Tampilkan postingan dengan label Overseas Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Overseas Life. Tampilkan semua postingan

Menjadi Biru Saat Musim Sedang Gugur





April menjadi bulan penanda bergantinya musim panas ke musim gugur di Australia tahun ini. Di sini, kota Melbourne, mencari daun-daun yang berguguran, menemukan pohon-pohon yang siap dan telah meranggaskan daun-daun adalah satu keadaan yang dinanti penduduknya. Keindahan yang tidak akan muncul sepanjang tahun saat kau bisa menyaksikan warna daun yang menguning, kemerahan, oranye, dan coklat. Musim gugur di Melbourne selalu diiringi dengan curah hujan yang tinggi. Jangan terlalu sering mengharap langit yang biru. Sepanjang perjalanan mencari autumn yang cantik kali ini, sebenarnya langit tak selalu biru. 


Ibarat hidup yang kadang suka, kadang duka, perjalanan ke Macedon Ranges seperti drama yang memiliki jalan cerita atau hidup yang tak berjalan mulus. Mendung, cerah, dan hujan adalah bumbu-bumbu perjalanan. Beberapa menit yang lalu langit biru, sepuluh menit kemudian langit menjadi gelap. Dan semenit kemudian hujan jatuh. Lima menit kemudian langit kembali cerah. Jangan lupa angin yang berhembus dan dinginnya hari menjadi latar hidupnya suasana. Perkara langit dan bumi yang sangat rahasia. Begitu seterusnya hingga perjalanan itu berakhir. 


Jika ada yang ingin mengambil pelajaran dari cuaca hari ini, maka semestinya kau menyadari bahwa kemudahan hidup tidak berlangsung lama, sama seperti kesusahan hidup yang juga tidak akan berlangsung lama. Semua ada waktunya masing-masing. Dan kau tidak pernah tahu kapan Tuhan menurunkan dan mengangkatnya kembali. Seolah-olah kau hanya melewati dan menikmati setiap prosesnya dan masalah itu lenyap seketika. Atau kesenangan itu bisa diambil kapan saja, juga bisa dikembalikan kapan saja. Bukankah begitu yang telah kau alami.


Jika hujan kau ibaratkan ujian, maka kau akan menyadari bahwa hujan tidak akan jatuh berhari-berhari tanpa jeda. Di suatu hari atau waktu tertentu, langit akan kembali cerah meskipun kemungkinan untuk cerahnya hanya sedikit seperti di musim gugur kali ini. Jelang dan saat menjadi cerah, bukankah ada pahala syukur di sana. Kau menjadi lebih bahagia dari biasanya. Kau bisa melewati aktivitasmu dengan baik dan terencana. Tapi, jika kau menganggap bahwa hujan itu adalah rahmat. Saat ia jatuh pun, kau akan tetap bersyukur. Bahwa di setiap keadaan, hujan bukanlah penghalang. 

Maksud saya sebenarnya sederhana. Jika langit bisa menjadi biru saat musim sedang gugur, begitu pula cerita hidup manusia yang selalu memiliki harapan. Harapanlah yang membuat manusia akan terus berusaha. Menjadi biru saat musim sedang gugur adalah peluang untuk tetap bersyukur dan bahagia meski keadaan memiliki seribu alasan untuk berkata sebaliknya.

Melbourne, 26 April 2017

*Qia's Photography

Jika Langit Tak Berpelangi


Musim gugur menjadi lebih romantis dengan hujan. Daun-daun yang basah. Dan gerimis yang selalu manis ketika jatuh di hari kamis. Di sini dan nun jauh di sana banyak orang yang sedang mengukir kisahnya masing-masing. Untuk menjadi lebih berarti.

Seringkali kita bahagia ketika berhasil mewujudkan satu persatu mimpi kita. Kita datang dari sebuah desa atau kota yang kecil. Berjuang dengan cara masing-masing hingga berhasil menghirup udara di sebuah kota bermusim lebih, yang dulunya hanya kita pandangi dalam acara televisi. Tak jarang pula kita memperbincangkan nama negara dan kota-kota itu dalam obrolan ringan bersama teman saat kelas kosong. Kau menceritakan negara yang sangat ingin kau kunjungi. Terinspirasi dari drama dan film favoritmu. Atau karena klub bola favoritmu berada di negara itu. Ada banyak alasan lain bagaimana keinginan menggapai mimpi muncul dalam hatimu.

Katanya, seseorang yang bepergian, mengunjungi beberapa tempat di dunia ini dan seseorang yang tengah mengabdikan dirinya dalam pencarian ilmu di sebuah tempat yang asing akan menjadi lebih bijak dari manusia lain pada umumnya. Tempat-tempat yang tak biasa akan mengajarkan seseorang menjadi lebih berani dan tangguh. Katanya, mereka yang menuntut ilmu di luar negeri selalu dipandang lebih tinggi daripada mereka yang di dalam negeri. Padahal mungkin saja banyak orang yang hanya bepergian tetapi tidak menjadi lebih berarti. Mereka hanya datang, memotret tempat-tempat indah, memuaskan hatinya dan menikmati keadaan yang tak abadi itu. Lalu mereka pulang dengan kehampaan dalam hati. Semua cerita hanya terangkai di mulut, tetapi tidak menajamkan akal dan mengembangkan jiwa. 

Di sebuah desa atau kota kecil ada seseorang yang mungkin belum pernah ke luar negeri atau bahkan tidak mengenyam pendidikan tinggi, tetapi perubahan yang mereka ciptakan telah melangkah jauh dan melangit. Mencapai harapan-harapan tinggi orang-orang di sekitarnya. Mereka mungkin adalah orang-orang yang dengan kesederhanaannya telah menggugah banyak jiwa. Menjadikan jiwa-jiwa itu lebih mulia di mata Tuhan. Mereka lebih bersyukur dan bahagia. Mereka lebih paham akan makna kehidupan. Mereka yang selalu bisa menciptakan pelangi, meskipun hujan belum berhenti. 

Mereka lebih pandai menjaga harapan. Bahwa keindahan hidup bukan hanya tentang seberapa jauh langkah kakimu melintasi dunia. Tetapi, sedalam apa tujuan hidup bisa kau pahami. Mereka yang selalu paham bahwa membumikan kebaikan jauh lebih berarti. Semestinya kita yang telah jauh melangkah, lebih memaknai kebijaksanaan hidup. Semakin kaki melangkah jauh, semakin dalam pula hati tertunduk. Adakah kau melihat pelangi hari ini?

Melbourne, 24 April 2017

*Riya's Photography

Kualitas Hidup


Katanya kualitas hidup kita tergantung bagaimana kualitas hubungan kita dengan Allah. Setiap kebaikan apapun yang kita lakukan meski itu tidak bernilai besar di mata manusia, Allah tetap menghitungnya sebagai kebaikan. Allah tetap tahu cara membalas hamba-hamba-Nya. Hanya Allah yang tahu bagaimana kondisi hati setiap hamba-Nya. Tidak ada yang bisa mengukur keikhlasan dan kedalaman hati seseorang. Maka yang pantas kita lakukan adalah berbaik sangka terhadap siapapun selama keburukan itu tidak ia tampakkan di hadapan kita.

Kalau dalam ukuran atau standar manusia saat ini, kualitas hidup seseorang mungkin dinilai dari standar duniawi semata seperti sebanyak apa hartanya, setinggi apa gelar dan pangkatnya, sepopuler apa dirinya. Kalau dalam hidup ini yang dituju adalah kebahagiaan maka tentu yang tercukupi secara materi, pangkat, dan popularitas semestinya bahagia. Pada kenyataannya tidak selalu. Atribut yang diasosiasikan dengan kebahagiaan tersebut justru dalam beberapa kejadian membuat orang-orang mudah stres dan was-was. Kebahagiaan tidak akan datang kepada orang yang hatinya tidak tenang dan tidak pandai bersyukur.

Tercapainya impian-impian atau target-target yang pernah kita rencanakan mungkin mendatangkan kebahagiaan. Perasaan itu akan muncul sesaat tepat ketika kita berhasil mencapainya. Tetapi setelah itu, perasaan itu akan berubah menjadi biasa ketika tujuan telah tercapai. Bagi saya, mungkin seperti itulah standar bahagia dalam pandangan manusia. Ujung-ujungnya yang dicari adalah kebahagiaan yang hakiki bukan? keadaan emosilah yang paling penting. Misalkan respon apa yang kita berikan setelah kita mendapatkan apa yang telah kita impikan. Kemana kita mengembalikan semuanya. Bahwa semua itu tidak lain tidak bukan anugerah dari yang Maha Kuasa. Dia-lah yang memampukan kita. Dia-lah yang menjadikan itu mungkin bagi kita. Maka itu semua adalah wujud dari berkah yang ia berikan bukan karena hasil usaha kita semata.

Rasa syukur adalah penentu emosi kita. Jika tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang kita dapatkan maka pahala syukur itu adalah peluang. Rasa syukur bisa juga berarti kita tidak ingin nikmat itu berhenti di kita. Kita perlu membagikannya. Orang yang bahagia akan bahagia melihat orang lain bahagia. Sebab bahagia itu tidak akan muncul bagi orang yang masih ada rasa iri di dalam hatinya. Semoga kita dijauhkan dari perasaan-perasaan negatif seperti ini. Jika kita diberi nikmat, maka mari kita gunakan nikmat ini untuk semakin menaati Allah. Salah satu contoh mensyukuri nikmat kecantikan dan keindahan bagi wanita adalah menutup aurat dengan baik. Jika sudah mulai menutup aurat, maka istiqomahlah, jangan dilepas lagi.

Jadi kualitas hidup kita bukanlah dinilai seberapa banyak harta, gelar, popularitas atau bahkan pengetahuan yang kita miliki. Tetapi sejauh mana kita menggunakan itu semua agar semakin dekat kepada Allah. Banyak orang-orang yang hidupnya biasa saja di luar sana bahkan mungkin tidak seberuntung kita tetapi mereka sangat mulia di hadapan Allah. Mereka cukup bahagia dengan kondisi yang membuat mereka bisa beribadah dengan baik kepada Tuhannya. Meskipun dalam kondisi yang tidak seleluasa kita. Ada banyak contoh yang mungkin bisa kita pelajari dari Rasul dan para sahabat. Bahwa dalam kondisi dan ujian hidup yang berbeda-beda, tujuan mereka tetap sama, yakni berusaha meraih kemuliaan di hadapan Allah.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Melbourne, 29 November 2016

Subuh di Vienna



Home is not where you come from, but how you make it (Tiger Lily_Pan, 2015)

Perjalanan kami di Vienna dimulai setelah sholat subuh. Vienna Islamic Center adalah satu-satunya masjid yang sempat kami kunjungi di Eropa. Dimana pun itu, dalam pengembaraan apapun, rumah Allah adalah tempat kita merasa bahwa hati itu akan selalu terkoneksi dengan Rabb. Rumah yang akan tetap kita cari di belahan bumi manapun kita injak. Rumah ini telah menghubungkan hati seluruh muslim di seluruh dunia.

Ada perasaan senang ketika berhasil mengunjungi masjid yang cukup besar di Vienna ini. Meski masjidnya tidak buka setiap saat, tetapi setidaknya kami berhasil menginjakkan kaki di sini. Seperti kebanyakan masjid yang diramaikan oleh jamaah laki-laki, hanya kami berdua yang menjadi pengunjung perempuan. Itu pun ketika beberapa jamaah telah bubar.

Seorang remaja alhamdulillah menolong mengantarkan dimana ruang jamaah perempuan. Dengan bahasa Inggrisnya yang hanya sepatah dua kata. Dia dengan sabarnya mengantarkan kami hingga masuk ke masjid. Awalnya, pintu khusus wanita tertutup. Maka kami melewat pintu utama. Masjid ini lumayan besar. Saya pikir penerimaan islam di Vienna cukup baik. Hanya saja, masjidnya tidak buka setiap saat seperti di Indonesia. Hanya ketika waktu shalat saja dan acara-acara penting lainnya. Halamannya pun sangat luas. Ada tenda dan kursi-kursi yang terletak di depan masjid.

Negara ini telah memberikan keleluasaan kepada minoritas. Dan tentu muslim patut bersyukur dengan izin tersebut. Mungkin kaum muslim di Vienna memahami sebagai penduduk minoritas mereka tetap menjaga adab. Mereka mungkin menyadari bahwa aktivitas keagamaan perlu disituasikan. Tanpa menganggu aktivitas penduduk setempat. Sama seperti halnya di Melbourne.

Sebenarnya kami ingin sedikit berlama-lama di masjid ini. Namun, masjid ini terkunci di waktu-waktu tertentu. Mungkin sang marbot heran kenapa ada dua orang muslimah yang terdampar subuh-subuh hehe. Ya, kami menyadari saat sang marbot mengingatkan kalau masjid akan tutup, maka usai sholat kami terpaksa keluar meskipun ingin lebih lama berisitirahat. Kalau saja ada kesempatan lebih lama, ingin sekali rasanya mengeksplor sejarah masjid ini dan jejak islam di Vienna. Tapi tulisan di masjidnya bahasa Jerman dan tak ada yang bisa diajak berdiskusi. Walhasil, tidak ada informasi yang bisa kami rangkum. Mungkin akan tetap menggunakan bantuan Om Google. Alhamdulillah, akhirnya menemukan masjid ini, saya bisa sholat sebagaimana mestinya. Sisanya saja kadang jamak qashar di train atau bus. Thank a lot to my travel buddy Rina Febrina Sari.

Melbourne, 23 November 2016

Perjalanan



Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" QS. 67:15

Perjalanan yang paling indah sesungguhnya adalah perjalanan yang mengingatkan kita kepada Tuhan. Dan perjalanan penuh ruhiyah paling mungkin kita temukan ketika berhaji atau umrah, mengunjungi tanah suci. Meski, setiap sudut yang ada di bumi adalah bumiNya Allah, maka sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memuji ciptaanNya.

Manusia memang yang membuat tempat-tempat indah yang ada di bumi ini, tapi Allah lah yang memampukan mereka. Allah lah yang mengizinkan itu semua terjadi. Untuk tetap menjadikan setiap perjalanan ini bermakna, mungkin kita perlu mengaitkannya dengan kuasa Allah di dalamnya. Sebenarnya apa yang nampak di hadapan manusia adalah indah-indahnya saja. Ada perjuangan, pengorbanan, keletihan, kemampuan untuk bersabar, kepasrahan, dan pengambilan keputusan yang tidak mudah di dalamnya untuk mencapai langkah-langkah itu.

Dalam perjalanan ini sebenarnya saya belajar tentang arti kesempatan dan atas izin dari Allah. Jangan mudah menyerah dan berburuk sangka dengan diri sendiri. Apalagi berburuk sangka terhadap kemahaluasan Allah. Kadang kala kita selalu mendahului takdir Allah, padahal ada hikmah luar biasa di dalamnya ketika kita melalui hidup ini apa adanya. Apa adanya yang saya maksud di sini bukan tentang kita berpangku tangan dan tidak berbuat apa-apa. Kita tetap memiliki target, tetapi ketika itu tak berjalan mulus maka lalui saja setiap jalan yang dibentangkan di hadapan kita. Bukan menggurutu dan mengutuk takdir.

Pada akhirnya setiap kesulitan akan kita lalu dengan hati yang lapang. Jika kita selalu menganggap bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita itu ada dalam rencana Allah. Maka nikmati saja setiap peran hidup kita sambil bersandar kepadaNya. Kesempatan itu adalah rezeki maka saya berbaik sangka kepada Allah bahwa ini bagian dari rencana terbaikNya untuk saya. Semoga.

Sebagai seorang muslimah, saya tetap beranggapan bahwa setiap perjalanan itu baiknya ditempuh dengan mahram. Maka, jika itu bisa kalian wujudkan maka beruntunglah. Saya dan teman perjalanan kali ini akhirnya setuju bahwa perempuan memang butuh laki-laki untuk mengayomi dan melindungi. Bukan untuk menyaingi. Betapa rempongnya kami berdua dengan barang-barang. Bukan pula berarti kami tidak kuat. Ada keadaan ketika level tenaga itu sudah seharusnya dibagi dan diistirahatkan, tetapi kita tetap memaksakan. (Ini bukan bermaksud baper hehe).

Mungkin saya termasuk orang yang tidak setuju kalau peran laki-laki dan perempuan itu bisa dibalik. Saya tetap menyadari kondisi fisik dan jiwa setiap laki-laki dan perempuan sudah diatur sedemikian rupa sesuai kadar dan kodratnya. Tidak usah dibolak-balik. Hikmah perjalanan kali ini pun mengajarkan, perempuan dan laki-laki itu saling membutuhkan dan melengkapi. Perempuan tetap butuh dilindungi. Tetapi, jika kalian masih sendiri tetap bersyukur dengan keadaan masing-masing. Sekali lagi, syukuri setiap kesempatan yang Allah berikan.

Paris-Amsterdam, 16 November 2016

Berbaik Sangka Kepada Allah



Berkuliah di luar negeri mungkin menjadi impian banyak orang. Siapa sangka pilihan hidup saya setahun yang lalu ternyata mengantarkan saya mewujudkan harapan-harapan yang lain. Yang tidak pernah terlintas di pikiran saya bahwa saya bisa mencapainya sekaligus. Bukan bermaksud untuk mengejar impian-impian dunia. Karena hati manusia tidak akan puas jika mengejar dunia semata. Kejarlah akhirat maka dunia akan ikut. Begitu prinsip saya. Saya selalu berbaik sangka kepada Allah bahwa setiap takdirnya pasti baik untuk hambaNya.


Setahun lalu saya memutuskan mendaftar di Monash Uni di Australia yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk memilih kampus ini. Negara tujuan saya adalah UK. Kalaupun itu di Aussy saya tidak pernah melirik Monash. Hanya saja waktu itu offer Uni yang saya tuju berbelit-belit dan lama. Dan saya tidak punya waktu lama. Jadilah saya meminta agen untuk mendaftarkan saya di Monash Uni.

Waktu itu karena salah satu teman selama pembinaan juga sedang mendaftar di Uni ini. Siapa sangka memilih negara Aussy dan Monash Uni justru mengantarkan saya meraih harapan-harapan yang selalu ada di hati saya meski tidak pernah menjadi ambisi. Impian itu hanya terlintas di ucapan-ucapan sambil lalu seperti misalkan saya ingin sekali mengunjungi Jepang dan UK. Alhasil, Allah memberikan sesuatu yang lebih dari yang pernah saya impikan. Saya benar-benar mengunjungi negara yang pernah sangat ingin saya kunjungi.

Siapa yang menyangka juga kalau mengambil keputusan untuk berkuliah di Monash ternyata memudahkan saya untuk berislam dengan baik. Makanan halal dan komunitas muslim tidak jarang ditemukan. Saya tetap bisa menyeimbangkan segalanya.

Saya tidak pernah bermaksud menyempitkan pikiran saya. Saya hanya hamba yang berusaha untuk berbaik sangka terhadap apa yang dianugerahkan oleh Tuhan dalam hidup saya. Ada pahala syukur di dalamnya ketika kita tetap menghamba ketika harapan-harapan kita diwujudkan. Maka semestinya ketaatan kita dikencangkan, ketakwaan kita ditingkatkan. Jangan sampai kita kufur nikmat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan.

Being a one-day Oxford Uni's student ðŸ˜‚


Oxford, 9 November 2016

Writing as a Sacred Path

There is a moment when you are idle in your habit because you should shift to another new experience. The moment when you feel that you encounter writer's block. I am kind of in that situation. Then, I need to arise my own motivation to revive the old me. It is sort of difficult to start writing consistently when we let it space out. Now, I am trying to find the answer "WHY" I should write. Simon Sinek, an international speaker said "always start with why". Yes, answering why is actually the basic thing to ignite motivation to be able to accomplish our goals. When we start with why, we could achieve the meaningful reason why we should do something. We will not do it because everyone else does it or we just try because our friends do it and we do not want to be left behind. I think this idea is also beneficial if we want to nurture our unvarnished intention to write. Well, I came across this fruitful writing, a review of a book, written by Hafsah, an islamic writer. I am really into her words. I will put this book on my booklist to buy and read. So, knowing that writing is a sacred path is a powerful motivation.





They say that writing is a calling: I felt that calling as a young teen, but only in secret. Even at such a young age I was only too aware that my writing would not be taken seriously. It would not be encouraged and I would certainly be told to spend my time more wisely. It seems that in the Muslim community, fiction is seen as mere entertainment, a frivolous pastime.
More than a decade later, having studied literature for many years and understanding the true worth of stories, I am still painfully aware that my writing will not be taken seriously in our community. It leads me to often question the purpose of my writing and what it does to benefit my faith. Jill Jepson’s book, Writing As A Sacred Path, serves as a wonderful reminder that writing, with the right intention, can be intrinsically connected to faith and can even serve as a form of sadaqah.
“Storytellers are custodians of human history,” Jepson reminds us, they are “the recorders of the human experience, the voice of the human soul”. Stories define what it is to be human; they enlighten us and guide us. In this way, writing can be a spiritual act, a form of charity and prayer. Writing can help nourish our spiritual lives, inspire us to think openly, and can be a wonderful gift of gratitude to the rest of the world.
Sacred Path is an essential guide for Muslim writers as it not only reminds us of why we should be writing, but it also offers excellent writing advice. The book is structured in four parts, each section highlighting different spiritual journeys from which we can learn to hone our own skills. . Admittedly, I wouldn’t recommend Jepson’s advice in its entirety, but there is definitely more useful advice than not.
The Mystic Life, the first section, includes some questionable ritualistic exercises, but it also imparts some interesting ideas about altering your writing perspective, such as letting inanimate objects speak, visualising scenes and crafting analogies. I would never have thought to write like this but I can see that it would help your creativity to flow more openly.
The Monastic Path is a useful section that discusses the importance of solitude in allowing your creative energy to rise, to connect with your inner self to find your authenticity as a writer. Jepson also encourages the appreciation of community, from where our inspiration arises and to where we bestow our stories, our gifts of gratitude.
The third part, The Way of the Shaman, encourages us to use writing to face our inner demons. A few of the exercises seem creepily like exorcisms (!) but I very much agree that overcoming fears is integral to writing. The beautiful part of this section is where Jepson explains how we can develop a relationship with the natural world through observation. As writers, we must see the Earth as a beautiful gift from the Divine which we must appreciate and care for.
The last chapter, The Warrior Road, was the one that I felt that came closest to Islam, and it is a shame Jepson has not drawn more from Islam in this book. The chapter focuses on honour and courage, perceiving writing as a battle for truth, justice and peace. Writing, Jespson says, is “finding the truest part of ourselves and having the moral strength to never waver from what we hold sacred”. She goes on to say: “it takes courage to write the raw, unvarnished truth: to expose your most private memories, dreams, and fears: to face up to what is wrong in the world and put it on the page; and to write with utter authenticity.”
Overall, Sacred Path is an excellent book for both well established and would-be Muslim writers, offering both spiritual and practical advice. It is a reminder to us that if we have been blessed with the gift of writing then we are “entrusted with sacred work” and it becomes our duty to write. As Muslim women, especially, we must write to reclaim our voices that are so often supressed from both within and outside our communities. We must let the world know that we too can write – we have our own voices, our own minds, our own dreams.
#Repost from http://esotericsips.com/


A Journey Starts

It's been a long time I do not post anything in my blog. I categorize myself as unitask person. I think I could not get multiple things done well at once. I should focus on one thing then move to another thing. Hmm, it might be my personal justification that I cannot manage my time well, whereas literally people can still spare their time if they really think that writing is part of their lives. Well, I somewhat get lost recently. It is like I enter a new life which is very different from what I had endured previously. But then, I am learning and always learning in this life.

I feel like kind of relieved now because my first semester has already finished. The holiday is coming very soon. Meaning that no more uni activities and other study's responsibilities. This state of condition will influence our mood and reduce our excitement to study. Sometimes, we work better under pressure right? So, what comes in my mind is I should motivate myself to keep improving. I am the type of person who is very vulnerable if not surrounded by positive environment. I could become very indolent, unproductive, and disorganized if I am lack of positive activities though I just study. Thus, I always find activities or people who can motivate and inspire me to keep growing in virtues and achievements. 

This might be my declaration that I should keep updating my blog which was very lonely recently. No matter what I will write. I will write whatever comes in my mind and feeling. I should tell the world that I am still alive, very grateful and blissful. Alhamdulillah for everything that You have bestowed in my beautiful life, God. I should be happy then I can make everyone else happy. I should be tranquil then I can make other people tranquil.


Melbourne, 5 November 2015
Diberdayakan oleh Blogger.