Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

What is Love?

Gambar terkait

Pernahkah kamu meragukan definisi cinta? Di saat-saat tertentu saya justru meragukan pemahaman saya terhadap cinta. Ternyata cinta tidak cukup dirasakan. Ada saatnya perasaan itu menjadi hambar, pahit, bahkan manis seketika.

Mengapa ada orang yang mencintai tapi sekaligus membenci. Sebenarnya, itu bukan benci. Itu adalah cinta yang terbungkus kekecewaan. Cinta yang tersamarkan oleh harapan yang tidak terpenuhi. Cinta itu tidak boleh statis. Cinta adalah kata kerja. Cinta adalah dialogika. Ada koneksi dan komunikasi. Koneksi dan komunikasi ini bukan yang artifisial. Ia harus autentik. Lahir dari perasaan yang terdalam. Kesungguhan yang bergejolak dalam hatimu. 

Kita tidak bisa mencintai seseorang dengan kata-kata saja. Tidak pula bisa mencintai seseorang tanpa kata-kata. Itulah mengapa, ketika cinta kehilangan kata-kata, maka ia bisa kehilangan segalanya. Jangan mencintai tanpa membuktikan.  Seperti seorang bujang yang membuktikan cintanya dengan menikahi. Atau sepasang suami istri yang membuktikan cintanya dengan kata-kata dan kasih sayang. Memang kata-kata bukanlah segalanya. Karena bagi sebagian orang cinta itu adalah pembuktian dengan tindakan.

Pada kenyataannya persepsi setiap orang tentang membuktikan cinta itu berbeda. Ada banyak hal yang perlu argumentasi. Termasuk diskusi tentang cinta. Ada orang yang mati-matian membuktikan rasa cintanya. Tapi tak pernah sampai kepada yang dituju. Mengapa kita bisa salah menilai tentang cinta. Ternyata ada banyak bahasa dalam cinta. Bisa jadi dalam memaknai cinta, kita tidak satu persepsi.

Any thoughts about your definition of love? 😉


30 Juli 2019

photocredit: mhakeem.com

Cintailah Pilihanmu karena Allah

Hasil gambar untuk real love begins when you decided to make it halal

Lanjut atau tidak lanjut dalam perkenalan menuju pernikahan adalah sebuah pilihan. Selagi tak diikat dengan mitsaqan ghaliza, siapa pun bisa berpindah. Pada akhirnya, kita akan selalu menyeleksi siapa yang terbaik untuk menjadi pasangan hidup jika kelemahan-kelemahan yang ada mulai terungkap. Tapi dalam pernikahan, seni berkenalan sejatinya baru dimulai ketika ijab kabul telah diucapkan. Siapkah kamu menerima segala kekurangan dan kelebihan pasanganmu.

Maka jangan samakan pernikahan dengan pacaran yang sewaktu-waktu bisa berpindah ke lain hati. Pernikahan adalah janji yg disaksikan Tuhan. Kita tidak lagi berpikir untuk sewaktu-waktu bisa pergi. Tetapi, menjadikan perkenalan kita menjadi sarana ibadah. Bisakah kita menjadi semakin baik jika bersama? Dosa semakin berkurang. Amal soleh semakin bertambah. Itu yg mesti kita jawab. Kita harus siap berubah sesuai harapan pasangan. Bukan hanya diri kita yang harus disesuaikan, tapi kita harus siap menyesuaikan diri sesuai keinginan pasangan. Bukankah adil kalau keduanya siap berkorban untuk kebahagiaan masing-masing.

Dalam kamus pernikahan, keegoisan tidak layak dipertahankan. Suami dan istri adalah dua orang yang harus belajar dan mempelajari kesenangan dan ketidaksenangan masing-masing. Adakah harapan yang belum kita wujudkan bersama? Pertanyaannya, haruskah pacaran dulu untuk menuju pernikahan? Karena ketakutan akan kekecewaan jika salah pilih pasangan hidup kelak. Jawabannya, selama apapun pacaran, sepertinya kita tidak akan benar-benar saling mengenali. Pernikahan pula yang mengajarkan kita mengenali seseorang lebih dalam. Sifat-sifat kita akan saling mempengaruhi, saling tarik-menarik. Kalau masing-masing tidak punya ilmu dan tidak punya visi, saya ragu pernikahan hanya berjalan di tempat. Maka rumah tangga memang harus punya visi mau dibawa kemana? 

Pernikahan sesungguhnya menyatukan dua orang yang sangat berbeda. Tumbuh dan berkembang dalam budaya dan kebiasaan yang berbeda. Tetapi, disatukan sedekat-dekatnya, melebihi ikatan keluarga asal mereka. Sungguh menarik bukan? Di situlah kita belajar. Saling memahami, saling pengertian, saling membaikkan, saling mendukung, saling bertumbuh. Pilihlah cintamu. Cintailah pilihanmu. Karena Allah. 😘


27 Maret 2019


Seperti Apakah Istri Salihah?

flowering plum tree

Sebelum menikah, sosok istri salihah seolah mudah dimengerti. Seolah teori-teori dalam buku yang kita baca mudah diaplikasikan. Seolah segala tips rumah tangga akan mudah kita terapkan. Keidealan sosok istri salihah sepertinya tidak menjadi asing dengan berbagai teori dan pelajaran dari para sahabiah. Begitu pun mungkin yang dialami lelaki ketika mempelajari sosok suami salih. 

Pada kenyataannya, ada begitu banyak perbedaan dan mungkin ketidaksempurnaan yang mewarnai kehidupan rumah tangga, sehingga kadang kita menggugah kembali kemana teori-teori istri salihah yang sudah kita pelajari. Mengapa sosok ideal "istri salihah" menjadi hal yang kita pertanyakan. Mengapa istri salihah menjadi perjuangan yang tiada hentinya. Seolah ilmu dan praktik kesabaran itu menjadi mahal harganya. Melepaskan ego menjadi sulit. 

Ternyata menikah itu, salih salihah saja tidak cukup. Bahkan kita kembali mempertanyakan benarkah kita sudah menjadi sosok yang diidamkan oleh pasangan masing-masing. Pertanyaan yang akan selalu muncul sudahkah kita membahagiakan pasangan masing-masing. Saya sebagai istri kadang takut kalau saja suami marah atau suami mendiamkan. Dan bahkan lebih takut kalau suami diam-diam tidak memberi tahu jika ada dari sikap saya yang tidak ia ridhoi. Sedangkan kita para istri, tidak akan masuk surga jika suami tak ridho.

Entah siapakah yang paling sabar di antara kita. Semoga kamu semakin sabar menghadapi saya. Semoga saya semakin sabar menghadapimu. Karena mungkin saja, kita punya ujian kesabaran masing-masing. Semoga kita tidak saling menyalahkan. Tapi saling berbenah diri. 

Semoga setiap malam, sebelum tidur, kamu sudah memaafkan kesalahan-kesalahan saya. Yang saya sadari maupun tidak. Saya pun berusaha seperti itu. Jadi ketika bangun, hati kita selalu baru. Kalau saya lalai, mohon diingatkan dan diluruskan dengan baik. 

"Berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuat baiklah kpd wanita" HR. Bukhari


31 Oktober 2018

photocredit: http://www.flickr.com/photos/hershman/4406984467/

Cinta yang Sesungguhnya

Instagram post by 💎Muslim Couples💎 • May 7, 2019 at 9:38pm UTC

Tuhan tidak meminta kita untuk saling mencintai setinggi langit. Tidak meminta kita untuk mencintai sedalam samudera,  seluas cakrawala atau seindah mentari. Karena yang Dia kehendaki, kita cukup saling mencintai karena-Nya. 

Tuhan menyuruh kita untuk saling bersabar atas kekurangan masing-masing.  Dan tetap bersyukur atas kelebihan masing-masing. Aku adalah ujian bagimu. Kamu adalah ujian bagiku. Ada banyak ketidaksesuaian yang harus kita kawinkan. Itulah makna pernikahan. .

Dalam ketidaksempurnaan ini, kita akan tetap saling belajar untuk menjadi yang terbaik satu sama lain. Karena sepanjang perjalanan ini, kita masih akan terus saling mengenali. Pernikahan seperti perahu. Kita akan belajar menggerakkan dan menyeimbangkannya agar tetap berjalan dengan baik hingga selamat sampai tujuan. 


11 September 2018

photocredit: https://www.instagram.com

Tidak Ada Rumah Tangga yang Sempurna

Nov. 11, 2014 - #love #Nov

Sesungguhnya teori-teori berumah tangga itu banyak. Bagi yang masih single, ini adalah kesempatan besar untuk mempelajarinya. Tapi tahu kah girls, kalau semua teori itu betul-betul diujikan ketika kamu sedang mempraktekkannya. Jadi, berumah tangga itu jelas butuh ilmu. Dan terkadang yang punya ilmu pun belum tentu bisa mempraktekkannya ketika sudah dihadapkan pada kenyataan. "Ah, dia mah rumah tangganya asyik, sama-sama akademisi, sama-sama lulusan luar negeri." "Mereka emang cocok banget sama-sama dokter." "Rumah tangga mereka pasti adem ayem karena sama-sama paham agama, ustadz dan ustadzah" dan masih banyak lagi anggapan orang-orang. Belum tentu guys.

Karena tidak ada rumah tangga yang sempurna. Rumah tangga yang baik itu, yang mau terus belajar dan introspeksi diri. Sebelum menganggap rumah tangga orang lain selalu bahagia, dan membandingkan dengan rumah tanggamu yang mungkin tak seindah orang lain. Coba renungi dulu bisa jadi usaha mereka lebih keras dalam berjuang. Lebih sabar dalam menghadapi masa-masa sulit, lebih tenang dalam menghadapi segala ujian dan tantangan. 

Sama artinya tidak ada pasangan yang tepat atau sempurna. Yang ada pasangan yang cukup tepat. Mereka lah yang saling bekerja sama untuk saling menyempurnakan. Saling belajar menjadi lebih baik. Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bersabar atas kekurangannya, dan bersyukur atas kelebihan-kelebihannya. Juga bersyukur karena telah saling memilih atau menerima menjadi sepasang suami/istri dalam rangka beribadah kepada Allah. 

Ada baiknya kita fokus berefleksi ke dalam diri masing-masing. Adakah yang salah selama ini. Adakah yang perlu diperbaiki. Adakah yang butuh ditingkatkan. Memang tidak ada rumah tangga yang sempurna, tetapi bukan berarti tidak bisa dibentuk. Semua punya kesempatan untuk meraih rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Karena sesungguhnya rumah tangga idaman bisa dipelajari asalkan pasangan suami istri mau saling belajar, saling memperbaiki diri. Jadi tidak ada istilah pasangan itu sudah sempurna dari awal. Mereka tetap saling menyesuaikan. Semuanya tetap butuh untuk saling belajar dan saling melengkapi.

Dariku yg masih belajar 😉

1 Agustus 2018

photo credit: adesignideaspics.site

Karena Jodoh adalah Takdir Ikhtiar


Jangan sembarangan memutuskan menikah dengan siapapun. Jangan sembarang memilih seseorang. Perhatikanlah dengan siapa kamu akan menikah. Jangan karena terburu-buru, hingga kamu menerima siapa saja yang datang. Asalkan kamu segera halal. Tidak. Tidak seperti itu. Jodoh adalah takdir ikhtiar. Kamu akan mendapatkan sesuai dengan ikhtiarmu.

Banyak orang yang menyesal dengan pernikahannya karena mereka merasa salah pilih pasangan. Ada yang nekad menerima kekurangan calon pasangannya. Dengan alasan, ah semuanya bisa diperbaiki. Setiap orang punya kesempatan untuk berubah. Memang benar. Tapi, jangan sekali-kali mempertaruhkan kehidupanmu yang sudah baik dengan berani menerima mereka yang mungkin shalatnya masih bolong-bolong, belum pandai membaca Al Qur'an atau hal-hal yang sebenarnya tidak sesuai kriteriamu.

Jangan dengan dalih "menerima apa adanya" yang penting dia shalat. Ah, yang penting dia begini, yang penting dia begitu. Padahal kamu tahu ada banyak hal yang belum bisa kamu terima darinya. Sekali lagi, jangan terburu-buru. Menikah bukan perkara sehari, dua hari, tetapi seumur hidup. Banyak pernikahan yang akhirnya tidak bahagia karena memaksakan hal-hal yang sebenarnya tidak bisa dipaksakan.

Beruntung jika kamu mau bersabar dengan pasanganmu. Hingga kamu mau menuntunnya menjadi lebih baik dan terus membaik. Tapi ini adalah usaha yang membutuhkan kesabaran seluas samudera. Jika kamu siap menanggung risiko, dan mampu bersikap seperti Asiyah (Istri Fir'aun), ya boleh dicoba hehe. Tapi, nasihat saya. Bagi yang belum menikah, jika kamu sudah baik, jangan berani menikah dengan dia yang mungkin belum sevisi denganmu. Akan banyak pengorbanan yang akan kamu hadapi. Termasuk korban perasaan mungkin. Kamu akan selalu mencoba mengerti. Kamu akan selalu mengalah.

Memang, memutuskan menikahi seseorang adalah pilihan. Tapi, jangan asal memilih. Perhatikan agamanya. Perhatikan pergaulannya. Perhatikan akhlaknya. Kamu mau bahagia dengan pernikahanmu kan? karena pernikahan itu penuh ujian, jangan sampai kita salah pilih dari awal. Jangan sampai kita jadi berpikir dengan pembenaran, ah dialah jodoh yang sudah ditakdirkan Tuhan untukku. Bukan maksud saya tidak mensyukuri jodoh. Karena bisa jadi ada surga dalam setiap pilihanmu itu. Tapi hati-hati saja. Jodoh tidak datang begitu saja. Jodoh adalah takdir ikhtiarmu. Maka, berikhtiarlah sebaik-baiknya. Termasuk carilah yang baik-baik. Dan juga pantaskan dirimu :)


photo credit: images.mooseyscountrygarden.com

Sebelum Kamu Menjadi Seorang Istri



Di sebuah grup online yang diisi wanita-wanita dewasa, terjadi perbincangan yang cukup acak. Di usia yang sudah matang untuk menikah, saya pikir bukanlah hal berlebihan kalau kita memang senang memperbincangkan ini. Saya tak pernah menyalahkan jika ada di antaranya yang selalu baper. "Baper" bisa jadi semacam pertanda bahwa Allah masih menganugerahi kita perasaan. Perasaan yang juga rindu menyempurnakan setengah agama. Jangan sampai Allah menarik perasaan semacam ini hingga tak lagi ingin menikah. Semoga yang sedang rindu menikah agar segera bertemu dengan jodohnya.

Ketahuilah mencari jodoh adalah ujian. Tidak ada kisah jodoh yang sempurna seperti di film-film romantis. Bertemu dengan jodoh yang tepat membutuhkan pengorbanan dan sedikit rasa tidak enak di hati. Patah hati itu biasa. Ketika kamu telah bersusah payah dan akhirnya gagal. Saya pikir, hampir semua wanita pernah ada di fase ini. Ada yang mencintai atau mengharapkan pria yang ternyata ditakdirkan untuk menjadi jodoh orang lain. Ada pula yang gagal dalam perkenalan-perkenalannya. Bisa jadi jodohmu juga sedang melakukan pengembaraannya untuk bertemu denganmu. Mereka juga merasakan jatuh bangun. Yang ia pun tak tahu bahwa dia sedang direncanakan untuk bertemu denganmu. Perjalanan jodoh selalu misterius bukan?
 
Bukankah tidak ada yang sia-sia dengan kesabaran. Kesabaran tidak akan membuahkan sebuah hasil melainkan kebaikan. Kelak kesabaranmu akan dihadiahi dengan sosok yang mungkin selama ini kau idam-idamkan. Jangan terburu-buru, jangan berputus asa. Berhati-hatilah dengan jeratan setan yang selalu mengembuskan was-was dalam dada manusia.

Sebelum kamu menjadi istri seseorang, tinggikanlah kesabaranmu, syukurilah keadaanmu. Jodoh itu akan datang setelah usaha dan doadoamu yang tulus dan sungguh-sungguh. Kesendirian memang ujian, mencari jodoh juga ujian, bahkan setelah berjodoh juga penuh ujian. Jadi apa yang mesti kita fokuskan? Maksimalkan peran yang kita lakoni sekarang. Perbanyak ilmu. Indahkan sabar dan syukur untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan hidup. Termasuk kemungkinan baik bertemu jodoh 😉

photo credit: wallpoper.com

Mencintai Suami/Istri karena Allah



Keputusan yang paling penting dan mungkin sulit dalam hidup seseorang adalah memilih pasangan hidup. Karena bersamanya, kita tidak sedang menaklukkan dunia, tapi kita ingin memastikan hidup selamat dunia akhirat. Hingga ke surga.

Sampai saat ini jawaban yang paling masuk akal, kenapa memutuskan memilih seseorang, karena keyakinan bahwa dengan bersamanya surga terasa lebih dekat. 

Dulu sebelum menikah, saya sering bertanya-tanya. Apa yang dimaksud menikah karena Allah? Bagaimana saya akan memilih suami karena Allah. Bagaimana saya bisa memastikan bahwa saya memilih suami bukan karena hawa nafsu atau pertimbangan-pertimbangan dunia. Apakah saya sudah tepat memilih pasangan hidup karena agamanya.

Dalam teori mencintai, islam telah mengajarkan untuk mencintai siapapun dan apapun karena Allah. Tidak ada cinta yang abadi selain mencintai karena Allah. Selain Allah, segalanya adalah fana'. Mencintai karena Allah adalah yang mengantarkan hubungan suami istri senantiasa dalam keberkahan dan kelanggengan. Lalu bagaimanakah arti mencintai pasangan hidup karena Allah?

Dalam pengetahuan sempit saya, Mencintai Allah adalah melakukan segala hal yang dicintai Allah. Jadi jika suami/istri beriman, bertakwa, dan melakukan amalan-amalan yang dicintai Allah, maka kita mencintainya karena Allah. Karena Allah senang kepada orang-orang yang beriman, bertakwa, dan melakukan amalan-amalan salih.

Semakin dalam cinta suami atau istri kepada Allah, semakin kuat dan bertambah cinta kita kepadanya. Itulah mungkin maksud cinta kepada Allah. Maka sebagai suami atau istri, hendaknya kita senantiasa saling mendukung dalam ketaatan dan mencintai karena Allah. Cinta istri dan suami tertinggi jika membuat pasangan hidupnya semakin mencintai Allah dan mencari keridhoan Allah. Jika pasangan hidup tidak beriman dan bertakwa, berkurang dan hilanglah cinta kita kepadanya. 

8 Juli 2018, 3 bulan pertama pernikahanku.
 

Menikah, Mencari Partner dalam Bertakwa


Siapa yang pernah kagum jika melihat ikhwan atau akhwat yang dalam pandanganmu, baik agamanya, soleh atau soleha? Jika ada perasaan yang seperti itu, bisa jadi kamu sudah memiliki kecenderungan yang benar dalam memilih pasangan. Tapi, jangan diteruskan ya, nanti bisa menjadi zina hati hehe. Yang ingin saya tekankan adalah memilih pasangan hidup mesti dimulai jauh sebelum kita memutuskan untuk segera menikah. Koreksi niat di dalam hati. Miliki konsep diri yang baik dan buatlah perencanaan. 

Kecenderungan seseorang pada kebaikan itu memang fitrah. Termasuk dalam ketertarikan kepada lawan jenis. Ada yang pernah dengar bahwa lelaki yang mungkin pergaulannya kurang benar, sebenarnya mengingankan perempuan yang baik-baik. Sama halnya perempuan yang juga pergaulannya kurang baik, mendambakan lelaki teduh untuk menjadi pemimpinnya. Mungkin begitulah teori kenapa naluri itu memiliki kebenaran yang terdalam. 

Biasanya keinginan untuk menikah dengan orang yang baik agamanya, diperkuat ketika kita juga sudah memiliki konsep hidup yang baik. Kita tentu juga mendambakan seseorang yang paling tidak sama dengan cara kita menjalani kehidupan. Jika kamu senang ikut kajian, menambah ilmu agama, sangat mungkin kamu mendambakan lelaki atau wanita yang juga memiliki kebiasaan yang sama bukan? Sebenarnya, jauh sebelum niat menikah itu muncul, kamu sudah menyeleksi pasangan hidupmu meski masih dalam hati.

Tak ada agama, jangan hidup berumah tangga!

Karena pernikahan adalah ibadah, maka memilih pasangan hidup semestinya didasari atas alasan ibadah. Sedari awal, milikilah kriteria ini. Carilah pasangan yang baik dengan cara yang baik. Tapi, sebelumnya, kita mesti memperbaiki diri kita. Menumbuhkan sikap hidup yang baik. Memiliki pemahaman agama yang baik. Atau paling tidak kita memiliki kemauan untuk terus belajar terutama belajar agama. Karena “mendambakan yang baik” akan kalah dengan mereka yang “menjadi baik.” Maksudnya, kita boleh mendambakan lelaki soleh atau wanita soleha, tetapi fokus utama kita adalah menjadi dia yang soleh dan soleha tersebut. Karena sesuai janji Allah, Dia akan memasangkan seseorang yang mungkin sekufu dalam imannya. Allah tidak pernah salah memasangkan hamba-hamba-Nya.

Hidup tanpa agama itu segalanya menjadi berat. Termasuk hidup dalam berumah tangga. Tanpa agama, segala hal bisa menjadi masalah. Mudah stress, depresi dan gangguan mental lainnya. Rasul bersabda, “agama itu nasihat.” Tafsiran hadis ini mungkin sangat panjang dan detail. Tetapi, kita bisa menyimpulkan bahwa segala hal yang islam ajarkan adalah nasihat untuk kita menjalani kehidupan. Bukankah sudah sering kita dengarkan bahwa islam memiliki solusi atas segala permasalahan kehidupan. Oleh karena itu, jangan pernah remehkan mempelajari agama. Sebaik-baik persiapan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga adalah ilmu. Ilmu inilah yang menjadi modal bagaimana kita menjalani kehidupan kita ke depannya bersama pasangan. Selanjutnya, kita harus selalu belajar karena menikah adalah ibadah terlama.

Pelajaran bagi yang telah menikah (termasuk saya dan suami hehe) adalah bagaimana agar rumah tangga tetap dicahayai kebaikan-kebaikan. Sebelum menikah, kita dan pasangan bertanggung jawab terhadap diri kita masing-masing. Setelah menikah, tanggung jawab kita bertambah. Kita menjadi andil terhadap perubahan pasangan. Itulah mengapa seringkali digaungkan oleh para motivator pernikahan bahwa pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang menjadikan sepasang suami istri itu semakin bertakwa, semakin taat, semakin bahagia. Selain Ibadah, pernikahan pun ujian. Sehingga untuk melewati ujian ini kita dan pasangan butuh ilmu yang cukup. Tujuan utamanya adalah agar rumah tangga senantiasa diberkahi dalam kondisi suka maupun dukanya.  

Karena pernikahan adalah ibadah terlama, jangan menikah karena cinta, karena itu tak akan abadi, tetapi menikahlah karena Allah. Menikahlah dengan seseorang yang memiliki konsep diri yang baik, mencintai Allah, Rasul, dan Ilmu agama.

Pernikahan yang tidak bahagia akan selalu tegang dan jauh dari Allah. Oleh karena itu, sebelum menikah, bahagiakan dirimu. Karena orang yang tak bahagia, tidak akan bisa membahagiakan orang lain. Bahagia akan hadir jika kita senatiasa dekat dengan Allah. Dalam pernikahan, kita butuh untuk saling menguatkan, saling membahagiakan, saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. 

#selfreminder

Ramadan Day 26, 1439 H

Pelajaran dari Long Distance Marriage




Boleh jadi memang jarak itu bukan lagi masalah jauh dekatnya, tetapi perasaan yang ada di dalamnya.

Semenjak Long Distance Marriage (LDM), saya jadi semakin memahami bahwa hubungan dua orang manusia bukan bergantung kepada jasad dan fisik manusianya. Tetapi, apakah ruh-ruh kita terhubung kepada Sang Pemilik Semesta. Apakah kita masih saling mendoakan? Apakah kita masih saling merindukan?

Ketergantungan kita sebenarnya bukan pada pasangan hidup tetapi kepada Allah Swt. Kita semakin ikhlas menjalani proses kalau dilakukan karena Allah. Mungkin tidak akan ada perasaan kecewa, sedih, kesal jika semua yang kita lakukan karena Allah. Apapun yang kita lakukan kepada pasangan hidup menjadi lebih tenang kalau ada ruh dan iman di dalamnya.

Kadang saya berpikir, apakah suami saya bahagia di sana? Apakah dia sehat-sehat saja? Apakah dia tidak menjalani hari-hari yang buruk. Apakah dia bisa semakin produktif menjalani kesehariannya. Apakah pekerjaannya terurus dengan baik? Apakah ibadahnya semakin meningkat? Kalau tidak, saya tentu merasa bersalah sebagai istri.

Bagi yang LDM, bisa mendengar kabar dari pasangan hidup kalau dia baik-baik saja adalah hal yang membahagiakan bukan? Mungkin itulah mengapa komunikasi sangat penting dalam menjalani hubungan seperti ini. Ada dampak psikologis kalau kita bisa mendengar kabar masing-masing.

Saya jadi teringat doa yang seringkali orang ucapkan dalam majelis pernikahan, "Semoga Allah memberkahi kalian (di kala senang), dan memberkahi pula (di kala sedih) serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan." Doa ini sangat substantif, indah, dan holistik. Karena pada akhirnya yang kita cari dalam pernikahan adalah keberkahan dan kebaikan baik itu di kala senang maupun sedih. 

Ada yang bilang indikator keberhasilan rumah tangga itu, bertambahnya kebaikan-kebaikan, bukan kebahagiaan saja. Tidak selalu dalam rumah tangga itu dipenuhi suka, karena pasti ada juga duka yang menjadi bumbu-bumbu rumah tangga. Kemudian, seorang istri dan suami berusaha mengambil peluang bagaimana agar dalam setiap keadaan adalah bertambahnya ketaatan, kebaikan, dan cinta kasih.

Bagi yang tengah menempuh LDM, semoga Allah memberkahi dan meridhoi keluarga kita. Untuk suami saya, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran menulis thesis. Tercapai target-targetnya. Semoga ibadahnya tidak terbengkalai gara-gara thesis hehe. 


Ramadan Day 22, 1439 H




Menikah Muda atau Menikahlah Ketika Siap



Semua pasti sudah paham bahwa pernikahan adalah ibadah. Siapa yang tidak ingin menikah akan dipertanyakan penghambaannya. Saya pikir semua orang yang normal memiliki niat untuk menikah meski belum tahu kapan waktunya. Kalau akhir-akhir ini kamu sering mendengar frase “nikah muda” mungkin karena istilah ini lagi tren. Apalagi di kalangan perempuan dan lelaki yang lagi semangat-semangatnya belajar agama atau mungkin yang baru saja hijrah. Alhamdulillah ini sebenarnya adalah kecenderungan yang positif. Banyak yang sudah tercerahkan untuk tidak pacaran.

Hanya saja niat menikah muda tetap perlu diperhatikan kembali. Saya juga bukan menentang nikah muda. Tapi, esensi nikah muda seolah-olah telah menjadi tren yang memprovokasi bukan mengedukasi. Sekarang cukup menjamur muslim dan muslimah yang ngebet nikah muda. Saya tidak tahu apakah ini karena akun-akun di sosial media yang cukup masif mengampanyekan ini. Apalagi beberapa selebgram yang terus-menerus mempromosikan kemesraan. Sehingga banyak orang yang mudah baper berjamaah hehe. Ada yang baru aja hijrah, baru aja mulai belajar islam sudah kepengen nikah muda. Ada yang masih SMA sudah mulai kepikiran tentang nikah. Padahal pernikahan tidak sesederhana itu.

Sejauh ini saya setuju dengan kampanye kesadaran tentang haramnya pacaran dan nampaknya berhasil. Banyak orang yang sudah sadar tentang negatifnya pacaran, selain karena itu dosa. Tapi tidak pacaran bukan berarti solusinya selalu nikah muda. Menikah bukan tentang tersalurnya perasaan saja, bukan tentang perasaan dan cintanya yang sudah halal, bukan tentang bahagia dan indah-indahnya saja. Menikah itu butuh ilmu. Butuh persiapan. Butuh kematangan mental, finansial dsb. sebab ujiannya besar. Kematangan finansial maksud saya di sini bukan harus semapan-mapannya, tapi keyakinan diri sudah mampu menafkahi. 

Tren nikah muda hendaknya jangan diprovokasi. Ajaklah para remaja, muda mudi untuk berpikir lebih holistik tentang menikah. Fokus terhadap edukasinya. Bagaimana mempersiapkan diri sebelum menikah. Agar remaja lebih fokus mengisi penantiannya dengan bercita-cita tinggi, melejitkan potensi diri. Menambah ilmu terutama ilmu agama. Memikirkan tentang masalah umat, melakukan aktivitas bermanfaat, dan fokus cari duit (terkhusus laki-laki😅). Bukan buru-buru pengen nikah karena tak sabar untuk segera pacaran setelah nikah. Melegalkan perasaan dsb. Semoga niat seperti ini bisa diluruskan. Jika sekiranya ingin menikah muda tolong luruskan niatnya karena Allah, jangan ikut-ikutan tren. Jangan hanya karena provokasi.

Menikah itu anjurannya memang disegerakan tapi bukan berarti tergesa-gesa. Bukan cepat-cepat menikah tapi menikahlah ketika siap. Jika kamu menggunakan istilah bersegera, kamu akan berupaya untuk menambah ilmu dan kesiapan karena kamu ingin memantaskan diri dulu sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Kamu tidak fokus pada dorongan biar segera halal. Karena motifnya bisa berbeda. Kamu berniat menikah karena perintah Allah dan Rasul-Nya, karena ibadah. Jika seperti itu, kamu menggunakan potensimu untuk meningkatkan kapasitas keilmuan, agama, psikologi, dan finansial. 

Nah, kesiapan seseorang ini tentu berbeda-beda. Ada yang menikah muda karena mereka memang telah memiliki bekal yang cukup. Usianya boleh sangat muda tetapi mereka telah siap, matang, dan dewasa baik secara keilmuan dan finansial. Saya sendiri dan suami bukan termasuk orang yang menikah muda. Bahkan usia kami sepertinya sudah melewati batas ideal usia rata-rata orang ingin menikah. Mungkin kami termasuk orang yang menikah ketika telah siap atau sudah sangat layak haha. Atau jodohnya baru dibukakan pada usia itu 😊. Saya lebih setuju jika kita menggunakan frase “menikahlah ketika siap.” Jika kamu telah benar-benar siap, usia muda bukan lagi penghalang. 

Jika kita menikah ketika telah siap, kita tidak lagi terkejar-kejar dengan zona waktu orang lain. Kita punya harapan-harapan tersendiri kapan memutuskan ingin menikah. Ketika kita menikah karena sudah siap, kita tentu punya banyak bekal memasuki kehidupan rumah tangga. Meski sebenarnya kesiapan itu tergantung cara kita menjalani kehidupan. 

Mungkin kecenderungan orang Indonesia ingin menikah pada usia 23-27 bagi perempuan, dan 25-30 bagi lelaki. Bahkan banyak yang lebih muda. Apakah usia itu adalah usia yang tepat? Saya tidak bisa memberi pembenaran. Karena setiap orang punya pengalaman hidup masing-masing dan kita tidak bisa menilai mengapa seseorang cepat atau lambat menikah. Setiap orang punya harapan dan kisah hidupnya. Semoga setiap pilihan hidup kita dilandaskan karena perintah agama. Semoga kamu memutuskan berumah tangga karena memang telah siap untuk menikah. Mari kita pelajari lagi makna kesiapan. Karena rumah tangga adalah perjalanan panjang yang membutuhkan banyak ilmu. Sampai sekarang pun saya masih merasa kekurangan ilmu berumah tangga.

Jadi kapan waktu yang tepat untuk menikah? Yup, jika kamu sudah siap. Segeralah berusaha. Temukan jalan dimana jodoh itu bisa datang 😊

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Ramadan Day 11, 1439 H.

Photo credit: Maslihatul Bisriyah

Apakah Kamu akan Memilih Wanita Berpendidikan Tinggi atau Wanita Taat?



Katanya ada banyak lelaki yang merasa terganggu dengan kecerdasan perempuan dan umumnya mereka menginginkan perempuan yang penurut. Seolah-olah penurut itu selalu disandingkan dengan perempuan yang tidak terlalu tinggi pendidikannya. Atau biasa-biasa saja dalam kiprahnya. Mungkin dalam pandangan umum lelaki, perempuan berpendidikan tinggi akan sulit diatur. Di luar sana, akan ada perempuan yang merasa tersinggung karena ingin berpendidikan setinggi-tingginya tetapi juga ingin menjadi wanita setaat-taatnya.

Banyak pula lelaki yang keder jika tertarik dengan wanita yang lebih tinggi status pendidikannya ataupun status sosialnya. Mereka perlahan mundur. Padahal bisa jadi si perempuan tidak berpikiran yang sama. Mereka bisa jadi ingin mengenal kepribadian lelaki tersebut. Maka, untuk para perempuan yang berpendidikan tinggi dengan usia yang mungkin sudah layak menikah. Tidak usah khawatir. Akan ada lelaki yang pantas bersanding denganmu. Allah sebaik-baik yang memasangkan HambaNya.

Yang perlu kita renungkan adalah berpendidikan tinggi itu bukanlah sesuatu yang mesti terlalu dibanggakan. Atau jika status sosialmu lebih tinggi. Sehingga membuatmu memandang rendah siapa pun yang ingin berkenalan denganmu. Kesempatan menuntut ilmu lebih banyak, lebih tinggi tentu sangat layak disyukuri. Setinggi-tingginya pendidikan seorang perempuan akan kalah dengan setaat-taatnya perempuan. Taat di sini maksudnya, taat pada Tuhan, aturan agama, termasuk taat pada suaminya selama perintah suaminya tidak melanggar syariat. Jadi fokus dan tujuan kita sebagai perempuan mestinya menjadi wanita shalihah. Pendidikan kita adalah jalan untuk menjadikan kita semakin taat bukan semakin membangkan.

Jika pendidikan tinggi dan ketaatan itu dimiliki sekaligus akan lebih baik. Bukankah menuju taat itu ilmu sangat penting. Bukankah pula ilmu itu tidak dinilai dari pemahaman semata tetapi pengamalan dan kebermanfaatan. Selanjutnya, hulu dari segala ilmu adalah amal jariyah. Kalau berpendidikan tinggi menjadikan seorang wanita lebih bermanfaat, terhormat, menyadari perannya dan menghargai serta menghormati lelaki sepertinya lelaki tidak perlu takut dengan pendidikan tinggi wanita.

Menurut riset (Feldhahn,
2016) naluri laki-laki itu salah duanya adalah "men need respect" and "men are providers" maksudnya apa? Laki-laki itu lebih baik merasa tidak dicintai daripada tidak dihargai. Kedua, meskipun seorang istri bisa independen secara finansial, bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga, beban mental lelaki sebagai "provider" dalam keluarga itu tetap ada. Jadi, perempuan kalau mengabaikan naluri ini, wajar laki-laki merasa tersinggung hehe. Pengambilan sample riset ini dilakukan di Amerika. Bukan di kalangan muslim saja. Jadi, fitrah lelaki ini tidak mengenal agama, budaya, kebangsaan, ataupun ideologi.

Bahkan mungkin ada juga wanita-wanita yang pendidikannya tidak begitu tinggi, tetapi sangat dominan. Pendidikan tinggi atau gelar akademik tidak menentukan wanita itu dominan atau submisif. Bukan berarti istri itu harus total submisif. Istri tetap harus punya voice, apalagi kalau menyangkut urusan-urusan halal dan haram, hukum syara' dalam mengambil keputusan bersama untuk kemaslahatan keluarga. Pendidikan tinggi semestinya menjadikan wanita lebih pandai mengungkapkan pendapat, lebih nyambung berdiskusi dengan laki-laki, punya ide dan solusi ketika menghadapi masalah yang menyangkut ketahanan keluarga dari ujian-ujian internal maupun eksternal. Bukan bermaksud dominan dan superior terhadap lelaki. Bukankah dalam islam sebenarnya lelaki dan wanita tidak ada bedanya di hadapan Tuhan kecuali ketakwaan.

Kita tidak berlomba-lomba siapa yang paling tinggi pendidikannya, siapa yang paling banyak penghasilannya, siapa yang paling bagus pekerjaannya. Alangkah rendahnya kalau niat hidup kita hanya berlomba dalam perkara seperti ini. Seolah-olah wacana seperti ini malah memunculkan persaingan antara lelaki dan perempuan, bukan sinergi. Allah hanya memerintahkan kita berfastabiqul khairat.

Jadi, wanita tidak perlu berhenti menuntut ilmu hanya karena takut tidak ada lelaki yang berani melamar. Lelaki, jangan takut melamar perempuan berpendidikan tinggi karena merasa insecure atau inferior. Pendidikan tinggi semestinya menjadikan perempuan dan lelaki lebih pandai menutupi dan melengkapi kekurangan masing-masing. Satu lagi mintalah nasihat dari para guru teladan dan pelajarilah bagaimana kehidupan rasulullah, para sahabat, sahabiyah, ulama-ulama terkemuka, dan guru-guru teladan itu.

Selanjutnya, masih ada kuasa di atas kuasa. Allah yang paling tahu makna "ketepatan" dan "kepantasan."  Bukan asumsi-asumsi manusia. Buktinya banyak lelaki yang menikah dengan wanita yang jauh lebih tua, banyak juga wanita yang menikah dengan lelaki yg jauh lebih tua. Ada pula suami yang pendidikannya lebih rendah dari istri. Justru mereka bahkan membantu istri mereka menyelesaikan pendidikannya. Pun sebaliknya. Dan mereka tetap harmonis. So, judgement yang paling normatif adalah jodoh sudah diatur oleh Tuhan hehe.

"Sesungguhnya kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah mengobati niat, memperhatikan kebaikannya, dan menjaganya dari kerusakan" (Ust. Yazid Jawash).


Oh ya terakhir, pilihlah suami seperti suami saya yang selalu siap mendukung kemajuan istrinya :) :) Alhamdulillah...

Ramadan Day 8, 
1439 H.
Tulisan yang direvisi kembali. 

 
Photo Credit: Maslihatul Bisriyah
Diberdayakan oleh Blogger.