidak punya standar berpikir yang mengantarkan kepada kedamaian jiwa. Beda dengan seorang muslim. Kita punya Al Qur’an dan As sunnah. Cukup mengikuti Mahakarya itu, insya Allah selamat dunia akhirat.”
“Apa maksudnya coba, ‘membuat orang gelisah adalah tugasku’ aneh kan?”
“Ah, sudahlah. Anggap saja Nietzsche tidak ingin gelisah sendiri. Dia ingin membagi gelisahnya kepada orang lain. Buktinya sekarang banyak pengagumnya kan? Mereka mungkin sama gelisahnya dengan Nietzsche.”
“Oh, tidak!” tiba-tiba teringat seseorang.
“Kenapa, Neng?”
“Aldi.”
“Kenapa Aldi?”
“Aku punya janji mau ngasih proposal acara bedah buku siang ini di kampus.”
“Nggak saya. Nggak Aldi. Sudah berapa kali kau buat Aldi menunggu.”
“Pasti dari tadi dia menghubungi. Hapeku low batt masalahnya.”
“Ckckck, kamu dinamit, Nay.”
“Maksudnya?”
“Kata-kata Nietzsche barusan yang membuatmu jatuh hati.”
“Ah, aku kan lupa. Aku merasa bersalah pada Aldi. Ini sudah kali ke berapa ya?”
“Seharusnya kau belajar dari sejarah. Ingat baik-baik ‘JASMERAH’ Soekarno!” Sindir Zidniy sambil senyum-senyum melihat kepanikanku.
“Ya Allah, maafkan Nay yang selalu lalai.”
“Minta maaf juga sama Aldi, Nay! Dia pasti gelisah dari tadi menunggumu dan tak bisa menghubungi dinamit sepertimu.” Ucap Zidniy, seperti ada tawa yang ingin pecah.
“Ya...ya…ya.” Sambil mendesah. Merasa bersalah.



Diberdayakan oleh Blogger.